Selasa, 26 Desember 2017

Post power syndrome: itu karena apa ?

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal dengan istilah post power syndrome atau sindrom purna kuasa. Yang mana biasanya dialami oleh para lansia. Banyak dari kita yang bertanya, kenapa membahas lansia ? bukannya para lansia sudah tua dan tak memerlukan perhatian lagi karena umurnya sudah menua ?. jangan salah, semakin manusia memasuki usia senja semakin ia memerlukan perhatian lebih. Banyak dari kita yang mengesampingkan bahkan memandang sebelah mata persoalan lansia. Post power syndrome, terjadi karena ketidaksiapan individu untuk menghadapi masa pensiunnya. Ketika ia memasuki masa pension, ia akan merasa telah kehilangan segalanya. Mulai dari jabatan, perhatian, penghormatan, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang terkena gejala post power syndrome akan merasa gelisah ketika menjelang pension bahkan yang telah memasuki masa pensiunnya. Kadang, penyebab dari datangnya berbagai penyakit disebabkan oleh pemikiran dan mental yang kurang siap untuk menghadapi hal tersebut. Istilah post power syndrome hanya dikembangkan di Indonesia saja, masih sangat jarang bahkan tidak ada penelitian dari luar yang membahas tentang post power syndrome. Kenapa ? karena kesejahteraan para lansia di negeri sana lebih baik dibandingkan negara kita (Indonesia). Maka tak jarang, bila kita menjumpai banyak wisatawan luar yang datang ke Indonesia salah satunya untuk menghabiskan liburan mereka. Berbeda dengan para lansia yang ada di negeri kita, kebanyakan dari mereka hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktifitas apapun. Bahkan ada yang dimasukkan ke panti.

Syndrome/sindrom adalah sekumpulan simptom yang saling berkaitan berupa reaksi somatiasi (tubuh) dalam bentuk tanda-tanda penyakit, luka-luka, atau kerusakan-kerusakan. Sehingga post power syndrome adalah reaksi somatisasi dalam bentuk sekumpulan simpton penyakit, luka-luka dan kerusakan-kerusakan fungsi-fungsi jasmani dan mental yang progresif, karena orang yang bersangkutan sudah tidak bekerja, pensiun, tidak menjabat, atau tidak berkuasa lagi. Simptom-simptom penyakit pada intinya disebabkan oleh banyaknya stres (ketegangan, tekanan batin), rasa kekecewaan, kecemasan dan ketakutan yang mengganggu fungsi-fungsi organik dan psikis, sehingga mengakibatkan macam-macam penyakit, luka-luka dan kerusakan yang progresif (terus berkembang atau meluas). Gejala psikis dan fisik yang sering tampil antara lain adalah sebagai berikut: layu, sayu, lemas, apatis, depresif, semuanya “serba salah”, tidak pernah merasa puas, dan berputus asa. Atau tanda-tanda sebaliknya, menjadi mudah rebut, tidak toleran, cepat tersinggung, gelisah, gemas, eksplosif mudah meledak-ledak, agresif dan mudah menyerang baik dengan kata-kata atau ucapan-ucapan maupun dengan benda-benda, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang menjadi beringas, setengah sadar. Masih ada individu yang memiliki pandangan bahwa kekuasaannya masih akan dimiliki ketika pensiun nanti dan mengungkapkan seakan-akan kalau hal tersebut akan dimiliki terus menerus.

Post power syndrome, secara tidak langsung berkaitan dengan kesehatan mental. Banyak orang yang tidak menyadari itu. Hal tersebut dapat timbul karena pemikiran-pemikiran yang kurang mampu untuk dikendalikan sehingga banyak hal yang menyebabkan terjadinya post power syndrome.

Ada tiga hal yang mesti diperhatikan di dalam lingkungan kita, anak-anak, remaja, dan lansia. Kenapa ? karena pada tahap tersebut merupakan masa transisi yang paling rentan terhadap kehidupan manusia. Banyak kasus yang dialami oleh para lansia namun kurang terekspos karena dengan usia seperti itu sudah dianggap tidak berguna lagi. Padahal, lansia juga membutuhkan perhatian. Semakin kita memberikan perhatian dan mampu menjadi pendengar yang baik buat para lansia, semakin membuat perasaan mereka terasa senang. Maka dari itu, jangan kaget apabila kita menjumpai seorang lansia tiba-tiba saja tekanan darahnya naik, tiba-tiba stroke nya kambuh, itu karena apa ?. jawabannya Cuma satu, mereka terlalu memikirkan hal-hal yang tidak semestinya menjadi beban pemikiran mereka. Misalnya saja, seorang ibu yang meminta anaknya untuk datang bertandang ke rumahnya, namun si anak menolak karena banyak kerjaan dan mengeluarkan berbagai alasan. Keesokan harinya, tiba-tiba saja tetangganya nelfon kalau sang ibu sakit. Itu karena pikiran mereka yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Oleh karena itu, mari kita sayangi lansia, berikan perhatian yang lebih buat mereka, dan mari menjadi pendengar yang baik buat para lansia.

Selasa, 19 Desember 2017

di Mana Jiwamu?


Jika memang jiwa itu ada, meskipun tak nampak oleh mata di mana letak keberadaannya. Namun, ada saja yang membuat kita bertanya akan keberadaan jiwa itu. Seperti halnya mempertanyakan ”Pernahkah kita menyentuh jiwa? Ataukah melihat darah keluar dari jiwa? Di manakah jiwa itu berada?”. Semua pertanyaan-pertanyaan hanya berdasarkan pertanyaan yang muncul ketika mempertanyakan keberadaan tubuh atau fisik, tentu saja bisa dijawab berdasarkan pengalaman masing-masing. Kembali ke jiwa, penuh misteri namun diakui keberadaannya. Keberadaan jiwa di dalam pikiran manusialah yang membuat jiwa itu ada. Lebih tepatnya pengalaman manusialah yang membuat jiwa itu ada. Keberadaan jiwa akhirnya dibuat seakan-akan nampak dengan melihat tingkah laku manusia. Dibuatkalah istilah pada setiap aktifitas jiwa itu, kemudian dibuatlah dia betul-betul nyata dan akhirnya dibuatlah jiwa memiliki batas dalam istilah.

Segala bentuk istilah muncul, terkadang ada istilah yang sama ketika dilakukan namun beda dalam istilah tergantung siapa duluan yang menentukan istilah tersebut. Berlomba-lombalah manusia melakukan penelitian demi melanggengkan istilah yang dia temukan dalam sebuah karya tulisan dikemas dengan seilmiah dan seobjektif mungkin. Akhirnya, tersebarlah dia diseluruh penjuru dunia dan dibuatlah menjadi istilah yang paten. Apakah jiwa ini setuju dengan batasan label yang diberikan kepadanya? Ataukah manusia membuatnya setuju agar jiwa diakui keberadaannya? Tentu saja hanya jiwa yang bisa menjawab pertanyaan ini, dan lagi-lagi manusia dengan rasa penasarannya hanya mengekspresikannya dalam sebuah penamaan akan beberapa aktifitas jiwa.

Jiwa ini masihlah menjadi sebuah misteri, dan telah hadir sejak tubuh manusia terbetuk sempurna dan masih dalam gelapnya berada dalam Ibu, jiwa jugalah yang tetap hadir ketika tubuh manusia kelelahan dan mencapai batasnya, kemudian berpisahlah dia dengan tubuhnya dan kembali menjadi jiwa seutuhnya tanpa badan yang menemani.


Sapalah jiwamu selagi dia masih bersamamu, berilah ia makan berupa rasa bahagia, tenangkanlah ia ketika merasa sedih dan ajaklah dia mengenal dunia lebih jauh. Salam Jiwa :) 

Jumat, 01 Desember 2017

Cerita Singkat dari Seorang Anak yang Telah Mengalami Pelecehan Seksual


Oleh:
Puji Rahayu
(Mahasiswi Magister Psikologi Unair)

Sejauh ini, kita hanya mendengar berita dari media massa mulai dari berita di televisi, radio, atau surat kabar tentang pelecehan seksual, namun kebanyakan dari kita hanya mendengar saja bahkan sampai menutup telinga kita karena berita tersebut tidak bisa membuat kita berbuat apa-apa, yang hanya kita lakukan adalah mendengar, merasa iba atau kasihan, setelah itu lupakan. Hanya itu yang kita lakukan. Setelahnya, itu adalah permasalahan biasa saja. Yah, itu hanya berita biasa bagi orang-orang yang belum pernah merasakan atau keluarganya belum menjadi korban. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang telah menjadi korban pelecehan seksual ? anak-anak yang usianya belum tahu apa-apa, yang mereka tahu hanya bermain, dan tiba-tiba saja ada sosok orang dewasa yang mereka harap adalah seseorang yang menyayangi mereka namun ternyata dia adalah pelaku dari kejahatan tersebut.

Di sini saya akan menceritakan sedikit tentang seorang wanita yang berumur 26 tahun, dia salah satu vlogger terkenal. Sebut saja namanya miley, dia memiliki 7 orang saudara. Dua di antaranya sudah menikah. Saat itu, umur miley 7 tahun, dia baru duduk di bangku SD kelas 2. Di tempatnya tersebut dia tinggal Bersama orangtua dan saudara-saudaranya termasuk suami dari salah satu saudaranya itu. Ada saat dimana miley baru kembali dari sekolah, dia masih mengenakan seragam yang lengkap, dan tiba-tiba saja suami dari kakaknya ini memanggilnya dan mengajaknya ke kamar. Si miley tidak tahu apa-apa, dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh suami kakaknya ini. Miley merasakan ketegangan yang luar biasa, karena mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dan diluar dugaan. Singkat cerita, selama 5 tahun lebih dia memendam rasa kebingungan dan rasa bersalahnya kepada kakaknya. Karena dia takut, dia akan mendapatkan marah dari orangtua dan saudaranya. Saat miley mau masuk di sekolah menengah pertama, keuangan orangtuanya menurun, mau tidak mau miley harus ikut ke kakaknya tadi yang sudah menikah dan memiliki rumah serta usaha jadi tergolong mapanlah untuk membiayai sekolah miley nanti. Namun, miley merasa ketakutan. Dia tidak mau ke tempat tersebut, karena ketakutan yang pernah dia alami masih terasa sampai saat ini, bahkan mendengar namanya saja dia merasa takut. Namun, mau tidak mau miley harus mengikuti keputusan orangtuanya agar dia bisa bersekolah. Tibalah miley di tempat kakaknya, dia dan saudaranya tinggal Bersama. Sang kakak sangat senang karena ada adiknya yang menemani dia di sana. Tiba di saat apa yang menjadi ketakutan miley selama ini terjadi lagi, suami kakaknya masuk ke kamar miley. Dia melakukan pelecehan lagi kepada miley, tapi kali ini miley sudah berani angkat bicara. Sang kakak tiba-tiba saja datang dan bertanya kepada miley kenapa dia menangis ? miley menjelaskan semuanya dan meminta untuk diantarkan kembali ke rumah orangtuanya. Sesampainya di rumah orangtua miley, miley menjelaskan semuanya kepada ibunya, dan ibunya hanya terdiam saja. Setelah miley menjelaskan kepada semua orang, keesokan hari dan seterusnya hal tersebut seolah tak pernah terjadi. Tidak ada punishment yang diberikan kepada si pelaku tadi. Dia tetap di terima baik oleh keluarga miley. Di sisi lain, miley merasa dirinya bukanlah apa-apa di dalam keluarganya, dia tidak memiliki kekuatan untuk bertindak. Semua rasa kesal, sesak, marah, semuanya bercampur aduk. Kenapa seperti ini bisa terjadi ? kenapa tidak ada hukuman bagi laki-laki seperti dia ? kenapa semua orang masih bisa tersenyum dan tertawa dengan dia (Re: suami kakaknya) saat saya telah menjadi korban ?. bulan dan tahun berlalu, kini miley akan berusaha untuk menerima segalanya menjadikannya sebagai pelajaran dalam hidupnya, saat itu miley kembali dari ibadah. Miley dan keluarganya mampir ke rumah kakaknya yang pernah dia tinggali saat duduk di bangku sekolah menengah. Semua keluarga duduk di teras rumah, tiba-tiba miley masuk ke dalam rumah hendak menuju dapur tapi tiba-tiba saja suami kakaknya ini berbuat yang tidak senonoh kepada miley lagi. Kesabaran miley tidak terbendung lagi, dia berteriak sambal menangis. Kakak laki-lakinya masuk dan memperingati suami kakaknya tersebut. Namun dengan peringatan yang biasa saja menurut miley. Miley heran mendengar kakaknya. Kenapa peringatannya hanya seperti itu ? adikmu ini sudah dilecehkan ! yang kemarin itu apa ? apakah kamu sudah melupakan apa yang telah dia lakukan pada adikmu ? kecamuk miley dalam hati. Di keadaan ini, perasaan benci dan amarah miley memuncak. Dia memutuskan untuk hidup mandiri, dan ingin jauh dari keluarga. Kenapa ? karena dia merasa semua orang terdekat dia tidak ada yang mendukung. Bahkan, seseorang yang menjadi penjahat di dalam keluarganya tetap mendapatkan dukungan penuh di dalam keluarganya, dibandingkan dengan miley yang posisinya sebagai korban. Setelah semua kejadian tersebut Miley lebih memilih untuk hidup sendiri, dia bekerja sambil sekolah.

Singkat cerita, miley sekarang telah menikah dan memiliki 2 anak. Dia menikah dengan WNA, dan hidup dengan bahagia. Cerita ini saya dapatkan dari vlog dia, dia bercerita sebagai korban. Dari awal sampai akhir videonya saya sangat marah, kesal, dan sedih mendengar cerita dia. Miley benar-benar sosok wanita yang kuat. Saya menulis ini karena ingin menyampaikan bahwa harta yang paling berharga adalah bukan sesuatu yang bentuknya dari materi, tetapi keluarga kita, orang terdekat kita. Bukannya kita malah mencari kesenangan dari keluarga kita sendiri, tetapi kita harus saling menjaga. Miley adalah seorang wanita yang masa kecilnya direnggut oleh keluarganya sendiri. Oleh karena itu, kenali perilaku anak-anak kita, dengarkan saat dia ingin bicara. Jangan menolak dia untuk bicara. Karena dengan hal kecil seperti itu saja bisa menyelamatkan dirinya. Dengarkan dan rangkul orang-orang terdekat kita saat dia memiliki masalah, jangan biarkan dia menopangnya sendiri. Keluarga adalah hal yang sangat berharga. Namun, kadang orang terdekat bisa saja menjadi penjahat dalam keluarga kita sendiri. Sekali lagi kenali segala perilaku yang mencurigakan di sekitar kita. Apabila tindakan pelecehan seksual telah terjadi, bagaimana pun bentuknya, laporkan !. ceritakan kepada saudara dan orangtua kita. Apabila saudara dan orangtua kita tidak merespon dengan baik, laporkan ke kantor polisi. Say it!!!

Undang-undang tentang pelecehan seksual telah ada di Indonesia, maka dari itu apapun yang kita dapatkan di lingkungan terkait dengan pelecehan seksual terutama pada anak-anak maka laporkanlah!. Jangan hanya diam saja, kita harus angkat bicara!...
Demi masa depan anak, kita sebagai orang dewasa dan orang terdekat dari mereka harus lebih peduli terhadap perkembangan anak-anak. Kesehatan bukan hanya dari segi fisik, tetapi kesehatan mental yang utama. Apa jadinya pada anak-anak nantinya jika di saat mereka kecil, di saat mereka hanya ingin tahu yang namanya bermain mereka harus merasakan trauma yang luar biasa akibat dari pelecehan seksual. Kita tidak tahu perilaku apa yang akan dimunculkan ketika hal tersebut telah terjadi. Oleh karena itu, mari saling merangkul, mari membuka mulut untuk bicara, mari sharing Bersama anak, mari kita berani untuk cerita.

Semoga kisah singkat ini dapat menjadi pembelajaran besar buat kita.
Sekali lagi, sayangi keluarga kita, lindungi mereka, dan rangkul mereka.
Susah dan senang adalah milik Bersama.
Dan kesehatan mental tercipta dari lingkungan yang sehat terutama ada pada diri kita sendiri.

#HaloJiwa #SehatMental #Indonesia

Minggu, 12 November 2017

Mengembangkan Coping Skill untuk Kesehatan Mental

Penulis: Syurawasti Muhiddin (Alumni Psikologi UNHAS 2012)
 Stres adalah suatu kondisi yang pasti akan dihadapi oleh setiap orang. Tidak mungkin seseorang hidup tanpa pernah berhadapan dengan stresor tertentu. Stres dapat diartikan sebagai suatu pengalaman yang dihasilkan dari adanya transaksi individu dengan lingkungannya yang menimbulkan tekanan fisiologis dan psikologis[1].  Stres juga merujuk pada suatu efek dari segala sesuatu yang mengancam keseimbangan individu atau yang disebut sebagai kondisi homeostatisnya[2]. Stres melibatkan respon terhadap sumber stres tersebut. Respon terhadap stres inilah yang dikaitkan dengan istilah coping. Stres dan coping merupakan istilah yang berpasangan.
Definisi coping digarisbawahi sebagai situasi alamiah dalam berhubungan dengan jenis-jenis stresor tertentu[3].  Lazarus dan Folkman menyebutkan bahwa coping adalah suatu proses di mana individu mencoba untuk mengelola jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan (baik itu tuntutan yang berasal dari individu maupun tuntutan yang berasal dari lingkungan) dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan[4].
Membicarakan mengenai coping akan mengantarkan kita pada tiga istilah yang saling terkait, yaitu coping strategy, coping style dan coping skills. Secara singkat, coping style (gaya coping) mengacu pada cara-cara yang lebih disukai seseorang untuk menggunakan sumber daya coping yang dimilikinya. Sedangkan, coping skill (keterampilan coping) digunakan dalam pelaksanaan aktual dari sumber daya coping tersebut, yaitu tindakan. Sementara itu, strategi coping adalah jenis-jenis upaya yang spesifik baik berupa perilaku maupun respon psikologis yang individu lakukan untuk menguasai, mentolerir, menghilangkan dan mengurangi kejadian ataupun pengalaman yang menyebabkan tekanan[5].
Secara umum, strategi umum untuk coping stres dibedakan menjadi dua, yaitu problem focused coping dan emotional focused coping. Problem focused coping, yang disebut juga sebagai coping aktif, merujuk pada upaya individu secara aktif untuk mencari penyelesaian masalah dalam rangka menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres. Sementara itu, emotional-focused coping, yang disebut juga coping pasif merujuk pada strategi yang dilakukan individu untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari[4]. Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada faktor-faktor personal seperti kepribadian seseorang dan jenis masalah yang menimbulkan stres atau sejauhmana  tingkat stres yang dialaminya.
Perbedaan lainnya yang dikenal dalam literatur coping adalah strategi active coping dan avoidant coping. Strategi active coping adalah respon psikologis dan perilaku yang dilakukan untuk mengubah berbagai bentuk sumber tekanan itu sendiri atau bagaimana seseorang memikirkan tentang hal itu. Sementara itu, strategi avoidant coping mengarahkan seseorang kedalam aktivitas atau keadaan mental yang menjaga mereka dari upaya berhubungan secara langsung dengan kejadian yang menimbulkan stres, dengan kata lain mereka menghindari sumber stres tersebut. Strategi coping yang berfokus pada penyelesaian masalah dan coping yang berfokus pada pengaturan emosi merupakan strategi yang termasuk coping aktif (active coping)[6].
David L Tobin membedakan strategi coping yang ditunjukkan seseorang untuk mengatasi stres. Strategi ini merupakan gabungan dari strategi-strategi lainnya baik yang berupa coping yang berfokus pada masalah maupun coping yang berfokus pada emosi. Kedua strategi tersebut  yaitu engagement dan disengagement[7].
Ada beberapa strategi coping yang termasuk dalam pola engagement. Pertama, mengurangi sumber stres dengan mengatasi masalah (problem solving). Selanjutnya, individu yang mengubah makna pengalaman yang penuh tekanan menjadi situasi yang kurang mengancam termasuk strategi coping dalam pola ini. Strategi ini dilakukan dengan mencoba memandang berbagai aspek positif dari persoalan yang dihadapi sehingga dapat memiliki perspektif baru. Strategi lainnya adalah mencari dukungan emosional dari orang terdekat di sekitar, keluarga, sahabat, dan sebagainya. Strategi lainnya adalah dengan jalan melepaskan beban emosi melalui ekspresi emosi (express emotion). Strategi engagement  menggambarkan bagaimana strategi seorang individu mengelola pihak maupun situasi sekitar yang membuatnya berada pada kondisi stres. Dengan strategi-strategi ini, seorang individu bertindak secara aktif  dan masuk ke dalam situasi seolah melakukan negoasi dengan situasi yang membuatnya stres. Coping engagement ini merupakan active coping (coping aktif).
Selanjutnya, gabungan antara beberapa strategi yang menggambarkan bagaimana seorang individu sebenarnya tidak mau melibatkan diri dengan situasi yang membuatnya stress melahirkan strategi coping disengagement. Perasaan tidak enak atau tidak nyaman yang dirasakan, tidak dibagikan kepada orang lain. Seseorang menutup diri, pikiran tentang situasi stres dihindari, sementara tindakan yang dapat mengurangi stres dan keluar dari situasi tidak enak tersebut tidak diupayakan. Ada empat strategi coping yang termasuk dalam disengagement. Pertama, strategi yang merujuk pada upaya mengingkari persoalan dan menghindari pikiran ataupun tindakan yang berkaitan dengan penyebab stres. Kedua, ada strategi yang merefleksikan ketidakmampuan atau keengganan memperjelas persoalan yang berarti pula keengganan mengubah situasi. Pikiran yang muncul hanya berupa khayalan dan harapan mendapatkan situasi yang lepas dari persoalan. Ketiga, strategi coping yang menyalahkan diri sendiri atas situasi stres yang sedang dialaminya. Selanjutnya, ada strategi coping yang mengkritik diri sendiri atas situasi stres yang sedang dihadapi. Keempat strategi tersebut termasuk ke dalam coping menghindar (avoidant coping).
Coping yang diupayakan untuk bisa mengatasi stres seyogyanya membuat kita dapat menyesuaikan diri dan tetap bisa mencapai keseimbangan. Namun, beberapa strategi coping yang kita pilih justru membuat kita terpuruk, tidak mampu mencapai keseimbangan sehingga membuat kita semakin tertekan  Oleh sebab itu, coping yang kita kembangkan seyogyanya merupakan coping yang efektif. Strategi coping aktif baik berupa respon perilaku maupun emosi adalah strategi yang lebih efektif dalam mengatasi situasi yang penuh tekanan. Strategi coping engagement termasuk pula strategi coping aktif yang efektif. Sementara itu, strategi coping menghindar, termasuk strategi coping disengagement dinilai dapat menjadi suatu faktor risiko yang bersifat psikologis atau melatarbelakangi respon-respon yang bersifat negatif seperti penggunaan alkohol dan obat-obatan[8].
Menurut Sydney Youngerman-Cole dan Katy E. Magee, banyak persoalan kesehatan mental yang dimulai ketika stres fisik dan emosional menyebabkan perubahan kimiawi dalam otak. Oleh sebab itu, keterampilan dalam coping stres sangat perlu untuk dilatihkan. Dengan membiasakan diri menggunakan coping stres yang efektif, akan lebih mudah untuk menjalankannya sebagai strategi coping sepanjang waktu. Coping strategi yang efektif adalah salah satu pendukung kesehatan mental. Beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk keterampilan coping yang efektif, antara lain meditasi dan teknik refleksi, memberi waktu luang untuk diri sendiri, melakukan aktivitas fisik atau latihan fisik, membaca, berteman, mengembangkan dan mendengarkan humor, melakukan hobi, melakukan aktivitas spiritual (berdoa, beribadah), memelihara hewan peliharaan, tidur yang cukup, dan memakan makanan yang bernutrnisi[9].
Stres tidak bisa kita hindari dalam kehidupan kita. Keterampilan coping mutlak kita miliki. Keterampilan coping tersebut terkadang tidak serta merta mudah dilakukan, tetapi tidak mustahil untuk menjadi mudah sebab keterampilan itu bisa dilatihkan. Tanpa keterampilan coping, kita mungkin tidak dapat mencapai keseimbangan dalam diri baik itu keseimbangan fisiologis maupun emosional. Bukan tidak mungkin kita terperangkap dalam masalah-masalah gangguan mental. “Di antara stimulus dan respon ada sebuah ruang. Dalam ruang tersebut merupakan kekuasaan kita untuk memilih respon. Dalam respon tersebut, terletak pertumbuhan kita dan tentu saja kebebasan kita” (Victor E.Frankl). Oleh sebab itu, strategi coping adalah pilihan kita untuk bisa bersahabat dengan stres.

Referensi
1.     Aldwin, C. M. Stress, Coping, and Development: An Integrative Perspective. 2nd ed.,  New York, NY: The Guildford Press.2007
2.     Selye, H. The Stress of Life, McGraw-Hill, New York, 1956
3.     Santacana, Kirchner, Abad & Amador, Differences between genders in coping: Different coping strategies or different stressors?, Anuario de PsicologĂ­a, 42 (1), 5 -18, 2012.
4.     Lazarus, R. S., & Folkman, S, Stress, appraisal, and coping, New York, NY: Springer, 1984.
5.     Tharaldsen, K.B., Mindful Coping, Thesis, Faculty of Social Sciences, University of Stavanger, 2012.
6.     Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K., Assessing coping strategies: A theoretically based approach,  Journal of Personality and Social Psychology, 56, 267-283, 1989.
7.     Tobin, D.L., User Manual for Coping Strategy Inventory, diakses dari www.ohioupsychology.com/.../Manual%20Coping-Strategy-Inventory, 2014.
8.     Holahan, C. J., & Moos, R. H., Personal and contextual determinants of coping strategies,  Journal of Personality and Social Psychology, 52(5), 946-955, 1978.
9.     Canadian Mental Health Association of Richmond, BC. Strategies for Good Mental Health Wellness, diakses dari http://www.mhww.org/, 2009.

Senin, 23 Oktober 2017

Batas (Kisah hidup dengan Bipolar Disorder)


Batas ialah waktu
Yang memisah aku
Antara senja dan pagi
Atau terjaga dan mimpi


Batas ialah kabut
Yang memisah langit
Antara putih dan hitam
Atau canda dan kelam


Batas ialah debu
Yang memisah kalbu
Antara mengepak sayap
Atau menutup derap

Batas ialah rasa
Yang memisah asa
Antara merangkul dunia
Atau terbunuh olehnya


Batas ialah lelah
Yang memisah nyawa
Antara raga dan tali
Berbatas hidup atau mati


By: Sayna

Selasa, 10 Oktober 2017

Keluarga Sehat Pangkal Mental yang Sehat

Penulis: Syurawasti Muhiddin (Alumni Psikologi UNHAS 2012)
Bulan Oktober adalah bulan dimana masyarakat dunia memperingati hari kesehatan jiwa internasional. Banyak hal yang dilakukan untuk memperingatinya, diantaranya dengan mengajak masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya memelihara kesehatan mental dan menangani persoalan-persoalan terkait hal tersebut sebagaimana mereka memelihara dan menangani perihal terkait kesehatan fisiknya.
Isu kesehatan mental seringkali tidak menjadi prioritas perhatian, baik oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan maupun oleh masyarakat. Padahal, kesehatan mental menjadi salah satu indikator kualitas hidup masyarakat. Terkadang kita melihat seseorang yang tampak sehat-sehat saja secara fisik namun orang tersebut sebetulnya mengalami gangguan sosioemosional.  Orang yang tampak sehat dan bugar secara fisik, tidak menutup kemungkinan menyimpan penyakit psikologis yang memprihatinkan.

Kamis, 02 Februari 2017

Psikologi Positif untuk Kesehatan Mental: Sehat Mental Hidup Bahagia


Bagaimana kita menandai seseorang yang sehat mental? Apakah kita sudah termasuk sehat mental? Jangan sampai kita menganggap diri kita sudah sehat, padahal nyatanya kita masih termasuk orang yang memiliki gangguan-gangguan mental. Kita tidak menyadari bahwa kita mungkin sedang berada pada pintu menuju gangguan mental yang lebih berat. Perihal kesehatan mental masih menjadi salah satu persoalan serius yang perlu ditangani di Indonesia. Mari kita menilik sedikit data yang dapat menunjukkannya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan, sebanyak 6% atau sekitar 19 juta penduduk Indonesia usia lebih dari 15 tahun menderita gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan. Sedangkan penderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400 ribu orang.  Kondisi ini semakin diperburuk dengan pelayanan yang masih terbatas serta kurangnya tenaga kesehatan yang kompeten dalam bidang tersebut. Banyak kasus gangguan mental yang ditangani secara tidak tepat, misalnya saja dengan pemasungan, sebanyak 14,3% penderita gangguan mental emosional tersebut pernah atau sedang dipasung.
banner