Selasa, 26 Desember 2017

Post power syndrome: itu karena apa ?

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal dengan istilah post power syndrome atau sindrom purna kuasa. Yang mana biasanya dialami oleh para lansia. Banyak dari kita yang bertanya, kenapa membahas lansia ? bukannya para lansia sudah tua dan tak memerlukan perhatian lagi karena umurnya sudah menua ?. jangan salah, semakin manusia memasuki usia senja semakin ia memerlukan perhatian lebih. Banyak dari kita yang mengesampingkan bahkan memandang sebelah mata persoalan lansia. Post power syndrome, terjadi karena ketidaksiapan individu untuk menghadapi masa pensiunnya. Ketika ia memasuki masa pension, ia akan merasa telah kehilangan segalanya. Mulai dari jabatan, perhatian, penghormatan, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang terkena gejala post power syndrome akan merasa gelisah ketika menjelang pension bahkan yang telah memasuki masa pensiunnya. Kadang, penyebab dari datangnya berbagai penyakit disebabkan oleh pemikiran dan mental yang kurang siap untuk menghadapi hal tersebut. Istilah post power syndrome hanya dikembangkan di Indonesia saja, masih sangat jarang bahkan tidak ada penelitian dari luar yang membahas tentang post power syndrome. Kenapa ? karena kesejahteraan para lansia di negeri sana lebih baik dibandingkan negara kita (Indonesia). Maka tak jarang, bila kita menjumpai banyak wisatawan luar yang datang ke Indonesia salah satunya untuk menghabiskan liburan mereka. Berbeda dengan para lansia yang ada di negeri kita, kebanyakan dari mereka hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktifitas apapun. Bahkan ada yang dimasukkan ke panti.

Syndrome/sindrom adalah sekumpulan simptom yang saling berkaitan berupa reaksi somatiasi (tubuh) dalam bentuk tanda-tanda penyakit, luka-luka, atau kerusakan-kerusakan. Sehingga post power syndrome adalah reaksi somatisasi dalam bentuk sekumpulan simpton penyakit, luka-luka dan kerusakan-kerusakan fungsi-fungsi jasmani dan mental yang progresif, karena orang yang bersangkutan sudah tidak bekerja, pensiun, tidak menjabat, atau tidak berkuasa lagi. Simptom-simptom penyakit pada intinya disebabkan oleh banyaknya stres (ketegangan, tekanan batin), rasa kekecewaan, kecemasan dan ketakutan yang mengganggu fungsi-fungsi organik dan psikis, sehingga mengakibatkan macam-macam penyakit, luka-luka dan kerusakan yang progresif (terus berkembang atau meluas). Gejala psikis dan fisik yang sering tampil antara lain adalah sebagai berikut: layu, sayu, lemas, apatis, depresif, semuanya “serba salah”, tidak pernah merasa puas, dan berputus asa. Atau tanda-tanda sebaliknya, menjadi mudah rebut, tidak toleran, cepat tersinggung, gelisah, gemas, eksplosif mudah meledak-ledak, agresif dan mudah menyerang baik dengan kata-kata atau ucapan-ucapan maupun dengan benda-benda, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang menjadi beringas, setengah sadar. Masih ada individu yang memiliki pandangan bahwa kekuasaannya masih akan dimiliki ketika pensiun nanti dan mengungkapkan seakan-akan kalau hal tersebut akan dimiliki terus menerus.

Post power syndrome, secara tidak langsung berkaitan dengan kesehatan mental. Banyak orang yang tidak menyadari itu. Hal tersebut dapat timbul karena pemikiran-pemikiran yang kurang mampu untuk dikendalikan sehingga banyak hal yang menyebabkan terjadinya post power syndrome.

Ada tiga hal yang mesti diperhatikan di dalam lingkungan kita, anak-anak, remaja, dan lansia. Kenapa ? karena pada tahap tersebut merupakan masa transisi yang paling rentan terhadap kehidupan manusia. Banyak kasus yang dialami oleh para lansia namun kurang terekspos karena dengan usia seperti itu sudah dianggap tidak berguna lagi. Padahal, lansia juga membutuhkan perhatian. Semakin kita memberikan perhatian dan mampu menjadi pendengar yang baik buat para lansia, semakin membuat perasaan mereka terasa senang. Maka dari itu, jangan kaget apabila kita menjumpai seorang lansia tiba-tiba saja tekanan darahnya naik, tiba-tiba stroke nya kambuh, itu karena apa ?. jawabannya Cuma satu, mereka terlalu memikirkan hal-hal yang tidak semestinya menjadi beban pemikiran mereka. Misalnya saja, seorang ibu yang meminta anaknya untuk datang bertandang ke rumahnya, namun si anak menolak karena banyak kerjaan dan mengeluarkan berbagai alasan. Keesokan harinya, tiba-tiba saja tetangganya nelfon kalau sang ibu sakit. Itu karena pikiran mereka yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Oleh karena itu, mari kita sayangi lansia, berikan perhatian yang lebih buat mereka, dan mari menjadi pendengar yang baik buat para lansia.

Selasa, 19 Desember 2017

di Mana Jiwamu?


Jika memang jiwa itu ada, meskipun tak nampak oleh mata di mana letak keberadaannya. Namun, ada saja yang membuat kita bertanya akan keberadaan jiwa itu. Seperti halnya mempertanyakan ”Pernahkah kita menyentuh jiwa? Ataukah melihat darah keluar dari jiwa? Di manakah jiwa itu berada?”. Semua pertanyaan-pertanyaan hanya berdasarkan pertanyaan yang muncul ketika mempertanyakan keberadaan tubuh atau fisik, tentu saja bisa dijawab berdasarkan pengalaman masing-masing. Kembali ke jiwa, penuh misteri namun diakui keberadaannya. Keberadaan jiwa di dalam pikiran manusialah yang membuat jiwa itu ada. Lebih tepatnya pengalaman manusialah yang membuat jiwa itu ada. Keberadaan jiwa akhirnya dibuat seakan-akan nampak dengan melihat tingkah laku manusia. Dibuatkalah istilah pada setiap aktifitas jiwa itu, kemudian dibuatlah dia betul-betul nyata dan akhirnya dibuatlah jiwa memiliki batas dalam istilah.

Segala bentuk istilah muncul, terkadang ada istilah yang sama ketika dilakukan namun beda dalam istilah tergantung siapa duluan yang menentukan istilah tersebut. Berlomba-lombalah manusia melakukan penelitian demi melanggengkan istilah yang dia temukan dalam sebuah karya tulisan dikemas dengan seilmiah dan seobjektif mungkin. Akhirnya, tersebarlah dia diseluruh penjuru dunia dan dibuatlah menjadi istilah yang paten. Apakah jiwa ini setuju dengan batasan label yang diberikan kepadanya? Ataukah manusia membuatnya setuju agar jiwa diakui keberadaannya? Tentu saja hanya jiwa yang bisa menjawab pertanyaan ini, dan lagi-lagi manusia dengan rasa penasarannya hanya mengekspresikannya dalam sebuah penamaan akan beberapa aktifitas jiwa.

Jiwa ini masihlah menjadi sebuah misteri, dan telah hadir sejak tubuh manusia terbetuk sempurna dan masih dalam gelapnya berada dalam Ibu, jiwa jugalah yang tetap hadir ketika tubuh manusia kelelahan dan mencapai batasnya, kemudian berpisahlah dia dengan tubuhnya dan kembali menjadi jiwa seutuhnya tanpa badan yang menemani.


Sapalah jiwamu selagi dia masih bersamamu, berilah ia makan berupa rasa bahagia, tenangkanlah ia ketika merasa sedih dan ajaklah dia mengenal dunia lebih jauh. Salam Jiwa :) 

Jumat, 01 Desember 2017

Cerita Singkat dari Seorang Anak yang Telah Mengalami Pelecehan Seksual


Oleh:
Puji Rahayu
(Mahasiswi Magister Psikologi Unair)

Sejauh ini, kita hanya mendengar berita dari media massa mulai dari berita di televisi, radio, atau surat kabar tentang pelecehan seksual, namun kebanyakan dari kita hanya mendengar saja bahkan sampai menutup telinga kita karena berita tersebut tidak bisa membuat kita berbuat apa-apa, yang hanya kita lakukan adalah mendengar, merasa iba atau kasihan, setelah itu lupakan. Hanya itu yang kita lakukan. Setelahnya, itu adalah permasalahan biasa saja. Yah, itu hanya berita biasa bagi orang-orang yang belum pernah merasakan atau keluarganya belum menjadi korban. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang telah menjadi korban pelecehan seksual ? anak-anak yang usianya belum tahu apa-apa, yang mereka tahu hanya bermain, dan tiba-tiba saja ada sosok orang dewasa yang mereka harap adalah seseorang yang menyayangi mereka namun ternyata dia adalah pelaku dari kejahatan tersebut.

Di sini saya akan menceritakan sedikit tentang seorang wanita yang berumur 26 tahun, dia salah satu vlogger terkenal. Sebut saja namanya miley, dia memiliki 7 orang saudara. Dua di antaranya sudah menikah. Saat itu, umur miley 7 tahun, dia baru duduk di bangku SD kelas 2. Di tempatnya tersebut dia tinggal Bersama orangtua dan saudara-saudaranya termasuk suami dari salah satu saudaranya itu. Ada saat dimana miley baru kembali dari sekolah, dia masih mengenakan seragam yang lengkap, dan tiba-tiba saja suami dari kakaknya ini memanggilnya dan mengajaknya ke kamar. Si miley tidak tahu apa-apa, dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh suami kakaknya ini. Miley merasakan ketegangan yang luar biasa, karena mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dan diluar dugaan. Singkat cerita, selama 5 tahun lebih dia memendam rasa kebingungan dan rasa bersalahnya kepada kakaknya. Karena dia takut, dia akan mendapatkan marah dari orangtua dan saudaranya. Saat miley mau masuk di sekolah menengah pertama, keuangan orangtuanya menurun, mau tidak mau miley harus ikut ke kakaknya tadi yang sudah menikah dan memiliki rumah serta usaha jadi tergolong mapanlah untuk membiayai sekolah miley nanti. Namun, miley merasa ketakutan. Dia tidak mau ke tempat tersebut, karena ketakutan yang pernah dia alami masih terasa sampai saat ini, bahkan mendengar namanya saja dia merasa takut. Namun, mau tidak mau miley harus mengikuti keputusan orangtuanya agar dia bisa bersekolah. Tibalah miley di tempat kakaknya, dia dan saudaranya tinggal Bersama. Sang kakak sangat senang karena ada adiknya yang menemani dia di sana. Tiba di saat apa yang menjadi ketakutan miley selama ini terjadi lagi, suami kakaknya masuk ke kamar miley. Dia melakukan pelecehan lagi kepada miley, tapi kali ini miley sudah berani angkat bicara. Sang kakak tiba-tiba saja datang dan bertanya kepada miley kenapa dia menangis ? miley menjelaskan semuanya dan meminta untuk diantarkan kembali ke rumah orangtuanya. Sesampainya di rumah orangtua miley, miley menjelaskan semuanya kepada ibunya, dan ibunya hanya terdiam saja. Setelah miley menjelaskan kepada semua orang, keesokan hari dan seterusnya hal tersebut seolah tak pernah terjadi. Tidak ada punishment yang diberikan kepada si pelaku tadi. Dia tetap di terima baik oleh keluarga miley. Di sisi lain, miley merasa dirinya bukanlah apa-apa di dalam keluarganya, dia tidak memiliki kekuatan untuk bertindak. Semua rasa kesal, sesak, marah, semuanya bercampur aduk. Kenapa seperti ini bisa terjadi ? kenapa tidak ada hukuman bagi laki-laki seperti dia ? kenapa semua orang masih bisa tersenyum dan tertawa dengan dia (Re: suami kakaknya) saat saya telah menjadi korban ?. bulan dan tahun berlalu, kini miley akan berusaha untuk menerima segalanya menjadikannya sebagai pelajaran dalam hidupnya, saat itu miley kembali dari ibadah. Miley dan keluarganya mampir ke rumah kakaknya yang pernah dia tinggali saat duduk di bangku sekolah menengah. Semua keluarga duduk di teras rumah, tiba-tiba miley masuk ke dalam rumah hendak menuju dapur tapi tiba-tiba saja suami kakaknya ini berbuat yang tidak senonoh kepada miley lagi. Kesabaran miley tidak terbendung lagi, dia berteriak sambal menangis. Kakak laki-lakinya masuk dan memperingati suami kakaknya tersebut. Namun dengan peringatan yang biasa saja menurut miley. Miley heran mendengar kakaknya. Kenapa peringatannya hanya seperti itu ? adikmu ini sudah dilecehkan ! yang kemarin itu apa ? apakah kamu sudah melupakan apa yang telah dia lakukan pada adikmu ? kecamuk miley dalam hati. Di keadaan ini, perasaan benci dan amarah miley memuncak. Dia memutuskan untuk hidup mandiri, dan ingin jauh dari keluarga. Kenapa ? karena dia merasa semua orang terdekat dia tidak ada yang mendukung. Bahkan, seseorang yang menjadi penjahat di dalam keluarganya tetap mendapatkan dukungan penuh di dalam keluarganya, dibandingkan dengan miley yang posisinya sebagai korban. Setelah semua kejadian tersebut Miley lebih memilih untuk hidup sendiri, dia bekerja sambil sekolah.

Singkat cerita, miley sekarang telah menikah dan memiliki 2 anak. Dia menikah dengan WNA, dan hidup dengan bahagia. Cerita ini saya dapatkan dari vlog dia, dia bercerita sebagai korban. Dari awal sampai akhir videonya saya sangat marah, kesal, dan sedih mendengar cerita dia. Miley benar-benar sosok wanita yang kuat. Saya menulis ini karena ingin menyampaikan bahwa harta yang paling berharga adalah bukan sesuatu yang bentuknya dari materi, tetapi keluarga kita, orang terdekat kita. Bukannya kita malah mencari kesenangan dari keluarga kita sendiri, tetapi kita harus saling menjaga. Miley adalah seorang wanita yang masa kecilnya direnggut oleh keluarganya sendiri. Oleh karena itu, kenali perilaku anak-anak kita, dengarkan saat dia ingin bicara. Jangan menolak dia untuk bicara. Karena dengan hal kecil seperti itu saja bisa menyelamatkan dirinya. Dengarkan dan rangkul orang-orang terdekat kita saat dia memiliki masalah, jangan biarkan dia menopangnya sendiri. Keluarga adalah hal yang sangat berharga. Namun, kadang orang terdekat bisa saja menjadi penjahat dalam keluarga kita sendiri. Sekali lagi kenali segala perilaku yang mencurigakan di sekitar kita. Apabila tindakan pelecehan seksual telah terjadi, bagaimana pun bentuknya, laporkan !. ceritakan kepada saudara dan orangtua kita. Apabila saudara dan orangtua kita tidak merespon dengan baik, laporkan ke kantor polisi. Say it!!!

Undang-undang tentang pelecehan seksual telah ada di Indonesia, maka dari itu apapun yang kita dapatkan di lingkungan terkait dengan pelecehan seksual terutama pada anak-anak maka laporkanlah!. Jangan hanya diam saja, kita harus angkat bicara!...
Demi masa depan anak, kita sebagai orang dewasa dan orang terdekat dari mereka harus lebih peduli terhadap perkembangan anak-anak. Kesehatan bukan hanya dari segi fisik, tetapi kesehatan mental yang utama. Apa jadinya pada anak-anak nantinya jika di saat mereka kecil, di saat mereka hanya ingin tahu yang namanya bermain mereka harus merasakan trauma yang luar biasa akibat dari pelecehan seksual. Kita tidak tahu perilaku apa yang akan dimunculkan ketika hal tersebut telah terjadi. Oleh karena itu, mari saling merangkul, mari membuka mulut untuk bicara, mari sharing Bersama anak, mari kita berani untuk cerita.

Semoga kisah singkat ini dapat menjadi pembelajaran besar buat kita.
Sekali lagi, sayangi keluarga kita, lindungi mereka, dan rangkul mereka.
Susah dan senang adalah milik Bersama.
Dan kesehatan mental tercipta dari lingkungan yang sehat terutama ada pada diri kita sendiri.

#HaloJiwa #SehatMental #Indonesia
banner