Post power syndrome: itu karena apa ?

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal dengan istilah post power syndrome atau sindrom purna kuasa. Yang mana biasanya dialami oleh para lansia. Banyak dari kita yang bertanya, kenapa membahas lansia ? bukannya para lansia sudah tua dan tak memerlukan perhatian lagi karena umurnya sudah menua ?. jangan salah, semakin manusia memasuki usia senja semakin ia memerlukan perhatian lebih. Banyak dari kita yang mengesampingkan bahkan memandang sebelah mata persoalan lansia. Post power syndrome, terjadi karena ketidaksiapan individu untuk menghadapi masa pensiunnya. Ketika ia memasuki masa pension, ia akan merasa telah kehilangan segalanya. Mulai dari jabatan, perhatian, penghormatan, dan masih banyak lagi. Orang-orang yang terkena gejala post power syndrome akan merasa gelisah ketika menjelang pension bahkan yang telah memasuki masa pensiunnya. Kadang, penyebab dari datangnya berbagai penyakit disebabkan oleh pemikiran dan mental yang kurang siap untuk menghadapi hal tersebut. Istilah post power syndrome hanya dikembangkan di Indonesia saja, masih sangat jarang bahkan tidak ada penelitian dari luar yang membahas tentang post power syndrome. Kenapa ? karena kesejahteraan para lansia di negeri sana lebih baik dibandingkan negara kita (Indonesia). Maka tak jarang, bila kita menjumpai banyak wisatawan luar yang datang ke Indonesia salah satunya untuk menghabiskan liburan mereka. Berbeda dengan para lansia yang ada di negeri kita, kebanyakan dari mereka hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktifitas apapun. Bahkan ada yang dimasukkan ke panti.

Syndrome/sindrom adalah sekumpulan simptom yang saling berkaitan berupa reaksi somatiasi (tubuh) dalam bentuk tanda-tanda penyakit, luka-luka, atau kerusakan-kerusakan. Sehingga post power syndrome adalah reaksi somatisasi dalam bentuk sekumpulan simpton penyakit, luka-luka dan kerusakan-kerusakan fungsi-fungsi jasmani dan mental yang progresif, karena orang yang bersangkutan sudah tidak bekerja, pensiun, tidak menjabat, atau tidak berkuasa lagi. Simptom-simptom penyakit pada intinya disebabkan oleh banyaknya stres (ketegangan, tekanan batin), rasa kekecewaan, kecemasan dan ketakutan yang mengganggu fungsi-fungsi organik dan psikis, sehingga mengakibatkan macam-macam penyakit, luka-luka dan kerusakan yang progresif (terus berkembang atau meluas). Gejala psikis dan fisik yang sering tampil antara lain adalah sebagai berikut: layu, sayu, lemas, apatis, depresif, semuanya “serba salah”, tidak pernah merasa puas, dan berputus asa. Atau tanda-tanda sebaliknya, menjadi mudah rebut, tidak toleran, cepat tersinggung, gelisah, gemas, eksplosif mudah meledak-ledak, agresif dan mudah menyerang baik dengan kata-kata atau ucapan-ucapan maupun dengan benda-benda, dan lain-lain. Bahkan tidak jarang menjadi beringas, setengah sadar. Masih ada individu yang memiliki pandangan bahwa kekuasaannya masih akan dimiliki ketika pensiun nanti dan mengungkapkan seakan-akan kalau hal tersebut akan dimiliki terus menerus.

Post power syndrome, secara tidak langsung berkaitan dengan kesehatan mental. Banyak orang yang tidak menyadari itu. Hal tersebut dapat timbul karena pemikiran-pemikiran yang kurang mampu untuk dikendalikan sehingga banyak hal yang menyebabkan terjadinya post power syndrome.

Ada tiga hal yang mesti diperhatikan di dalam lingkungan kita, anak-anak, remaja, dan lansia. Kenapa ? karena pada tahap tersebut merupakan masa transisi yang paling rentan terhadap kehidupan manusia. Banyak kasus yang dialami oleh para lansia namun kurang terekspos karena dengan usia seperti itu sudah dianggap tidak berguna lagi. Padahal, lansia juga membutuhkan perhatian. Semakin kita memberikan perhatian dan mampu menjadi pendengar yang baik buat para lansia, semakin membuat perasaan mereka terasa senang. Maka dari itu, jangan kaget apabila kita menjumpai seorang lansia tiba-tiba saja tekanan darahnya naik, tiba-tiba stroke nya kambuh, itu karena apa ?. jawabannya Cuma satu, mereka terlalu memikirkan hal-hal yang tidak semestinya menjadi beban pemikiran mereka. Misalnya saja, seorang ibu yang meminta anaknya untuk datang bertandang ke rumahnya, namun si anak menolak karena banyak kerjaan dan mengeluarkan berbagai alasan. Keesokan harinya, tiba-tiba saja tetangganya nelfon kalau sang ibu sakit. Itu karena pikiran mereka yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Oleh karena itu, mari kita sayangi lansia, berikan perhatian yang lebih buat mereka, dan mari menjadi pendengar yang baik buat para lansia.
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.