Sabtu, 29 Desember 2018

Aku Tak Bisa Tanpamu?


Oleh Azzah As-Sahih


Tercipta sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan berkomunikasi dan bersosialisasi. Di era digital sekarang ini, berbagai inovasi teknologi yang canggih mewarnai kehidupan kita. Bukan hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun sudah memilikinya. Dari banyaknya teknologi, smartphone merupakan salah satu jenis platform yang paling banyak digunakan dan dipilih oleh masyarakat Indonesia karena ukurannya yang pas di kantong dan mudah dibawa ke mana saja, membuat kita bersahabat akrab dengannya bahkan melebihi sanak keluarga dan kerabat kita sendiri.

Smartphone memiliki banyak fitur yang menarik dan aplikasi-aplikasi yang terhubung dengan internet sehingga smartphone berisi segudang informasi dah hiburan yang menarik perhatian para penggunanya. Smartphone sudah menjadi kebutuhan utama hampir tiap manusia. Dengan smartphone, kita dapat melakukan apapun yang kita sukai, mulai dari berkirim pesan singkat, menonton video melalui youtube, chatting, bermain Instagram, facebook dan berbagai jenis jejaring sosial lainnya, hingga bermain game online, yang lambat laun membuat ketergantungan bahkan kecanduan.

Keseruan dan kenyamanan yang ditawarkan seringkali membuat kita lupa bahwa kita berada di lingkungan sosial. Kita lebih memilih untuk bermain game, bersosial media, berbelanja online ketimbang berkomunikasi dengan orang sekitar kita sehingga kita terkesan mengabaikannya. Kita bahkan seringkali merasa cemas apabila tidak memegang smartphone.

Merasakan kecemasan apabila jauh dari smartphone diistilahkan nomophobia. Istilah ini menjadi penting untuk didiskusikan, pasalnya perasaan tersebut hampir menjangkiti beberapa orang dari kita. Nomophobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia yaitu merasa cemas dan takut jika tidak ada smartphone. Hal tersebut merupakan refleksi dari  sindrom ketakutan yang berlebihan apabila jauh dari smartphone. 


Mereka yang mengalami nomophobia akan merasa panik jika daya baterai smartphone-nya habis. Mereka akan terus menyalakan smartphone-nya sepanjang hari, membawanya ke manapun bahkan ketika masuk ke toilet dan sulit mengendalikan penggunaannya.
Meskipun sindrom ini kelihatan wajar terjadi dikarenakan kita secara tidak langsung dibuat bergantung pada smartphone, namun hal ini cukup menjadi perhatian bagi beberapa orang karena dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Misalnya saja, sebagian orang dewasa ini bekerja melalui smartphone. Dengan mengandalkan benda ini ditambah jaringan internet, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan apapun bahkan hanya dengan duduk di kamar. Olehnya itu, sangat wajar jika mereka cemas jika smartphone tidak aktif atau rusak. Akan tetapi, karena ketidakseimbangan dan ketidakjelasan batas waktu kerja dan waktu pribadi, beberapa orang menjadi kewalahan mengelola dirinya, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya. 

Salah satu badan yang bergerak dalam dunia digital yaitu secure envoy yang telah melakukan survei di Inggris menujukkan bahwa hampir 66% pengguna smartphone adalah nomophobia. Persentase inipun semakin meningkat pada responden berusia 18 dan 24 tahun. 

Nomophobia bukan hanya perasaan takut dan cemas, namun perasaan ketergantungan yang membuat orang menjadi khawatir, resah dan tidak nyaman apabila tanpa smartphone-nya. Lebih dari itu, seringkali banyak orang yang merasakan kepercayaan diri apabila menggunakan smartphone-nya. Terutama dalam penggunaan sosial media untuk menampilkan citra dirinya, sehingga membuatnya tenggelam dan larut serta melupakan peran sosialnya. Survei Science Direct mengungkapkan bahwa benua Asia memiliki jumlah pecandu smartphone yang besar dan diprediksi akan meningkat, yang mana 25% pengguna smartphone di asia adalah remaja. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila kita salah satu nomophobia-ers?Jawabannya akan sangat relatif. Apalagi di era digital ini, segala hal yang kita perlukan tersedia di jejaring internet yang terdapat di dalam smartphone. Oleh karennya,  kembali kepada diri kita yaitu dengan cara mengontrol penggunaannya sebelum kita semakin sulit melepaskan tangan untuk terus memegangnya. Seperti penelitian yang dilakukan di salah satu universitas di Semarang yang hasilnya adalah terdapat hubungan antara kontrol diri dengan kecemasaan saat jauh dari smartphone. Adapun  peran pemerintah, masyarakat dan terutama orang tua sangatlah penting untuk mampu membimbing dan mengarahkan remaja dalam penggunaan smartphone-nya.

(Editor: S.Wasti M.)

Rabu, 19 Desember 2018

Bijak dan Cerdas dalam Bermain Game Online


oleh: nurul sakinah
(@Luluuns)

Perkembangan teknologi yang pesat dan bersifat global menciptakan era millennial dimana dunia terbagi menjadi 2 yaitu dunia nyata dan dunia maya. Salah satu hasil pemikiran individu produktif dengan memadukan ide kreatif dan teknologi adalah game online. Terdengar familiar, bukan? Game online sudah tidak asing bagi kalangan remaja, anak-anak, bahkan dewasa di seluruh dunia. Persamaan gender pun telah berlaku bagi pengguna game online, laki-laki maupun perempuan telah terperangkap dalam dunia fantasi yang menghipnotis dan merajalela ini. 

Game online menyedot pengguna game offline sehingga saat ini game online lebih diminati dan memiliki lebih banyak pengguna seperti PUBG (PlayerUnknown’s Battlegrounds), Mobile legends, Fortnite, Dota 2, Arena of Valor, dsb. Tetapi bukan berarti game offline tidak diminati lagi oleh “gamers”.

Hal yang perlu dan penting diketahui bahwa game online memiliki banyak dampak negatif yang sangat merugikan penggunanya saat ini. Budaya literasi telah memudar dan minat baca menurun akibat teralihkannya hobi membaca menjadi hobi bermain game. Sungguh miris, bukan? Tidak heran jika kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lebih rendah dibandingkan “skill” bermain game manusia di zaman millennial ini. 

Banyak berita viral belakangan ini tentang orang yang mengalami gangguan medis karena pengaruh buruk bermain game secara berlebihan. Salah satu berita viral yang terposting di sosial media Instagram bercerita mengenai pengalaman buruk seorang gamer ketika terlalu lama terpapar radiasi dari gadget saat bermain game online sehingga menyebabkkan pembuluh darah pada mata pria tersebut pecah.

Selain itu, bermain game online secara berlebihan dapat menyebabkan stroke seperti berita yang pernah viral di sosial media yang menimpa seorang gamer saat terlalu lama bermain game. Efek yang paling fatal yang terjadi jika bermain game online tanpa manajemen waktu yang benar dan teratur yaitu dapat menyebabkan kematian seperti yang telah terjadi pada seorang gamer di luar negeri, ia meninggal akibat bermain game 24 jam non-stop.


Dunia maya memang sangat hebat, ia dapat mengalihkan manusia dari dunia nyata. Tanpa kita sadari manusia hanyalah jiwa tanpa raga ketika diperhadapkan dengan dunia maya terutama game online. Padahal manusia dapat melakukan hal positif tanpa terkait dengan dunia maya. Sangat memilukan ketika teknologi dapat membutakan manusia, ketika gamers duduk di depan Komputer atau android, mereka telah menjadi “budak” yang dikendalikan. Game online dapat menyebabkan seseorang menjadi pasif, malas dan anti-sosial.

Di zaman ini, manusia dituntut untuk menjadi produktif, kreatif dan inovatif mengingat persaingan global yang tak terhindarkan dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Tetapi sebagian manusia yang telah kecanduan game online justru sebaliknya. Mereka rela mengorbankan banyak uang untuk membeli item dalam game, rela begadang, kelelahan dan menjadi manusia non-produktif, contohnya yaitu anak kuliah yang waktunya digunakan untuk bermain game sampai larut malam dan tugas kuliah diabaikan, bagaimana jika hal ini terjadi pada gamers lainnya?.

Perlu kita ketahui bahwa game online juga mempunyai beberapa manfaat. Selain bermain game bersama dalam arena game, gamers juga dapat berinteraksi melalui via chat, audio, dan berkirim pesan dengan sesama gamers dan secara tidak langsung bermanfaat bagi aspek sosial karena dengan demikian, gamers dapat menemukan teman baru. 

Selain aspek sosial, game online mempunyai sisi positif dalam aspek ekonomi. Dengan mengikuti turnamen yang berhadiah dalam game online dan berhasil memenangkan turnamen tersebut, gamer tersebut terbantu dalam segi finansial. Tidak hanya itu, gamers yang terbiasa dihadapkan dengan bahasa asing terutama bahasa inggris dalam game akan terbiasa dengan bahasa inggris dan secara tidak langsung berpengaruh pada kemampuan komunikasi gamers. 

Kecerdasan seseorang juga dapat diasah melalui game online karena gamers dituntut berpikir kritis untuk menggunakan taktik dan strategi yang tepat agar memenangkan permainan. Selain itu, game online mengajarkan kepada pemainnya betapa beratnya persaingan sesama gamers, begitupun dalam tim. Gamers diharuskan untuk memiliki kekompakan, kerja sama yang baik serta kesabaran. Pola pikir dan perilaku tersebut akan dapat memberikan pengaruh positif pada kehidupan sehari-hari gamers di dunia nyata.

Manfaat yang terakhir yaitu game online dapat mengalihkan penggunanya dari kemungkinan pergaulan bebas seperti seks bebas dan terhindar dari obat-obatan terlarang (Narkoba, dll). Game online dapat menjadi alternatif lain bagi mereka. 

Di tengah perdebatan mengenai manfaat dan akibat game online, nyatanya game online dapat dan telah menimbulkan kecanduan. Jadi, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana cara menghilangkan adiksi game online? Pertama, yang dapat dilakukan adalah mengalihkan perhatian dengan mengikuti kegiatan positif seperti mengikuti organisasi yang ada di sekolah, universitas, maupun di masyarakat. Kedua, rutin berolahraga setiap hari. Ketiga, gunakan waktu bermain game di rumah untuk belajar, membaca buku, membaca artikel yang bermanfaat, membuat blog, dll. Keempat, berpikir untuk masa depan lalu pikirkan bagaimana kecanduan game online dapat merusak hidup anda secara perlahan. Yang terakhir, bersungguh-sungguh dan berdoa agar tips diatas dapat menghilangkan kecanduan game. 

Manusia yang cerdas adalah manusia yang menggali manfaat dan keuntungan dari sebuah teknologi dan menghindari kerugian dari teknologi tersebut. Manusia perlu menerapkan prinsip tersebut agar menjadi manusia modern yang berintelektual. Agar mendapatkan manfaat dari game online diperlukan keseimbangan antara waktu produktif dan waktu bermain game. Apabila kedua hal tersebut tidak seimbang dan hanya salah satu yang menonjol pasti akan memunculkan penyakit mental yang merugikan manusia itu sendiri. 

Kecanduan game online merupakan fenomena universal yang telah menciptakan permasalahan serius karena dengan adanya game online, waktu produktif manusia telah teralihkan. Kecanduan game online dapat disebut gangguan bila memenuhi 3 hal. Pertama, seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game. Kedua, seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain. Ketiga, seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. Bukti nyata, bahwa game online sangat berbahaya jika tidak diselingi dengan kebijakan dan aturan adalah dengan tindakan WHO (World Health Organization) yang secara resmi telah menetapkan kecanduan game online atau disorder sebagai penyakit gangguan mental yang dikategorikan dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD). 

Dunia maya sangat mudah mempengaruhi manusia melalui berbagai cara yang tidak disadari. Sadarkah kita bahwa keberadaan game online sebagai bagian dari kehidupan dunia maya telah mengganggu kesehatan mental manusia di era ini? tujuan diciptakannya fitur-fitur online tersebut adalah sebagai hiburan untuk manusia di tengah perkembangan global dan persaingan yang semakin pesat saai ini.

Justru tujuan tersebut hanya dirasakan segelintir orang saja di muka bumi ini. Jadi, manfaatkanlah dunia maya sebagaimana mestinya dan hindari “virus-virus” yang dapat merusak kehidupan dunia nyata. Bijaklah dalam bermain game online dan jadilah Agent of Change dengan menjunjung tinggi revolusi mental agar menjadi manusia yang elit, cerdas dan bijaksana dalam mengunakan berbagai fasilitas di dunia maya.

(Editor: S.Wasti Muhiddin)

Rabu, 05 Desember 2018

Ku Jemput Hidayahku Setelah Sakitku | Sebuah Perjalanan Spiritual


Lewat tulisan singkat ini, aku menceritakan sedikit kisah tentangku dalam menjemput hidayah setelah sakit parah yang pernah aku alami dulu.                                         

Sedikit mengingat kejadian menyakitkan 4 tahun yang lalu ketika aku masih menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus jurusan kesehatan di Sulawesi. Saat itu, aku adalah salah satu mahasiswi semester akhir di kampusku, sehingga tentunya aku disibukkan dengan tugas akhir serta praktek di rumah sakit dan puskesmas.

Di saat sibuk seperti ini, tiba-tiba saja cobaan terberat bagiku datang menghampiri hidupku. Cobaan ini juga sempat mengingatkanku dengan niatku dulu yang belum pernah terpenuhi dan sempat terpikir bahwa apakah mungkin ini salah satu teguran dari Yang Maha Kuasa? Bukan cuma itu, saat masih SMA dulu sempat ada seorang teman yang mengingatkanku tentang niatku itu untuk segera melaksanakannya karena takkan ada yang tahu kapan ajal akan datang menjemput. Akan tetapi, baik hati maupun perbuatan, masih saja menunda-nunda.

Lanjut cerita, pada saat mendekati ujian akhir, tiba-tiba saja aku jatuh sakit. Kejadian ini membuat perasaanku sangat hancur, bingung, sedih, kesal, bahkan membuatku putus asa. Bagaimana tidak, karena penyakit yang kuderita ini, dokter menyarankan agar aku istirahat total dan tidak memaksakan diri untuk beraktivitas. Dokter mendiagnosa aku terkena gejala penyakit menular (paru - paru), sehingga aku dilarang banyak beraktivitas untuk mencegah penyakitku semakin parah. Aku kaget bukan main. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang seharusnya bertugas merawat orang-orang yang sakit, justru dia sendiri yang tidak sehat secara jasmani. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjalani pengobatan untuk mencegah agar virus dalam tubuhku tidak menyebar dan tidak berkembang biak.

Saat mengetahui tentang penyakit yang aku alami, aku sering mengurung diri di kamar. Terkadang aku juga berpikir, mengapa aku harus mengalami hal-hal tersulit dalam hidup di saat cita-cita yang diimpikan kedua orang tuaku sudah ada di depan mata. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis dan putus asa. Semakin lama, aku juga mulai menghindari orang-orang terdekatku. Namun, itu aku lakukan demi kebaikan mereka agar tidak tertular penyakit yang kuderita.

Saat memasuki minggu kedua pengobatan, tiba-tiba saja aku merasakan keanehan pada tubuhku saat malam hari. Aku tak dapat merasakan seperti apa hawa panas dan hawa dingin. Penglihatanku juga menjadi aneh. Aku hanya dapat melihat ke arah atas dan terlihat seperti ada cahaya putih di atasku. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mataku tak bisa berpaling dari cahaya putih itu. Sementara tubuhku hanya bisa merasakan kesakitan yang luar biasa. Tangis orang-orang di sekitarku pun mulai pecah. Semua keluargaku yang datang pada malam itu hanya bisa menangis, terutama ibuku yang menangis dengan keras karena tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang sudah hampir terbujur kaku.

Rasa sakit yang kualami pada saat itu luar biasa sakitnya, seakan-akan mengalahkan semua rasa sakit yang ada di dunia. Anehnya, aku merasakan kesakitan itu hanya sampai menjelang adzan subuh. Saat  memasuki waktu shalat subuh, tiba-tiba saja tubuhku sudah tidak merasakan rasa sakit lagi dan cahaya putih yang kulihat pun sudah tidak ada lagi. Orang-orang yang tadinya menangis melihat keadaanku, tiba-tiba saja menjadi kaget karena mereka mengira dan mengatakan kalau aku sudah dalam keadaan sakaratul maut. Tapi aku hanya dapat tersenyum pada saat menjawab pertanyaan mereka. Saat sadar, tanpa berpikir panjang aku meminta pada ibuku untuk pindah ke tempat lain. Bagiku, kejadian semalam itu betul-betul membuatku takut, apalagi ada cahaya putih yang kulihat tapi tak tahu-menahu tentang cahaya itu.

Saat pagi menjelang, kami pun memutuskan untuk pergi dan menetap di kediaman milik sepupuku untuk sementara waktu. Tadinya aku berpikir bahwa setelah berpindah ke tempat lain, aku tidak akan pernah lagi merasakan hal yang sama dengan kejadian malam itu. Tapi ternyata dugaanku salah. Saat malam pertama menginap di sana, kejadian yang pernah kualami sebelumnya, kembali kualami dan jauh lebih parah. Bahkan, saat kejadian aneh itu terulang, tubuhku tidak dapat kugerakkan, mataku hanya terpejam dan tak dapat melihat apapun lagi. Aku hanya dapat mendengar lantunan ayat suci Al-quran dan suara orang yang membacakan syahadat di dekat telingaku. Setelah itu, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku sudah tak sadarkan diri.

Namun ternyata, Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, masih memberikanku kesempatan untuk hidup. Saat aku kembali membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit dan sempat mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku. Dokter mengatakan kalau keadaanku masih dalam keadaan baik-baik saja. Dokter juga mengatakan kalau aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa asalkan jangan terlalu lelah karena masih dalam masa penyembuhan. Mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku itu, aku merasa agak sedikit lega.

Saat malam hari, tepatnya masih di rumah sakit, tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi kembali. Aku ingin buang air kecil dan masuk seorang diri ke kamar kecil. Aku mengangkat tiang infusku seorang diri. Awalnya, aku merasa baik-baik saja. Tapi saat keluar dari kamar kecil, aku melihat ada tiga orang pria yang melintas dari kamar perawatanku dan salah satu dari pria tersebut adalah sepupuku yang baru meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku kaget bukan main! Saat itu, aku sedang dalam keadaan akan naik ke ranjang tapi tiba-tiba baju panjang yang kukenakan saat itu membuat kakiku tersangkut hingga membuatku terjatuh dan kepalaku menghantam lantai. Tiang infusku hampir saja terjatuh mengenai wajah dan kepalaku saat itu. Andaikan saja ibuku tak ada dalam ruangan dan tidak menahan tiang infus yang terjatuh, mungkin kepalaku sudah terluka karena terkena besi tiang infus.

Ibuku kaget bukan main dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku. Akupun menjelaskan padanya. Saat mendengar ceritaku, ibuku hanya mengeleng-geleng kepala dan mengatakan padaku untuk banyak-banyak ber-istighfar. Untuk kesekian kalinya karena kejadian aneh yang aku alami, akupun meminta untuk keluar dari rumah sakit walaupun sebenarnya dokter belum mengizinkan. Aku tetap memaksakan diri untuk keluar dengan alasan kalau kondisiku sudah membaik. Seminggu berada di dalam rumah sakit rasanya sudah seperti di penjara. Aku memutuskan untuk melakukan pengobatan rawat jalan saja.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku mulai beraktivitas dan kembali aktif di kampus mencari informasi  tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah aku tinggalkan. Dengan keadaan tubuhku yang masih lemah, aku tetap memaksakan diriku untuk terus beraktivitas sampai semua ketertinggalanku selama sakit dapat aku selesaikan sebelum waktu yang ditentukan dari pihak kampus. Syukur Alhamdullah, aku bisa meraih gelar sarjana dan mengikuti wisuda pada waktu yang telah ditentukan.

Selesai wisuda, aku memilih untuk beristirahat selama dua tahun, tidak melakukan aktivitas apapun. Aku memutuskan untuk pulang ke daerah di mana kediaman orang tuaku berada. Di tempat inilah untuk pertama kalinya aku merasakan ketenangan dalam hati yang sudah tidak pernah aku dapatkan sejak tujuh tahun terakhir ini. Akupun mulai teringat kembali tentang kejadian-kejadian aneh yang pernah aku alami saat aku sakit dulu, kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang kuderita saat itu. Lalu aku merenung dan mengingat semua tentang dosa dosa dan kesalahan apa saja yang pernah aku perbuat selama ini.

Aku menangis dalam hati dan tak terasa air mataku juga mulai membasahi pipi. Tiba-tiba saja hati kecilku berkata “berhijab dan berhijrahlah, penuhilah niatmu”. Ucapan dalam hati itu membuat aku tak henti-hentinya menangis dan saat itu juga kuniatkan diriku untuk berhijrah.
Aku mulai tersadar, mungkin saja kejadian-kejadian aneh yang aku alami waktu itu adalah ujian dan salah satu jalan untukku menjemput hidayah. Aku hanya dapat bertanya-tanya dalam hati.

Alhamdulillah niatku telah terpenuhi saat ini. Setelah memutuskan untuk berhijab dan berhijrah aku selalu merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam hati. Bukan hanya itu, penyakit menular yang pernah aku derita dulu, telah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Dokter mengatakan kalau keadaanku sudah membaik dan sudah tidak terjangkit penyakit itu lagi. Yang lebih membuatku tidak berhenti berucap syukur, sekarang aku sudah aktif menjadi salah satu tenaga medis di salah satu puskesmas yang ada di suatu provinsi di Kalimantan. Bagiku itu benar-benar nikmat terbesar yang Allah berikan padaku setelah aku mendapatkan hidayah-Nya.

Itulah cerita singkat perjalanan hidupku dalam menjemput sebuah hidayah, semoga ke depannya aku bisa lebih menyempurnakan hijrahku lagi. Amin ya Rabb.  Setiap orang punya cara tersendiri dalam menjemput hidayah-Nya masing masing. Allah maha pengampun, Allah maha pemaaf, betapa besar rasa cinta dan sayang Allah kepada semua umatnya hingga dia memberikan hidayah kepada hamba-hambanya-Nya di dunia sebelum mereka merasakan betapa menyakitkannya siksaan di akhirat kelak. Salam hijrah saudara-saudara muslimku. Salam alaikum.


oleh: Mia Rajjab
editor: Syura

Minggu, 18 November 2018

Tiang yang Rapuh, Fenomena Kekerasan dalam Pacaran dari Perspektif Pelaku

Oleh Afga Yudistikhar

“Pelaku kekerasan ibaratnya tiang yang rapuh. Mereka layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun nyatanya digerogoti rayap dari dalam. Sedikit tekanan saja akan membuat tiang itu runtuh”.

Kekerasan dalam pacaran ibaratnya gunung es, marak terjadi namun hanya sedikit yang diketahui. Ada banyak hal yang menyebabkan fenomena ini jarang terekspos. Misalnya, korban yang sungkan melaporkan karena masih mencintai pelaku atau mirisnya ketika pelaku sampai mengancam korban. Pada suatu kasus, korban enggan membebaskan diri dari lingkaran kekerasan karena diancam oleh pelaku, foto-foto hubungan intim yang telah dilakukan keduanya akan disebarkan ke orang tua korban. Pada kasus yang lain, korban diancam foto-foto mesranya dengan pelaku akan diekspos ke media sosial. Selain dua kasus tersebut, mungkin masih banyak kasus lainnya yang tidak diketahui sampai saat ini. Fenomena ini akan tetap bergerak di bawah tanah, selama keinginan untuk membebaskan diri dari kekerasan masih terpendam, baik dari pelaku, korban, hingga orang-orang di sekitar keduanya.

Tulisan ini akan menguak fenomena kekerasan dalam pacaran dari sudut pandang pelaku. Kalau selama ini banyak tulisan mengenai bagaimana dampak psikologis yang dialami korban kekerasan atau bagaimana cara melepaskan diri dari kekerasan tersebut, dalam tulisan ini penulis ingin berbagi mengenai dinamika psikologis yang terjadi dalam diri pelaku, agar selain kita berempati kepada korban, kita juga bisa lebih memahami fenomena ini dari perspektif pelaku. Karena pada dasarnya, melihat fenomena ini, perlu dari cakupan yang luas, dengan tidak hanya mempertimbangkan korban, namun juga pelaku, hingga orang-orang di sekitar, termasuk keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah. Dengan demikian, kita bisa memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena ini dengan melihatnya secara sistemik. 

Sebenarnya apa yang menyebabkan orang tega melakukan kekerasan kepada orang yang mencintainya? Terkait pertanyaan ini, Adler memiliki jawabannya sendiri. Adler merupakan salah satu pencetus teori psikogi individual yang termasuk dalam mazhab psikodinamika. Adler menggambarkan pelaku kekerasan ibaratnya tiang yang rapuh. Mereka layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun nyatanya digerogoti rayap dari dalam. Sedikit tekanan saja akan membuat tiang itu runtuh. Begitulah jiwa para pelaku kekerasan. Mereka hanya berani mengasari orang-orang yang setia mencintainya, namun senyatanya nyali mereka ciut pada orang lain. Adler menjelaskan fenomena ini sebagai dorongan striving for superiority. Adler menjelaskan setiap orang memiliki inferioritas dalam diri mereka yang dibawa sedari kecil (Feist & Feist, 2009). Karena inferioritas ini, setiap orang berusaha untuk mencapai superiority dengan caranya masing-masing. Inferioritas ini akan mengecil seiring semakin besarnya usaha individu untuk meraih superiority (Pervin, Cervone, & John, 2004).

Namun, tampaknya hal yang berbeda ditunjukkan oleh para pelaku kekerasan. Pada dasarnya, apabila kita jeli dalam melihat, jauh dalam diri mereka terdapat jiwa yang kosong, inferioritas yang besar, layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun rapuh dari dalam. Mereka hanya berani melakukan kekerasan kepada orang yang mencintainya. Mereka memiliki anggapan, orang yang mereka cintai akan selalu hadir meskipun disakiti, beda halnya dengan orang lain. Sejatinya, mereka melakukan kekerasan untuk menyembunyikan jiwa mereka yang rapuh. Mereka ibaratnya menutupi inferioritas dengan selimut superiority yang semu. Mereka terlihat kuat, mendominasi, percaya diri, dengan melakukan kekerasan untuk menutupi rasa rendah diri yang menguasai jiwa mereka.

Sejumlah studi mampu menjelaskan akar dari inferioritas yang dimiliki oleh para pelaku kekerasan. Mereka digambarkan memiliki insecured attachment (anxiety or avoidant) dengan orang-orang di sekitar termasuk pasangan. Insecured attachment (kelekatan tidak aman) yang mereka miliki membuat mereka berperilaku agresif untuk menyembunyikan ketidakpercayaan diri, rasa rendah diri, perasaan curiga, dan perasaan cemas ketika bersama orang lain. Insecured attachment ini diperoleh dari kelekatan yang tidak aman yang dikembangkan dari kecil ketika bersama orang tua atau keluarga. Mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan kepedulian dari orang tua dan keluarga, yang membuat mereka merasakan kesepian, kurang percaya diri, dan rendah diri (Moretti & Peled, 2004). Studi lain menemukan remaja yang cenderung melakukan perilaku agresif termasuk kekerasan, berasal dari keluarga yang broken home. Mereka kurang diperhatikan oleh keluarga dan kekurangan kasih sayang (Astuti, 2011). Pada kesempatannya, ketika anak beranjak dewasa kemudian menjalin hubungan romantis, konflik-konflik psikologis yang mereka tekan selama ini, bisa terlampiaskan dengan melakukan kekerasan kepada orang yang dicintainya. Mereka berusaha menunjukkan superioritas diri mereka yang semu hanya kepada orang yang setia mencintai mereka karena mereka beranggapan orang yang mencintainya tidak akan pergi meskipun telah disakiti.

Fenomena kekerasan dalam pacaran memang begitu kompleks. Rantai kekerasan ini hanya bisa diputus apabila semua pihak mau berkolaborasi. Tentunya, gerakan untuk menghentikan kekerasan seyogianya dimulai dari keluarga mengingat remaja dan orang dewasa merupakan produk keluaran dari keluarga. Keluarga seyogianya menanamkan nilai-nilai pada anak, sehingga di masa datang anak bisa berbaur dengan masyarakat secara adaptif. Selain itu, keluarga seyogianya mendampingi anak dalam mengembangkan kelekatan yang aman, dengan pemberian kasih sayang, perhatian, dan kepedulian. Namun tidak cukup hanya keluarga untuk memutus lingkaran kekerasan ini. Berbagai pihak lain, seperti sekolah, masyarakat, hingga pemerintah seyogianya berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan pribadi anak.

Referensi:

Astuti, M. (2011). Anak Berhadapan dengan Hukum Ditinjau dari Pola Asuh dalam Keluarga. Informasi, 16(1): 1-16.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Teori Kepribadian (Buku 1). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Moretti, M. M. & Peled, M. (2004). Adolescent-parent Attachment: Bonds that Support Healthy Development. Paediatr Child Helath, 9(8): 551-555.

Pervin, L. A., Cervone, D., & John, O. P. (2004). Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Penerbit Kencana.


Editor: Syura
Gambar: Azmul

Kamis, 15 November 2018

Halo Jiwa Karya | Edisi Desember 2018


Tema: Dunia Maya dan Kesehatan Mental

Sub tema: Nomophobia, Kecanduan internet, Kecanduan game online, media sosial, hoax, cyber bulliying, online shop (dan lain-lain yang berhubungan dengan tema)

Karya:

1. Tulisan: artikel, opini, gagasan inovatif, cerita pendek, cerita pengalaman pribadi, dan puisi.
*Ketentuan tulisan: 1000 - 1500 kata (kecuali puisi)

2. Video: penjelasan/informasi atau cerita pengalaman pribadi yang berkaitan kesehatan mental (maksimal satu menit). .

3) Foto: foto yang mengandung pesan berupa kritik ataupun pesan-pesan persuasif dan inspiratif terkait dengan tema utama.

4) Poster: berupa penjelasan/informasi atau data yang dituangkan secara menarik dan persuasif.

Batas pengiriman karya: 30 November 2018
Kontak: 085242606246 (wa)
Kirim ke: halojiwaindonesia@gmail.com
————
3 karya terbaik akan mendapatkan hadiah dari kami 🙌🏻🙌🏻🙌🏻

Berdamai dengan "monster"

gambar oleh: Deviyanti
Ini tentang dia si korban 7 bulan yang lalu . Ini bukan kelanjutan dari kisahnya. Ini hanya sesuatu yang ingin dibagikannya, mungkin saja bermanfaat.

[simak cerita Tujuh Bulan yang Lalu di sini]

Dia datang pada seorang ahli, menceritakan kisahnya yang terjadi 7 bulan lalu. Dia tak kuat menahan tangis, hingga sang ahli menyampaikan sesuatu yang membuatnya berhenti.

Sang ahli mengatakan “Pikiran negatif yang ada di kepalamu adalah sebuah monster. Monster yang kau besarkan dengan cara yang salah”. Si korban heran, “Salah?” tanyanya. “Monster itu lahir karena peristiwa hebat (dalam artian negatif) yang terjadi dalam hidupmu. Monster itu tumbuh karena kau terus menolak perasaan negatif atas peristiwa tersebut. Tanpa sadar semakin lama perasaan negatif itu semakin kau pendam, tidak kau ungkapkan. Membuat monster itu semakin besar”. Si korban kembali menanyakan “Lantas apa yang harus saya lakukan?”. Sang ahli tersenyum, “Berdamailah dengan monster itu. Terima perasaan negatif yang kau rasa atas peristiwa tersebut. Jika kau takut, katakan kau takut. Jika kau marah, katakan kau marah. Jika ingin menangis, maka menangislah. Jangan kuatkan dirimu dengan menghindari perasaan itu. Kuatkan dirimu dengan mengatakan bahwa kau berani menghadapi perasaan itu. Menumbuhkan pikiran positif tidak membunuh monster itu, tapi akan membuatmu menerimanya. Menerima perasaan takut, sedih, marah atas peristiwa itu, menerima peristiwa itu bagian dari kehidupanmu yang spektakuler. Menerima monster itu, berdamai dengannya”. Jangan takut dikatakan aneh, jangan takut dikatakan lemah. Justru itu yang membuatmu semakin aneh dan lemah. Jangan hindari perasaanmu, adalah hal yang wajar bagi manusia untuk merasakan takut, marah, sedih, dan emosi negatif lainnya. Jangan melawan apa yang kau rasakan, terimalah perasaan itu karena kau seorang manusia. -Sang Ahli-

Semua perasaan dan emosi adalah sesuatu yang perlu diterima, bagaimanapun itu. Ada yang memasang topeng-topeng "aku baik-baik saja", untuk menutupi emosi dan perasaannya yang tidak baik-baik saja. Kita perlu melepas topeng itu, memahami diri kita yang sesungguhnya.

gambar oleh Deviyanti
tulisan oleh Pila
editor Syura

Selasa, 06 November 2018

Victim Blaming

Halo sahabat Halo Jiwa Indonesia, semoga saat ini kondisi teman-teman semuanya sehat, secara mental dan fisik tentunya. Anyway, kali ini Halo Jiwa akan membahas tentang victim blaming. Masih awam dengan istilah ini? Atau sudah tahu dengan istilah ini? Yuk, kita bahas secara singkat istilah tersebut. Saat ini, victim blaming marak terjadi pada korban terutama pada perempuan, yang kemudian bisa memberikan efek psikologis secara berkepanjangan.

Kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan isu global yang terjadi  di  berbagai negara tanpa memandang perbedaan tingkat perkembangan sosio-ekonomi, politik, atau pola budaya masyarakatnya. Survey Nasional tentang Pengalaman Hidup Perempuan tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik menemukan bahwa 1 dari 3 perempuan berusia antara 15 sampai dengan 46 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual yang dilakukan oleh pasangan intim atau bukan pasangan intim (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2017). Komisi Nasional Perempuan (2017) juga menyebutkan bahwa kekerasan fisik dan seksual merupakan dua bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia.

Pengaruh negatif kekerasan seksual terhadap perempuan sudah sangat banyak dikaji yang intinya menegaskan kerugian baik bagi korban, keluarga, maupun masyarakat. Akibat kekerasan yang dialaminya, korban kekerasan seksual memiliki resiko tinggi untuk mengalami berbagai dampak langsung dan tidak langsung yang dialami dalam waktu singkat maupun lama. Dampak-dampak tersebut mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan perilaku kesehatan reproduksi, kesehatan mental, keberfungsian dan kesejahteraan korban (Campbell, 2008; WHO, 2010). Berbagai penelitian juga menunjukkan kesulitan-kesulitan psikologis, ekonomi dan sosial yang dialami oleh keluarga atau pihak-pihak yang dekat dengan korban dalam beradaptasi dengan dampak yang ditimbulkan oleh pemerkosaan terhadap korban (Ahrens & Campbell, 2000).  Sumberdaya masyarakat juga harus terkuras untuk menyediakan dan membiayai layanan yang ditujukan untuk melakukan perlindungan dan rehabilitasi korban serta penuntutan dan penghukuman pelaku (Day, McKenna, & Bowles, 2005).

Baca juga: Cerita Singkat dari Seorang Anak yang Telah Mengalami Pelecehan Seksual

Dalam beberapa kasus, pemberitaan-pemberitaan, terutama oleh media massa, membuat orang-orang di luar sana “gatal” untuk berkomentar tentang para korban hingga pada akhirnya akan menyalahkan korban. Mulai dari headline yang dibuat terlalu berlebihan misalnya “pegawai cantik di kantor X dianiaya oleh suami, tak tahan hidup susah?”, kalimat-kalimat seperti ini yang menuntut masyarakat untuk membaca dan menuntut mengeluarkan pendapat-pendapat yang sangat sering kita jumpai adalah “menyalahkan korban” dan hal yang terjadi malah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Akhirnya, komentar-komentar di kolom beritanya pun di isi dengan berbagai pendapat “yah wajar aja, toh hidupnya mewah-mewah mulu, salah sendiri”, komentar yang tidak bertanggung jawab seperti ini yang merupakan salah satu contoh kasus dari victim blaming, kebiasaan menyalahkan korban pada suatu kasus untuk menjustifikasi tindakan pelaku yang di nilai wajar.

Ini hanya satu dari beribu contoh kasus yang ada di luar sana. Bahkan, kita mungkin pernah mengalaminya sendiri atau orang sekitar kita yang merasakan. Terdengar sepele untuk orang yang berkomentar, tetapi ada efek psikologis yang sangat besar ketika individu menjadi korban victim blaming. Perempuan sebagai korban akan menghadapi efek dan dampak yang bermacam-macam. Mulai dari mendapatkan label “cewek matre, perempuan nakal, dll.”, yang dapat menimbulkan trauma secara psikologis, juga kerugian fisik bahkan kematian. Oleh karena itu, sebagai konsumer berita, kita memang memiliki hak untuk berpendapat terhadap berita yang dipublikasikan. Namun, komentar-komentar  yang kita ucapkan ataupun yang kita publikasikan seyogyanya dipilah agar kita tidak terjerumus menjadi salah satu pelaku victim blaming.

Penulis: Puji Rahayu
Editor: Syurawasti Muhiddin



Jumat, 02 November 2018

Halo Jiwa - Unik


[Unik] 
oleh Azzah Azizah

Terkadang kita berpikir
Ingin seperti mereka
Tanpa sadar kita lupa siapa kita

Oh sadarkah kita
Semua manusia itu istimewa
Apa adanya , no body's perfect

Chorus :
Jadi diri sendiri, itu lebih baik
Mensyukuri segala nikmat yang diberi
Tak usah mengejar kesempurnaan
Setiap orang itu unik
Tak perlu jadi orang lain
Tersenyum dan bahagia



Selasa, 30 Oktober 2018

Pernah Direhabilitasi Bukan Berarti Berhenti Bermimpi

Pernah Direhabilitasi Bukan Berarti Berhenti Bermimpi
Oleh I. Setiawan
relawan halo jiwa-


Kata rehabilitasi bagi sebagian orang terdengar tabu, menakutkan, menyeramkan, bahkan mungkin menjijikkan. Pandangan masyarakat umum yang demikian itulah yang membuat para mantan klien rehabilitasi baik rehabilitasi narkoba maupun rehabilitasi fisik dan mental merasa rendah, merasa sendiri, merasa kotor, merasa berbeda, dan merasa tak berguna. Tak jarang keluarga pun menganggap mereka sebagai aib yang harus ditutup rapat rapat.

Pikiran dan perasaan seperti itu tak hanya menghampiri mereka, aku sendiri pun pernah merasakannya. Sebagai mantan pasien di suatu panti rehabilitasi fisik dan mental secara Islami di daerah Cilacap aku paham betul bagaimana perasaan para pasien. Satu bulan aku direhabilitasi akibat pemikiran dan perilaku dalam masyarakat yang telampau radikal, dari perspektif Agama. Aku mengalami gangguan mental karena mempelajari ilmu agama tanpa guru, salah satu kitab mengatakan bahwa “barangsiapa mempelajari ilmu agama tanpa guru maka ia akan digurui oleh syaitan”, dan benar saja, saat itu aku seperti sering merasa mendapatkan bisikan untuk melakukan sesuatu, terutama bisikan untuk berjihad. Lalu, berjihadlah aku dengan caraku sendiri, yaitu dengan menggiatkan jamaah di mushola, menjadikan mushola sebagai pusat peradaban, sebagai tempat pembelajaran ilmu umum dan ilmu agama, dalam waktu 3 hari perubahan di kampungku sangat pesat. Sholat semakin banyak jamaahnya, dan sangat banyak anak anak yang belajar dan membaca di perpustakaan mini yang aku buat dan aku tempatkan di mushola. Namun, kesalahan terbesarku adalah aku memarahi orang-orang yang tak mau berjamaah menggunakan pengeras suara mushola, fatal sekali sangat fatal... Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri saat itu. Itulah awal mula aku dibawa ke panti rehabilitasi.

Ditempat rahabilitasi itulah, aku mendapat perawatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat pertama kali datang, aku di keroyok sekitar 5-7 orang laki-laki akibat memarahi orang-orang yang masih duduk saat iqomah sholat isya sudah berkumandang. Saat dikeroyok tak ada rasa takut sedikitpun muncul dalam benaku. Aku tak ingin berkelahi namun apa daya,  sekali lagi aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, aku terus melawan dan mulutku terus berkata, “kalau aku mati aku berjihad, kalau aku mati aku berjihad, kalau aku mati aku berjihad”. Sampai akhirnya aku lemas tak berdaya dan pelipis, bibir, dada, tangan, serta kakiku berdarah-darah dan memar memar, disaat itulah mereka baru berhenti menghajar tubuh mungilku. Tak berhenti sampai disitu, dalam kondisi luka-luka aku ingin sholat namun tak diizinkan karena aku dianggap kerasukan setan, aku tidak boleh masuk masjid, akhirnya terpaksa aku sholat di teras masjid. Setelah sholat aku tergeletak kesakitan, sakit seluruh anggota badan, aku menangis, dan hati kecilku bertanya, dimana Islam yang rahmatan lil’alamin itu. Rasul mengajarkan untuk memuliakan tamu, mengapa aku sebagai tamu disini diperlakukan seperti ini? Aku terus menangis dalam kesendirian, semua yang ada disitu melihatku seperti melihat setan.

Dalam kondisi luka-luka, tak seorangpun yang membantu, tak seorangpun berbelas kasihan, dan bahkan semua justru berujar “iblis kau !”. Bisa kamu bayangkan betapa sakit lahir batinnya aku saat itu. Setelah itu, dalam kondisi lemah mataku diolesi minyak angin sampai aku tak bisa melihat, perih sekali,  dan saat itulah aku diseret, dijambak rambutku, dirantai kakiku di sebuah ruangan yang gelap, kotor, bau pesing dan bau kotoran, di sanalah aku mendekam bersama 5 orang (“pasien”) lain. Selama 3 hari, aku makan, minum, buang air besar, buang air kecil, mandi dan tidur di ruangan itu dalam kondisi kaki dirantai, ruangan itu terasa seperti kandang bagiku.

Tiga hari berlalu, aku memelas kepada pengurus tempat itu untuk melepaskanku, aku minta maaf, aku memohon-mohon kepada pengurus, aku mengaku salah telah melakukan perbuatan kasar kemarin, aku mengaku salah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Akhirnya aku dilepaskan dari belenggu rantai dan ruangan yang menjijikkan, aku terlepas dari kondisi kaki dirantai tak bisa jalan ke mana-mana walau hanya sekedar buang air sekalipun. Setelah aku dilepas, tidak serta merta aku boleh pulang, hari-hari berikutnya diisi dengan membersihkan ruang perawatan dari kotoran-kotoran pasien yang lain, memandikan pasien yang lain, berlatih berkebun, bertukang, menggembalakan domba, mencari rumput, memasak, dan yang terpenting adalah mengaji bersama Kiyai. Dimasa-masa inilah aku semakin menyadari kesalahanku. Ilmu agamaku masih sedikit namun gayaku selangit sampai-sampai mengkafir-kafirkan orang lain. Selama disana aku tidak memegang HP, tidak membaca koran, tidak dibekali uang, makan hanya mengandalkan jatah dari panti. Bila ingin jajan, satu-satunya jalan adalah menjadi tukang cuci, mencucikan baju para pengurus. Mencuci baju 1 bak aku dibayar 5 ribu, cukup untuk membeli roti dan kerupuk. Begitulah proses pemulihan mental dan fisikku.

Setelah genap sebulan aku dirawat dan perkembangan kondisiku terus membaik dan stabil. Berkat dukungan orang-orang tersayang, akhirnya aku boleh pulang ke rumah. Perasaan khawatir pun muncul, khawatir menjadi aib keluarga, jadi bahan olok-olok, khawatir tidak diterima oleh lingkungan, dan ternyata benar, ada tetangga yang menyayangiku ketika aku kembali disambut dengan hangat, tetapi ada juga yang mengolok-olok, meskipun aku mendengarnya dari orang lain. Hal ini menjadi guncangan tersendiri buatku. Namun, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga kestabilan mentalku, aku tidak mau kumat dan kembali direhabilitasi lagi, aku tidak mau berpisah dan mempermalukan orang-orang tersayangku.

Sebagai seorang mahasiswa bimbingan konseling, akupun tertarik untuk mengkaji apa yang dialami oleh diriku sendiri. Kebetulan aku punya kenalan seorang yang sedang menempuh S3 Psikologi di UGM, setelah cerita via whatsapp, dia menyimpulkan kemungkinan besar aku mengalami gangguan psikologis yang namanya delusi/waham, akibat dinamika hidup yang ekstrim dan beban psikologis yang terlampau berat. Dari situ aku menyadari, ternyata kebiasaanku yang ingin terlihat sempurna, menjadi yang terbaik disemua bidang, ingin memberi dampak untuk keluarga, lingkungan, bangsa, negara, agama dan dunia, keinginan untuk sukses semudah mungkin membuat kondisi psikologisku benar-benar kelelahan sampai sampai kehilangan kontrolnya. Sejak itulah aku mengurangi intensitas mengikuti diskusi yang bernuansa politis, mengurangi target yang muluk, dan mengurangi intensitas kegiatan maupun tanggungjawab lainnya.

Sebagian orang memintaku untuk menjalani hidup apa adanya saja seperti orang pada umumnya, kuliah ya kuliah saja, tidak usah memikirkan orang lain, kemudian bekerja, punya anak, terus bekerja lagi sampai mati, memikirkan diri sendiri saja, Namun aku tak bisa seperti itu, nuraniku tidak sanggup. Aku mengurangi intensitas aktivitas yang memacu badan dan pikiran, namun tak berarti mimpi mimpiku terhenti. Impianku untuk menebar manfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa, negara, dan agama tetap hidup walau dalam praktiknya lebih sederhana dan lebih santai dari yang awalnya aku cita citakan, yang dulunya aku ingin berdikari secara finansial, sekarang tetap menerima uang dari orang tua yang penting tidak untuk hura-hura, yang dulu ingin membangun panti asuhan sekarang yang penting tetap bisa berdonasi untuk panti asuhan walau sedikit dan aktif mendukung kampanye kesehatan mental, yang dulu ingin mempunyai perusahaan properti sekarang tetap didunia properti walau hanya sebagai marketing freelance-nya.

Dari apa yang aku tahu, apa yang pernah aku rasakan, apa yang aku alami, aku ingin berbagi apa yang aku punya. Aku tidak mau semakin banyak keluarga yang berantakan, aku tidak mau semakin banyak orang yang mengalami gangguan mental, aku tidak mau masyarakat tenggelam dalam tidak tahu mengenai hal-hal yang dapat  memperparah kondisi orang-orang dengan gangguan mental.
Melalui tulisan ini aku berharap masyarakat menyadari, setiap orang berhak mewujudkan mimpi mimpinya, sekalipun orang itu pernah mengalami gangguan kejiwaan, dan tanggungjawab sosial kita sebagai masyarakat adalah mendukung agar yang sakit bisa sembuh dan yang sehat mentalnyan tetap terjaga kesehatan mentalnya. Meskipun masuk panti rehabilitasi, namun bukan berarti harus berhenti bermimpi dan semangat. Selama masih hidup artinya kita masih punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi mimpi kita. Selamat berjuang mencari kawan dan jalan yang tepat untuk mewujudkan impian.

Editor: Syurawasti Muhiddin

Selasa, 23 Oktober 2018

Be Authentic, Be Aware

Baru saja diperingati hari Kesehatan Mental Sedunia, yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018. Media sosial ramai dengan postingan berupa artikel, quote, poster, maupun infografis lainnya yang berhubungan dengan kesehatan mental. Umumnya berkaitan dengan info tentang depresi, stres, kecemasan, bunuh diri, hingga terkait kestabilan emosi. Postingan tersebut tentunya bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat luas yang diistilahkan dengan netizen agar lebih perhatian terhada isu kesehatan mental. Harapannya, dengan memaparkan informasi mengenai gangguan-gangguan mental dan bahaya bagi kehidupan, pengetahuan masyarakat dapat bertambah dan mereka lebih tercerahkan.


Saat ini, kita sedang diperhadapkan pada era digital. Era ini ditandai dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, yang memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan manusia. Perubahan yang terbesar adalah semakin meluasnya dunia virtual seseorang melalui eksisnya mereka di media sosial. Tak heran jika kampanye mengenai kesehatan mental juga berbondong-bondong dilakukan melalui media sosial. Dunia virtual berhasil menciptakan slogan tanpa batas, yang mana kita yang ada di suatu daerah bisa berkomunikasi dengan mereka yang ada di luar daerah, misalnya.

 Era digital juga ditandai dengan perubahan dan perpindahan yang cepat. Kondisi A bisa berubah begitu cepat. Kita juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat karena teknologi. Kita terlibat dalam berbagai komunitas virtual yang juga menuntut kita perlu berpindah dengan cepat, berganti peran, dan mengubah mindset.

Tak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi di era ini telah memberikan dampak positif. Namun, perkembangan itu seperti dua mata pisau. Selain dampak positif, dampak negatif juga nyata terlihat, termasuk pada kesehatan mental individu dan masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan penyebaran informasi tidak benar (hoaks) di era ini. Juga kejahatan di dunia maya, termasuk pula bullying. Semua itu dapat menganggu kesehatan kita secara mental.

Bayangkan, kita bisa tertekan oleh banyaknya informasi yang terpapar di otak kita. Apalagi jika kita tidak memiliki keterampilan untuk memilah-milah informasi dengan sebaik-baiknya. Ketika informasi A datang, kita akan cenderung ke A. Namun, jika informasi B datang, kita berpindah lagi. Tentang kejahatan dan bullying, sudah jelas akan merugikan pihak tertentu, yang pada gilirannya dapat membuatnya terganggu secara psikologis.

Belum lagi hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari akibat digitalisasi berbagai hal. Kita membandingkan diri dengan orang lain karena kita melihat status mereka setiap hari di media sosial. Kita menjadi “kehilangan diri” karena sibuk mencari role model di media sosial. Kita berpura-pura terlihat bahagia di foto yang kita unggah di media sosial, kita merangkul pasangan, keluarga, atau teman kita dengan akrab, padahal kenyataanya kita tidak sedekat itu. Kita sibuk menciptakan citra dan kepribadian virtual yang bisa ditunjukkan kepada dunia, padahal citra itu bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita mendahulukan chatting dengan orang yang jauh, padahal ada orang di dekat kita yang menunggu percakapan yang seru nan hidup tanpa alat-alat digital. Lama-kelamaan, kemampuan bersosialisasi kita tidak akan berkembang. Kita bahkan tidak bisa membangun hubungan positif dengan orang lain, kata seorang profesor dari luar negeri.

Dampak negatif itu terasa saat ini. Namun apakah kita akan mundur dan menarik diri dengan perkembangan dunia saat ini? Jawabannya tidak. Kita tidak bisa mundur lagi. Hal yang tepat kita lakukan adalah menyongsong masa depan yang bahkan akan lebih super canggih lagi. Hanya manusia yang bisa beradaptasi yang mampu melalui tantangan zaman. Seperti konsep seleksi alam dalam ilmu biologi.

Bagaimana kemudian cara merawat kesehatan mental kita di era yang sangat dinamis ini agar kita tak terseleksi dan jatuh dalam kelompok orang yang mengalami gangguan mental?

Jawabannya singkat tapi sangat dalam. Be Authentic. Jadilah diri sendiri. Bagaimana caranya? Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri. Bertemulah dengan diri dan berdialoglah. Barangkali apa yang kita tunjukkan saat ini, bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita hanya mengikuti arus perputaran zaman. Setiap manusia diciptakan memiliki potensi yang akan menjadi bekalnya untuk mencapai fitrahnya. Temukanlah fitrah itu, dekatilah! Autentisitas diri adalah kunci untuk bisa bertahan pada lingkungan yang beragam, mudah berubah, dan mudha berpindah.

Dengan autentisitas diri yang kita miliki, kita menjadi lebih berintegritas. Kita tidak mudah terombang-ambing ditengah ketidakpastian yang kemungkinan besar akan membuat kita stres. Kita tidak akan mudah terseret arus zaman yang bisa membuat kita menjadi bukan diri kita, yang pada gilirannya membuat kita hidup dalam depresi karena bertindak hanya untuk menyenangkan lingkungan kita. Seyogyanya kita selalu ingat bahwa setiap individu bersifat unik.

Selain menjadi autentik, kita juga perlu selalu “aware”. Aware ini mewakili kata pemawasan dan kesadaran menghadir (here and now). Karena kita akan banyak menjalankan peran, berpindah dari satu titik ke titik lain, dan menghadapi dunia yang dinamis, kita perlu mawas diri, kita perlu senantiasa sadar dan menghadir dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, kita selalu bisa bersikap teliti, tidak gegabah. Kita bisa menyadari batas kemampuan, menyadari kelebihan dan kekurangan kita. Kita bisa memahami risiko dan konsekuensi dari tindakan kita, juga melakukan tindakan antisipasi serta melakukan kontrol terhadap diri. Ingatlah, bahwa bukan lingkungan yang seharusnya mengendalikan kita, tapi kita yang mengelola lingkungan itu.

Dalam kehidupan ini, orang yang akan teringat melampaui suatu zaman adalah mereka yang bisa memberikan warna untuk lingkungannya, sekecil apapun itu. Bukan sebaliknya, dia diwarnai oleh lingkungan sehingga menjadi sama saja dan tidak berbeda. Untuk bisa memberi warna, diperlukan autentisitas diri dan kesadaran. So, be authentic, be aware. 

by Syurawasti Muhiddin

Rabu, 10 Oktober 2018

Lima Efek Psikologis Umum bagi Korban Gempa Bumi

Efek dari gempa bumi sangat besar. Menghancurkan bangunan dan jalanan. Selain itu, gempa bumi juga melibatkan manusia sebagai korban dan menimbulkan kerusakan secara fisik dan psikologis. Sebagai praktisi dalam bidang psikologi dan kesehatan mental, kami akan menjelaskan lima efek psikologis umum yang biasa terjadi pada korban gempa bumi sebagai berikut: 

1) Hypervigilance
Menurut Carolyn Wagner, konselor profesional berlisensi dan psikoterapis di Linebarger & Associates, korban gempa bumi sering mengalami hypervigilance. “Setiap suara kecil menyebabkan seseorang lari mencari perlindungan. Sentuhan yang bermaksud baik, tetapi dapat menyebabkan seseorang berteriak ketakutan. Hal ini disebabkan karena tubuh dalam keadaan siaga tinggi, dan mencoba untuk terhindar dari sesuatu yang mengancam keselamatan. Hal ini mungkin membuat Anda merasa gelisah” kata Carolyn Wagner. Biasanya, respons ini hilang dengan sendirinya. Namun jika tidak, hal ini mungkin merupakan karakteristik dari sesuatu yang jauh lebih serius, seperti PTSD (poin lima).

2) Anxiety and Depression
Setelah kehidupan seseorang terancam dan selamat dari gempa bumi, tidak jarang mereka menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan / atau depresi.  Kata Nikita Banks, seorang pekerja sosial dan psikoterapis klinis berlisensi di Brooklyn, New York, kedua gangguan ini menunjukkan gejala yang sama seperti kelelahan, kurang tidur, penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari, mudah tersinggung, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Gejala-gejala ini dapat datang dan pergi seiring berjalannya waktu, tetapi jika kecemasan dan depresi terjadi terus-menerus maka penting untuk segera mencari bantuan.

3) Mental Roadblock
Menurut Banks, ini juga merupakan efek tipikal bagi mereka yang selamat dari gempa bumi dan bencana alam lainnya, peristiwa tersebut sering muncul di kepala mereka. "Sangat penting untuk membuat mereka tetap berpegang dan memiliki rutinitas sesegera mungkin untuk membantu mereka kembali ke tingkat normal karena ini akan membantu mereka menjadi lebih aman di lingkungan mereka," kata Banks.

4) Earthquake Phobia 
Dr. Craig April, Ph.D., seorang psikolog berlisensi dan Direktur The April Center for Anxiety Attack Management di Los Angeles, mengatakan: “fokus dari fobia ini adalah kecenderungan untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya gempa yang akan datang" Namun, hal ini sudah jelas di luar kendali dan kegagalan yang akan datang kemudian akan menghasilkan kecemasan”,  jelas Dr. Craig April, Ph.D.

5) PTSD (Post-traumatic Syndrome Disorder)
Menurut psikolog klinis Dr. Jana Scrivani, Psy.D., yang secara pribadi mengalami gempa bumi, “kebanyakan orang yang terkena dampak langsung akan menunjukkan banyak gejala psikologis yang terlihat seperti PTSD.  Mayoritas akan pulih, tetapi sebagian kecil akan terjebak di suatu tempat dalam proses pemulihan, dan terus mengalami PTSD.” Gejala PTSD tersebut termasuk rasa takut yang intens, flash back, dan mimpi buruk. Ini adalah efek psikologis yang paling parah dan bertahan lama, yang mungkin terjadi pada seorang individu.

Artikel ini telah terbit di Thriveworks.com, dengan judul: 5 Common Psychological Effects One Might Experience After Surviving a Major Earthquake (Link: https://thriveworks.com/blog/5-common-psychological-effects-one-might-experience-surviving-major-earthquake/).

Penerjemah: Azmul Fuady Idham
Editor: Syurawasti Muhiddin

Artikel asli
5 Common Psychological Effects One Might Experience After Surviving a Major Earthquake

We immediately see pictures of crumbled buildings, stray dogs, and the heroic actions of rescue workers, following this harrowing disaster. But what we don’t see or understand are the lasting effects an earthquake may have on its survivors. We don’t typically get an inside look at their thoughts and feelings—we can only imagine what something so devastating must do to the makings of one’s mind. At least, that’s the case for most of us. But there’s a party in the middle there that gets the slightest peak into what psychological effects experiencing a major earthquake may cause—none other than the guys tasked with helping these survivors cope with the detrimental consequences: psychologists. And they’re here to help us better understand some of these most common effects:

1) Hypervigilance
According to Carolyn Wagner, licensed professional counselor and psychotherapist at Linebarger & Associates, survivors of earthquakes often experience hypervigilance. “Any little noise causes you to run for cover. A well-meaning, but unexpected touch from a loved one can cause you to yell out in fright. This is because the body is on high alert for another threat to your safety, which may make you feel jumpy and on edge,” she says. Typically, this response goes away on its own, but may be a characteristic of something much more serious if it doesn’t, like PTSD.

2) Anxiety and Depression
After one’s life is threatened and turned on its side by an earthquake, it is not uncommon for them to show signs of anxiety and/or depression, says Nikita Banks, a licensed clinical social worker and psychotherapist in Brooklyn, New York. The two illnesses present similar symptoms such as fatigue, loss of sleep, a decreased interest in daily activities, irritability, and an inability to concentrate. These symptoms may come and go with time, but if they prove lasting, it is important to seek treatment.

3) Mental Roadblock
According to Banks, it is also typical for survivors of earthquakes and other natural disasters to continuously relive the event in their head. “It is necessary to get them to stick to and have a routine as soon as possible to help them return to some sense of normalcy as it will help them become more secure in their environment,” she says.

4) Earthquake Phobia
Dr. Craig April, Ph.D., a licensed psychologist and Director of The April Center for Anxiety Attack Management in Los Angeles, says that with this phobia or fear, “the focus tends to be a desire to control the possibility of another earthquake occurring.” However, this is obviously out of our control and the impending failure then results in anxiety, he explains.

5) PTSD
According to clinical psychologist Dr. Jana Scrivani, Psy.D., who has personally experienced an earthquake herself, “most folks directly impacted will exhibit many psychological symptoms that look like PTSD.” The majority will recover, but “a minority will become stuck, somewhere in the recovery process, and go on to develop PTSD.” Symptoms of PTSD include intense fear, flashbacks, and nightmares. This is the most severe and lasting psychological effect an earthquake may have on an individual.

Senin, 08 Oktober 2018

World Mental Health Day Event 2018


World Mental Health Day Event 2018

Mental health campaigns and panel discussions
Makassar, 13-14 October 2018
Organized by:
- Halo Jiwa
- ILMPI Wilayah VI Indonesia (Indonesian Psychology Student Association Region VI)


More Info:
- Facebook
- Twitter
- Instagram Be Happy, Give Smile, Spread Love



World Mental Health Day Event 2018

Minggu, 07 Oktober 2018

Perekrutan Relawan dan Anggota Halo Jiwa | Video



Komunitas Halo Jiwa membuka pendaftaran anggota dan relawan untuk berbagai bentuk promosi kesehatan mental yang akan dilakukan. Pendaftaran dibuka pada Rabu, (19/09) hingga Minggu, (07/10).

Rabu, 26 September 2018

Halo Jiwa Buka Perekrutan Anggota dan Relawan

Komunitas Halo Jiwa membuka pendaftaran anggota dan relawan untuk berbagai bentuk promosi kesehatan mental yang akan dilakukan. Pendaftaran dibuka pada Rabu, (19/09) hingga Minggu, (07/10).

Untuk menjadi anggota, peserta harus memenuhi beberapa ketentuan, yaitu merupakan sarjana psikologi atau mahasiswa psikologi minimal semester tiga dan memahami dasar-dasar pertolongan pertama dalam psikologi. Sedangkan relawan sendiri diperuntukkan bagi pelajar SMA/sederajat, mahasiswa, dan masyarakat umum yang bersedia berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan Halo Jiwa.


Syurawasti Muhiddin selaku penanggungjawab proses perekrutan menjelaskan bahwa volunteer akan
terlibat dalam kampanye kesehatan mental melalui media sosial dan event yang dilaksanakan Halo Jiwa. Adapun anggota akan terlibat disetiap divisi dalam struktur Halo Jiwa, yakni Divisi Media dan Informasi, Divisi Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan, Divisi Sumber Daya Anggota, Divisi Dana dan Usaha, Divisi Kerjasama, serta Divisi Sosial dan Masyarakat. "Kalau relawan ya tidak terikat struktur, cuman  bantu kampanye kesehatan mental. Nah, anggota sendiri nanti masuk ke dalam divisi yang ada distruktur" jelas mahasiswi yang akrab disapa Syura ini.

Lebih lanjut terkait perekrutan anggota dan relawan, Syura berharap Halo Jiwa dapat lebih besar lagi
dan turut serta dalam promosi kesehatan mental di Indonesia. "Harapannya dengan adanya anggota dan relawan, Halo Jiwa itu bisa lebih besar dan sesuai visinya dapat mewujudkan Indonesia sehat mental tahun 2020" harap mahasiswi Universitas Hasanuddin ini.

Link Pendaftaran Relawan/Anggota Halo Jiwa di sini: http://bit.ly/formulirpendaftaranhalojiwa

Penulis: Syita
Poster: Pila

Selasa, 18 September 2018

Peduli Kesehatan Mental Melalui Halo Jiwa


Foto: Nadil
Kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental mengantarkan terbentuknya komunitas Halo Jiwa yang berfokus pada promosi kesehatan mental kepada masyarakat. Halojiwa sendiri dibentuk pada Jumat, (25/11/16) oleh Azmul Fuady Idham, seorang mahasiswa Magister Psikologi Jurusan Komunitas dan Pembangunan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Atas dasar UU RI Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Mental, komunitas Halo Jiwakemudian memiliki visi Indonesia Sehat Mental 2020. Visi tersebut diwujudkan dengan promosi kesehatan mental melalui berbagai media dan mengoptimalkan bakat/minat masyarakat Indonesia dalam promosi kesehatan mental.

Azmul Fuady Idham selaku founder komunitas Halo Jiwa menjelaskan target dari promosi kesehatan mental yang dilakukan adalah seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai rentang usia dan berbagai kalangan, namun untuk saat ini difokuskan pada pengembangan di wilayah Indonesia Timur dengan Makassar sebagai sekretariat. “Saya pilih kota Makassar karena merupakan kota besar dan pusat di kawasan Indonesia bagian timur, apa lagi di kota-kota besar di pulau Jawa banyak mi komunitas peduli sehat mental. Jadi untuk diperluas, mungkin lebih kekerjasamanya mi (baca: kerjasama dengan komunitas kesehatan mental di Jawa).” Jelas pria yang merupakan alumnus Fakultas Psikologi (F.Psi) Universitas Negeri Makassar (UNM) ini.


Bentuk promosi kesehatan mental yang dilakukan Halo Jiwa yakni melalui pertemuan langsung  dan berbagai bentuk tulisan yang disebar melalui media sosial. Media sosial Halo Jiwa sendiri telah aktif menyebarkan informasi terkait kesehatan mental berbasis karya seperti artikel, opini, infografis, foto, video, dan poster. Adapun pertemuan langsung berupa diskusi dan talkshow, hingga saat ini masih dalam tahap perencanaan.

Menanggapi terbentuknya komunitas Halo Jiwa, Anshary Arma Arsyad selaku masyarakat mengapresiasi terbentuk komunitas ini dan berharap Halo Jiwa melakukan sosialisai dalam perekrutan anggota. “Sebarkan sosialisasi guna merekrut anggota baru supaya banyak yang lebih peka terhadap kasus seperti ini.” Harap mahasiswa F.Psi UNM yang akrab disapa Anshary ini.

Penulis: Syita Astila
Editor: Azmul

Rabu, 29 Agustus 2018

Penerimaan Diri Korban Pemerkosaan


Masalah kejahatan merupakan hal yang seringkali terjadi dan menyebabkan keresahan serta kerugian pada masyarakat, salah satunya adalah pemerkosaan yang dilakukan kepada anak-anak. Pemerkosaan adalah tindakan mencuri, memaksa, dan merampas kebahagiaan seseorang hanya untuk kepuasaan dan pelampiasan nafsu seksual pelaku. Pelaku membuat korban merasa malu, hina, tercemar bahkan merasakan takut dalam bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan. Sebuah penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa pemerkosaan sering meninggalkan bekas dan sulit untuk dipulihkan. Korbannya bisa benar-benar terguncang dan apabila tidak segera ditangani dengan benar, bisa menyebabkan trauma berkepanjangan.

Pelecehan seksual dan pemerkosaan di masa kanak-kanak apabila dikaitkan dengan masalah sosial dan penyesuaian psikologis pada masa dewasa menyebabkan terjadinya kerusakan persepsi terhadap diri, kesulitan dalam menjalin hubungan bahkan masalah seksualitas dengan pasangan. Seseorang dengan pengalaman pelecehan seksual di masa kanak-kanak juga dapat merasa malu dan merasa bersalah akibat perlakuan yang diterimanya. Penelitian yang telah dilakukan oleh majalah MS Magazine menyatakan bahwa 30% perempuan korban pemerkosaan bermaksud untuk bunuh diri, 31% mencari bantuan psikoterapi, 22% mengambil kursus bela diri, dan 82% mengatakan bahwa pengalaman tersebut mengubah mereka secara permanen dalam artian tidak dapat dilupakan.

Salah seorang remaja mengungkapkan bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual dan pemerkosaan ketika masih berusia sekitar 10 tahun hingga ia berusia sekitar kelas X Sekolah Menengah Atas. Ia mengungkapkan bahwa pelaku pelecehan dan pemerkosaan yang telah dialaminya adalah keluarga terdekatnya, yaitu paman, kakek dan kerabat keluarga. Pelecehan pertama yang diterima dilakukan oleh kakek korban dengan cara menyentuh alat vital yang berujung terjadinya pemerkosaan. Korban juga mengalami pelecehan berkali-kali dari kerabat keluarganya yang hampir saja berujung pemerkosaan. Paman korban yang tinggal bertetangga dengan korban juga melakukan pelecehan berkali-kali ketika korban menginap di rumahnya, pelecehan tersebut dilakukan ketika korban sedang tidur.

Pelecehan dan pemerkosaan yang terjadi berkali-kali menyebabkan korban merasa cemas dan takut ketika berada di dekat pelaku meskipun hanya mendengar suara pelaku. Korban kesulitan bergaul dan selalu menjaga jarak dengan lingkungan karena takut orang-orang mengetahui apa yang telah ia alami sehingga ia ditinggalkan sendirian. Bahkan korban tidak berani mengungkapkan apa yang ia alami kepada keluarganya dengan alasan korban tidak ingin hubungankekeluargaannya hancur, terlebih lagi pelaku memiliki anak yang masih kecil. Korban juga tidak terlalu dekat dengan keluarganya, termasuk ibu korban yang bersikap sangat keras kepadanya. Ibunya bahkan tidak segan-segan untuk menampar dan menarik rambut korban di depan orang banyak.

Kondisi demikian menyebabkan korban memilih untuk memendam semua yang telah ia alami dan mengatakan lebih baik dia saja yang hancur daripada keluarganya. Meskipun korban harus merasa tersiksa selama bertahun-tahun dengan kondisi demikian, merasa jijik dengan diri sendiri, merasa tidak berdaya dan kadang berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun korban tetap bersyukur untuk beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya, diantaranya kelahiran seorang adik kecil di dalam keluarganya. Kelahiran adik kecil tersebut menjadi alasan korban untuk terus berjuang menjalani kehidupannya yang berat. Ketika ia ingin menyerah, ia akan mengingat adiknya. Korban takut adiknya akan mengalami apa yang telah ia alami, penyiksaan masa kecil dan pelecehan seksual bahkan pemerkosaan.

Penulis: Nurul Azizah
Editor: Syura
Ilustrasi Gambar: Pila

Minggu, 12 Agustus 2018

Post-Traumatic Stress Disorder - Poster

Indonesia merupakan negara yang rentan akan bencana, sehingga trauma pada masyarakat tdk dapat dihindari.. tahukah kalian dalam ilmu psikologi ada yang dinamakan PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan pasca trauma, yuk simak penjelasan yang telah kami rangkum dari web Alodokter.com tentang ptsd.
Semoga bermanfaat.

Jumat, 10 Agustus 2018

Tujuh Bulan yang Lalu


Kisah ini tentang seorang gadis yang merindukan dunianya yang sejak tujuh bulan terakhir tidak lagi menjadi tempat ternyaman baginya. Ruangan berbentuk persegi dengan pintu hitam yang di depannya tertulis hello sebagai kata penyambut, dan dinding berwarna peach dengan beberapa poster artis kesukaannya adalah tempat favoritnya. Di ruangan itulah ia melakukan sebagian aktivitasnya, di ruangan itu idenya mengalir dengan lancar untuk menciptakan suatu karya kreatif, di ruangan itu ia bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya tanpa harus memakai topeng penyesuaian lingkungan sosial. Setidaknya tujuh bulan yang lalu ruangan itu masih berfungsi seperti itu. 


Apa yang terjadi selama tujuh bulan ini? Selama tujuh bulan ini, berada di ruangan itu lebih dari enam jam membuatnya kembali gemetar ketakutan. Meski ia telah mencoba menciptakan suasana baru dengan mengubah beberapa isi dalam ruangan itu, atau bahkan mencoba beristirahat di tengah malam, tetap saja ia akan keluar mengendap-endap pindah ke ruangan lain. Selama seminggu di bulan ramadhan ia mencoba menemukan kenyamanannya tertidur di ruangan itu dengan sedikit memaksa matanya tertutup melalui membaca atau menonton, tetap saja ia akan terjaga hingga sahur dan tertidur setelah sholat subuh.

Saat matanya mulai lelah karena membaca di tengah malam, saat ia mulai memasuki sesi *REM dalam tidurnya, saat itulah bunga tidur yang harusnya indah malah kejadian tujuh bulan yang lalu kembali terputar meski dalam versi yang berbeda. Maka saat itulah otak dan jantungnya kembali berfungsi dengan cepat padahal ia sedang tidur. Otaknya memerintakan tubuhnya untuk sadar dan membuka mata, maka setelah kembali terjaga ia akan menemukan bajunya basah karena keringat, nafas yang tersengal seperti habis lari dikejar anjing dan tubuh yang sedikit bergetar. Bunga tidur itu membuatnya kembali menangis ketakutan, seperti tujuh bulan yang lalu.

Tujuh bulan yang lalu

Malam itu penggemar KPOP digemparkan oleh berita mengejutkan atas meninggalnya satu artis besar 
Korea. Meski ia bukan penggemar dari artis itu, tapi ia cukup menikmati musiknya, bahkan ia turut 
bersedih karena dapat merasakan atmosfir kesedihan dalam kelompoknya sebagai penggemar KPOP. 
Namun, di tengah malam kakaknya pulang membawa beberapa makanan sebagai penawar kesedihan. 
Setelah merasa cukup kenyang ia kembali ke kamarnya, mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur 
favoritnya yang membentuk logo boyband kesukaannya. Sembari menunggu mata tertutup, ia 
membuka dan membaca materi ujian terakhirnya besok di semester ini. Karena kekenyangan, belum 
sampai membaca dua baris, ia tertidur.

Di tengah malam, ia terjaga. Ia membuka mata perlahan, tanpa bersuara, dan tanpa menggerakkan
badan sedikitpun. Ia merasa bahwa ada sesuatu di sebelahnya, saat ia menoleh matanya menemukan
mata lain yang menatap lurus ke matanya. Otaknya mulai menanyakan “apa aku melihat hantu?” atau 
apa ini alien?” dan menemukan jawaban saat matanya mulai menelisik bagian lain dari mata yang 
membola karena melihatnya terbangun. Matanya mulai melihat bagian tubuh lain, ya itu manusia. Ia 
melihat manusia lain di sebelahnya bertubuh cukup besar memakai pakaian hitam dan sarung di 
bahunya, wajahnya tertutup masker. Kemudian matanya melihat kearah tangan yang memegang benda 
panjang berwarna merah dengan ujung melengkung tepat di depan wajahnya. Detik demi detik berlalu 
diiringi lampu tidurnya yang kelap kelip, otaknya bekerja cukup keras dan menemukan jawaban bahwa 
manusia itu masuk ke rumahnya, ke kamarnya tanpa izin. Matanya mulai berair karena bingung harus 
melakukan apa. Selama beberapa detik saling menatap dan menemukan bahwa tubuh korbannya tidak 
bergerak, manusia lain itu mulai menggerakkan tangannya yang tidak memegang benda panjang itu ke 
arah bawah laptop yang tersimpan di atas lemari buku di samping tubuh korban. Namun, saat manusia 
itu bergerak mengambil laptop kesayangan gadis itu, karena tubuhnya terasa mati rasa dan tidak bisa 
digerakkan, maka otaknya memerintahkan mulutnya untuk berteriak sangat keras hingga lehernya 
terasa sakit. Mendengar teriakan itu, seluruh anggota keluarga keluar, dan disaat itu pula manusia 
asing itu menghilang. Meninggalkan seorang gadis yang bergetar hebat dan menangis sejadi-jadinya.

Kejadian itu memang telah berlalu lama, mungkin bagi mereka yang membaca kisah ini juga menganggap bahwa itu biasa saja, gadis itu saja yang berlebihan dalam mengingat kejadian itu. Tapi sungguh, kejadian itu mengganggu aktivitas gadis itu selama tujuh bulan terakhir, utamanya saat ingin beristirahat di malam hari. Kejadian itu masih membuat gadis itu bergetar ketika melihat atau mendengar kejadian serupa. Kejadian itu masih membuat dadanya sesak dan membuat nafasnya tersengal saat menonton atau membaca kejadian serupa. Bahkan kejadian itu masih membuat dadanya sesak, nafasnya tersengal, keringatnya bercucuran, dan tubuhnya bergetar, terlebih jari-jari tangannya ketika mengetik kisah ini. 

-the end-

*REM (Rapid Eye Movement) = stage ke empat saat manusia mulai tetidur pulas yang biasa disebut
sebagai mimpi

Oleh: Anoniymous
Editor: Syura
Ilustrasi gambar: Pila
banner