Minggu, 28 Januari 2018

Kasus Bunuh Diri Terus Saja Meningkat, Apakah Lingkungan Memiliki Peran Penting di Dalamnya?


Bunuh diri bukan lagi hal tabu di telinga masyarakat. Angka kematian akibat bunuh diri semakin meresahkan. Berdasarkan data dari national institute of mental health (NIMH) jumlah kasus bunuh diri saat ini cenderung meningkat. Di Amerika, kasus bunuh diri sudah merupakan krisis kesehatan masyarakat. Dalam beberapa kasus, pelaku tidak mengakui ingin bunuh diri saat komunikasi terakhir dengan terapisnya (sumber: sains kompas). WHO melaporkan setiap 20 detik seseorang telah melakukan bunuh diri. Beberapa negara memiliki angka tertinggi dalam kasus bunuh diri, yang pertama yaitu Lithuania, kemudian diikuti oleh Korea Selatan, Guyana, Kazakhstan, Slovenia, dan Hungaria. Dari keenam negara tersebut, faktor utama yang menyebabkan bunuh diri adalah keuangan, tekanan sosial, masalah keluarga, pengangguran, rasa sakit fisik, dan masih banyak alasan lainnya.
Baru-baru ini kasus bunuh diri kembali terjadi. Seorang karyawati bunuh diri. Alasannya karena mengalami tekanan yang berat dari kantornya. Pelaku sempat memaparkan pada suaminya bahwa dia akan mengajukan surat pengunduran diri pada perusahaannya karena sudah merasa tidak tahan dengan lingkungan kantor yang ia jalani saat ini.
Penyebab psikologis kadang menjadi faktor utama seseorang cenderung melakukan bunuh diri, Penyebabnya karena kondisi mental psikologis yang mengalami gangguan mood jenis depresi. Penelitian terkini menyebutkan, depresi disebabkan berbagai faktor yang memengaruhi kondisi neuropsikologis (otak dan perilaku). Faktor-faktor ini antara lain adalah bawaan dan lingkungan, pola asuh, tekanan, neurotransmitter jenis adrenalin, dopamine dan serotonin serta rendahnya kadar zinc dalam darah. Mereka yang mulai menunjukkan gejala melakukan tindakan bunuh diri, salah satu karena adrenalin rendah. Kondisi demikian terlihat dari kehilangan motivasi untuk bergerak, menolak bangun pagi, beraktivitas dan bergaul, bahkan tidak memilki nafsu untuk makan. Konsep ini diakui sebagai konsep tidak berharga atau tidak bahagia. Dengan kadar dopamine yang rendah, seseorang kehilangan perasaan senang dan bahagia, nilai-nilai yang menyenangkan dalam hidupnya nyaris tak ditemukan (Kasandra, Psikolog. dalam metro sindonews).
Oleh karena itu, pendekatan dari keluarga dan orang terdekat adalah hal yang seyogyanya dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Individu yang mengalami keterpurukan, membutuhkan uluran bahu dan pendengar yang setia dari orang-orang terdekatnya, agar mereka merasa bahwa kehidupan yang dijalaninya saat ini merupakan hal yang sangat berharga. Tugas kita adalah menciptakan lingkungan yang membuat mereka kembali menyadari keberadaan mereka di dunia ini, membuatnya tetap merasa dibutuhkan dalam kehidupan ini.

MARI BERSAMA MERANGKUL DAN MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG SEHAT MENTAL, KARENA KEHIDUPAN YANG SEHAT DAN BAHAGIA BERASAL DARI MENTAL YANG SEHAT.
SALAM MENTAL SEHAT.

Penulis: Puji Rahayu
Editor: Syurawasti Muhiddin

Salam Jiwa Sehat!!!

Senin, 22 Januari 2018

Apa Aku Salah?

Di ruangan dengan suasana putih bersih, terdapat tempat tidur di salah satu sudutnya. Seorang pria meringkuk memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur tersebut. Di sudut lain, seorang wanita berjas putih dengan rambut kucir kudanya berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong jasnya. Matanya yang memakai kacamata bergagang hitam memerhatikan sosok pria tersebut. Wanita tersebut memutar kembali ingatannya pada kejadian semalam.
“apa kau pernah merasa sangat putus asa dengan hidupmu? Berfikir untuk menghentikan takdirmu yang belum selesai di dunia ini? Namun kemudian menginginkan berjuang kembali demi seseorang yang tiba-tiba sangat kau inginkan memeluk mu disaat kembali merasa putus asa?” pria tersebut duduk di atas tempat tidur di sudut ruangan sambil melihat keluar jendela. Pria itu berbicara saat seorang wanita berjas putih dengan rambut yang di kucir kuda masuk ke ruangan tersebut. Wanita itu cukup terkejut, karena setahun belakangan sejak pria itu di seret masuk ke ruangan ini baru kali ini pria itu mengeluarkan suaranya. Meskipun terkejut, wanita itu tetap berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Pria itu menoleh sejenak saat wanita itu berkata “kau ingin menceritakan sesuatu?”. Pria itu kembali melihat keluar jendela.
“selama hidup di dunia ini, hanya satu wanita yang menurut saya cantik. Apapun perlakuannya pada saya, saya tetap ingin berjuang untuk membuatnya melihat dan menyadari keberadaan saya di dunia ini. Namun, ada saat di mana saya mulai menyerah dan memilih mengakhiri hidup saya yang membuat saya berakhir di tempat ini” pria itu tertawa di akhir perkataannya. Tawa yang menyayat hati. Pria itu kembali menoleh sejenak kepada wanita itu lalu kembali melihat keluar jendela “saya menyerah akan hidup saya, saya tau bahwa saya hidup karena suatu kesalahan yang membuat saya semakin membenci takdir saya. Tapi, setahun berada disini ada sesuatu yang membuat saya kembali menemukan niat untuk hidup. Wanita cantik yang lain, yang dengan sabar mengunjungi kamar ini setiap hari dengan senyum dan pertanyaan yang selalu terulang ‘sudah merasa lebih baik?’ membuat saya ingin sembuh dan kembali hidup normal. Dengannya” pria itu menoleh lagi. “apa wanita itu boleh tau apa yang terjadi?” wanita itu sadar bahwa dirinya lah yang dimaksud pria yang setahun ini menarik perhatiannya itu.
Wanita itu keluar dari ruangan tersebut. Berjalan menjauh menuju ruangannya di sudut koridor. Sepanjang koridor sampai duduk di kursinya, wanita itu kembali mengingat apa yang diceritakan pria yang ditinggalkannya di ruangan tadi.
Rumah di kawasan elit itu terlihat sangat sepi. Hanya ada satu wanita yang duduk gelisah di ruang tamu. Wanita yang meskipun umurnya menuju angka 40 namun masih terlihat cantik dan elegan itu menunggu suami dan anaknya yang belum juga pulang sedangkan jam sudah menunjuk pukul tengah malam. Tiba-tiba ada seorang pria dengan wajah tertutup setengah dengan pakaian serba hitam dan pisau tajam di tangan kirinya jalan mendekat ke arah wanita tersebut. Pria itu mengancam wanita itu dan memaksanya masuk ke dalam kamar.  Beberapa jam kemudian suami dan anak dari wanita itu pulang dengan terkejut. Mendapati wanita itu menangis histeris di atas tempat tidur di kamarnya hanya dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ya, pria tadi adalah penjahat, yang memerkosa wanita itu dan mengambil beberapa barang yang ada di rumah tersebut.
Beberapa bulan kemudian, wanita itu mendapati dirinya mengandung bayi dari penjahat itu. Wanita itu semakin membenci dirinya dan ingin mengakhiri hidupnya dengan membiarkan dirinya terguling di tangga, jatuh dari lantai 2 rumahnya. Namun, anaknya segera membawa wanita itu ke rumah sakit saat mendapati ibunya terbaring di depan tangga. Suami dan anak wanita itu mendukung wanita itu untuk membiarkan bayi yang dikandungnya lahir. Hingga akhirnya bayi itu lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sangat pintar. Meski begitu, tidak sekalipun wanita itu ingin melihat wajah anak laki-laki itu, ia menyewa seorang pengasuh untuk merawat anak tersebut sejak lahir hingga menjadi seorang remaja yang cukup membanggakan.
Mirisnya, meskipun dengan IQ yang superior, menjadi juara kelas, bahkan tidak memakan waktu lama untuk menjadikannya seorang pengusaha sukses di negeri lain, tetap tidak menjadikan wanita yang saat ini masih cantik elegan meski umurnya tidak lagi bisa dibilang muda mau melirik anak yang lahir dari rahimnya tersebut. Menurutnya, melihat wajah anak itu membuatnya mengingat kembali kejadian pahit malam itu. Mata tajam yang melihatnya, nafas yang menggebu-gebu, dan tangan kiri yang mengancam dengan pisau tajam di lehernya. Semua tentang penjahat itu masih saja tidak bisa dia hilangkan bahkan bertahun-tahun.
Mempunyai ibu yang bahkan melihatnya saja enggan, membuat anak laki-laki itu bahkan memimpikan pelukan ibunya saja ia tak berani. Meskipun begitu, anak laki-laki itu tetap saja berusaha meraih yang terbaik agar ibunya bisa bangga padanya. Namun, usaha yang dilakukannya tetap saja sia-sia. Malah usahanya yang tidak bisa dibilang mudah untuk diraih itu mendapatkan balasan yang mengenaskan. Setelah peresmian perusahaannya di negeri lain, anak laki-laki itu pulang dengan senyum yang mengembang lebar, tidak sabar akan reaksi ibunya, siapatau kali ini ibunya bisa memaafkan perilaku ayah biologisnya di masa lalu. Namun, saat membuka pintu kamar orangtuanya anak laki-laki yang sudah bisa disebut pria itu harus mendapati ibunya tergantung di kusen pintu menuju balkon kamar itu.
Setelah kematian ibunya yang bunuh diri dengan menggantung dirinya, membuat pria itu mulai menyalahkan segala yang terjadi karena dirinya. Seandainya ia tidak pergi ke negeri lain saat itu, seandainya ia tetap jadi anak baik di rumah menjaga ibunya, seandainya ia menolak takdirnya untuk hidup pada Tuhan, seandainya ibunya tidak mengandung dirinya, seandainya dia tidak hidup, maka ibunya tidak akan mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan seperti itu, maka ibunya bisa hidup bahagia cukup dengan keberadaan ayah dan kakak laki-lakinya. Pria itu mulai mencoba mengakhiri hidupnya, namun selalu ditahan oleh ayah dan kakaknya. Hingga akhirnya ayah dan kakaknya tidak sanggup lagi dan menyerahkan pria itu ke rumah sakit jiwa. Tidak semudah itu memasukkannya ke rumah sakit jiwa, karena pria itu selalu memberontak hingga hampir membunuh salah satu petugas rumah sakit jiwa tersebut.
Maka dari itu, wanita yang saat ini duduk dengan kedua tangan yang berada di meja di depannya dan menumpukan pelipisnya di atasnya dengan mata basah yang tertutup, mengingat bagaimana usaha petugas rumah sakit jiwa menyeret pria itu dan memasukkannya ke dalam kamar isolasi yang selama setahun ini dikunjunginya setiap hari.

by: Pila

Sabtu, 06 Januari 2018

Dimana Kamu Menemukan Kebahagiaan?


Apa kabar dengan jiwamu hari ini? Apakah jiwamu sudah menemukan kebahagiaannya hari ini? Kebahagiaan. Kata sebagian orang, kebahagiaan mudah dicapai tapi tidak semudah menyebutkannya. Ada juga yang mengatakannya sangat rumit namun tak serumit kelihatannya. Tapi, terlepas dari semua itu, apakah kebahagiaan itu selalu menjadi tujuan?

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari oleh setiap orang. Ketertarikan manusia pada istilah itu membuat ilmu pengetahuan belakangan ini banyak mengkaji mengenai kebahagiaan. Dimulai dari pertanyaan seperti, apakah definisi kebahagiaan yang sebenarnya? Beberapa teori dimunculkan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ada teori yang berpendapat bahwa kebahagiaan boleh jadi merupakan sifat mendasar (trait) seseorang yang stabil atau suatu karakteristik yang didasarkan pada faktor genetik/keturunan1. Jika demikian, mungkin ada yang bertanya lebih lanjut. Lantas jika itu adalah sifat mendasar, mengapa ada manusia yang sampai bunuh diri karena kesedihan dan keputusasaan menemukan kebahagiaan itu? Jika itu adalah faktor keturunan, mengapa ada orang tua yang bahagia sementara anak dan cucunya merasa sebagai orang yang paling tidak bahagia? Mungkin terdengar konyol, namun kita pernah mendengar pernyataan “mengapa kakakku lebih bahagia daripada aku?”.

Ada juga teori yang berpendapat bahwa kebahagiaan terletak pada pengurangan tegangan-tegangan melalui pemuasan tujuan dan kebutuhan1. Teori ini yang cenderung banyak disepakati orang di berbagai kalangan. “Kebahagiaan dapat saya capai ketika saya merasa puas dan kebutuhan saya terpenuhi.” Namun, tidak sedikit kita melihat kasus seseorang yang merasa tidak pernah terpuaskan dan akhirnya merasa tidak pernah bahagia. Ketika dia memperoleh mobil baru dia merasa bahagia. Lalu dia melihat orang lain merasa bahagia memiliki vila mewah. Dia lalu membeli vila mewah. Tapi kemudian dia melihat orang lain lebih bahagia dengan liburan ke luar negeri, dia pun melakukannya. Tapi, apakah yang dia peroleh? Dia sama sekali tidak bahagia.

Teori selanjutnya berasumsi bahwa kebahagiaan dihasilkan oleh ketertarikan dan keterikatan pada aktivitas tertentu atau pekerjaan yang menuju pada tujuan1. Melakukan aktivitas yang diminati dan merasa terikat (engaged) dengan aktivitas itu dapat membuat kita bahagia. Banyak orang belakangan ini akhirnya sepakat dengan teori ini. Tetapi pada kenyataannya, aktivitas yang diminati orang berbeda-beda, tingkat keterikatannya pun berbeda. Olehnya itu, kebahagiaan sebagai suatu proses atau aktivitas memiliki definisi yang relatif. Pada akhirnya,  kita pun bisa menjumpai orang yang merasa bahwa aktivitas yang dijalaninya itu tidak membuatnya merasakan kebahagiaan, meskipun itu memang menarik.

Ketiga teori di atas tak ada yang salah, tapi tak sepenuhnya juga benar. Dari teori pertama, kita dapat menemukan hikmah bahwa kebahagiaan itu pada dasarnya kita miliki dalam gen kita. Potensi kebahagiaan itu ada dan menunggu untuk diaktifkan. Kita bisa mengaktifkan potensi kebahagiaan kita dengan memenuhi kebutuhan kita (asumsi teori kedua) dan melakukan aktivitas yang kita senangi terkait dengan tujuan hidup kita (asumsi teori ketiga). Kebutuhan dan aktivitas yang diminati seseorang tentulah berbeda-beda, dengan demikian kita juga bisa menarik satu insight bahwa tak ada definisi kebahagiaan yang mutlak, definisi kebahagiaan berbeda untuk semua orang.

Kebahagiaan bisa diperoleh dari pemenuhan kebutuhan dan keterlibatan dalam aktivitas yang disenangi. Namun, sampai dimana kebutuhan itu bisa dipenuhi? Manusia tidak pernah merasa puas. Dia akan terus mencari kebahagiaannya sebanyak dia memenuhi kebutuhannya yang tak pernah terpuaskan. Setelah semua yang dilakukan untuk memuaskan dirinya, dia tidak juga bahagia. Setelah dia mencapai kesuksesan di dunia ini, dia tidak juga merasa bahagia. Kita bisa menemukan orang yang kaya raya, memiliki banyak materi, tapi miskin akan kebahagiaan. Padahal dia sudah beranggapan bahwa ketika dia meraih sukses, dia akan bahagia. Akhirnya banyak yang ingin mencapai kesuksesan, ketenaran. Namun, setelah mencapainya, apa yang dia peroleh? Di mana kebahagiaan itu?.

Kebahagiaan bisa diperoleh dengan mengikuti aktivitas yang disenangi yang mengarah pada tujuan hidup kita. Poin penting dari teori ketiga adalah kita bisa mengetahui tujuan hidup kita yang sebenarnya. Jika tidak memiliki tujuan hidup yang jelas maka seseorang akan mudah terombang-ambing dalam arus kehidupan ini. Kemana ada minat, disitulah dia pergi. Ketika minat berubah, dia meninggalkan aktivitas itu dan mencari minat lain. Tujuannya satu, menemukan kebahagiaan yang tak kunjung pula dia temukan karena tak jelas menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Rumit. Banyak yang tidak mengetahui secara pasti di mana kebahagiaan itu berada hingga pencarian panjang tanpa ujung pun terjadi bahkan selama hidup seseorang itu di dunia. Di akhir kehidupannya, ada yang masih bertanya, dimanakah kebahagiaan itu? Hingga akhirnya ada yang menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu semu. Memang, ada kebahagiaan yang semu dan ada pula kebahagiaan yang sejati. Bagaimana membedakannya?.

John Grey seorang konselor pernikahan menuliskan suatu konsep mencapai kebahagiaan. Dia mengatakan bahwa kesuksesan materi hanya bisa membuat bahagia ketika sebelumnya kita memang sudah bahagia. Dengan demikian lingkungan atau kondisi di luar diri kita bukan menjadi penentu kebahagiaan kita, melainkan kondisi dari dalam diri kita sendiri (inner happiness/ inner joy). Kebahagiaan yang kita peroleh karena kondisi di luar diri kita seperti kekayaan, ketenaran, dan sebagainya, itulah yang merupakan kebahagiaan semu. Ketika itu hilang, apakah kita masih bahagia? Apabila kita kaitkan dengan konsep iman, ketika kebahagaiaan masih disangkutpautkan dengan urusan duniawi seperti harta, anak keturunan, jabatan dan lain-lain, itulah kebahagiaan yang semu.

Jika kita menganggap penyebab dari ketidakbahagiaan kita adalah karena kita ingin mendapatkan sesuatu  tetapi kita tidak mendapatkannya maka anggapan kita perlu diluruskan. Keinginan ataupun nafsu yang kuat untuk mendapatkan lebih adalah manusiawi. Normal jika kita menginginkan sesuatu yang lebih. Namun, menginginkan sesuatu lebih dan kemudian bisa mewujudkannya bukanlah penyebab kebahagiaan. Jika demikian, kita tak pernah bisa secara jelas menemukan letak kebahagiaan itu.

Ketidakbahagiaan terjadi ketika kita kehilangan atau tidak menghadirkan inner joy. Ketidakbahagiaan itu bisa dianalogikan dengan kegelapan. Kegelapan sama dengan kondisi tidak adanya cahaya yang dianalogikan sebagai inner joy. Agar kegelapan hilang maka sisa menyalakan cahaya agar menjadi terang. Sama halnya dengan ketidakbahagiaan, untuk menghilangkannya, hanya perlu untuk menyalakan cahaya kebahagiaan dalam hati kita.

Bagaimana cara menyalakan cahaya kebahagiaan itu? Bagi kita yang beriman, Pada dasarnya hal ini mudah karena di dalam hati kita sudah ada iman kepada Ilahi. Iman akan melahirkan kepercayaan akan sesuatu yang lebih berkuasa atas diri kita, Tuhan. Iman akan melahirkan kepercayaan akan usaha dan takdir. Iman akan melahirkan keberanian dan kesabaran, serta harapan-harapan dalam setiap langkah kehidupan kita. Iman pula yang akan melahirkan rasa syukur untuk memadamkan api ketidakpuasan.

Cahaya kebahagiaan bisa senantiasa dijaga dengan selalu melakukan introspeksi ataupun refleksi diri, atau diistilahkan oleh John Grey sebagai inner journey. Dalam proses itu, kita perlu untuk menemukan autentisitas diri kita, termasuk pula tujuan-tujuan hidup kita yang sesungguhnya. Jika seseorang merumuskan tujuan yang abadi karena imannya maka kebahagiaan yang diperoleh pun akan abadi.

Kita bisa menyalakan cahaya kebahagiaan kapan saja, disaat kebutuhan terpenuhi ataupun tidak. Di saat kita berada pada aktivitas yang disenangi ataupun tidak disenangi. Disaat kita berinteraksi dengan orang lain, disaat kita belajar, disaat kita membantu orang lain, disaat sendiri, disaat kita dalam keadaan bermasalah, disaat lapang dan disaat sempit. Kapan saja.

Kebahagiaan itu bisa kita temukan di dalam hati. Kebahagiaan itu kita miliki di dalam hati. Kebahagiaan selalu bisa kita ciptakan sendiri. Sekali lagi, bukan kesuksesan yang membuat kita bahagia. Kebahagiaan itulah yang membuat kita bisa mencapai kesuksesan. Kita tidak bisa mencapai kesuksesan itu jika kita tidak merasa bahagia. Oleh karena itu, bahagia tidak harus selalu menjadi tujuan hidup kita, tetapi bahagia itu menyertai kita, menjadi cara kita untuk mencapai tujuan kita. Bahagia itu mudah. Cukup nyalakan cahayanya dalam hati.

Referensi
Gray, J. How to Get What You Want and Want What You Have. New York: Perennial.
Snyder,C.R. & Lopez., S.J. 2007. Positive Psychology, the Scientific and Practical Explorations of Human Strengths. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc.
banner