Jumat, 23 Februari 2018

Hasil Survey Pengetahuan Kesehatan Mental di Kota Makassar



 


Hasil tanggapan oleh 330 orang mengenai kesehatan mental di kota Makassar adalah sebagai berikut:
Dari 330 orang responden yang mengisi survey adalah 200 dari kota Makassar, 90 dari luar kota Makassar, dan 40 dari luar provinsi Sulawesi Selatan, dengan rata-rata umur sekitar 17-53 tahun. Tidak hanya mahasiswa, tapi dari yang belum bekerja, ibu rumah tangga, petani, pegawai swasta dan BUMN, freelance hingga dosen, dokter, web developer, konsultan, HRD, pengusaha, polri, perawat, bahkan jurnalis juga turut berpartisipasi dalam survey ini.

Hasil survey ini menunjukkan bahwa 73,6% responden mengetahui tentang kesehatan mental sedangkan 26,4% tidak mengetahui tentang kesehatan mental. 25,9% responden menyatakan mengetahui layanan kesehatan mental yang ada di Makassar sedangkan 74,1% tidak mengetahuinya.
Dari jawaban responden dapat disimpulkan bahwa rata-rata responden mengetahui kesehatan mental sebagai mental/jiwa/psikis yang sehat, kesehatan diluar kesehatan fisik, dimana orang bisa menikmati hidup dengan menerima keadaannya, menerima hal positif dan negatif dalam hidupnya sehingga jauh dari tekanan dan setress.
Adapun layanan kesehatan mental yang diketahui 25,9% responden adalah sebagai berikut:
  • Rumah sakit jiwa / poli jiwa
  • Pusat Layanan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Negeri MakassarPsikomorfosa Lembaga Layanan Psikologi yang berada di Jl. RS Islam Faisal VII No.24, Banta-Bantaeng, Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
  • Dwipayana Biro Konsultasi Psikologi yang berada di Jl. Sungai Saddang Baru BTN
  • Timurrama A 8 No.1, Ballaparang, Rappocini, Balla Parang, Kec. Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
  • Klinik Waras yang berada di Jl. Rusa No.43, Maricaya, Kec. Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
  • Klinik Kesehatan Mental Avicena yang berada di Jl. Tentara Pelajar No.151-153, Malimongan Tua, Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
  • Komunitas Psychocare Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar
  • Lembaga Psikologi Excellent yang berada di Jl. A.P Pettarani Kompleks Ruko Bisnis Centre 3 Blok. C No. 15, Masale, Panakukang, Masale, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan
Harapan dari responden mengenai kesehatan mental yang ada di Makassar agar masyarakat bisa lebih memperhatikan kesehatan mentalnya, agar bisa mengurangi persentase orang-orang yang mengalami gangguan jiwa dan bisa menikmati hidup dengan jiwa yang sehat. Adapula harapan agar pejabat tinggi negara juga memperhatikan kesehatan mental masyarakat tidak hanya kesehatan fisik, mungkin dengan mengadakan kegiatan atau penyuluhan terkait kesehatan mental.


Halo Jiwa, 2018
Peramu Data: Andina Nidya Savira
Infografis: Azmul Fuady Idham
dan seluruh crew halo jiwa
 


Rabu, 14 Februari 2018

Karena Bersamamu, Aku Menemukan Hidup

WHO mencatat angka bunuh diri dunia mencapai hampir 800.000 orang per tahun dan terjadi pada rentang usia 15-29 tahun. Usia tersebut berdasarkan fase perkembangan Hurlock (1978) adalah usia yang memasuki masa remaja (11-21 tahun) hingga dewasa awal (21-40 tahun). Sebanyak 78% kasus bunuh diri terjadi pada negara yang memiliki pendapatan menengah ke bawah. Di Indonesia sendiri, statistik menunjukkan bahwa terdapat kurang lebih 3 kasus bunuh dari dari 100.000 orang pada tahun 2015. Jika penduduk Indonesia berjumlah 255.5 juta pada tahun 2015 (lokadata, 2016) maka jumlah kasus bunuh diri kurang lebih 7.665 pada tahun 2015, dan jika dirata-ratakan dalam perbulan maka mencapai 639 kasus per bulan. Kemudian, jika dirata-ratakan lagi dalam perhari (hitungan 30 hari), maka terdapat 21 kasus. Cukup banyak.

Penyebab utama bunuh diri adalah depresi. Menurut APA (American Psychological Association) depresi lebih dari sekedar kesedihan. Orang dengan depresi mungkin mengalami beberapa dari situasi-situasi berikut. Kekurangan minat dan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, penurunan berat badan atau keuntungan yang signifikan, insomnia atau tidur yang berlebihan, kekurangan energi, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan dan pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri.

Nah, angka dan penjelasan di atas mau kita apakan? Seperti apa kita menanggapinya? Apakah kita hanya manggut-manggut lalu mengatakan “oh begitu ya?” kemudian terlupakan begitu saja dan  kembali mengingatnya ketika ada kasus baru lagi yang terungkap oleh media. Iya, hal ini mungkin terjadi karena kita hanya melihat angka dan membaca sedikit teori yang telah dibenarkan dan disepakati bersama sehingga hanya berputar pada dunia imajinasi saja.

Bagi sebagian orang yang telah terbiasa dengan angka dan teori biasanya akan lebih mudah saja untuk memahami dan mengaktifkan alarm biologisnya agar menghindari terjadinya perilaku bunuh diri dan mencari penanganan ketika mengalami depresi. Namun, yang menjadi permasalahan adalah sebagiannya lagi yang takut dengan angka, yang pada saat duduk di sekolah dasar hingga jenjang yang tertinggi menghindari pelajaran yang melibatkan perhitungan angka. Apakah dengan memaparkan angka akan dapat merubah pandangan mereka terhadap masalah bunuh diri yang selama ini masih menjadi perbincangan masyarakat dunia? Bisa jadi ada sebagian orang yang lebih paham ketika angka disajikan dengan gambar berupa grafik, ataukah berupa suara yang bernada, atau penyampaian melalui sebuah pertunjukan drama atau disajikan dalam sebuah film.

Kita tinggalkan data dan teori sejenak yang tidak berarti tanpa adanya aksi yang nyata. Kita melangkah ke depan dan menatap harapan, memikirkan segala kemungkinan dalam menyelamatkan jiwa dari kebingungan antara hidup dan mati. Kita tak usah jauh berpikir sambil menunggu orang lain membuat kebijakan atas hal ini. Kita cukup melihat apa yang tersedia di depan mata kemudian mulai memikirkan sebuah solusi-solusi bermakna tanpa kepalsuan.

Kita bisa pikirkan dengan melihat setiap kasus yang sering terjadi, misalnya sebuah hunian anti suicide, bukan hanya anti gempa atau anti badai. Adanya gerakan anti suicide atau gerakan anti depresi atau lebih gaul lagi gerakan anti galau, kemudian diciptakannya kota atau daerah yang bukan hanya bebas asap rokok atau kota bebas asap kendaraan, tapi dibuatlah kota atau daerah yang bebas depresi/galau sehingga kita bisa menikmati indahnya tersenyum bersama. Karena dengan bersama kita menemukan kehidupan.


1 2 3... ayo senyum :)


Penulis: Azmul Fuady Idham
Editor: Syurawasti Muhiddin


Salam Jiwa Sehat!!!

Jumat, 02 Februari 2018

Jangan Biarkan Mereka Sendirian Dimakan Depresi

     Halo jiwa! Apa kabar jiwamu hari ini? Masih ingat kasus meninggalnya Jonghyun Shinee? Indonesia adalah salah satu Negara yang k-popers-nya banyak, maka dari itu berita duka tersebut dengan cepat menyebar luas di seluruh penjuru Indonesia. Meninggalnya Jonghyun adalah salah satu kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh depresi. Tidak hanya Jonghyun, bahkan di awal tahun 2018 ini sudah ditemukan 4 kasus bunuh diri di Indonesia. Sebenarnya, apa yang menyebabkan mereka berani merenggut nyawa meraka sendiri? Salah satu berita yang dilansir detik.news.com tahun 2017 lalu menyatakan bahwa penyebab terbanyak bunuh diri di Gunungkidul adalah karena merasa kesepian. Kesepian adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan depresi dan juga menandakan depresi itu sendiri.
     Apa itu depresi? Depresi adalah gangguan psikologis yang paling umum ditemui (Rosenhan & Seligman, 1989). American Psychological Association (Utomo & Meiyuntari, 2015) memberikan definisi bahwa depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktivitas yang menyenangkan, terjadi gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuan konsentrasi, dan perasaan bersalah yang berlebihan. Depresi merupakan gejala yang wajar sebagai respon normal terhadap pengalaman hidup negatif, seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau status sosial diri (Aditomo & Retnowati, 2004). Namun, jika depresi itu semakin berat akan berakibat buruk seperti halnya bunuh diri.
     Dalam PPDGJ III & DSM 5 gejala utama depresi adalah afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, serta berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah yang menjadikan aktivitas menurun. Ada pula gejala lainnya yaitu:
  • Konsentrasi dan perhatian berkurang 
  • Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 
  • Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 
  • Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
  • Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
  • Tidur terganggu
  • Nafsu makan berkurang
     Dari gejala yang disebutkan di atas, bisa dikatakan bahwa kurangnya aktivitas menjadikan interaksi degan ligkungan jadi berkurang yang menyebabkan orang yang depresi kesepian. Namun, dengan gejala yang begitu banyak kita masih saja tidak mengenali depresi yang diderita orang terdekat kita. Dilansir dari artikel life.idntimes.com tahun 2016 bahwa kita bisa melihat tanda orang yang sebenarnya mengalami depresi, sebagai berikut:
  1. Ada beberapa orang yang selalu berusaha menutupi perasaan sedihnya dengan tetap bersikap ceria dan ramah kepada semua orang. Olehnya itu, kita sebagai orang terdekat mereka harus bisa peka terhadap keceriaan yang ditunjukkannya. Apakah memang ia betul-betul ceria atau hanya berpura-pura ceria. Mencobalah untuk mengulas apa yang dirasakan orang-orang terdekat kita dengan mendengar curahan hatinya. Jadilah pendengar yang peka, mungkin saja dia menceritakan sesuatu yang menyenangkan, tapi suara atau sorotan matanya tidak menunjukkan kesenangan.
  2. Pendapat negatif orang lain terhadap apa yang dialaminya bisa menjadi salah satu alasan mengapa orang terdekat kita lebih senang menyimpan perasaan sedihnya sendiri daripada berbagi dengan orang lain. Katakanlah pada orang-orang terdekat kita bahwa apapun yang dialaminya kita akan tetap mendukungnya.
  3. Orang yang sedang depresi membutuhkan orang lain untuk penyembuhannya. Selain terapi psikologis, kita bisa membantu mereka dengan menjadi pendengar yang bijak. Kita hanya perlu mendengar segala keluhan yang membuatnya depresi dan memberikan dukungan serta pelukan jika diperlukan sebagai bentuk dukungan kita.
  4. Jika 3 tanda di atas tidak bisa kita terapkan, cobalah untuk memperhatikan pola makan orang terdekat kita. Orang yang sedang depresi biasanya memiliki pola makan yang berubah dan tidak teratur.
  5. Perhatikan pula aktivitas mereka. Orang yang sedang depresi biasanya tidak lagi melakukan aktivitas atau kegiatan yang disukainya. Hal itu akan membuatnya lelah dan tidak tertarik.
  6. Menjadi mudah marah pada hal-hal yang sepele, sehingga sulit diajak bercanda. Ini adalah hal yang paling terlihat dari orang yang sedang depresi. Tanda-tanda ini juga pada dasarnya tertera di dalam PPDGJ III & DSM-5 bahwa depresi termasuk di dalam gangguan mood. Pada orang yang sedang depresi, mood/perasaannya sering mudah berubah.
  7. Perhatikan pula jika orang-orang terdekat kita sering mengalami insomnia, jika mereka tiba-tiba terlihat tidak bisa tidur, dan mengeluh tidurnya kurang bisa jadi pikiran mereka sedang terbebani yang membuat mereka bisa jadi depresi. Masalah tidur bisa jadi timbul karena alam bawah sadarnya sedang menghadapi kecemasan yang luar biasa. Masalah tidur dan depresi sangat berhubungan erat. Kalau tak ditangani, mereka bisa kecanduan obat tidur atau pil penenang (Chichafrancisca, 2016)
     Lebih lanjut, jika kita terlambat mengenali gejala depresi yang dialami orang-orang terdekat kita, mungkin kita bisa mencegah mereka untuk melakukan bunuh diri dengan mengenali tanda-tanda bunuh diri yang dilansir aladokter.com berikut ini:
  1. Sering membicarakan tentang kematian. 
  2. Mengutarakan keputusasaannya dalam menjalani hidup seperti berkata, “Buat apa saya hidup di dunia?”
  3. Suka menyakiti diri sendiri. 
  4. Mengancam ingin bunuh diri seperti berkata, “Jika kau memilih dirinya, saya akan bunuh diri.”
  5. Menyimpan obat-obatan yang bisa disalahgunakan.
  6. Menjadi pemakai narkoba atau pemabuk. 
  7. Sering marah secara tiba-tiba. 
  8. Sembrono dan terlibat dalam aktivitas yang mempertaruhkan nyawa. 
  9. Menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. 
  10. Sering terlihat merasa cemas. 
  11. Kehilangan minat pada apa pun yang berkaitan dengan duniawi. 
  12. Mulai membuat surat wasiat.
     Inti dari semua hal yang bisa kita lakukan untuk mengenali depresi yang dialami orang-orang terdekat kita adalah dengan menjadi seorang yang peka terhadap perkataan dan perilaku mereka. Luangkanlah waktu mendengar ceritanya dan tunjukkanlah perilaku bahwa kita akan tetap mendukung dan menyayangi mereka. Sekali lagi, empati dari orang terdekat akan setidaknya akan mencegah mereka melakukan tindakan berbahaya untuk dirinya.

Referensi: 

Aditomo, A & Retnowati,S. (2004). Perfeksionisme, Harga Diri, Dan Kecenderungan Depresi Pada Remaja Akhir. Jurnal Psikologi, No.1, 1-14. 

https://life.idntimes.com/inspiration/francisca-christy/7-hal-yang-harus-dipahami-dari-orang-yang-diam-diam-sedang-depresi/full. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3648643/penyebab-terbanyak-kasus-bunuh-diri-di-gunungkidul-ternyata-rasa-sepi. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

http://www.alodokter.com/kenali-faktor-pemicu-dan-tanda-tanda-bunuh-diri. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: 2013 

Utomo, R,H,R,P & Meiyuntari,T. (2015). Kebermaknaan Hidup, Kestabilan Emosi dan Depresi. Jurnal Psikologi Indonesia, Vol.4, No.3, 274-287. 


Penulis: Andina Nidya Savira
Editor: Syurawasti Muhiddin 

Salam Jiwa Sehat!!!
banner