Jangan Biarkan Mereka Sendirian Dimakan Depresi

     Halo jiwa! Apa kabar jiwamu hari ini? Masih ingat kasus meninggalnya Jonghyun Shinee? Indonesia adalah salah satu Negara yang k-popers-nya banyak, maka dari itu berita duka tersebut dengan cepat menyebar luas di seluruh penjuru Indonesia. Meninggalnya Jonghyun adalah salah satu kasus bunuh diri yang diakibatkan oleh depresi. Tidak hanya Jonghyun, bahkan di awal tahun 2018 ini sudah ditemukan 4 kasus bunuh diri di Indonesia. Sebenarnya, apa yang menyebabkan mereka berani merenggut nyawa meraka sendiri? Salah satu berita yang dilansir detik.news.com tahun 2017 lalu menyatakan bahwa penyebab terbanyak bunuh diri di Gunungkidul adalah karena merasa kesepian. Kesepian adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan depresi dan juga menandakan depresi itu sendiri.
     Apa itu depresi? Depresi adalah gangguan psikologis yang paling umum ditemui (Rosenhan & Seligman, 1989). American Psychological Association (Utomo & Meiyuntari, 2015) memberikan definisi bahwa depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktivitas yang menyenangkan, terjadi gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuan konsentrasi, dan perasaan bersalah yang berlebihan. Depresi merupakan gejala yang wajar sebagai respon normal terhadap pengalaman hidup negatif, seperti kehilangan anggota keluarga, benda berharga atau status sosial diri (Aditomo & Retnowati, 2004). Namun, jika depresi itu semakin berat akan berakibat buruk seperti halnya bunuh diri.
     Dalam PPDGJ III & DSM 5 gejala utama depresi adalah afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, serta berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah yang menjadikan aktivitas menurun. Ada pula gejala lainnya yaitu:
  • Konsentrasi dan perhatian berkurang 
  • Harga diri dan kepercayaan diri berkurang 
  • Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 
  • Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
  • Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
  • Tidur terganggu
  • Nafsu makan berkurang
     Dari gejala yang disebutkan di atas, bisa dikatakan bahwa kurangnya aktivitas menjadikan interaksi degan ligkungan jadi berkurang yang menyebabkan orang yang depresi kesepian. Namun, dengan gejala yang begitu banyak kita masih saja tidak mengenali depresi yang diderita orang terdekat kita. Dilansir dari artikel life.idntimes.com tahun 2016 bahwa kita bisa melihat tanda orang yang sebenarnya mengalami depresi, sebagai berikut:
  1. Ada beberapa orang yang selalu berusaha menutupi perasaan sedihnya dengan tetap bersikap ceria dan ramah kepada semua orang. Olehnya itu, kita sebagai orang terdekat mereka harus bisa peka terhadap keceriaan yang ditunjukkannya. Apakah memang ia betul-betul ceria atau hanya berpura-pura ceria. Mencobalah untuk mengulas apa yang dirasakan orang-orang terdekat kita dengan mendengar curahan hatinya. Jadilah pendengar yang peka, mungkin saja dia menceritakan sesuatu yang menyenangkan, tapi suara atau sorotan matanya tidak menunjukkan kesenangan.
  2. Pendapat negatif orang lain terhadap apa yang dialaminya bisa menjadi salah satu alasan mengapa orang terdekat kita lebih senang menyimpan perasaan sedihnya sendiri daripada berbagi dengan orang lain. Katakanlah pada orang-orang terdekat kita bahwa apapun yang dialaminya kita akan tetap mendukungnya.
  3. Orang yang sedang depresi membutuhkan orang lain untuk penyembuhannya. Selain terapi psikologis, kita bisa membantu mereka dengan menjadi pendengar yang bijak. Kita hanya perlu mendengar segala keluhan yang membuatnya depresi dan memberikan dukungan serta pelukan jika diperlukan sebagai bentuk dukungan kita.
  4. Jika 3 tanda di atas tidak bisa kita terapkan, cobalah untuk memperhatikan pola makan orang terdekat kita. Orang yang sedang depresi biasanya memiliki pola makan yang berubah dan tidak teratur.
  5. Perhatikan pula aktivitas mereka. Orang yang sedang depresi biasanya tidak lagi melakukan aktivitas atau kegiatan yang disukainya. Hal itu akan membuatnya lelah dan tidak tertarik.
  6. Menjadi mudah marah pada hal-hal yang sepele, sehingga sulit diajak bercanda. Ini adalah hal yang paling terlihat dari orang yang sedang depresi. Tanda-tanda ini juga pada dasarnya tertera di dalam PPDGJ III & DSM-5 bahwa depresi termasuk di dalam gangguan mood. Pada orang yang sedang depresi, mood/perasaannya sering mudah berubah.
  7. Perhatikan pula jika orang-orang terdekat kita sering mengalami insomnia, jika mereka tiba-tiba terlihat tidak bisa tidur, dan mengeluh tidurnya kurang bisa jadi pikiran mereka sedang terbebani yang membuat mereka bisa jadi depresi. Masalah tidur bisa jadi timbul karena alam bawah sadarnya sedang menghadapi kecemasan yang luar biasa. Masalah tidur dan depresi sangat berhubungan erat. Kalau tak ditangani, mereka bisa kecanduan obat tidur atau pil penenang (Chichafrancisca, 2016)
     Lebih lanjut, jika kita terlambat mengenali gejala depresi yang dialami orang-orang terdekat kita, mungkin kita bisa mencegah mereka untuk melakukan bunuh diri dengan mengenali tanda-tanda bunuh diri yang dilansir aladokter.com berikut ini:
  1. Sering membicarakan tentang kematian. 
  2. Mengutarakan keputusasaannya dalam menjalani hidup seperti berkata, “Buat apa saya hidup di dunia?”
  3. Suka menyakiti diri sendiri. 
  4. Mengancam ingin bunuh diri seperti berkata, “Jika kau memilih dirinya, saya akan bunuh diri.”
  5. Menyimpan obat-obatan yang bisa disalahgunakan.
  6. Menjadi pemakai narkoba atau pemabuk. 
  7. Sering marah secara tiba-tiba. 
  8. Sembrono dan terlibat dalam aktivitas yang mempertaruhkan nyawa. 
  9. Menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. 
  10. Sering terlihat merasa cemas. 
  11. Kehilangan minat pada apa pun yang berkaitan dengan duniawi. 
  12. Mulai membuat surat wasiat.
     Inti dari semua hal yang bisa kita lakukan untuk mengenali depresi yang dialami orang-orang terdekat kita adalah dengan menjadi seorang yang peka terhadap perkataan dan perilaku mereka. Luangkanlah waktu mendengar ceritanya dan tunjukkanlah perilaku bahwa kita akan tetap mendukung dan menyayangi mereka. Sekali lagi, empati dari orang terdekat akan setidaknya akan mencegah mereka melakukan tindakan berbahaya untuk dirinya.

Referensi: 

Aditomo, A & Retnowati,S. (2004). Perfeksionisme, Harga Diri, Dan Kecenderungan Depresi Pada Remaja Akhir. Jurnal Psikologi, No.1, 1-14. 

https://life.idntimes.com/inspiration/francisca-christy/7-hal-yang-harus-dipahami-dari-orang-yang-diam-diam-sedang-depresi/full. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3648643/penyebab-terbanyak-kasus-bunuh-diri-di-gunungkidul-ternyata-rasa-sepi. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

http://www.alodokter.com/kenali-faktor-pemicu-dan-tanda-tanda-bunuh-diri. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 

Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: 2013 

Utomo, R,H,R,P & Meiyuntari,T. (2015). Kebermaknaan Hidup, Kestabilan Emosi dan Depresi. Jurnal Psikologi Indonesia, Vol.4, No.3, 274-287. 


Penulis: Andina Nidya Savira
Editor: Syurawasti Muhiddin 

Salam Jiwa Sehat!!!
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.