Karena Bersamamu, Aku Menemukan Hidup

WHO mencatat angka bunuh diri dunia mencapai hampir 800.000 orang per tahun dan terjadi pada rentang usia 15-29 tahun. Usia tersebut berdasarkan fase perkembangan Hurlock (1978) adalah usia yang memasuki masa remaja (11-21 tahun) hingga dewasa awal (21-40 tahun). Sebanyak 78% kasus bunuh diri terjadi pada negara yang memiliki pendapatan menengah ke bawah. Di Indonesia sendiri, statistik menunjukkan bahwa terdapat kurang lebih 3 kasus bunuh dari dari 100.000 orang pada tahun 2015. Jika penduduk Indonesia berjumlah 255.5 juta pada tahun 2015 (lokadata, 2016) maka jumlah kasus bunuh diri kurang lebih 7.665 pada tahun 2015, dan jika dirata-ratakan dalam perbulan maka mencapai 639 kasus per bulan. Kemudian, jika dirata-ratakan lagi dalam perhari (hitungan 30 hari), maka terdapat 21 kasus. Cukup banyak.

Penyebab utama bunuh diri adalah depresi. Menurut APA (American Psychological Association) depresi lebih dari sekedar kesedihan. Orang dengan depresi mungkin mengalami beberapa dari situasi-situasi berikut. Kekurangan minat dan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, penurunan berat badan atau keuntungan yang signifikan, insomnia atau tidur yang berlebihan, kekurangan energi, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan dan pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri.

Nah, angka dan penjelasan di atas mau kita apakan? Seperti apa kita menanggapinya? Apakah kita hanya manggut-manggut lalu mengatakan “oh begitu ya?” kemudian terlupakan begitu saja dan  kembali mengingatnya ketika ada kasus baru lagi yang terungkap oleh media. Iya, hal ini mungkin terjadi karena kita hanya melihat angka dan membaca sedikit teori yang telah dibenarkan dan disepakati bersama sehingga hanya berputar pada dunia imajinasi saja.

Bagi sebagian orang yang telah terbiasa dengan angka dan teori biasanya akan lebih mudah saja untuk memahami dan mengaktifkan alarm biologisnya agar menghindari terjadinya perilaku bunuh diri dan mencari penanganan ketika mengalami depresi. Namun, yang menjadi permasalahan adalah sebagiannya lagi yang takut dengan angka, yang pada saat duduk di sekolah dasar hingga jenjang yang tertinggi menghindari pelajaran yang melibatkan perhitungan angka. Apakah dengan memaparkan angka akan dapat merubah pandangan mereka terhadap masalah bunuh diri yang selama ini masih menjadi perbincangan masyarakat dunia? Bisa jadi ada sebagian orang yang lebih paham ketika angka disajikan dengan gambar berupa grafik, ataukah berupa suara yang bernada, atau penyampaian melalui sebuah pertunjukan drama atau disajikan dalam sebuah film.

Kita tinggalkan data dan teori sejenak yang tidak berarti tanpa adanya aksi yang nyata. Kita melangkah ke depan dan menatap harapan, memikirkan segala kemungkinan dalam menyelamatkan jiwa dari kebingungan antara hidup dan mati. Kita tak usah jauh berpikir sambil menunggu orang lain membuat kebijakan atas hal ini. Kita cukup melihat apa yang tersedia di depan mata kemudian mulai memikirkan sebuah solusi-solusi bermakna tanpa kepalsuan.

Kita bisa pikirkan dengan melihat setiap kasus yang sering terjadi, misalnya sebuah hunian anti suicide, bukan hanya anti gempa atau anti badai. Adanya gerakan anti suicide atau gerakan anti depresi atau lebih gaul lagi gerakan anti galau, kemudian diciptakannya kota atau daerah yang bukan hanya bebas asap rokok atau kota bebas asap kendaraan, tapi dibuatlah kota atau daerah yang bebas depresi/galau sehingga kita bisa menikmati indahnya tersenyum bersama. Karena dengan bersama kita menemukan kehidupan.


1 2 3... ayo senyum :)


Penulis: Azmul Fuady Idham
Editor: Syurawasti Muhiddin


Salam Jiwa Sehat!!!
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.