Generasi Milenial: Sehat?


Generasi milenial atau generasi Y yang lahir pada rentang tahun 1977-1995 saat ini telah mendominasi dunia kerja. Bahkan diprediksi bahwa tiga tahun lagi generasi Y akan mendominasi dunia kerja, mencapai 70% dari total jumlah penduduk.


Generasi ini lahir dan tumbuh dikelilingi oleh smartphone dan internet yang mendukung. Penggunaan media sosial tentu saja menjadi ciri yang mendominasi generasi ini. Perangkat-perangkat pendukung tersebut membuatnya lebih cepat belajar dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Selain itu, generasi milenial juga terbilang unik karena dinilai suka berpindah tempat kerja.

But, wait! Sehatkah jiwanya? Apa penyebabnya? Let’s see

Menurut survey yang dilakukan Jobsteet.com, sekitar 66% generasi milenial atau generasi Y suka berpindah kerja dalam kurun waktu yang terbilang tidak lama yaitu kurang dari satu tahun. Berbagai alasan menjadi pemicunya, mulai dari lingkungan kerja yang kurang nyaman, gak happy, dan fasilitas yang kurang memadai. Selain itu platform joblanet juga mengumumkan hasi riset terbaru pada kurun waktu 2015-2017 yang menunjukkan bahwa sebanyak 76,8% dari generasi Y dengan total lebih dari 90 ribu respon keluar dari pekerjaannya setelah satu tahun dan dua tahun. 

Disadur dari cnnindonesia.com (2016) bahwa karakter generasi milenial adalah kutu loncat yang berdampak pada gaya bekerja di perusahaan. Pun demikian, hal ini tentu saja memaksa perusahaan jaman now mengikut sifat milenial bila tidak ingin kehilangan karyawannya. 

Diakui bahwa generasi milenial sangat kreatif dan cepat belajar, hal ini tentu saja menjadi hal yang mendukung produktivitas perusahaan. Perusahaan tentu saja harus berjibaku menjaga talenta yang ada dengan menyesuaikan dengan karakter mereka. Suasana kerja dibuat lebih menyenangkan, jam kerja fleksibel, baju yang santai dan pengembangan budaya perusahaan yang lebih terbuka dan ekspresif. 

 Generasi milenial diakui oleh banyak HRD sebagai generasi yang mudah menyerah, mereka diakui kurang memiliki daya juang. Sehatkah jiwanya? Sehat, jawabannya! Namun, perlu diperhatikan lagi bahwa karakter seperti ini dimiliki generasi milenial karena mereka masih mengira diluar sana mencari pekerjaan akan lebih mudah. Namun kenyataannya, banyak pula generasi milenial di luar sana yang mumpuni sehingga kompetisi merebut kedudukan di perusahaan akan menjadi sengit. Selain itu, jika mereka tergiur dengan berbagai macam pekerjaan di luar sana, mereka juga harus memperhitungkan waktu yang ada, pada saat pindah, tentu saja mereka harus mengulang dan bergerak dari awal lagi. Nah, jika berpindah-pindah selama beberapa tahun? Yup, hal tersebut menghambat kemajuan kariernya tentu saja. 

Jadi, apakah kamu satu dari generasi milenial yang daya juangnya rendah? 

Jika ya, kamu harus mencari tahu terlebih dahulu mencari passionmu yang sebenarnya. Apa yang kamu suka, tetapkan sekarang juga dan fokus pada keunggulannya karena mental generasi Y sebenarnya adalah doing good. Jika ada faktor lain yang yang kemudian mengundang stereotip terhadap generasi milenial, seperti pemalas, gampang bosan, kutu loncat dan lainnya, hal itu hanyalah karena lingkungan yang memaksa mereka. Bukan karena karakter mereka sendiri (bbc.com, 2017).


Penulis: Nurul
Editor Tulisan: Syura
Editor Gambar: Azmul
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Sehaat hahaha!
    Paling sebel kalo generasi y / milenial di cap buruk di mata masyarakat..
    pasti langsung sensi gw hahahahaha..
    sekalian tanya donk temans2, kira investasi untuk milenial ini cocok ga ya buat kita2 kaum milenial? (sorry link aktif, bukan endorse atau gimana, cuma nanya pendapatnya rekomen apa ga)
    jenis investasi untuk generasi milenial

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.