Religiusitas dan Kesehatan Mental: Antara Pengharapan dan Rasa Takut


Kekuatan karakter (character strength) adalah konsep utama dalam psikologi positif. Ada satu kekuatan karakter yang termasuk dalam kelompok transcendence - kelompok strengths yang menghubungkan seseorang dengan alam semesta yang luas dan memberikan seseorang makna dan tujuan dalam kehidupan[1] - berdasarkan klasifikasi Peterson dan Seligman (2004) dalam bukunya “Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification”. Kekuatan (strength) tersebut adalah spiritualitas. 

Spiritualitas dapat diartikan sebagai kekuatan yang membuat seseorang memiliki kepercayaan tentang sesuatu yang melampaui seseorang atau tujuan dan makna alam semesta yang lebih tinggi dan lebih besar; mengetahui di mana letak atau tempat seseorang di dalam suatu skema yang lebih luas; serta memiliki kepercayaan terkait makna hidup yang kemudian membentuk tindakan serta memberikan kenyamanan dan kebahagiaan [1,2]. Spiritualitas juga menyangkut, tetapi tidak dibatasi, dengan kepercayaan terhadap Tuhan dan agama (religiousness).


Berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan, pernahkah Anda menghayati bahwa iman Anda telah membantu Anda melewati masa-masa sulit Anda? Keyakinan Anda akan pertolongan Tuhan telah membuat Anda mampu mengatasi stres dalam hidup sehari-hari? Iman Anda mendorong Anda untuk melakukan sesuatu yang signifikan dan bermakna dalam kehidupan Anda sehingga membuat Anda merasa lebih bahagia?. 

Beberapa studi yang dilakukan di Amerika menunjukkan kaitan antara kepercayaan kepada Tuhan dengan hasil positif terhadap kesehatan mental. Studi pada orang dewasa di wilayah San Fransisco Bay pada tahun 2005 menunjukkan bahwa menjadi religius dapat menjadi buffer (penyangga) atau penghambat terhadap depresi di antara orang-orang yang memiliki kesehatan yang tidak baik, sementara level depresi yang tinggi ditemukan pada orang-orang dengan kesehatan yang buruk dan tidak religius [3]. Selanjutnya, studi tahun 2013 terhadap pasien rumah sakit yang mendapatkan perawatan karena isu kesehatan mental (seperti depresi dan kecemasan) menunjukkan respon yang lebih baik terhadap perawatan jika mereka memiliki kepercayaan kepada Tuhan, meskipun beberapa diantaranya tidak mengklaim konsep kepercayaan agama tertentu tetapi mereka memiliki kepercayaan terkait adanya kekuatan yang lebih besar [3, 4]. 

Review Dr.Harold G.Koeing terhadap 93 studi tentang agama dan kesehatan menunjukkan bahwa orang-orang yang lebih religius memiliki gejala depresi yang lebih rendah. Mereka yang lebih religius dan banyak terlibat dalam praktik-praktik keagamaan atau ibadah cenderung dapat mengatasi stres dengan lebih baik. Salah satu alasannya adalah karena agama dapat memberikan mereka tujuan dan makna dalam hidup, serta membantu mereka mampu memaknai hal-hal negatif yang terjadi dalam hidupnya. Selain itu, komunitas masyarakat yang religius juga dapat memberikan dukungan dan penguatan saat masa-masa sulit [3].

Di Indonesia sendiri, penelitian yang menelaah hubungan antara religiusitas dengan kondisi kesehatan mental juga telah dilakukan dan dipublikasikan. Baldi Bukhori mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Psikologika pada Juli 2006, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara religiusitas, kebermaknaan hidup dan kesehatan mental siswa, yang mana religiusitas dan kebermaknaan hidup berkontribusi sebesar 57,2% untuk kesehatan mental siswa[5]. Penelitian terhadap 82 orang Muslim berusia 18 – 40 tahun di salah satu kelurahan dan universitas di Kota Malang, yang dipublikasikan oleh Ghozali dan Dewanti pada Jurnal Psikologi April 2011, juga menemukan bahwa religiusitas dapat memprediksi kesehatan mental, dengan kata lain keduanya berhubungan secara positif[6]. 

Selain itu, religiusitas juga berhubungan dengan kebahagiaan dan well-being (kesejahteraan). Perasaan bahagia dan sejahtera seseorang akan mendukung kesehatan mentalnya dan mengurangi potensi munculnya gangguan mental. Muhana S.Utami melakukan suatu penelitian terhadap 166 mahasiswa Universitas Gadjah Mada  di suatu universitas dengan mengukur subjective well-being (kesejahteraan subjektif), religiusitas dan coping religius. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Psikologi pada Juni 2012 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara coping religius yang positif dan subjective well-being mahasiswa, serta hubungan negatif antara coping religius negatif dengan subjective well-being mahasiswa. Meskipun demikian tidak ditemukan hubungan signifikan antara religiusitas dengan subjective well-being mahasiswa. Coping religius tersebutlah yang memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan yang dirasakan[7]. 

Coping religius yang positif merefleksikan hubungan yang aman dengan Tuhan, yaitu keyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih berarti ditemukan dalam kehidupan, dan rasa spiritual dalam berhubungan dengan orang lain. Sebaliknya, coping religius negatif melibatkan ekspresi yang kurang aman dalam hubungannya dengan Tuhan, pandangan yang lemah dan tidak menyenangkan terhadap dunia, dan perjuangan religius untuk menemukan dan berbicara/berdialog dengan orang lain dalam kehidupan. Salah satu bagian dari coping religius negatif adalah menilai bahwa sumber stres itu adalah hukuman dari Tuhan atas dosa-dosanya dan atau tindakan yang dilakukan oleh kekuatan jahat/setan. Ekspresi kecemasan dan ketidakpuasan terhadap Tuhan juga merupakan bagian dari koping religius negatif[8].  

Ros Mayasari mempublikasikan tulisannya di jurnal Al-Munzir pada November 2014 tentang religisuitas dan kebahagiaan yang menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dan psychological well-being (kesejahteraan psikologis). Hasil penelitian ini mendukung penelitian dari Aflakseir tahun 2012 yang menelaah tentang religiusitas, makna hidup dan kesejahteraan psikologi pada 60 orang mahasiswa muslim di  University of Southampton and Birmingham, Inggris. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa muslim memandang kehidupan ini dengan penuh makna dan sumber makna hidup tersebut paling besar berasal dari aktivitas keberagamaan mereka dan hubungan yang baik dengan keluarga [9]. 

Lebih lanjut, Dr. Andrew Newberg menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan terhadap otak orang-orang yang memiliki kepercayaan agama tertentu juga dapat memberikan penjelasan tentang hubungan agama dan kesehatan mental. Studi-studi menunjukkan bahwa meditasi dan ibadah meditatif, termasuk doa-doa yang diucapkan dengan kalimat-kalimat khusus secara berulang-ulang, mengaktivasi area pada otak yang terlibat dalam respon-respon regulasi emosi, termasuk lobus frontal[3]. 

Pada tahun 2010, Dr. Newberg dan koleganya menelaah hasil scan otak dari orang-orang penganut agama Buddha dan Kristen. Penelitian tersebut menemukan bahwa para meditator yang melakukan meditasi dalam jangka waktu yang sudah lama memiliki lebih banyak aktivitas di area lobus frontal otaknya, seperti prefrontal cortex, dibandingkan dengan orang yang bukan merupakan meditator jangka panjang. Penguatan area otak tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang, lebih kurang reaksi, dan lebih baik dalam berhubungan dengan sumber stres. Meskipun demikian, penelitian ini tidak dapat mengatakan bahwa ibadah tertentu dapat mengubah otak[3]. 

Kepercayaan dan ajaran-ajaran yang terkandung dalam suatu agama, misalnya memaafkan, cinta, kasih sayang, dan empati, kemungkinan juga terintegrasi kedalam cara otak bekerja. Semakin banyak koneksi sel-sel saraf dalam otak yang terjadi, semakin kuat koneksinya, sehingga ketika agama mengajarkan tentang empati, sirkuit sel saraf yang terlibat dalam proses berpikir tentang empati tersebut menjadi kuat. Begitu juga dengan ajaran-ajaran lainnya. Jika seseorang selalu mengulangi atau senantiasa memiliki perasaan-perasaan dan emosi-emosi positif dari suatu ajaran agama, hal itu dapat mengurangi stres dan kecemasan, dan pada gilirannya mengarah pada pengurangan hormon stres[3]. 

Beberapa agama juga mengajarkan penganutnya untuk menjauhi perilaku-perilaku kesehatan yang memiliki risiko negatif yang tinggi, seperti merokok, meminum alkohol dan memakan segala jenis makanan secara berlebih-lebihan. Menjauhi perilaki-perilaku tidak sehat tersebut juga dapat bermanfaat untuk keberfungsian otak yang pada gilirannya dapat mendukung kesehatan mental[3]. 

Sisi yang Lain
Meskipun beberapa penelitian telah mendukung hubungan positif antara religiusitas dan kesehatan mental, namun ada juga studi yang menunjukkan bahwa terkadang religiusitas dapat berdampak buruk pada kesehatan mental. Dampak tersebut tergantung pada bagaimana kepercayaan seseorang dan apakah kepercayaan agama tersebut diterima oleh masyarakat secara luas[3]. Poin kedua ini tentu berkaitan dengan dukungan atau penolakan sosial yang diterima, yang kemudian memengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. 

Bagaimana hubungan keduanya dapat digambarkan? Sebagaimana mekanisme yang dijelaskan Dr.Newberg terkait hubungan positif kepercayaan terhadap agama dan kesehatan mental, kebencian yang dikaitkan dengan keyakinannya (misalnya, kebencian terhadap orang lain yang tidak beragama maupun berbeda keyakinannya dengannya) juga akan menjadi bagian dari cara otak bekerja. Area otak yang terlibat dalam proses berpikir tentang kebencian akan diaktifkan dan hal ini dapat meningkatkan stres dan menstimulasi pengeluaran hormon stres [3]. 

Selain itu, jika seseorang meyakini bahwa kondisi kesehatannya yang buruk adalah bentuk hukuman dari Tuhan, mereka kemungkinan cenderung untuk kurang terlibat dalam perilaku mencari bantuan perawatan. Ditemukan juga oleh Pargament bahwa ketika orang-orang memercayai bahwa Tuhan menolak mereka, atau mereka mempertanyakan dan meragukan cinta Tuhan kepadanya, mereka cenderung mengalami gangguan emosional yang lebih besar. [3].    

Sebuah studi yang dilakukan terhadap 1.426 orang Amerika dipublikasikan di Journal of Religion & Health. Responden penelitian tersebut dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan kepercayaannya kepada Tuhan, yaitu kategori orang yang percaya kepada Tuhan yang menghukum, kategori orang yang meyakini bahwa Tuhan Maha Baik dan Pemurah, dan kategori mereka yang memercayai bahwa Tuhan tidak terlibat dalam keduanya. Peneliti lalu menelaah prevalensi gangguan emosional pada masing-masing kelompok. Hasilnya, gejala-gejala gangguan mental lebih banyak ditemukan pada kelompok yang meyakini bahwa Tuhan adalah penghukum. Penelitian ini pun menyimpulkan bahwa seseorang yang percaya kepada Tuhan yang marah dan menghukum cenderung mengalami kecemasan sosial, paranoia, pemikiran obsesif dan kompulsif[10]. 

Meskipun demikian, perlu digaris bawahi bahwa penelitian tersebut hanya menelaah korelasi antara kepercayaan dan kesehatan mental dan bukan melihat sebab-akibat. Tidak berarti bahwa percaya kepada Tuhan yang murka dapat membuat seseorang mengalami gangguan jiwa[10]. 

Hasil penelitian tersebut juga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut oleh ahli yang lain. Dr. Harold Koenig, professor psikiatri dari Duke University menyatakan bahwa bisa saja kondisi kesehatan mental yang buruk (kecemasan dan paranoia) itulah yang menyebabkan subjek penelitian mempersepsikan Tuhan sebagai penghukum, atau sebaliknya persepsi tersebut yang menyebabkan kesehatan mental yang buruk. Hal ini belum dipastikan. Dia menduga bahwa orang-orang dengan gangguan emosional melihat seluruh dunia mereka secara negatif dan selalu merasa ingin menyalahkan sesuatu atau seseorang, yang mana dalam hal ini Tuhan seringkali menjadi targetnya untuk disalahkan[10]. 

Antara Pengharapan dan Rasa Takut
Apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran dari hasil studi yang menunjukkan adanya hubungan antara religiusitas dan kesehatan mental? Pertama, kita kembali kepada istilah spiritualitas, kekuatan karakter yang dapat dimiliki oleh setiap orang, termasuk yang tidak menganut kepercayaan agama apapun. Dengan meningkatkan spiritualitas, seseorang bisa meningkatkan kondisi kesehatan mentalnya. 

Agar bisa meningkatkan kekuatan spiritualitas ini, seseorang perlu untuk selalu berada pada kondisi “mindfulness” atau sadar dan menghadir dengan kondisinya dan  kondisi sekitarnya. Hal yang bisa kita lakukan dengan kesadaran itu adalah merefleksikan perjalanan hidup. Kondisi kritis seperti kecelakaan yang dialami, penyakit yang diderita, kekacauan keluarga, serta kondisi sejahtera, seperti pernikahan dengan orang yang dicintai, pekerjaan yang diperoleh, dan kesuksesan karir, semuanya direfleksikan untuk bisa menemukan makna dari kejadian-kejadian tersebut. Hal kecil lainnya yang dapat dilakukan adalah menikmati indahnya alam semesta ini, mengamati lingkungan sosial sekitar kita, dan selalu menyadari berkah-berkah yang diterima dalam kehidupan. 

Berkaitan dengan religiusitas yang dikembangkan dari spiritual itu, religiusitas dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang ada di dalam diri seseorang yang mendorongnya bertingkah laku, bersikap, dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya[5]. Untuk bisa meningkatkan kesehatan mental melalui penguatan religiusitas ini, seseorang bisa menerapkan ajaran-ajaran luhur dari konsep agamanya masing-masing, juga melakukan ritual-ritual ibadah sesuai dengan ajaran agamanya. Seseorang juga dapat belajar mengembangkan koping religius yang positif dalam menghadapi stres kehidupan.

Kedua, hasil yang diperoleh bergantung pada persepsi kita. Semua dikembalikan pada bagaimana kita memandang dan memercayai sesuatu. Pandangan kita terhadap dunia yang positif, seperti dunia yang penuh manfaat, dunia adalah ladang kita untuk mengusahakan kebaikan, sekaligus ladang cobaan-cobaan yang akan membuat kita kuat, akan memberikan hasil yang positif terhadap pikiran dan tindakan kita. Sebaliknya, pandangan negatif kita, seperti dunia adalah ladang penghukuman, dunia adalah tempat orang-orang jahat, dunia adalah masalah, hal itu akan menghasilkan pikiran dan tindakan yang negatif pula. Pikiran dan tindakan yang kita pilih tentu pada gilirannya akan memengaruhi kondisi kesehatan mental kita, pun kebahagiaan kita.  

Juga, pandangan seseorang terhadap Tuhan akan melahirkan tindakan yang berbeda, termasuk koping religius yang berbeda (positif atau negatif). Prasangka kita terhadap Tuhan, itulah yang akan ditunjukkan kepada kita. Ketika kita berprasangka baik maka segala sesuatu dapat terlihat positif, namun sebaliknya, jika kita berprasangka buruk maka bermunculanlah hal negatif. Tuhan adalah apa yang kita prasangkakan kepadanya. Berbaik sangkalah untuk bisa meningkatkan kesehatan mental kita. 

Tentu saja wajar bagi penganut agama merasa takut terhadap Tuhan dan merasa cemas akan dosa-dosanya. Bahkan, dalam ajaran agama tertentu, hal itu diperintahkan. Namun, rasa takut itu tentu ada sebabnya dan seyogyanya bisa dikelola dengan tepat. Tuhan memiliki hukuman yang pedih, namun karunia Tuhan pun jauh lebih besar dalam kehidupan ini, yang terkadang kita kurang sadari. Penganut agama tertentu juga diperintahkan untuk mengharapkan karunia Tuhan sebesar-besarnya.

Pengharapan dan rasa takut itu seperti dua kutub yang selalu perlu untuk diseimbangkan. Adakalanya kita lebih condong ke salah satu kutub. Hal tersebut sesuai dengan realitas kehidupan kita. Bagi orang yang beriman, pengharapan itu diperlukan untuk selalu membuatnya optimis karena Tuhan itu Maha Baik, akan melindungi, dan memberikan karunia. Pengharapan ini yang bisa membuat seseorang selalu bangkit, bahkan dari keterpurukan yang amat dalam sekalipun. Pengharapan ini akan membantu kita membangun kondisi kesehatan mental yang baik. Namun, di sisi lain, orang beriman juga perlu merasa takut atas siksaan Tuhan yang berat, agar dirinya tidak melanggar batas-batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Agar dirinya tidak berbuat sewenang-wenang kepada orang lain. Jika kita melampau batas ketentuan, bisa saja kita justru terjatuh pada penyakit-penyakit psikologis dan sosial, misalnya kita membunuh, mencuri, merusak alam, dan terlibat dalam kejahatan seksual. Jadi, menyeimbangkan pengaharapan dan rasa takut itu dalam kerangka kepercayaan kita kepada Tuhan dan ajaran-ajaran agama yang diyakini sangatlah penting bagi kondisi kesehatan mental kita.   

Referensi
  1. Radford, Nancy. (2016). The Virtues of Transcendence: How to Use and Improve your Strengths. Diakses dari www.positivepsychologyprogram.com.
  2. Park, N., Peterson, C. & Seligman, M.E.P. (2004). Strengths of Character and Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology, 23 (5), 603 – 619. 
  3. Rettner, Rachael. (2015). God Help Us? How Religion is Good (And Bad) For Mental Health. Diakses dari www.livescience.com. 
  4. Nauert, Rick. Belief in God Can Improve Mental Health Outcomes. Diakses dari www.psychcentral.com 
  5. Bukhori, B. (2006). Kesehatan Mental Mahasiswa ditinjau dari Religiusitas dan Kebermaknaan Hidup. Psikologika, 11 (22), 93 – 105. 
  6. Affandi, Ghozali R. & Diah, Dewanti R. (2011). Religiusitas sebagai Prediktor terhadap Kesehatan Mental: Studi Terhadap Pemeluk Agama Islam. Jurnal Psikologi, 6 (1), 383 – 389. 
  7. Utami, Muhana S. (2012). Religiusitas, Koping Religius, dan Kesejahteraan Subjektif. Jurnal Psikologi, 39 (1), 46 – 66. 
  8. Pargament, Smith, Koenig, & Perez dalam Utami, Muhana S. 
  9. Mayasari, R. (2014). Religiusitas Islam dan Kebahagiaan (Sebuah Telaah dengan Perspektif Psikologi). Al-Munzir, 7(2), 81 – 100. 
  10. 10. Cooper-White, M. (2013). Religion & Mental Health: New Study Links Belief In ‘Punitive God’ To Emotional Problems. Diakses dari www.huffingtonpost.com 


Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.