Penerimaan Diri Korban Pemerkosaan


Masalah kejahatan merupakan hal yang seringkali terjadi dan menyebabkan keresahan serta kerugian pada masyarakat, salah satunya adalah pemerkosaan yang dilakukan kepada anak-anak. Pemerkosaan adalah tindakan mencuri, memaksa, dan merampas kebahagiaan seseorang hanya untuk kepuasaan dan pelampiasan nafsu seksual pelaku. Pelaku membuat korban merasa malu, hina, tercemar bahkan merasakan takut dalam bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan. Sebuah penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa pemerkosaan sering meninggalkan bekas dan sulit untuk dipulihkan. Korbannya bisa benar-benar terguncang dan apabila tidak segera ditangani dengan benar, bisa menyebabkan trauma berkepanjangan.

Pelecehan seksual dan pemerkosaan di masa kanak-kanak apabila dikaitkan dengan masalah sosial dan penyesuaian psikologis pada masa dewasa menyebabkan terjadinya kerusakan persepsi terhadap diri, kesulitan dalam menjalin hubungan bahkan masalah seksualitas dengan pasangan. Seseorang dengan pengalaman pelecehan seksual di masa kanak-kanak juga dapat merasa malu dan merasa bersalah akibat perlakuan yang diterimanya. Penelitian yang telah dilakukan oleh majalah MS Magazine menyatakan bahwa 30% perempuan korban pemerkosaan bermaksud untuk bunuh diri, 31% mencari bantuan psikoterapi, 22% mengambil kursus bela diri, dan 82% mengatakan bahwa pengalaman tersebut mengubah mereka secara permanen dalam artian tidak dapat dilupakan.

Salah seorang remaja mengungkapkan bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual dan pemerkosaan ketika masih berusia sekitar 10 tahun hingga ia berusia sekitar kelas X Sekolah Menengah Atas. Ia mengungkapkan bahwa pelaku pelecehan dan pemerkosaan yang telah dialaminya adalah keluarga terdekatnya, yaitu paman, kakek dan kerabat keluarga. Pelecehan pertama yang diterima dilakukan oleh kakek korban dengan cara menyentuh alat vital yang berujung terjadinya pemerkosaan. Korban juga mengalami pelecehan berkali-kali dari kerabat keluarganya yang hampir saja berujung pemerkosaan. Paman korban yang tinggal bertetangga dengan korban juga melakukan pelecehan berkali-kali ketika korban menginap di rumahnya, pelecehan tersebut dilakukan ketika korban sedang tidur.

Pelecehan dan pemerkosaan yang terjadi berkali-kali menyebabkan korban merasa cemas dan takut ketika berada di dekat pelaku meskipun hanya mendengar suara pelaku. Korban kesulitan bergaul dan selalu menjaga jarak dengan lingkungan karena takut orang-orang mengetahui apa yang telah ia alami sehingga ia ditinggalkan sendirian. Bahkan korban tidak berani mengungkapkan apa yang ia alami kepada keluarganya dengan alasan korban tidak ingin hubungankekeluargaannya hancur, terlebih lagi pelaku memiliki anak yang masih kecil. Korban juga tidak terlalu dekat dengan keluarganya, termasuk ibu korban yang bersikap sangat keras kepadanya. Ibunya bahkan tidak segan-segan untuk menampar dan menarik rambut korban di depan orang banyak.

Kondisi demikian menyebabkan korban memilih untuk memendam semua yang telah ia alami dan mengatakan lebih baik dia saja yang hancur daripada keluarganya. Meskipun korban harus merasa tersiksa selama bertahun-tahun dengan kondisi demikian, merasa jijik dengan diri sendiri, merasa tidak berdaya dan kadang berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun korban tetap bersyukur untuk beberapa hal yang terjadi dalam hidupnya, diantaranya kelahiran seorang adik kecil di dalam keluarganya. Kelahiran adik kecil tersebut menjadi alasan korban untuk terus berjuang menjalani kehidupannya yang berat. Ketika ia ingin menyerah, ia akan mengingat adiknya. Korban takut adiknya akan mengalami apa yang telah ia alami, penyiksaan masa kecil dan pelecehan seksual bahkan pemerkosaan.

Penulis: Nurul Azizah
Editor: Syura
Ilustrasi Gambar: Pila
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.