Selasa, 30 Oktober 2018

Pernah Direhabilitasi Bukan Berarti Berhenti Bermimpi

Pernah Direhabilitasi Bukan Berarti Berhenti Bermimpi
Oleh I. Setiawan
relawan halo jiwa-


Kata rehabilitasi bagi sebagian orang terdengar tabu, menakutkan, menyeramkan, bahkan mungkin menjijikkan. Pandangan masyarakat umum yang demikian itulah yang membuat para mantan klien rehabilitasi baik rehabilitasi narkoba maupun rehabilitasi fisik dan mental merasa rendah, merasa sendiri, merasa kotor, merasa berbeda, dan merasa tak berguna. Tak jarang keluarga pun menganggap mereka sebagai aib yang harus ditutup rapat rapat.

Pikiran dan perasaan seperti itu tak hanya menghampiri mereka, aku sendiri pun pernah merasakannya. Sebagai mantan pasien di suatu panti rehabilitasi fisik dan mental secara Islami di daerah Cilacap aku paham betul bagaimana perasaan para pasien. Satu bulan aku direhabilitasi akibat pemikiran dan perilaku dalam masyarakat yang telampau radikal, dari perspektif Agama. Aku mengalami gangguan mental karena mempelajari ilmu agama tanpa guru, salah satu kitab mengatakan bahwa “barangsiapa mempelajari ilmu agama tanpa guru maka ia akan digurui oleh syaitan”, dan benar saja, saat itu aku seperti sering merasa mendapatkan bisikan untuk melakukan sesuatu, terutama bisikan untuk berjihad. Lalu, berjihadlah aku dengan caraku sendiri, yaitu dengan menggiatkan jamaah di mushola, menjadikan mushola sebagai pusat peradaban, sebagai tempat pembelajaran ilmu umum dan ilmu agama, dalam waktu 3 hari perubahan di kampungku sangat pesat. Sholat semakin banyak jamaahnya, dan sangat banyak anak anak yang belajar dan membaca di perpustakaan mini yang aku buat dan aku tempatkan di mushola. Namun, kesalahan terbesarku adalah aku memarahi orang-orang yang tak mau berjamaah menggunakan pengeras suara mushola, fatal sekali sangat fatal... Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri saat itu. Itulah awal mula aku dibawa ke panti rehabilitasi.

Ditempat rahabilitasi itulah, aku mendapat perawatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat pertama kali datang, aku di keroyok sekitar 5-7 orang laki-laki akibat memarahi orang-orang yang masih duduk saat iqomah sholat isya sudah berkumandang. Saat dikeroyok tak ada rasa takut sedikitpun muncul dalam benaku. Aku tak ingin berkelahi namun apa daya,  sekali lagi aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, aku terus melawan dan mulutku terus berkata, “kalau aku mati aku berjihad, kalau aku mati aku berjihad, kalau aku mati aku berjihad”. Sampai akhirnya aku lemas tak berdaya dan pelipis, bibir, dada, tangan, serta kakiku berdarah-darah dan memar memar, disaat itulah mereka baru berhenti menghajar tubuh mungilku. Tak berhenti sampai disitu, dalam kondisi luka-luka aku ingin sholat namun tak diizinkan karena aku dianggap kerasukan setan, aku tidak boleh masuk masjid, akhirnya terpaksa aku sholat di teras masjid. Setelah sholat aku tergeletak kesakitan, sakit seluruh anggota badan, aku menangis, dan hati kecilku bertanya, dimana Islam yang rahmatan lil’alamin itu. Rasul mengajarkan untuk memuliakan tamu, mengapa aku sebagai tamu disini diperlakukan seperti ini? Aku terus menangis dalam kesendirian, semua yang ada disitu melihatku seperti melihat setan.

Dalam kondisi luka-luka, tak seorangpun yang membantu, tak seorangpun berbelas kasihan, dan bahkan semua justru berujar “iblis kau !”. Bisa kamu bayangkan betapa sakit lahir batinnya aku saat itu. Setelah itu, dalam kondisi lemah mataku diolesi minyak angin sampai aku tak bisa melihat, perih sekali,  dan saat itulah aku diseret, dijambak rambutku, dirantai kakiku di sebuah ruangan yang gelap, kotor, bau pesing dan bau kotoran, di sanalah aku mendekam bersama 5 orang (“pasien”) lain. Selama 3 hari, aku makan, minum, buang air besar, buang air kecil, mandi dan tidur di ruangan itu dalam kondisi kaki dirantai, ruangan itu terasa seperti kandang bagiku.

Tiga hari berlalu, aku memelas kepada pengurus tempat itu untuk melepaskanku, aku minta maaf, aku memohon-mohon kepada pengurus, aku mengaku salah telah melakukan perbuatan kasar kemarin, aku mengaku salah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Akhirnya aku dilepaskan dari belenggu rantai dan ruangan yang menjijikkan, aku terlepas dari kondisi kaki dirantai tak bisa jalan ke mana-mana walau hanya sekedar buang air sekalipun. Setelah aku dilepas, tidak serta merta aku boleh pulang, hari-hari berikutnya diisi dengan membersihkan ruang perawatan dari kotoran-kotoran pasien yang lain, memandikan pasien yang lain, berlatih berkebun, bertukang, menggembalakan domba, mencari rumput, memasak, dan yang terpenting adalah mengaji bersama Kiyai. Dimasa-masa inilah aku semakin menyadari kesalahanku. Ilmu agamaku masih sedikit namun gayaku selangit sampai-sampai mengkafir-kafirkan orang lain. Selama disana aku tidak memegang HP, tidak membaca koran, tidak dibekali uang, makan hanya mengandalkan jatah dari panti. Bila ingin jajan, satu-satunya jalan adalah menjadi tukang cuci, mencucikan baju para pengurus. Mencuci baju 1 bak aku dibayar 5 ribu, cukup untuk membeli roti dan kerupuk. Begitulah proses pemulihan mental dan fisikku.

Setelah genap sebulan aku dirawat dan perkembangan kondisiku terus membaik dan stabil. Berkat dukungan orang-orang tersayang, akhirnya aku boleh pulang ke rumah. Perasaan khawatir pun muncul, khawatir menjadi aib keluarga, jadi bahan olok-olok, khawatir tidak diterima oleh lingkungan, dan ternyata benar, ada tetangga yang menyayangiku ketika aku kembali disambut dengan hangat, tetapi ada juga yang mengolok-olok, meskipun aku mendengarnya dari orang lain. Hal ini menjadi guncangan tersendiri buatku. Namun, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga kestabilan mentalku, aku tidak mau kumat dan kembali direhabilitasi lagi, aku tidak mau berpisah dan mempermalukan orang-orang tersayangku.

Sebagai seorang mahasiswa bimbingan konseling, akupun tertarik untuk mengkaji apa yang dialami oleh diriku sendiri. Kebetulan aku punya kenalan seorang yang sedang menempuh S3 Psikologi di UGM, setelah cerita via whatsapp, dia menyimpulkan kemungkinan besar aku mengalami gangguan psikologis yang namanya delusi/waham, akibat dinamika hidup yang ekstrim dan beban psikologis yang terlampau berat. Dari situ aku menyadari, ternyata kebiasaanku yang ingin terlihat sempurna, menjadi yang terbaik disemua bidang, ingin memberi dampak untuk keluarga, lingkungan, bangsa, negara, agama dan dunia, keinginan untuk sukses semudah mungkin membuat kondisi psikologisku benar-benar kelelahan sampai sampai kehilangan kontrolnya. Sejak itulah aku mengurangi intensitas mengikuti diskusi yang bernuansa politis, mengurangi target yang muluk, dan mengurangi intensitas kegiatan maupun tanggungjawab lainnya.

Sebagian orang memintaku untuk menjalani hidup apa adanya saja seperti orang pada umumnya, kuliah ya kuliah saja, tidak usah memikirkan orang lain, kemudian bekerja, punya anak, terus bekerja lagi sampai mati, memikirkan diri sendiri saja, Namun aku tak bisa seperti itu, nuraniku tidak sanggup. Aku mengurangi intensitas aktivitas yang memacu badan dan pikiran, namun tak berarti mimpi mimpiku terhenti. Impianku untuk menebar manfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa, negara, dan agama tetap hidup walau dalam praktiknya lebih sederhana dan lebih santai dari yang awalnya aku cita citakan, yang dulunya aku ingin berdikari secara finansial, sekarang tetap menerima uang dari orang tua yang penting tidak untuk hura-hura, yang dulu ingin membangun panti asuhan sekarang yang penting tetap bisa berdonasi untuk panti asuhan walau sedikit dan aktif mendukung kampanye kesehatan mental, yang dulu ingin mempunyai perusahaan properti sekarang tetap didunia properti walau hanya sebagai marketing freelance-nya.

Dari apa yang aku tahu, apa yang pernah aku rasakan, apa yang aku alami, aku ingin berbagi apa yang aku punya. Aku tidak mau semakin banyak keluarga yang berantakan, aku tidak mau semakin banyak orang yang mengalami gangguan mental, aku tidak mau masyarakat tenggelam dalam tidak tahu mengenai hal-hal yang dapat  memperparah kondisi orang-orang dengan gangguan mental.
Melalui tulisan ini aku berharap masyarakat menyadari, setiap orang berhak mewujudkan mimpi mimpinya, sekalipun orang itu pernah mengalami gangguan kejiwaan, dan tanggungjawab sosial kita sebagai masyarakat adalah mendukung agar yang sakit bisa sembuh dan yang sehat mentalnyan tetap terjaga kesehatan mentalnya. Meskipun masuk panti rehabilitasi, namun bukan berarti harus berhenti bermimpi dan semangat. Selama masih hidup artinya kita masih punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi mimpi kita. Selamat berjuang mencari kawan dan jalan yang tepat untuk mewujudkan impian.

Editor: Syurawasti Muhiddin

Selasa, 23 Oktober 2018

Be Authentic, Be Aware

Baru saja diperingati hari Kesehatan Mental Sedunia, yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018. Media sosial ramai dengan postingan berupa artikel, quote, poster, maupun infografis lainnya yang berhubungan dengan kesehatan mental. Umumnya berkaitan dengan info tentang depresi, stres, kecemasan, bunuh diri, hingga terkait kestabilan emosi. Postingan tersebut tentunya bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat luas yang diistilahkan dengan netizen agar lebih perhatian terhada isu kesehatan mental. Harapannya, dengan memaparkan informasi mengenai gangguan-gangguan mental dan bahaya bagi kehidupan, pengetahuan masyarakat dapat bertambah dan mereka lebih tercerahkan.


Saat ini, kita sedang diperhadapkan pada era digital. Era ini ditandai dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, yang memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan manusia. Perubahan yang terbesar adalah semakin meluasnya dunia virtual seseorang melalui eksisnya mereka di media sosial. Tak heran jika kampanye mengenai kesehatan mental juga berbondong-bondong dilakukan melalui media sosial. Dunia virtual berhasil menciptakan slogan tanpa batas, yang mana kita yang ada di suatu daerah bisa berkomunikasi dengan mereka yang ada di luar daerah, misalnya.

 Era digital juga ditandai dengan perubahan dan perpindahan yang cepat. Kondisi A bisa berubah begitu cepat. Kita juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat karena teknologi. Kita terlibat dalam berbagai komunitas virtual yang juga menuntut kita perlu berpindah dengan cepat, berganti peran, dan mengubah mindset.

Tak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi di era ini telah memberikan dampak positif. Namun, perkembangan itu seperti dua mata pisau. Selain dampak positif, dampak negatif juga nyata terlihat, termasuk pada kesehatan mental individu dan masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan penyebaran informasi tidak benar (hoaks) di era ini. Juga kejahatan di dunia maya, termasuk pula bullying. Semua itu dapat menganggu kesehatan kita secara mental.

Bayangkan, kita bisa tertekan oleh banyaknya informasi yang terpapar di otak kita. Apalagi jika kita tidak memiliki keterampilan untuk memilah-milah informasi dengan sebaik-baiknya. Ketika informasi A datang, kita akan cenderung ke A. Namun, jika informasi B datang, kita berpindah lagi. Tentang kejahatan dan bullying, sudah jelas akan merugikan pihak tertentu, yang pada gilirannya dapat membuatnya terganggu secara psikologis.

Belum lagi hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari akibat digitalisasi berbagai hal. Kita membandingkan diri dengan orang lain karena kita melihat status mereka setiap hari di media sosial. Kita menjadi “kehilangan diri” karena sibuk mencari role model di media sosial. Kita berpura-pura terlihat bahagia di foto yang kita unggah di media sosial, kita merangkul pasangan, keluarga, atau teman kita dengan akrab, padahal kenyataanya kita tidak sedekat itu. Kita sibuk menciptakan citra dan kepribadian virtual yang bisa ditunjukkan kepada dunia, padahal citra itu bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita mendahulukan chatting dengan orang yang jauh, padahal ada orang di dekat kita yang menunggu percakapan yang seru nan hidup tanpa alat-alat digital. Lama-kelamaan, kemampuan bersosialisasi kita tidak akan berkembang. Kita bahkan tidak bisa membangun hubungan positif dengan orang lain, kata seorang profesor dari luar negeri.

Dampak negatif itu terasa saat ini. Namun apakah kita akan mundur dan menarik diri dengan perkembangan dunia saat ini? Jawabannya tidak. Kita tidak bisa mundur lagi. Hal yang tepat kita lakukan adalah menyongsong masa depan yang bahkan akan lebih super canggih lagi. Hanya manusia yang bisa beradaptasi yang mampu melalui tantangan zaman. Seperti konsep seleksi alam dalam ilmu biologi.

Bagaimana kemudian cara merawat kesehatan mental kita di era yang sangat dinamis ini agar kita tak terseleksi dan jatuh dalam kelompok orang yang mengalami gangguan mental?

Jawabannya singkat tapi sangat dalam. Be Authentic. Jadilah diri sendiri. Bagaimana caranya? Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri. Bertemulah dengan diri dan berdialoglah. Barangkali apa yang kita tunjukkan saat ini, bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita hanya mengikuti arus perputaran zaman. Setiap manusia diciptakan memiliki potensi yang akan menjadi bekalnya untuk mencapai fitrahnya. Temukanlah fitrah itu, dekatilah! Autentisitas diri adalah kunci untuk bisa bertahan pada lingkungan yang beragam, mudah berubah, dan mudha berpindah.

Dengan autentisitas diri yang kita miliki, kita menjadi lebih berintegritas. Kita tidak mudah terombang-ambing ditengah ketidakpastian yang kemungkinan besar akan membuat kita stres. Kita tidak akan mudah terseret arus zaman yang bisa membuat kita menjadi bukan diri kita, yang pada gilirannya membuat kita hidup dalam depresi karena bertindak hanya untuk menyenangkan lingkungan kita. Seyogyanya kita selalu ingat bahwa setiap individu bersifat unik.

Selain menjadi autentik, kita juga perlu selalu “aware”. Aware ini mewakili kata pemawasan dan kesadaran menghadir (here and now). Karena kita akan banyak menjalankan peran, berpindah dari satu titik ke titik lain, dan menghadapi dunia yang dinamis, kita perlu mawas diri, kita perlu senantiasa sadar dan menghadir dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, kita selalu bisa bersikap teliti, tidak gegabah. Kita bisa menyadari batas kemampuan, menyadari kelebihan dan kekurangan kita. Kita bisa memahami risiko dan konsekuensi dari tindakan kita, juga melakukan tindakan antisipasi serta melakukan kontrol terhadap diri. Ingatlah, bahwa bukan lingkungan yang seharusnya mengendalikan kita, tapi kita yang mengelola lingkungan itu.

Dalam kehidupan ini, orang yang akan teringat melampaui suatu zaman adalah mereka yang bisa memberikan warna untuk lingkungannya, sekecil apapun itu. Bukan sebaliknya, dia diwarnai oleh lingkungan sehingga menjadi sama saja dan tidak berbeda. Untuk bisa memberi warna, diperlukan autentisitas diri dan kesadaran. So, be authentic, be aware. 

by Syurawasti Muhiddin

Rabu, 10 Oktober 2018

Lima Efek Psikologis Umum bagi Korban Gempa Bumi

Efek dari gempa bumi sangat besar. Menghancurkan bangunan dan jalanan. Selain itu, gempa bumi juga melibatkan manusia sebagai korban dan menimbulkan kerusakan secara fisik dan psikologis. Sebagai praktisi dalam bidang psikologi dan kesehatan mental, kami akan menjelaskan lima efek psikologis umum yang biasa terjadi pada korban gempa bumi sebagai berikut: 

1) Hypervigilance
Menurut Carolyn Wagner, konselor profesional berlisensi dan psikoterapis di Linebarger & Associates, korban gempa bumi sering mengalami hypervigilance. “Setiap suara kecil menyebabkan seseorang lari mencari perlindungan. Sentuhan yang bermaksud baik, tetapi dapat menyebabkan seseorang berteriak ketakutan. Hal ini disebabkan karena tubuh dalam keadaan siaga tinggi, dan mencoba untuk terhindar dari sesuatu yang mengancam keselamatan. Hal ini mungkin membuat Anda merasa gelisah” kata Carolyn Wagner. Biasanya, respons ini hilang dengan sendirinya. Namun jika tidak, hal ini mungkin merupakan karakteristik dari sesuatu yang jauh lebih serius, seperti PTSD (poin lima).

2) Anxiety and Depression
Setelah kehidupan seseorang terancam dan selamat dari gempa bumi, tidak jarang mereka menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan / atau depresi.  Kata Nikita Banks, seorang pekerja sosial dan psikoterapis klinis berlisensi di Brooklyn, New York, kedua gangguan ini menunjukkan gejala yang sama seperti kelelahan, kurang tidur, penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari, mudah tersinggung, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Gejala-gejala ini dapat datang dan pergi seiring berjalannya waktu, tetapi jika kecemasan dan depresi terjadi terus-menerus maka penting untuk segera mencari bantuan.

3) Mental Roadblock
Menurut Banks, ini juga merupakan efek tipikal bagi mereka yang selamat dari gempa bumi dan bencana alam lainnya, peristiwa tersebut sering muncul di kepala mereka. "Sangat penting untuk membuat mereka tetap berpegang dan memiliki rutinitas sesegera mungkin untuk membantu mereka kembali ke tingkat normal karena ini akan membantu mereka menjadi lebih aman di lingkungan mereka," kata Banks.

4) Earthquake Phobia 
Dr. Craig April, Ph.D., seorang psikolog berlisensi dan Direktur The April Center for Anxiety Attack Management di Los Angeles, mengatakan: “fokus dari fobia ini adalah kecenderungan untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya gempa yang akan datang" Namun, hal ini sudah jelas di luar kendali dan kegagalan yang akan datang kemudian akan menghasilkan kecemasan”,  jelas Dr. Craig April, Ph.D.

5) PTSD (Post-traumatic Syndrome Disorder)
Menurut psikolog klinis Dr. Jana Scrivani, Psy.D., yang secara pribadi mengalami gempa bumi, “kebanyakan orang yang terkena dampak langsung akan menunjukkan banyak gejala psikologis yang terlihat seperti PTSD.  Mayoritas akan pulih, tetapi sebagian kecil akan terjebak di suatu tempat dalam proses pemulihan, dan terus mengalami PTSD.” Gejala PTSD tersebut termasuk rasa takut yang intens, flash back, dan mimpi buruk. Ini adalah efek psikologis yang paling parah dan bertahan lama, yang mungkin terjadi pada seorang individu.

Artikel ini telah terbit di Thriveworks.com, dengan judul: 5 Common Psychological Effects One Might Experience After Surviving a Major Earthquake (Link: https://thriveworks.com/blog/5-common-psychological-effects-one-might-experience-surviving-major-earthquake/).

Penerjemah: Azmul Fuady Idham
Editor: Syurawasti Muhiddin

Artikel asli
5 Common Psychological Effects One Might Experience After Surviving a Major Earthquake

We immediately see pictures of crumbled buildings, stray dogs, and the heroic actions of rescue workers, following this harrowing disaster. But what we don’t see or understand are the lasting effects an earthquake may have on its survivors. We don’t typically get an inside look at their thoughts and feelings—we can only imagine what something so devastating must do to the makings of one’s mind. At least, that’s the case for most of us. But there’s a party in the middle there that gets the slightest peak into what psychological effects experiencing a major earthquake may cause—none other than the guys tasked with helping these survivors cope with the detrimental consequences: psychologists. And they’re here to help us better understand some of these most common effects:

1) Hypervigilance
According to Carolyn Wagner, licensed professional counselor and psychotherapist at Linebarger & Associates, survivors of earthquakes often experience hypervigilance. “Any little noise causes you to run for cover. A well-meaning, but unexpected touch from a loved one can cause you to yell out in fright. This is because the body is on high alert for another threat to your safety, which may make you feel jumpy and on edge,” she says. Typically, this response goes away on its own, but may be a characteristic of something much more serious if it doesn’t, like PTSD.

2) Anxiety and Depression
After one’s life is threatened and turned on its side by an earthquake, it is not uncommon for them to show signs of anxiety and/or depression, says Nikita Banks, a licensed clinical social worker and psychotherapist in Brooklyn, New York. The two illnesses present similar symptoms such as fatigue, loss of sleep, a decreased interest in daily activities, irritability, and an inability to concentrate. These symptoms may come and go with time, but if they prove lasting, it is important to seek treatment.

3) Mental Roadblock
According to Banks, it is also typical for survivors of earthquakes and other natural disasters to continuously relive the event in their head. “It is necessary to get them to stick to and have a routine as soon as possible to help them return to some sense of normalcy as it will help them become more secure in their environment,” she says.

4) Earthquake Phobia
Dr. Craig April, Ph.D., a licensed psychologist and Director of The April Center for Anxiety Attack Management in Los Angeles, says that with this phobia or fear, “the focus tends to be a desire to control the possibility of another earthquake occurring.” However, this is obviously out of our control and the impending failure then results in anxiety, he explains.

5) PTSD
According to clinical psychologist Dr. Jana Scrivani, Psy.D., who has personally experienced an earthquake herself, “most folks directly impacted will exhibit many psychological symptoms that look like PTSD.” The majority will recover, but “a minority will become stuck, somewhere in the recovery process, and go on to develop PTSD.” Symptoms of PTSD include intense fear, flashbacks, and nightmares. This is the most severe and lasting psychological effect an earthquake may have on an individual.

Senin, 08 Oktober 2018

World Mental Health Day Event 2018


World Mental Health Day Event 2018

Mental health campaigns and panel discussions
Makassar, 13-14 October 2018
Organized by:
- Halo Jiwa
- ILMPI Wilayah VI Indonesia (Indonesian Psychology Student Association Region VI)


More Info:
- Facebook
- Twitter
- Instagram Be Happy, Give Smile, Spread Love



World Mental Health Day Event 2018

Minggu, 07 Oktober 2018

Perekrutan Relawan dan Anggota Halo Jiwa | Video



Komunitas Halo Jiwa membuka pendaftaran anggota dan relawan untuk berbagai bentuk promosi kesehatan mental yang akan dilakukan. Pendaftaran dibuka pada Rabu, (19/09) hingga Minggu, (07/10).

banner