Be Authentic, Be Aware

Baru saja diperingati hari Kesehatan Mental Sedunia, yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2018. Media sosial ramai dengan postingan berupa artikel, quote, poster, maupun infografis lainnya yang berhubungan dengan kesehatan mental. Umumnya berkaitan dengan info tentang depresi, stres, kecemasan, bunuh diri, hingga terkait kestabilan emosi. Postingan tersebut tentunya bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat luas yang diistilahkan dengan netizen agar lebih perhatian terhada isu kesehatan mental. Harapannya, dengan memaparkan informasi mengenai gangguan-gangguan mental dan bahaya bagi kehidupan, pengetahuan masyarakat dapat bertambah dan mereka lebih tercerahkan.


Saat ini, kita sedang diperhadapkan pada era digital. Era ini ditandai dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, yang memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan manusia. Perubahan yang terbesar adalah semakin meluasnya dunia virtual seseorang melalui eksisnya mereka di media sosial. Tak heran jika kampanye mengenai kesehatan mental juga berbondong-bondong dilakukan melalui media sosial. Dunia virtual berhasil menciptakan slogan tanpa batas, yang mana kita yang ada di suatu daerah bisa berkomunikasi dengan mereka yang ada di luar daerah, misalnya.

 Era digital juga ditandai dengan perubahan dan perpindahan yang cepat. Kondisi A bisa berubah begitu cepat. Kita juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat karena teknologi. Kita terlibat dalam berbagai komunitas virtual yang juga menuntut kita perlu berpindah dengan cepat, berganti peran, dan mengubah mindset.

Tak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi di era ini telah memberikan dampak positif. Namun, perkembangan itu seperti dua mata pisau. Selain dampak positif, dampak negatif juga nyata terlihat, termasuk pada kesehatan mental individu dan masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan penyebaran informasi tidak benar (hoaks) di era ini. Juga kejahatan di dunia maya, termasuk pula bullying. Semua itu dapat menganggu kesehatan kita secara mental.

Bayangkan, kita bisa tertekan oleh banyaknya informasi yang terpapar di otak kita. Apalagi jika kita tidak memiliki keterampilan untuk memilah-milah informasi dengan sebaik-baiknya. Ketika informasi A datang, kita akan cenderung ke A. Namun, jika informasi B datang, kita berpindah lagi. Tentang kejahatan dan bullying, sudah jelas akan merugikan pihak tertentu, yang pada gilirannya dapat membuatnya terganggu secara psikologis.

Belum lagi hal-hal kecil yang kadang tidak kita sadari akibat digitalisasi berbagai hal. Kita membandingkan diri dengan orang lain karena kita melihat status mereka setiap hari di media sosial. Kita menjadi “kehilangan diri” karena sibuk mencari role model di media sosial. Kita berpura-pura terlihat bahagia di foto yang kita unggah di media sosial, kita merangkul pasangan, keluarga, atau teman kita dengan akrab, padahal kenyataanya kita tidak sedekat itu. Kita sibuk menciptakan citra dan kepribadian virtual yang bisa ditunjukkan kepada dunia, padahal citra itu bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita mendahulukan chatting dengan orang yang jauh, padahal ada orang di dekat kita yang menunggu percakapan yang seru nan hidup tanpa alat-alat digital. Lama-kelamaan, kemampuan bersosialisasi kita tidak akan berkembang. Kita bahkan tidak bisa membangun hubungan positif dengan orang lain, kata seorang profesor dari luar negeri.

Dampak negatif itu terasa saat ini. Namun apakah kita akan mundur dan menarik diri dengan perkembangan dunia saat ini? Jawabannya tidak. Kita tidak bisa mundur lagi. Hal yang tepat kita lakukan adalah menyongsong masa depan yang bahkan akan lebih super canggih lagi. Hanya manusia yang bisa beradaptasi yang mampu melalui tantangan zaman. Seperti konsep seleksi alam dalam ilmu biologi.

Bagaimana kemudian cara merawat kesehatan mental kita di era yang sangat dinamis ini agar kita tak terseleksi dan jatuh dalam kelompok orang yang mengalami gangguan mental?

Jawabannya singkat tapi sangat dalam. Be Authentic. Jadilah diri sendiri. Bagaimana caranya? Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri. Bertemulah dengan diri dan berdialoglah. Barangkali apa yang kita tunjukkan saat ini, bukanlah diri kita yang sebenarnya. Kita hanya mengikuti arus perputaran zaman. Setiap manusia diciptakan memiliki potensi yang akan menjadi bekalnya untuk mencapai fitrahnya. Temukanlah fitrah itu, dekatilah! Autentisitas diri adalah kunci untuk bisa bertahan pada lingkungan yang beragam, mudah berubah, dan mudha berpindah.

Dengan autentisitas diri yang kita miliki, kita menjadi lebih berintegritas. Kita tidak mudah terombang-ambing ditengah ketidakpastian yang kemungkinan besar akan membuat kita stres. Kita tidak akan mudah terseret arus zaman yang bisa membuat kita menjadi bukan diri kita, yang pada gilirannya membuat kita hidup dalam depresi karena bertindak hanya untuk menyenangkan lingkungan kita. Seyogyanya kita selalu ingat bahwa setiap individu bersifat unik.

Selain menjadi autentik, kita juga perlu selalu “aware”. Aware ini mewakili kata pemawasan dan kesadaran menghadir (here and now). Karena kita akan banyak menjalankan peran, berpindah dari satu titik ke titik lain, dan menghadapi dunia yang dinamis, kita perlu mawas diri, kita perlu senantiasa sadar dan menghadir dalam menjalani kehidupan ini. Dengan demikian, kita selalu bisa bersikap teliti, tidak gegabah. Kita bisa menyadari batas kemampuan, menyadari kelebihan dan kekurangan kita. Kita bisa memahami risiko dan konsekuensi dari tindakan kita, juga melakukan tindakan antisipasi serta melakukan kontrol terhadap diri. Ingatlah, bahwa bukan lingkungan yang seharusnya mengendalikan kita, tapi kita yang mengelola lingkungan itu.

Dalam kehidupan ini, orang yang akan teringat melampaui suatu zaman adalah mereka yang bisa memberikan warna untuk lingkungannya, sekecil apapun itu. Bukan sebaliknya, dia diwarnai oleh lingkungan sehingga menjadi sama saja dan tidak berbeda. Untuk bisa memberi warna, diperlukan autentisitas diri dan kesadaran. So, be authentic, be aware. 

by Syurawasti Muhiddin
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.