Minggu, 18 November 2018

Tiang yang Rapuh, Fenomena Kekerasan dalam Pacaran dari Perspektif Pelaku

Oleh Afga Yudistikhar

“Pelaku kekerasan ibaratnya tiang yang rapuh. Mereka layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun nyatanya digerogoti rayap dari dalam. Sedikit tekanan saja akan membuat tiang itu runtuh”.

Kekerasan dalam pacaran ibaratnya gunung es, marak terjadi namun hanya sedikit yang diketahui. Ada banyak hal yang menyebabkan fenomena ini jarang terekspos. Misalnya, korban yang sungkan melaporkan karena masih mencintai pelaku atau mirisnya ketika pelaku sampai mengancam korban. Pada suatu kasus, korban enggan membebaskan diri dari lingkaran kekerasan karena diancam oleh pelaku, foto-foto hubungan intim yang telah dilakukan keduanya akan disebarkan ke orang tua korban. Pada kasus yang lain, korban diancam foto-foto mesranya dengan pelaku akan diekspos ke media sosial. Selain dua kasus tersebut, mungkin masih banyak kasus lainnya yang tidak diketahui sampai saat ini. Fenomena ini akan tetap bergerak di bawah tanah, selama keinginan untuk membebaskan diri dari kekerasan masih terpendam, baik dari pelaku, korban, hingga orang-orang di sekitar keduanya.

Tulisan ini akan menguak fenomena kekerasan dalam pacaran dari sudut pandang pelaku. Kalau selama ini banyak tulisan mengenai bagaimana dampak psikologis yang dialami korban kekerasan atau bagaimana cara melepaskan diri dari kekerasan tersebut, dalam tulisan ini penulis ingin berbagi mengenai dinamika psikologis yang terjadi dalam diri pelaku, agar selain kita berempati kepada korban, kita juga bisa lebih memahami fenomena ini dari perspektif pelaku. Karena pada dasarnya, melihat fenomena ini, perlu dari cakupan yang luas, dengan tidak hanya mempertimbangkan korban, namun juga pelaku, hingga orang-orang di sekitar, termasuk keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah. Dengan demikian, kita bisa memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena ini dengan melihatnya secara sistemik. 

Sebenarnya apa yang menyebabkan orang tega melakukan kekerasan kepada orang yang mencintainya? Terkait pertanyaan ini, Adler memiliki jawabannya sendiri. Adler merupakan salah satu pencetus teori psikogi individual yang termasuk dalam mazhab psikodinamika. Adler menggambarkan pelaku kekerasan ibaratnya tiang yang rapuh. Mereka layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun nyatanya digerogoti rayap dari dalam. Sedikit tekanan saja akan membuat tiang itu runtuh. Begitulah jiwa para pelaku kekerasan. Mereka hanya berani mengasari orang-orang yang setia mencintainya, namun senyatanya nyali mereka ciut pada orang lain. Adler menjelaskan fenomena ini sebagai dorongan striving for superiority. Adler menjelaskan setiap orang memiliki inferioritas dalam diri mereka yang dibawa sedari kecil (Feist & Feist, 2009). Karena inferioritas ini, setiap orang berusaha untuk mencapai superiority dengan caranya masing-masing. Inferioritas ini akan mengecil seiring semakin besarnya usaha individu untuk meraih superiority (Pervin, Cervone, & John, 2004).

Namun, tampaknya hal yang berbeda ditunjukkan oleh para pelaku kekerasan. Pada dasarnya, apabila kita jeli dalam melihat, jauh dalam diri mereka terdapat jiwa yang kosong, inferioritas yang besar, layaknya tiang kayu yang tampak kokoh, namun rapuh dari dalam. Mereka hanya berani melakukan kekerasan kepada orang yang mencintainya. Mereka memiliki anggapan, orang yang mereka cintai akan selalu hadir meskipun disakiti, beda halnya dengan orang lain. Sejatinya, mereka melakukan kekerasan untuk menyembunyikan jiwa mereka yang rapuh. Mereka ibaratnya menutupi inferioritas dengan selimut superiority yang semu. Mereka terlihat kuat, mendominasi, percaya diri, dengan melakukan kekerasan untuk menutupi rasa rendah diri yang menguasai jiwa mereka.

Sejumlah studi mampu menjelaskan akar dari inferioritas yang dimiliki oleh para pelaku kekerasan. Mereka digambarkan memiliki insecured attachment (anxiety or avoidant) dengan orang-orang di sekitar termasuk pasangan. Insecured attachment (kelekatan tidak aman) yang mereka miliki membuat mereka berperilaku agresif untuk menyembunyikan ketidakpercayaan diri, rasa rendah diri, perasaan curiga, dan perasaan cemas ketika bersama orang lain. Insecured attachment ini diperoleh dari kelekatan yang tidak aman yang dikembangkan dari kecil ketika bersama orang tua atau keluarga. Mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan kepedulian dari orang tua dan keluarga, yang membuat mereka merasakan kesepian, kurang percaya diri, dan rendah diri (Moretti & Peled, 2004). Studi lain menemukan remaja yang cenderung melakukan perilaku agresif termasuk kekerasan, berasal dari keluarga yang broken home. Mereka kurang diperhatikan oleh keluarga dan kekurangan kasih sayang (Astuti, 2011). Pada kesempatannya, ketika anak beranjak dewasa kemudian menjalin hubungan romantis, konflik-konflik psikologis yang mereka tekan selama ini, bisa terlampiaskan dengan melakukan kekerasan kepada orang yang dicintainya. Mereka berusaha menunjukkan superioritas diri mereka yang semu hanya kepada orang yang setia mencintai mereka karena mereka beranggapan orang yang mencintainya tidak akan pergi meskipun telah disakiti.

Fenomena kekerasan dalam pacaran memang begitu kompleks. Rantai kekerasan ini hanya bisa diputus apabila semua pihak mau berkolaborasi. Tentunya, gerakan untuk menghentikan kekerasan seyogianya dimulai dari keluarga mengingat remaja dan orang dewasa merupakan produk keluaran dari keluarga. Keluarga seyogianya menanamkan nilai-nilai pada anak, sehingga di masa datang anak bisa berbaur dengan masyarakat secara adaptif. Selain itu, keluarga seyogianya mendampingi anak dalam mengembangkan kelekatan yang aman, dengan pemberian kasih sayang, perhatian, dan kepedulian. Namun tidak cukup hanya keluarga untuk memutus lingkaran kekerasan ini. Berbagai pihak lain, seperti sekolah, masyarakat, hingga pemerintah seyogianya berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan pribadi anak.

Referensi:

Astuti, M. (2011). Anak Berhadapan dengan Hukum Ditinjau dari Pola Asuh dalam Keluarga. Informasi, 16(1): 1-16.

Feist, J & Feist, G. J. (2009). Teori Kepribadian (Buku 1). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Moretti, M. M. & Peled, M. (2004). Adolescent-parent Attachment: Bonds that Support Healthy Development. Paediatr Child Helath, 9(8): 551-555.

Pervin, L. A., Cervone, D., & John, O. P. (2004). Psikologi Kepribadian: Teori dan Penelitian. Jakarta: Penerbit Kencana.


Editor: Syura
Gambar: Azmul

Kamis, 15 November 2018

Halo Jiwa Karya | Edisi Desember 2018


Tema: Dunia Maya dan Kesehatan Mental

Sub tema: Nomophobia, Kecanduan internet, Kecanduan game online, media sosial, hoax, cyber bulliying, online shop (dan lain-lain yang berhubungan dengan tema)

Karya:

1. Tulisan: artikel, opini, gagasan inovatif, cerita pendek, cerita pengalaman pribadi, dan puisi.
*Ketentuan tulisan: 1000 - 1500 kata (kecuali puisi)

2. Video: penjelasan/informasi atau cerita pengalaman pribadi yang berkaitan kesehatan mental (maksimal satu menit). .

3) Foto: foto yang mengandung pesan berupa kritik ataupun pesan-pesan persuasif dan inspiratif terkait dengan tema utama.

4) Poster: berupa penjelasan/informasi atau data yang dituangkan secara menarik dan persuasif.

Batas pengiriman karya: 30 November 2018
Kontak: 085242606246 (wa)
Kirim ke: halojiwaindonesia@gmail.com
————
3 karya terbaik akan mendapatkan hadiah dari kami 🙌🏻🙌🏻🙌🏻

Berdamai dengan "monster"

gambar oleh: Deviyanti
Ini tentang dia si korban 7 bulan yang lalu . Ini bukan kelanjutan dari kisahnya. Ini hanya sesuatu yang ingin dibagikannya, mungkin saja bermanfaat.

[simak cerita Tujuh Bulan yang Lalu di sini]

Dia datang pada seorang ahli, menceritakan kisahnya yang terjadi 7 bulan lalu. Dia tak kuat menahan tangis, hingga sang ahli menyampaikan sesuatu yang membuatnya berhenti.

Sang ahli mengatakan “Pikiran negatif yang ada di kepalamu adalah sebuah monster. Monster yang kau besarkan dengan cara yang salah”. Si korban heran, “Salah?” tanyanya. “Monster itu lahir karena peristiwa hebat (dalam artian negatif) yang terjadi dalam hidupmu. Monster itu tumbuh karena kau terus menolak perasaan negatif atas peristiwa tersebut. Tanpa sadar semakin lama perasaan negatif itu semakin kau pendam, tidak kau ungkapkan. Membuat monster itu semakin besar”. Si korban kembali menanyakan “Lantas apa yang harus saya lakukan?”. Sang ahli tersenyum, “Berdamailah dengan monster itu. Terima perasaan negatif yang kau rasa atas peristiwa tersebut. Jika kau takut, katakan kau takut. Jika kau marah, katakan kau marah. Jika ingin menangis, maka menangislah. Jangan kuatkan dirimu dengan menghindari perasaan itu. Kuatkan dirimu dengan mengatakan bahwa kau berani menghadapi perasaan itu. Menumbuhkan pikiran positif tidak membunuh monster itu, tapi akan membuatmu menerimanya. Menerima perasaan takut, sedih, marah atas peristiwa itu, menerima peristiwa itu bagian dari kehidupanmu yang spektakuler. Menerima monster itu, berdamai dengannya”. Jangan takut dikatakan aneh, jangan takut dikatakan lemah. Justru itu yang membuatmu semakin aneh dan lemah. Jangan hindari perasaanmu, adalah hal yang wajar bagi manusia untuk merasakan takut, marah, sedih, dan emosi negatif lainnya. Jangan melawan apa yang kau rasakan, terimalah perasaan itu karena kau seorang manusia. -Sang Ahli-

Semua perasaan dan emosi adalah sesuatu yang perlu diterima, bagaimanapun itu. Ada yang memasang topeng-topeng "aku baik-baik saja", untuk menutupi emosi dan perasaannya yang tidak baik-baik saja. Kita perlu melepas topeng itu, memahami diri kita yang sesungguhnya.

gambar oleh Deviyanti
tulisan oleh Pila
editor Syura

Selasa, 06 November 2018

Victim Blaming

Halo sahabat Halo Jiwa Indonesia, semoga saat ini kondisi teman-teman semuanya sehat, secara mental dan fisik tentunya. Anyway, kali ini Halo Jiwa akan membahas tentang victim blaming. Masih awam dengan istilah ini? Atau sudah tahu dengan istilah ini? Yuk, kita bahas secara singkat istilah tersebut. Saat ini, victim blaming marak terjadi pada korban terutama pada perempuan, yang kemudian bisa memberikan efek psikologis secara berkepanjangan.

Kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan isu global yang terjadi  di  berbagai negara tanpa memandang perbedaan tingkat perkembangan sosio-ekonomi, politik, atau pola budaya masyarakatnya. Survey Nasional tentang Pengalaman Hidup Perempuan tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik menemukan bahwa 1 dari 3 perempuan berusia antara 15 sampai dengan 46 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual yang dilakukan oleh pasangan intim atau bukan pasangan intim (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2017). Komisi Nasional Perempuan (2017) juga menyebutkan bahwa kekerasan fisik dan seksual merupakan dua bentuk kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia.

Pengaruh negatif kekerasan seksual terhadap perempuan sudah sangat banyak dikaji yang intinya menegaskan kerugian baik bagi korban, keluarga, maupun masyarakat. Akibat kekerasan yang dialaminya, korban kekerasan seksual memiliki resiko tinggi untuk mengalami berbagai dampak langsung dan tidak langsung yang dialami dalam waktu singkat maupun lama. Dampak-dampak tersebut mengakibatkan timbulnya berbagai permasalahan perilaku kesehatan reproduksi, kesehatan mental, keberfungsian dan kesejahteraan korban (Campbell, 2008; WHO, 2010). Berbagai penelitian juga menunjukkan kesulitan-kesulitan psikologis, ekonomi dan sosial yang dialami oleh keluarga atau pihak-pihak yang dekat dengan korban dalam beradaptasi dengan dampak yang ditimbulkan oleh pemerkosaan terhadap korban (Ahrens & Campbell, 2000).  Sumberdaya masyarakat juga harus terkuras untuk menyediakan dan membiayai layanan yang ditujukan untuk melakukan perlindungan dan rehabilitasi korban serta penuntutan dan penghukuman pelaku (Day, McKenna, & Bowles, 2005).

Baca juga: Cerita Singkat dari Seorang Anak yang Telah Mengalami Pelecehan Seksual

Dalam beberapa kasus, pemberitaan-pemberitaan, terutama oleh media massa, membuat orang-orang di luar sana “gatal” untuk berkomentar tentang para korban hingga pada akhirnya akan menyalahkan korban. Mulai dari headline yang dibuat terlalu berlebihan misalnya “pegawai cantik di kantor X dianiaya oleh suami, tak tahan hidup susah?”, kalimat-kalimat seperti ini yang menuntut masyarakat untuk membaca dan menuntut mengeluarkan pendapat-pendapat yang sangat sering kita jumpai adalah “menyalahkan korban” dan hal yang terjadi malah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Akhirnya, komentar-komentar di kolom beritanya pun di isi dengan berbagai pendapat “yah wajar aja, toh hidupnya mewah-mewah mulu, salah sendiri”, komentar yang tidak bertanggung jawab seperti ini yang merupakan salah satu contoh kasus dari victim blaming, kebiasaan menyalahkan korban pada suatu kasus untuk menjustifikasi tindakan pelaku yang di nilai wajar.

Ini hanya satu dari beribu contoh kasus yang ada di luar sana. Bahkan, kita mungkin pernah mengalaminya sendiri atau orang sekitar kita yang merasakan. Terdengar sepele untuk orang yang berkomentar, tetapi ada efek psikologis yang sangat besar ketika individu menjadi korban victim blaming. Perempuan sebagai korban akan menghadapi efek dan dampak yang bermacam-macam. Mulai dari mendapatkan label “cewek matre, perempuan nakal, dll.”, yang dapat menimbulkan trauma secara psikologis, juga kerugian fisik bahkan kematian. Oleh karena itu, sebagai konsumer berita, kita memang memiliki hak untuk berpendapat terhadap berita yang dipublikasikan. Namun, komentar-komentar  yang kita ucapkan ataupun yang kita publikasikan seyogyanya dipilah agar kita tidak terjerumus menjadi salah satu pelaku victim blaming.

Penulis: Puji Rahayu
Editor: Syurawasti Muhiddin



Jumat, 02 November 2018

Halo Jiwa - Unik


[Unik] 
oleh Azzah Azizah

Terkadang kita berpikir
Ingin seperti mereka
Tanpa sadar kita lupa siapa kita

Oh sadarkah kita
Semua manusia itu istimewa
Apa adanya , no body's perfect

Chorus :
Jadi diri sendiri, itu lebih baik
Mensyukuri segala nikmat yang diberi
Tak usah mengejar kesempurnaan
Setiap orang itu unik
Tak perlu jadi orang lain
Tersenyum dan bahagia



banner