Berdamai dengan "monster"

gambar oleh: Deviyanti
Ini tentang dia si korban 7 bulan yang lalu . Ini bukan kelanjutan dari kisahnya. Ini hanya sesuatu yang ingin dibagikannya, mungkin saja bermanfaat.

[simak cerita Tujuh Bulan yang Lalu di sini]

Dia datang pada seorang ahli, menceritakan kisahnya yang terjadi 7 bulan lalu. Dia tak kuat menahan tangis, hingga sang ahli menyampaikan sesuatu yang membuatnya berhenti.

Sang ahli mengatakan “Pikiran negatif yang ada di kepalamu adalah sebuah monster. Monster yang kau besarkan dengan cara yang salah”. Si korban heran, “Salah?” tanyanya. “Monster itu lahir karena peristiwa hebat (dalam artian negatif) yang terjadi dalam hidupmu. Monster itu tumbuh karena kau terus menolak perasaan negatif atas peristiwa tersebut. Tanpa sadar semakin lama perasaan negatif itu semakin kau pendam, tidak kau ungkapkan. Membuat monster itu semakin besar”. Si korban kembali menanyakan “Lantas apa yang harus saya lakukan?”. Sang ahli tersenyum, “Berdamailah dengan monster itu. Terima perasaan negatif yang kau rasa atas peristiwa tersebut. Jika kau takut, katakan kau takut. Jika kau marah, katakan kau marah. Jika ingin menangis, maka menangislah. Jangan kuatkan dirimu dengan menghindari perasaan itu. Kuatkan dirimu dengan mengatakan bahwa kau berani menghadapi perasaan itu. Menumbuhkan pikiran positif tidak membunuh monster itu, tapi akan membuatmu menerimanya. Menerima perasaan takut, sedih, marah atas peristiwa itu, menerima peristiwa itu bagian dari kehidupanmu yang spektakuler. Menerima monster itu, berdamai dengannya”. Jangan takut dikatakan aneh, jangan takut dikatakan lemah. Justru itu yang membuatmu semakin aneh dan lemah. Jangan hindari perasaanmu, adalah hal yang wajar bagi manusia untuk merasakan takut, marah, sedih, dan emosi negatif lainnya. Jangan melawan apa yang kau rasakan, terimalah perasaan itu karena kau seorang manusia. -Sang Ahli-

Semua perasaan dan emosi adalah sesuatu yang perlu diterima, bagaimanapun itu. Ada yang memasang topeng-topeng "aku baik-baik saja", untuk menutupi emosi dan perasaannya yang tidak baik-baik saja. Kita perlu melepas topeng itu, memahami diri kita yang sesungguhnya.

gambar oleh Deviyanti
tulisan oleh Pila
editor Syura
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.