Sabtu, 29 Desember 2018

Aku Tak Bisa Tanpamu?


Oleh Azzah As-Sahih


Tercipta sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan berkomunikasi dan bersosialisasi. Di era digital sekarang ini, berbagai inovasi teknologi yang canggih mewarnai kehidupan kita. Bukan hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun sudah memilikinya. Dari banyaknya teknologi, smartphone merupakan salah satu jenis platform yang paling banyak digunakan dan dipilih oleh masyarakat Indonesia karena ukurannya yang pas di kantong dan mudah dibawa ke mana saja, membuat kita bersahabat akrab dengannya bahkan melebihi sanak keluarga dan kerabat kita sendiri.

Smartphone memiliki banyak fitur yang menarik dan aplikasi-aplikasi yang terhubung dengan internet sehingga smartphone berisi segudang informasi dah hiburan yang menarik perhatian para penggunanya. Smartphone sudah menjadi kebutuhan utama hampir tiap manusia. Dengan smartphone, kita dapat melakukan apapun yang kita sukai, mulai dari berkirim pesan singkat, menonton video melalui youtube, chatting, bermain Instagram, facebook dan berbagai jenis jejaring sosial lainnya, hingga bermain game online, yang lambat laun membuat ketergantungan bahkan kecanduan.

Keseruan dan kenyamanan yang ditawarkan seringkali membuat kita lupa bahwa kita berada di lingkungan sosial. Kita lebih memilih untuk bermain game, bersosial media, berbelanja online ketimbang berkomunikasi dengan orang sekitar kita sehingga kita terkesan mengabaikannya. Kita bahkan seringkali merasa cemas apabila tidak memegang smartphone.

Merasakan kecemasan apabila jauh dari smartphone diistilahkan nomophobia. Istilah ini menjadi penting untuk didiskusikan, pasalnya perasaan tersebut hampir menjangkiti beberapa orang dari kita. Nomophobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia yaitu merasa cemas dan takut jika tidak ada smartphone. Hal tersebut merupakan refleksi dari  sindrom ketakutan yang berlebihan apabila jauh dari smartphone. 


Mereka yang mengalami nomophobia akan merasa panik jika daya baterai smartphone-nya habis. Mereka akan terus menyalakan smartphone-nya sepanjang hari, membawanya ke manapun bahkan ketika masuk ke toilet dan sulit mengendalikan penggunaannya.
Meskipun sindrom ini kelihatan wajar terjadi dikarenakan kita secara tidak langsung dibuat bergantung pada smartphone, namun hal ini cukup menjadi perhatian bagi beberapa orang karena dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Misalnya saja, sebagian orang dewasa ini bekerja melalui smartphone. Dengan mengandalkan benda ini ditambah jaringan internet, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan apapun bahkan hanya dengan duduk di kamar. Olehnya itu, sangat wajar jika mereka cemas jika smartphone tidak aktif atau rusak. Akan tetapi, karena ketidakseimbangan dan ketidakjelasan batas waktu kerja dan waktu pribadi, beberapa orang menjadi kewalahan mengelola dirinya, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya. 

Salah satu badan yang bergerak dalam dunia digital yaitu secure envoy yang telah melakukan survei di Inggris menujukkan bahwa hampir 66% pengguna smartphone adalah nomophobia. Persentase inipun semakin meningkat pada responden berusia 18 dan 24 tahun. 

Nomophobia bukan hanya perasaan takut dan cemas, namun perasaan ketergantungan yang membuat orang menjadi khawatir, resah dan tidak nyaman apabila tanpa smartphone-nya. Lebih dari itu, seringkali banyak orang yang merasakan kepercayaan diri apabila menggunakan smartphone-nya. Terutama dalam penggunaan sosial media untuk menampilkan citra dirinya, sehingga membuatnya tenggelam dan larut serta melupakan peran sosialnya. Survei Science Direct mengungkapkan bahwa benua Asia memiliki jumlah pecandu smartphone yang besar dan diprediksi akan meningkat, yang mana 25% pengguna smartphone di asia adalah remaja. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila kita salah satu nomophobia-ers?Jawabannya akan sangat relatif. Apalagi di era digital ini, segala hal yang kita perlukan tersedia di jejaring internet yang terdapat di dalam smartphone. Oleh karennya,  kembali kepada diri kita yaitu dengan cara mengontrol penggunaannya sebelum kita semakin sulit melepaskan tangan untuk terus memegangnya. Seperti penelitian yang dilakukan di salah satu universitas di Semarang yang hasilnya adalah terdapat hubungan antara kontrol diri dengan kecemasaan saat jauh dari smartphone. Adapun  peran pemerintah, masyarakat dan terutama orang tua sangatlah penting untuk mampu membimbing dan mengarahkan remaja dalam penggunaan smartphone-nya.

(Editor: S.Wasti M.)

Rabu, 19 Desember 2018

Bijak dan Cerdas dalam Bermain Game Online


oleh: nurul sakinah
(@Luluuns)

Perkembangan teknologi yang pesat dan bersifat global menciptakan era millennial dimana dunia terbagi menjadi 2 yaitu dunia nyata dan dunia maya. Salah satu hasil pemikiran individu produktif dengan memadukan ide kreatif dan teknologi adalah game online. Terdengar familiar, bukan? Game online sudah tidak asing bagi kalangan remaja, anak-anak, bahkan dewasa di seluruh dunia. Persamaan gender pun telah berlaku bagi pengguna game online, laki-laki maupun perempuan telah terperangkap dalam dunia fantasi yang menghipnotis dan merajalela ini. 

Game online menyedot pengguna game offline sehingga saat ini game online lebih diminati dan memiliki lebih banyak pengguna seperti PUBG (PlayerUnknown’s Battlegrounds), Mobile legends, Fortnite, Dota 2, Arena of Valor, dsb. Tetapi bukan berarti game offline tidak diminati lagi oleh “gamers”.

Hal yang perlu dan penting diketahui bahwa game online memiliki banyak dampak negatif yang sangat merugikan penggunanya saat ini. Budaya literasi telah memudar dan minat baca menurun akibat teralihkannya hobi membaca menjadi hobi bermain game. Sungguh miris, bukan? Tidak heran jika kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lebih rendah dibandingkan “skill” bermain game manusia di zaman millennial ini. 

Banyak berita viral belakangan ini tentang orang yang mengalami gangguan medis karena pengaruh buruk bermain game secara berlebihan. Salah satu berita viral yang terposting di sosial media Instagram bercerita mengenai pengalaman buruk seorang gamer ketika terlalu lama terpapar radiasi dari gadget saat bermain game online sehingga menyebabkkan pembuluh darah pada mata pria tersebut pecah.

Selain itu, bermain game online secara berlebihan dapat menyebabkan stroke seperti berita yang pernah viral di sosial media yang menimpa seorang gamer saat terlalu lama bermain game. Efek yang paling fatal yang terjadi jika bermain game online tanpa manajemen waktu yang benar dan teratur yaitu dapat menyebabkan kematian seperti yang telah terjadi pada seorang gamer di luar negeri, ia meninggal akibat bermain game 24 jam non-stop.


Dunia maya memang sangat hebat, ia dapat mengalihkan manusia dari dunia nyata. Tanpa kita sadari manusia hanyalah jiwa tanpa raga ketika diperhadapkan dengan dunia maya terutama game online. Padahal manusia dapat melakukan hal positif tanpa terkait dengan dunia maya. Sangat memilukan ketika teknologi dapat membutakan manusia, ketika gamers duduk di depan Komputer atau android, mereka telah menjadi “budak” yang dikendalikan. Game online dapat menyebabkan seseorang menjadi pasif, malas dan anti-sosial.

Di zaman ini, manusia dituntut untuk menjadi produktif, kreatif dan inovatif mengingat persaingan global yang tak terhindarkan dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Tetapi sebagian manusia yang telah kecanduan game online justru sebaliknya. Mereka rela mengorbankan banyak uang untuk membeli item dalam game, rela begadang, kelelahan dan menjadi manusia non-produktif, contohnya yaitu anak kuliah yang waktunya digunakan untuk bermain game sampai larut malam dan tugas kuliah diabaikan, bagaimana jika hal ini terjadi pada gamers lainnya?.

Perlu kita ketahui bahwa game online juga mempunyai beberapa manfaat. Selain bermain game bersama dalam arena game, gamers juga dapat berinteraksi melalui via chat, audio, dan berkirim pesan dengan sesama gamers dan secara tidak langsung bermanfaat bagi aspek sosial karena dengan demikian, gamers dapat menemukan teman baru. 

Selain aspek sosial, game online mempunyai sisi positif dalam aspek ekonomi. Dengan mengikuti turnamen yang berhadiah dalam game online dan berhasil memenangkan turnamen tersebut, gamer tersebut terbantu dalam segi finansial. Tidak hanya itu, gamers yang terbiasa dihadapkan dengan bahasa asing terutama bahasa inggris dalam game akan terbiasa dengan bahasa inggris dan secara tidak langsung berpengaruh pada kemampuan komunikasi gamers. 

Kecerdasan seseorang juga dapat diasah melalui game online karena gamers dituntut berpikir kritis untuk menggunakan taktik dan strategi yang tepat agar memenangkan permainan. Selain itu, game online mengajarkan kepada pemainnya betapa beratnya persaingan sesama gamers, begitupun dalam tim. Gamers diharuskan untuk memiliki kekompakan, kerja sama yang baik serta kesabaran. Pola pikir dan perilaku tersebut akan dapat memberikan pengaruh positif pada kehidupan sehari-hari gamers di dunia nyata.

Manfaat yang terakhir yaitu game online dapat mengalihkan penggunanya dari kemungkinan pergaulan bebas seperti seks bebas dan terhindar dari obat-obatan terlarang (Narkoba, dll). Game online dapat menjadi alternatif lain bagi mereka. 

Di tengah perdebatan mengenai manfaat dan akibat game online, nyatanya game online dapat dan telah menimbulkan kecanduan. Jadi, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana cara menghilangkan adiksi game online? Pertama, yang dapat dilakukan adalah mengalihkan perhatian dengan mengikuti kegiatan positif seperti mengikuti organisasi yang ada di sekolah, universitas, maupun di masyarakat. Kedua, rutin berolahraga setiap hari. Ketiga, gunakan waktu bermain game di rumah untuk belajar, membaca buku, membaca artikel yang bermanfaat, membuat blog, dll. Keempat, berpikir untuk masa depan lalu pikirkan bagaimana kecanduan game online dapat merusak hidup anda secara perlahan. Yang terakhir, bersungguh-sungguh dan berdoa agar tips diatas dapat menghilangkan kecanduan game. 

Manusia yang cerdas adalah manusia yang menggali manfaat dan keuntungan dari sebuah teknologi dan menghindari kerugian dari teknologi tersebut. Manusia perlu menerapkan prinsip tersebut agar menjadi manusia modern yang berintelektual. Agar mendapatkan manfaat dari game online diperlukan keseimbangan antara waktu produktif dan waktu bermain game. Apabila kedua hal tersebut tidak seimbang dan hanya salah satu yang menonjol pasti akan memunculkan penyakit mental yang merugikan manusia itu sendiri. 

Kecanduan game online merupakan fenomena universal yang telah menciptakan permasalahan serius karena dengan adanya game online, waktu produktif manusia telah teralihkan. Kecanduan game online dapat disebut gangguan bila memenuhi 3 hal. Pertama, seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game. Kedua, seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain. Ketiga, seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. Bukti nyata, bahwa game online sangat berbahaya jika tidak diselingi dengan kebijakan dan aturan adalah dengan tindakan WHO (World Health Organization) yang secara resmi telah menetapkan kecanduan game online atau disorder sebagai penyakit gangguan mental yang dikategorikan dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD). 

Dunia maya sangat mudah mempengaruhi manusia melalui berbagai cara yang tidak disadari. Sadarkah kita bahwa keberadaan game online sebagai bagian dari kehidupan dunia maya telah mengganggu kesehatan mental manusia di era ini? tujuan diciptakannya fitur-fitur online tersebut adalah sebagai hiburan untuk manusia di tengah perkembangan global dan persaingan yang semakin pesat saai ini.

Justru tujuan tersebut hanya dirasakan segelintir orang saja di muka bumi ini. Jadi, manfaatkanlah dunia maya sebagaimana mestinya dan hindari “virus-virus” yang dapat merusak kehidupan dunia nyata. Bijaklah dalam bermain game online dan jadilah Agent of Change dengan menjunjung tinggi revolusi mental agar menjadi manusia yang elit, cerdas dan bijaksana dalam mengunakan berbagai fasilitas di dunia maya.

(Editor: S.Wasti Muhiddin)

Rabu, 05 Desember 2018

Ku Jemput Hidayahku Setelah Sakitku | Sebuah Perjalanan Spiritual


Lewat tulisan singkat ini, aku menceritakan sedikit kisah tentangku dalam menjemput hidayah setelah sakit parah yang pernah aku alami dulu.                                         

Sedikit mengingat kejadian menyakitkan 4 tahun yang lalu ketika aku masih menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus jurusan kesehatan di Sulawesi. Saat itu, aku adalah salah satu mahasiswi semester akhir di kampusku, sehingga tentunya aku disibukkan dengan tugas akhir serta praktek di rumah sakit dan puskesmas.

Di saat sibuk seperti ini, tiba-tiba saja cobaan terberat bagiku datang menghampiri hidupku. Cobaan ini juga sempat mengingatkanku dengan niatku dulu yang belum pernah terpenuhi dan sempat terpikir bahwa apakah mungkin ini salah satu teguran dari Yang Maha Kuasa? Bukan cuma itu, saat masih SMA dulu sempat ada seorang teman yang mengingatkanku tentang niatku itu untuk segera melaksanakannya karena takkan ada yang tahu kapan ajal akan datang menjemput. Akan tetapi, baik hati maupun perbuatan, masih saja menunda-nunda.

Lanjut cerita, pada saat mendekati ujian akhir, tiba-tiba saja aku jatuh sakit. Kejadian ini membuat perasaanku sangat hancur, bingung, sedih, kesal, bahkan membuatku putus asa. Bagaimana tidak, karena penyakit yang kuderita ini, dokter menyarankan agar aku istirahat total dan tidak memaksakan diri untuk beraktivitas. Dokter mendiagnosa aku terkena gejala penyakit menular (paru - paru), sehingga aku dilarang banyak beraktivitas untuk mencegah penyakitku semakin parah. Aku kaget bukan main. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang seharusnya bertugas merawat orang-orang yang sakit, justru dia sendiri yang tidak sehat secara jasmani. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjalani pengobatan untuk mencegah agar virus dalam tubuhku tidak menyebar dan tidak berkembang biak.

Saat mengetahui tentang penyakit yang aku alami, aku sering mengurung diri di kamar. Terkadang aku juga berpikir, mengapa aku harus mengalami hal-hal tersulit dalam hidup di saat cita-cita yang diimpikan kedua orang tuaku sudah ada di depan mata. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis dan putus asa. Semakin lama, aku juga mulai menghindari orang-orang terdekatku. Namun, itu aku lakukan demi kebaikan mereka agar tidak tertular penyakit yang kuderita.

Saat memasuki minggu kedua pengobatan, tiba-tiba saja aku merasakan keanehan pada tubuhku saat malam hari. Aku tak dapat merasakan seperti apa hawa panas dan hawa dingin. Penglihatanku juga menjadi aneh. Aku hanya dapat melihat ke arah atas dan terlihat seperti ada cahaya putih di atasku. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mataku tak bisa berpaling dari cahaya putih itu. Sementara tubuhku hanya bisa merasakan kesakitan yang luar biasa. Tangis orang-orang di sekitarku pun mulai pecah. Semua keluargaku yang datang pada malam itu hanya bisa menangis, terutama ibuku yang menangis dengan keras karena tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang sudah hampir terbujur kaku.

Rasa sakit yang kualami pada saat itu luar biasa sakitnya, seakan-akan mengalahkan semua rasa sakit yang ada di dunia. Anehnya, aku merasakan kesakitan itu hanya sampai menjelang adzan subuh. Saat  memasuki waktu shalat subuh, tiba-tiba saja tubuhku sudah tidak merasakan rasa sakit lagi dan cahaya putih yang kulihat pun sudah tidak ada lagi. Orang-orang yang tadinya menangis melihat keadaanku, tiba-tiba saja menjadi kaget karena mereka mengira dan mengatakan kalau aku sudah dalam keadaan sakaratul maut. Tapi aku hanya dapat tersenyum pada saat menjawab pertanyaan mereka. Saat sadar, tanpa berpikir panjang aku meminta pada ibuku untuk pindah ke tempat lain. Bagiku, kejadian semalam itu betul-betul membuatku takut, apalagi ada cahaya putih yang kulihat tapi tak tahu-menahu tentang cahaya itu.

Saat pagi menjelang, kami pun memutuskan untuk pergi dan menetap di kediaman milik sepupuku untuk sementara waktu. Tadinya aku berpikir bahwa setelah berpindah ke tempat lain, aku tidak akan pernah lagi merasakan hal yang sama dengan kejadian malam itu. Tapi ternyata dugaanku salah. Saat malam pertama menginap di sana, kejadian yang pernah kualami sebelumnya, kembali kualami dan jauh lebih parah. Bahkan, saat kejadian aneh itu terulang, tubuhku tidak dapat kugerakkan, mataku hanya terpejam dan tak dapat melihat apapun lagi. Aku hanya dapat mendengar lantunan ayat suci Al-quran dan suara orang yang membacakan syahadat di dekat telingaku. Setelah itu, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku sudah tak sadarkan diri.

Namun ternyata, Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, masih memberikanku kesempatan untuk hidup. Saat aku kembali membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit dan sempat mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku. Dokter mengatakan kalau keadaanku masih dalam keadaan baik-baik saja. Dokter juga mengatakan kalau aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa asalkan jangan terlalu lelah karena masih dalam masa penyembuhan. Mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku itu, aku merasa agak sedikit lega.

Saat malam hari, tepatnya masih di rumah sakit, tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi kembali. Aku ingin buang air kecil dan masuk seorang diri ke kamar kecil. Aku mengangkat tiang infusku seorang diri. Awalnya, aku merasa baik-baik saja. Tapi saat keluar dari kamar kecil, aku melihat ada tiga orang pria yang melintas dari kamar perawatanku dan salah satu dari pria tersebut adalah sepupuku yang baru meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku kaget bukan main! Saat itu, aku sedang dalam keadaan akan naik ke ranjang tapi tiba-tiba baju panjang yang kukenakan saat itu membuat kakiku tersangkut hingga membuatku terjatuh dan kepalaku menghantam lantai. Tiang infusku hampir saja terjatuh mengenai wajah dan kepalaku saat itu. Andaikan saja ibuku tak ada dalam ruangan dan tidak menahan tiang infus yang terjatuh, mungkin kepalaku sudah terluka karena terkena besi tiang infus.

Ibuku kaget bukan main dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku. Akupun menjelaskan padanya. Saat mendengar ceritaku, ibuku hanya mengeleng-geleng kepala dan mengatakan padaku untuk banyak-banyak ber-istighfar. Untuk kesekian kalinya karena kejadian aneh yang aku alami, akupun meminta untuk keluar dari rumah sakit walaupun sebenarnya dokter belum mengizinkan. Aku tetap memaksakan diri untuk keluar dengan alasan kalau kondisiku sudah membaik. Seminggu berada di dalam rumah sakit rasanya sudah seperti di penjara. Aku memutuskan untuk melakukan pengobatan rawat jalan saja.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku mulai beraktivitas dan kembali aktif di kampus mencari informasi  tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah aku tinggalkan. Dengan keadaan tubuhku yang masih lemah, aku tetap memaksakan diriku untuk terus beraktivitas sampai semua ketertinggalanku selama sakit dapat aku selesaikan sebelum waktu yang ditentukan dari pihak kampus. Syukur Alhamdullah, aku bisa meraih gelar sarjana dan mengikuti wisuda pada waktu yang telah ditentukan.

Selesai wisuda, aku memilih untuk beristirahat selama dua tahun, tidak melakukan aktivitas apapun. Aku memutuskan untuk pulang ke daerah di mana kediaman orang tuaku berada. Di tempat inilah untuk pertama kalinya aku merasakan ketenangan dalam hati yang sudah tidak pernah aku dapatkan sejak tujuh tahun terakhir ini. Akupun mulai teringat kembali tentang kejadian-kejadian aneh yang pernah aku alami saat aku sakit dulu, kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang kuderita saat itu. Lalu aku merenung dan mengingat semua tentang dosa dosa dan kesalahan apa saja yang pernah aku perbuat selama ini.

Aku menangis dalam hati dan tak terasa air mataku juga mulai membasahi pipi. Tiba-tiba saja hati kecilku berkata “berhijab dan berhijrahlah, penuhilah niatmu”. Ucapan dalam hati itu membuat aku tak henti-hentinya menangis dan saat itu juga kuniatkan diriku untuk berhijrah.
Aku mulai tersadar, mungkin saja kejadian-kejadian aneh yang aku alami waktu itu adalah ujian dan salah satu jalan untukku menjemput hidayah. Aku hanya dapat bertanya-tanya dalam hati.

Alhamdulillah niatku telah terpenuhi saat ini. Setelah memutuskan untuk berhijab dan berhijrah aku selalu merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam hati. Bukan hanya itu, penyakit menular yang pernah aku derita dulu, telah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Dokter mengatakan kalau keadaanku sudah membaik dan sudah tidak terjangkit penyakit itu lagi. Yang lebih membuatku tidak berhenti berucap syukur, sekarang aku sudah aktif menjadi salah satu tenaga medis di salah satu puskesmas yang ada di suatu provinsi di Kalimantan. Bagiku itu benar-benar nikmat terbesar yang Allah berikan padaku setelah aku mendapatkan hidayah-Nya.

Itulah cerita singkat perjalanan hidupku dalam menjemput sebuah hidayah, semoga ke depannya aku bisa lebih menyempurnakan hijrahku lagi. Amin ya Rabb.  Setiap orang punya cara tersendiri dalam menjemput hidayah-Nya masing masing. Allah maha pengampun, Allah maha pemaaf, betapa besar rasa cinta dan sayang Allah kepada semua umatnya hingga dia memberikan hidayah kepada hamba-hambanya-Nya di dunia sebelum mereka merasakan betapa menyakitkannya siksaan di akhirat kelak. Salam hijrah saudara-saudara muslimku. Salam alaikum.


oleh: Mia Rajjab
editor: Syura
banner