Aku Tak Bisa Tanpamu?


Oleh Azzah As-Sahih


Tercipta sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan berkomunikasi dan bersosialisasi. Di era digital sekarang ini, berbagai inovasi teknologi yang canggih mewarnai kehidupan kita. Bukan hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun sudah memilikinya. Dari banyaknya teknologi, smartphone merupakan salah satu jenis platform yang paling banyak digunakan dan dipilih oleh masyarakat Indonesia karena ukurannya yang pas di kantong dan mudah dibawa ke mana saja, membuat kita bersahabat akrab dengannya bahkan melebihi sanak keluarga dan kerabat kita sendiri.

Smartphone memiliki banyak fitur yang menarik dan aplikasi-aplikasi yang terhubung dengan internet sehingga smartphone berisi segudang informasi dah hiburan yang menarik perhatian para penggunanya. Smartphone sudah menjadi kebutuhan utama hampir tiap manusia. Dengan smartphone, kita dapat melakukan apapun yang kita sukai, mulai dari berkirim pesan singkat, menonton video melalui youtube, chatting, bermain Instagram, facebook dan berbagai jenis jejaring sosial lainnya, hingga bermain game online, yang lambat laun membuat ketergantungan bahkan kecanduan.

Keseruan dan kenyamanan yang ditawarkan seringkali membuat kita lupa bahwa kita berada di lingkungan sosial. Kita lebih memilih untuk bermain game, bersosial media, berbelanja online ketimbang berkomunikasi dengan orang sekitar kita sehingga kita terkesan mengabaikannya. Kita bahkan seringkali merasa cemas apabila tidak memegang smartphone.

Merasakan kecemasan apabila jauh dari smartphone diistilahkan nomophobia. Istilah ini menjadi penting untuk didiskusikan, pasalnya perasaan tersebut hampir menjangkiti beberapa orang dari kita. Nomophobia merupakan singkatan dari no mobile phone phobia yaitu merasa cemas dan takut jika tidak ada smartphone. Hal tersebut merupakan refleksi dari  sindrom ketakutan yang berlebihan apabila jauh dari smartphone. 


Mereka yang mengalami nomophobia akan merasa panik jika daya baterai smartphone-nya habis. Mereka akan terus menyalakan smartphone-nya sepanjang hari, membawanya ke manapun bahkan ketika masuk ke toilet dan sulit mengendalikan penggunaannya.
Meskipun sindrom ini kelihatan wajar terjadi dikarenakan kita secara tidak langsung dibuat bergantung pada smartphone, namun hal ini cukup menjadi perhatian bagi beberapa orang karena dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mental. Misalnya saja, sebagian orang dewasa ini bekerja melalui smartphone. Dengan mengandalkan benda ini ditambah jaringan internet, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan apapun bahkan hanya dengan duduk di kamar. Olehnya itu, sangat wajar jika mereka cemas jika smartphone tidak aktif atau rusak. Akan tetapi, karena ketidakseimbangan dan ketidakjelasan batas waktu kerja dan waktu pribadi, beberapa orang menjadi kewalahan mengelola dirinya, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya. 

Salah satu badan yang bergerak dalam dunia digital yaitu secure envoy yang telah melakukan survei di Inggris menujukkan bahwa hampir 66% pengguna smartphone adalah nomophobia. Persentase inipun semakin meningkat pada responden berusia 18 dan 24 tahun. 

Nomophobia bukan hanya perasaan takut dan cemas, namun perasaan ketergantungan yang membuat orang menjadi khawatir, resah dan tidak nyaman apabila tanpa smartphone-nya. Lebih dari itu, seringkali banyak orang yang merasakan kepercayaan diri apabila menggunakan smartphone-nya. Terutama dalam penggunaan sosial media untuk menampilkan citra dirinya, sehingga membuatnya tenggelam dan larut serta melupakan peran sosialnya. Survei Science Direct mengungkapkan bahwa benua Asia memiliki jumlah pecandu smartphone yang besar dan diprediksi akan meningkat, yang mana 25% pengguna smartphone di asia adalah remaja. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila kita salah satu nomophobia-ers?Jawabannya akan sangat relatif. Apalagi di era digital ini, segala hal yang kita perlukan tersedia di jejaring internet yang terdapat di dalam smartphone. Oleh karennya,  kembali kepada diri kita yaitu dengan cara mengontrol penggunaannya sebelum kita semakin sulit melepaskan tangan untuk terus memegangnya. Seperti penelitian yang dilakukan di salah satu universitas di Semarang yang hasilnya adalah terdapat hubungan antara kontrol diri dengan kecemasaan saat jauh dari smartphone. Adapun  peran pemerintah, masyarakat dan terutama orang tua sangatlah penting untuk mampu membimbing dan mengarahkan remaja dalam penggunaan smartphone-nya.

(Editor: S.Wasti M.)

Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.