Ku Jemput Hidayahku Setelah Sakitku | Sebuah Perjalanan Spiritual


Lewat tulisan singkat ini, aku menceritakan sedikit kisah tentangku dalam menjemput hidayah setelah sakit parah yang pernah aku alami dulu.                                         

Sedikit mengingat kejadian menyakitkan 4 tahun yang lalu ketika aku masih menjadi seorang mahasiswi di salah satu kampus jurusan kesehatan di Sulawesi. Saat itu, aku adalah salah satu mahasiswi semester akhir di kampusku, sehingga tentunya aku disibukkan dengan tugas akhir serta praktek di rumah sakit dan puskesmas.

Di saat sibuk seperti ini, tiba-tiba saja cobaan terberat bagiku datang menghampiri hidupku. Cobaan ini juga sempat mengingatkanku dengan niatku dulu yang belum pernah terpenuhi dan sempat terpikir bahwa apakah mungkin ini salah satu teguran dari Yang Maha Kuasa? Bukan cuma itu, saat masih SMA dulu sempat ada seorang teman yang mengingatkanku tentang niatku itu untuk segera melaksanakannya karena takkan ada yang tahu kapan ajal akan datang menjemput. Akan tetapi, baik hati maupun perbuatan, masih saja menunda-nunda.

Lanjut cerita, pada saat mendekati ujian akhir, tiba-tiba saja aku jatuh sakit. Kejadian ini membuat perasaanku sangat hancur, bingung, sedih, kesal, bahkan membuatku putus asa. Bagaimana tidak, karena penyakit yang kuderita ini, dokter menyarankan agar aku istirahat total dan tidak memaksakan diri untuk beraktivitas. Dokter mendiagnosa aku terkena gejala penyakit menular (paru - paru), sehingga aku dilarang banyak beraktivitas untuk mencegah penyakitku semakin parah. Aku kaget bukan main. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang seharusnya bertugas merawat orang-orang yang sakit, justru dia sendiri yang tidak sehat secara jasmani. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjalani pengobatan untuk mencegah agar virus dalam tubuhku tidak menyebar dan tidak berkembang biak.

Saat mengetahui tentang penyakit yang aku alami, aku sering mengurung diri di kamar. Terkadang aku juga berpikir, mengapa aku harus mengalami hal-hal tersulit dalam hidup di saat cita-cita yang diimpikan kedua orang tuaku sudah ada di depan mata. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis dan putus asa. Semakin lama, aku juga mulai menghindari orang-orang terdekatku. Namun, itu aku lakukan demi kebaikan mereka agar tidak tertular penyakit yang kuderita.

Saat memasuki minggu kedua pengobatan, tiba-tiba saja aku merasakan keanehan pada tubuhku saat malam hari. Aku tak dapat merasakan seperti apa hawa panas dan hawa dingin. Penglihatanku juga menjadi aneh. Aku hanya dapat melihat ke arah atas dan terlihat seperti ada cahaya putih di atasku. Mulutku tak dapat mengeluarkan kata-kata. Mataku tak bisa berpaling dari cahaya putih itu. Sementara tubuhku hanya bisa merasakan kesakitan yang luar biasa. Tangis orang-orang di sekitarku pun mulai pecah. Semua keluargaku yang datang pada malam itu hanya bisa menangis, terutama ibuku yang menangis dengan keras karena tidak sanggup melihat keadaan anaknya yang sudah hampir terbujur kaku.

Rasa sakit yang kualami pada saat itu luar biasa sakitnya, seakan-akan mengalahkan semua rasa sakit yang ada di dunia. Anehnya, aku merasakan kesakitan itu hanya sampai menjelang adzan subuh. Saat  memasuki waktu shalat subuh, tiba-tiba saja tubuhku sudah tidak merasakan rasa sakit lagi dan cahaya putih yang kulihat pun sudah tidak ada lagi. Orang-orang yang tadinya menangis melihat keadaanku, tiba-tiba saja menjadi kaget karena mereka mengira dan mengatakan kalau aku sudah dalam keadaan sakaratul maut. Tapi aku hanya dapat tersenyum pada saat menjawab pertanyaan mereka. Saat sadar, tanpa berpikir panjang aku meminta pada ibuku untuk pindah ke tempat lain. Bagiku, kejadian semalam itu betul-betul membuatku takut, apalagi ada cahaya putih yang kulihat tapi tak tahu-menahu tentang cahaya itu.

Saat pagi menjelang, kami pun memutuskan untuk pergi dan menetap di kediaman milik sepupuku untuk sementara waktu. Tadinya aku berpikir bahwa setelah berpindah ke tempat lain, aku tidak akan pernah lagi merasakan hal yang sama dengan kejadian malam itu. Tapi ternyata dugaanku salah. Saat malam pertama menginap di sana, kejadian yang pernah kualami sebelumnya, kembali kualami dan jauh lebih parah. Bahkan, saat kejadian aneh itu terulang, tubuhku tidak dapat kugerakkan, mataku hanya terpejam dan tak dapat melihat apapun lagi. Aku hanya dapat mendengar lantunan ayat suci Al-quran dan suara orang yang membacakan syahadat di dekat telingaku. Setelah itu, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku sudah tak sadarkan diri.

Namun ternyata, Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, masih memberikanku kesempatan untuk hidup. Saat aku kembali membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit dan sempat mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku. Dokter mengatakan kalau keadaanku masih dalam keadaan baik-baik saja. Dokter juga mengatakan kalau aku sudah bisa beraktivitas seperti biasa asalkan jangan terlalu lelah karena masih dalam masa penyembuhan. Mendengar pembicaraan dokter dengan ibuku itu, aku merasa agak sedikit lega.

Saat malam hari, tepatnya masih di rumah sakit, tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi kembali. Aku ingin buang air kecil dan masuk seorang diri ke kamar kecil. Aku mengangkat tiang infusku seorang diri. Awalnya, aku merasa baik-baik saja. Tapi saat keluar dari kamar kecil, aku melihat ada tiga orang pria yang melintas dari kamar perawatanku dan salah satu dari pria tersebut adalah sepupuku yang baru meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku kaget bukan main! Saat itu, aku sedang dalam keadaan akan naik ke ranjang tapi tiba-tiba baju panjang yang kukenakan saat itu membuat kakiku tersangkut hingga membuatku terjatuh dan kepalaku menghantam lantai. Tiang infusku hampir saja terjatuh mengenai wajah dan kepalaku saat itu. Andaikan saja ibuku tak ada dalam ruangan dan tidak menahan tiang infus yang terjatuh, mungkin kepalaku sudah terluka karena terkena besi tiang infus.

Ibuku kaget bukan main dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku. Akupun menjelaskan padanya. Saat mendengar ceritaku, ibuku hanya mengeleng-geleng kepala dan mengatakan padaku untuk banyak-banyak ber-istighfar. Untuk kesekian kalinya karena kejadian aneh yang aku alami, akupun meminta untuk keluar dari rumah sakit walaupun sebenarnya dokter belum mengizinkan. Aku tetap memaksakan diri untuk keluar dengan alasan kalau kondisiku sudah membaik. Seminggu berada di dalam rumah sakit rasanya sudah seperti di penjara. Aku memutuskan untuk melakukan pengobatan rawat jalan saja.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku mulai beraktivitas dan kembali aktif di kampus mencari informasi  tentang kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah aku tinggalkan. Dengan keadaan tubuhku yang masih lemah, aku tetap memaksakan diriku untuk terus beraktivitas sampai semua ketertinggalanku selama sakit dapat aku selesaikan sebelum waktu yang ditentukan dari pihak kampus. Syukur Alhamdullah, aku bisa meraih gelar sarjana dan mengikuti wisuda pada waktu yang telah ditentukan.

Selesai wisuda, aku memilih untuk beristirahat selama dua tahun, tidak melakukan aktivitas apapun. Aku memutuskan untuk pulang ke daerah di mana kediaman orang tuaku berada. Di tempat inilah untuk pertama kalinya aku merasakan ketenangan dalam hati yang sudah tidak pernah aku dapatkan sejak tujuh tahun terakhir ini. Akupun mulai teringat kembali tentang kejadian-kejadian aneh yang pernah aku alami saat aku sakit dulu, kejadian-kejadian yang tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang kuderita saat itu. Lalu aku merenung dan mengingat semua tentang dosa dosa dan kesalahan apa saja yang pernah aku perbuat selama ini.

Aku menangis dalam hati dan tak terasa air mataku juga mulai membasahi pipi. Tiba-tiba saja hati kecilku berkata “berhijab dan berhijrahlah, penuhilah niatmu”. Ucapan dalam hati itu membuat aku tak henti-hentinya menangis dan saat itu juga kuniatkan diriku untuk berhijrah.
Aku mulai tersadar, mungkin saja kejadian-kejadian aneh yang aku alami waktu itu adalah ujian dan salah satu jalan untukku menjemput hidayah. Aku hanya dapat bertanya-tanya dalam hati.

Alhamdulillah niatku telah terpenuhi saat ini. Setelah memutuskan untuk berhijab dan berhijrah aku selalu merasakan kenyamanan dan ketenangan di dalam hati. Bukan hanya itu, penyakit menular yang pernah aku derita dulu, telah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Dokter mengatakan kalau keadaanku sudah membaik dan sudah tidak terjangkit penyakit itu lagi. Yang lebih membuatku tidak berhenti berucap syukur, sekarang aku sudah aktif menjadi salah satu tenaga medis di salah satu puskesmas yang ada di suatu provinsi di Kalimantan. Bagiku itu benar-benar nikmat terbesar yang Allah berikan padaku setelah aku mendapatkan hidayah-Nya.

Itulah cerita singkat perjalanan hidupku dalam menjemput sebuah hidayah, semoga ke depannya aku bisa lebih menyempurnakan hijrahku lagi. Amin ya Rabb.  Setiap orang punya cara tersendiri dalam menjemput hidayah-Nya masing masing. Allah maha pengampun, Allah maha pemaaf, betapa besar rasa cinta dan sayang Allah kepada semua umatnya hingga dia memberikan hidayah kepada hamba-hambanya-Nya di dunia sebelum mereka merasakan betapa menyakitkannya siksaan di akhirat kelak. Salam hijrah saudara-saudara muslimku. Salam alaikum.


oleh: Mia Rajjab
editor: Syura
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.