Rabu, 11 Desember 2019

Terusik Pikiran

"Aku merasa puas dan lega atas apa yang aku lakukan hari ini. Bagiku merampas kebebasan orang lain adalah hal yang paling menyenangkan yang pernah aku lakukan." Demikianlah kataku dalam hati.

Dalam perjalanan hidup, aku memang banyak melakukan penindasan terhadap orang lain. Makian, umpatan dan ujaran kebencian selalu saja terucap dan terlaksana olehku. Mungkin begitulah caraku menikmati kehidupan yang penuh dengan orang-orang lemah, penuh dengan kebaikan-kebaikan yang palsu, penuh dengan kebohongan yang nyata.

Bagiku, pagi adalah awal untuk memulai kejahatan, siang adalah tempatku merasa hidup di atas penderitaan orang lain, dan malam tempatku menghitung seberapa perkasanya aku ditengah-tengah orang yang lemah ini. 

Makian adalah puisi terindah yang aku ucapkan. Sentuhan fisik dengan tamparan adalah energi bagiku untuk terus mengekspresikan kebebasanku, dan kebencian menuntunku ke jalan yang lurus. 

Hingga aku berjumpa dengan zaman yang memudahkan para manusia melalui ruang-ruang maya yang mereka ciptakan sendiri.

Dan, aku mulai kehilangan kepuasanku. Segala ruang dan aktivitasku sekarang dibatasi oleh perpindahan wacana yang begitu cepat. Eksistensiku di dunia nyata hilang. Setetes makian yang aku tumpahkan akan berujung pada "viral" yang mereka sembah.

Sedetik pergerakan tanganku terekam oleh mata kamera yang terpasang di tiap sudut jendela. Seluruh kebencian tak lagi nyata, semua berpindah menjadi semu, kebencian begitu cepat berpindah tangan melalui "hoax" yang mewabah.

Sekali lagi, aku merasa kehidupan yang aku dedikasikan untuk menindas umat manusia di dunia nyata hilang, digitalisasi merenggut hak-hakku sebagai manusia.

Tapi, aku yakin pada sifat dasar manusia yang akan selalu menciptakan penindasan. Memang, tak akan ada lagi ruang untuk melakukan penindasan fisik, dan segala perbuatan fisik itu telah banyak dikecam oleh manusia-manusia digital. Semoga dengan perubahan zaman yang begitu cepat akan lebih memudahkan para penindas untuk terus memuaskan hasratnya kepada manusia lemah lainnya.
____

Besok, pagipun datang, aku cukup lelah dengan mimpi yang menguras energi ku. Yang masih teringat dalam pikiranku adalah ratusan makian yang menyerang kolom komentar pada foto instagram yang aku unggah sepekan yang lalu.

"Oh tidak!!!" Teriakku dalam kamar.

Lagi-lagi aku mimpi buruk. Mimpi ini selalu hadir dalam tiap-tiap tidur yang tak ku inginkan. Mimpi yang sangat berbeda dengan duniaku yang sebenarnya, mimpi yang selalu membisikkan sebuah "kenikmatan" menjadi orang jahat.

Ya, aku hanya iri pada mereka yang dengan mudahnya melakukan penindasan pada orang lain. Aku lelah menjadi sorotan tangan-tangan yang mengetik di balik topeng anonimitas. Aku ingin membalas dengan prestasi, tapi prestasi pun tak cukup bagi mereka, malah hanya menambah kebencian mereka terhadapku.

Hingga, aku memutuskan untuk bercerita dengan kawanku tentang serangan virtual yang membuat alam pikirku bekerja lebih cepat dan berlebihan.

"Sabar." Ungkap kawanku.

"Hanya sabar?" Balasku.

Tapi, dia juga ada benarnya. Mungkin selama ini aku tak menanam kesabaran dalam benakku, hingga sifat terburu-buru menyertai segala keputusanku.

Baiklah. Aku hanya perlu untuk mengatur nafas dan menerima keadaanku saat ini. Apapun yang aku alami, itulah aku. Aku tak perlu menjadi orang lain hanya karena sekedar ingin diperhatikan. Perhatian tak hanya datang dari orang lain. Aku juga butuh cari perhatian dengan diriku sendiri. Aku butuh mengenal diriku sendiri melebihi dari apa yang diriku tak kenali. Aku butuh istirahat dari keramaian dunia virtual.

___

"Oh tidak!!!" Teriakku dalam kamar. 

Lagi-lagi aku bermimpi dalam mimpi.



Oleh
Azmul Fuady Idham

Perekrutan Halo Jiwa


A. Gambaran Job description team
1. Tim Social Media Creative
→ Melakukan pengumpulan dan editing terhadap quote harian komunitas untuk dipublikasikan melalui social media Halo Jiwa (IG)
2. Tim Editor dan Publikasi 
→ Melakukan pengumpuplan, editing, dan publikasi karya di Blog Halo jiwa
3. Tim Project
→ Memanage pelaksanaan project-porject halo jiwa (menjadi tim inisiator,  dalam pelaksanaan project project Halo Jiwa)
4. Tim Sence of Belongingness
→ sebagai badan pengawas komunitas dengan melakukan monitoring terhadap kinerja anggota atau tim divisi
→ melakukan monitoring kepada anggota agar tercipta rasa kekeluargaan sesama tim komunitas Halo Jiwa

B. Persyaratan Pendafataran
- Warga Negara Indonesia
- Usia maksimal 30 Tahun
- Memiliki ketertarikan terhadap issue kesehatan mental
- Bersedia berkomitment memberikan kontribusi kepada Halo Jiwa
- Mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan
- Bersedia membuat sebuah karya yang terdiri dari 
→ Karya desain grafis dapat berupa pamflet, infografis, dll (bagi pendaftar Tim Social Media Creative)
→ Menulis essay singkat atau karya tulis (tema bebas) (bagi pendaftar (Tim Editor dan Publikasi)
→ CV atau pengalaman organisasi max 2 halaman (bagi pendaftar Tim Project dan Tim of Belongingess)

C. Alur Perekrutan
1. Pendaftaran onlien dengan mengisi formulir yang telah disediakan 
2. Submit Karya Desain Grafis, Essay atau CV sesuai dengan Tim yang diminati
3. Interview

D. Timeline Perekrutan 
1. Proses pendaftaran online dan Submit Karya11-28 Desember 2019
2. Tahap interview dimulai pekan 1-2 Januari 2020
3. Welcoming New Team pekan 2 Januari 2020


Jumat, 15 November 2019

Merawat Kesehatan Mental di Era Digital


Halo Sobat Jiwa Selayar 🤗
Bagi kalian para pelajar SMP/SMA Sederajat yang sering galau dan merasa down di era digital ini, yukkk rawat kesehatan mentalmu bersama kami di RUANG REFLEKSI "Merawat Kesehatan Mental di Era Digital".
.
PERTAMA di Selayar. Limited Edition !!! Kapan lagi bisa dapat ilmu sekeren ini secara Gratis ??? Buruan daftar, ditunggu yahh 🥰
.
Salam Sehat Mental !

Kalau Cinta, Jangan “Bodoh”


Oleh:
Fitrah Ramadhan

Jatuh cinta adalah sesuatu yang sangat wajar dan sah-sah saja. Setiap manusia pasti pernah merasakan jatuh cinta baik kepada sesama manusia. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Namun, terkadang dengan mengungkapkan rasa cinta, rasa sayang dan perhatian, pasangannya sampai menyakiti dirinya sendiri. Sekilas, kita melihat cinta terhadap orang lain yang justru mengorbankan diri sendiri.

Ini merupakan kisah salah seorang yang aku kenal.  Sebut saja dia A. Kisah ini terjadi sekitar tahun 2013 sampai 2014. A merupakan seorang mahasiswi di perguruan tinggi X. A juga merupakan anak tunggal yang setiap kebutuhannya pasti selalu dituruti oleh kedua orangtuanya. Kehidupan sosial A juga sama seperti teman-temannya yang lain.  A mempunyai seorang pacar dan dia mengakui sangat mencintai pacarnya tersebut. Kisah percintaan mereka pun sama saja dengan pasangan-pasangan lainnya.

Dalam suatu hubungan percintaan, tentu tidak tertutup kemungkinan terjadinya pertengkaran di antara pasangan. Hubungan A dan pacarnya juga demikian. Pada suatu waktu, terjadi pertengkaran antara A dan sang pacar, sehingga sang pacar memutuskan hubungan dengan A. A sangat sedih sehingga dia hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Si A pun mempunyai niat untuk menarik perhatian sang mantan pacar dengan melukai dirinya sendiri. A menyileti tangannya dan memperlihatkan luka tersebut kepada sang mantan pacar. Sang mantan pun merasa kasihan dan memenuhi permintaan Si A untuk kembali berpacaran dengannya.

Selama menjalin kembali hubungan berpacaran tersebut, setiap kali mereka bertengkar, A pun selalu menyakiti dirinya sendiri untuk mendapatkan perhatian sang pacar. A seolah belajar dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya sang pacar tidak tahan akan sikap yang dilakukan dan memutuskan hubungan dengan A. Si A tentu saja tidak terima dan kembali mengancam bahwa dia ingin menyakiti dirinya lebih dari yang dilakukan sebelumnya. Sang mantan tidak memperdulikan ancaman dari A dan tetap memutuskan hubungannya dengan A.

Sejak putus, Si A selalu meyakiti dirinya dengan menyilet tanganya, memukul-mukul tembok, dan bentuk kekerasan lainnya. Akhir cerita, Si A lalu berkenalan dengan seorang lelaki dan lelaki itu berhasil merubah perilaku A yang sering menyakiti dirinya. A sering mendapatkan masukan masukan dari lelaki itu untuk menyelesaikan masalahnya bukan dengan menyakiti dirinya sendiri.

Meskipun pada akhirnya, A dapat bersikap dan bertindak lebih positif, sebelumnya si A pernah terjatuh dalam perilaku self-harm atau menyakiti diri sendiri yang dipicu oleh faktor interpersonal, yaitu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain (penguatan positif). A juga mungkin melakukan itu untuk mengkomunikasikan sakit emosional yang dirasakannya.

Selain faktor interpersonal, faktor intrapersonal juga menjadi salah satu penyebab self-harm. Regulasi dan manajemen emosi yang kurang baik merupakan salah satu kondisi internal yang paling mempengaruhi munculnya pikiran dan tindakan self-harm. Fungsi-fungsi yang terkait dengan mekanisme pelarian atau penghindaran kondisi internal adalah hal yang umum dijumpai pada pelaku self-harm.
Orang-orang di sekitar pelaku self-harm perlu untuk menyadari bahaya dari perilaku tersebut. Dengan demikian, dukungan senantiasa perlu untuk diberikan kepada pelaku agar mereka bisa menyadari bahaya tindakannya dan melakukan upaya untuk tidak lagi mengulanginya. Seperti contoh di atas, teman laki-lakinya dapat membantunya mengatasi kondisi dirinya. Semakin seseorang terjebak dalam lingkaran sel-harm, tentu semakin tidak mudah. Namun, itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan tekad untuk “keluar” dan dukungan dari orang lain, pelaku self-harm dapat berhenti dari “kebiasaannya”.

Beberapa hal juga dapat dilakukan untuk mencegah perilaku self-harm. Hal tersebut antara lain dengan menerima perasaan, meningkatkan keberhargaan diri (self-esteem), menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan keterampilan mengelola stres, memahami perilaku self-harm secara detail, serta mencari bantuan dan dukungan sosial.

Dari kisah di atas kita belajar bahwa boleh saja kita mencintai seseorang, akan tetapi kita jangan sampai terlihat dan bertindak bodoh hingga menyakiti diri sendiri. Meminta perhatian dari orang yang dicintai dengan menyakiti diri sendiri justru membuat orang tersebut menjadi kurang respect terhadap kita. Jika kita tidak mencintai dan menghargai diri kita maka siapa yang akan melakukannya? Bukankah kita tidak bisa memberi apabila tidak memiliki? Jadi cintai dan hargai diri untuk bisa mencintai dan menghargai orang lain.

Editor: Syurawasti Muhiddin


Kamis, 07 November 2019

Jiwa yang Merdeka


Oleh
Novi Susanti

Kekuatan untuk bangkit.
Harapan untuk bertahan.
Aku ingin lepas dari jiwa yang terjajah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap individu dalam proses perjalanan hidupnya akan menghadapi berbagai tantangan. Ada yang mengikuti, ada juga yang melawan arus kehidupan. Bahkan ada yang memilih untuk menyemplungkan diri sepenuhnya. Menikmati setiap yang terjadi. Merasakan segala yang tersuguh.

Individu seyogianya pandai dalam mengatur. Mengenal. Mengembangkan potensi dengan segala atribut diri yang telah dilekatkan padanya oleh Sang Khalik untuk menjadi manusia yang merdeka.

Kemerdekaan adalah hak untuk mengatur diri sendiri dengan selalu mengingat pada syarat-syarat tertib damainya hidup bersama dan bersesama dalam masyarakat. Kemerdekaan diri perlu memerhatikan nilai-nilai hidup yang luhur, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan seyogianya menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana seimbang serta selaras dengan masyarakat [1].

Jiwa yang merdeka berarti mempunyai hak untuk melakukan berbagai hal secara lepas dan bebas dengan adanya tanggung jawab. Sehingga, kebebasan dan kemerdekaan tidak terlepas dari perasaan sadar akan kewajiban terhadap Maha Pencipta dan hak sesama manusia serta peraturan-peraturan agar setiap orang tidak bertindak sesuka hati. Individu yang mempunyai jiwa merdeka harus mampu memimpin diri, keluarga, dan memimpin masyarakat serta bangsa sesuai dengan kodratnya [1].

Individu yang memiliki jiwa yang merdeka tidak akan melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain secara fisik, psikis, dan lain sebagainya baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap tutur tindak yang dilakukan telah dipikirkan konsekuensi dan risiko yang akan dihadapi dengan matang. Terlebih dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, tidaklah harus bertemu langsung untuk bisa menyakiti orang lain.

Pada saat sekarang ini, informasi dan teknologi sebagai hasil perkembangan zaman telah menjadi faktor yang amat dominan dalam masyarakat hampir di seluruh dunia. Memang bukan pada masa kini informasi dan teknologi penting bagi kehidupan manusia. Sejak semula informasi sudah menentukan perkembangan individu dan masyarakat. Sulit membayangkan manusia dapat mengenal diri dan sekitarnya serta memprediksi situasi yang akan dihadapi tanpa informasi. Informasi dan teknologi adalah dua hal yang tak mungkin dipisahkan. Berkat kemajuan teknologi, informasi menyebar secara cepat dan telah mampu mengubah bentuk kehidupan masyarakat [2].

Media sosial merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan mudah. Informasi dalam bentuk apa pun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat sehingga memengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa. Melalui media sosial, manusia diajak berdialog, mengasah ketajaman nalar dan psikologisnya dengan alam yang hanya tampak pada layar, namun sebenarnya mendeskripsikan realitas kehidupan manusia. Namun, tidak disangkal bahwa pesan-pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat mengarahkan khalayak, baik ke arah perilaku prososial maupun antisosial [3].

Informasi yang dapat diakses melalui media sosial kini telah menjadi jendela baru bagi semua generasi dalam menyaksikan perkembangan dunia. Segala informasi dapat diakses dengan mudah. Media sosial menjadi wadah untuk berekspresi. Sejauh ini media sosial telah mengubah banyak hal dengan memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia. Dampak yang diakibatkan merupakan irisan antara hal yang positif dan negatif. Semua tergantung pada individu dalam memanfaatkannya.

Segala aktivitas yang dilakukan dapat dengan mudah diketahui oleh orang lain. Bahkan publik dapat mengetahui berbagai hal tentang diri meski tidak bertemu langsung. Hal ini dapat menjadi pemicu munculnya perilaku cyber bullying dengan menyakiti orang lain, yang dilakukan melalui media sosial. Menjalani hidup tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan menemukan orang-orang yang barangkali berbeda dan tidak sejalan dengan yang kita pahami. Namun, hal yang perlu menjadi perhatian khusus bahwa kita dapat mengontrol diri dalam menyikapi perbedaan dan ketidaksesuaian dengan orang lain. Sebab, kendali ada dalam diri kita sendiri. Oleh karenanya, tidak perlu untuk menyakiti orang lain atas dasar perbedaan dan ketidaksesuaian. Toh, nyatanya Tuhan telah menciptakan kita baik adanya, unik, dan berharga dalam perbedaan.

*******************************
Individu yang merasa dirinya telah menjadi manusia yang merdeka tidak bertindak sesuka hati sehingga melupakan hak orang lain yang juga perlu memiliki jiwa yang merdeka. Setiap tutur tindak yang dilakukan tidak menciptakan perasaan takut, tekanan, dan belenggu pada orang lain yang dapat melahirkan jiwa yang terjajah. Merdeka berarti bebas dan lepas. Tidak lagi terbelenggu, tertekan, dan hidup di atas telunjuk orang lain. Merdeka hanya untuk mereka yang tegas terhadap diri sendiri.






Editor: Syura Muhiddin
REFERENSI
1.      Agus, C. (2018). Pendidikan Jiwa Merdeka. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada diakses dari http://acahyono.staff.ugm.ac.id/2018/05/pendidikan-jiwa-merdeka-prof-dr-cahyono-agus.html
2.      Pandie, M. M. & Weismann, I. Th. J. (2016). Pengaruh Cyber bullying di Media Sosial Terhadap Perilaku Reaktif Sebagai Pelaku Maupun Sebagai Korban Cyberbullying pada Siswa Kristen SMP Nasional Makassar. Jurnal Jaffray. Vol. 14, No 1.
3.      Sunarto, K. (2000). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fak Ekonomi Universitas Indonesia.

Jumat, 27 September 2019

Bukti Cinta Tidak Harus Self Injury, kan ?


Oleh : Karmila Kahar

Pernah dengar istilah Nonsuicidal Self injury (NSSI)? Self injury merupakan perilaku melukai diri tanpa adanya niat untuk bunuh diri, perilaku ini dapat membuat individu menjadi kecanduan. Jujur saja setelah ikut salah satu kulwap (kuliah via WhatsApp) saya baru menyadari akan adanya perilaku seperti ini dan dalam grup Whatsapp tersebut saya sedikit banyak mengetahui tentang self injury. Setelah menelaah semua materi yang diberikan saya menjadi teringat dengan salah satu teman SMA saya yang ternyata perilaku menyileti tangan sampai berdarah merupakan salah satu perilaku self injury yang berbahaya dan dapat membuat individu menjadi kecanduan.



Sewaktu SMA sekitar 7 tahun lalu, saya beberapa kali mendapati salah satu teman laki-laki saya ; sebut saja dia si fulan kedua tangannya dipenuhi sayatan-sayatan benda tajam seperti silet di bagian urat nadi pergelangan tangannya. Beberapa kali saya melihatnya, hingga suatu hari, percakapan pun dimulai :
Sy                    : “eh, mauka’ tanya kenapa itu tanganmu kayak sudah disileti?”
Si fulan            : “anu na’ putuskan ka’ pacarku”
Sy                    : “tapi beberapa kali mi saya liat itu lukamu, pernah sembuhmi toh tapi ini ku liat luka baru”
Si fulan            : “itu dulu karena bertengkarka sama pacarku baru tidak na percayaka juga”
Sy                    : “apa rasanya itu kalo sudahki sileti begitu? Kan pasti sakit ki’ kah sampai berdarah saya liat itu”
Si fulan            : “mauka buktikan ki’ sama pacarku kalo ku sayang sekali sama kalo sudah ku sileti tanganku merasa ka puas dan ku dapat ki lagi perhatiannya pacarku”
Sy                    : “Astagaa.. jangan mki’ lagi sileti begitu tanganmu, ngeri ki’ wehh takutku liat saya”
Si fulan            : “hahaha tergantung pacarku ji”

Itu sedikit percakapan singkat saya dengan si fulan ketika jam istirahat sekolah. Pada saat itu saya tidak tahu sama sekali apa yang harus saya lakukan ketika melihat teman saya melakukan hal demikian, namun ketika saya sudah mengetahui alasannya, saya selalu berusaha mengajak si fulan untuk bermain dan berkumpul bersama teman-teman yang lain. Oh ya, sekedar info kalua si fulan pada waktu itu memang menjadi salah satu cowok di kelas saya yang masuk dalam kategori nakal karena kebiasaan bolos dan sering melanggar peraturan sekolah.

Setelah acara kelulusan SMA kembali ku tanya si fulan tentang perilaku menyileti tangannya apakah masih sering dilakukan atau tidak, si fulan menjawab tidak lagi melakukan hal tersebut karena pacarnya sudah mulai mengerti dengan dirinya dan ditambah si fulan sudah merasa menjadi bagian dari kelasnya. Alhamdulillah semenjak saat itu si fulan berhenti untuk melukai diri dan kini si fulan telah menikah dengan wanita yang ia pacari sejak SMA dan saat ini si fulan sudah berbahagia bersama istri dan putri kecilnya.

Dari cerita Si Fulan di atas, dapat dipahami bahwa Self injury muncul karena rasa sakit atau tidak nyaman secara emosional dan kurangnya keterampilan dalam mengelola stress atau meregulasi emosi yang menyebabkan individu tidak mampu mengatasi rasa sakit emosional dan ketidaknyamanan yang dialami, sehingga salah satu cara pintas untuk menghilangkan atau mengalihkan ketidaknyaman tersebut adalah melukai diri sendiri. Hal tersebut sama seperti yang dilakukan si fulan ketika bertengkar dengan pacarnya, ia merasa tidak nyaman secara emosional dan tidak memiliki keterampilan dalam mengatasi rasa sakit yang dialami, hingga pada akhirnya memilih untuk melakukan tindakan menyileti tangannya sendiri. Namun, dengan adanya dukungan sosial dan lingkungan sekitar perilaku self injury dapat disembuhkan.

Adapun faktor yang dapat menurunkan perilaku self injury indvidu yaitu dengan mendapatkan dukungan sosial, mencari atau menemukan coping strategy yang positif, dan kemampuan regulasi emosi yang matang.

Editor : Dina Ariani

Selasa, 03 September 2019

Memiliki Hubungan Persahabatan yang Baik Dapat Memengaruhi Kesejahteraan Seseorang


Keluarga seyoginya menjadi prioritas utama. Namun, menurut dua studi dari Michigan State University, persahabatan yang baik juga sangat penting untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda dalam jangka panjang. Kita sedang membahas hubungan persahabatan yang baik. Anda haruslah mencari kualitas, bukan kuantitas, ketika berhubungan dengan sahabat Anda.
Studi pertama menemukan, keluarga dan teman bisa membuat kita bahagia, tapi persahabatan adalah prediktor kesejahteraan yang lebih kuat untuk kita di usia lanjut. Selanjutnya studi kedua menemukan, orang-orang yang memiliki hubungan persahabatan yang buruk dan membuat mereka merasa stres, melaporkan memiliki lebih banyak penyakit kronis dibandingkan mereka yang memiliki sahabat sebagai pendukung mereka.
Suatu istilah yang dapat menjelaskan mengenai kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah Subjective well-being (O’Connor, dalam Lutfiyah, 2017). Menurut Pavot & Diener (dalam Lutfiyah, 2017) subjective well-being merupakan salah satu prediktor kualitas hidup karena subjective well-being dapat mempengaruhi keberhasilan individu dalam berbagai domain kehidupan.
Mereka yang memiliki kesejahteraan subyektif tinggi, ternyata merasa bahagia dan senang dengan sahabat dan keluarga. Mereka juga kreatif, optimis, kerja keras, tidak mudah putus asa, dan tersenyum lebih banyak daripada yang menyebut dirinya tidak bahagia (Argyle, dalam Rohmad, 2014). Mereka juga akan lebih mampu mengontrol emosinya dan menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup dengan lebih baik, sedangkan mereka yang memiliki subjective well-being rendah memandang rendah hidupnya dan menganggap peristiwa yang terjadi sebagai hal yang tidak menyenangkan, sehingga menimbulkan emosi seperti kecemasan, depresi dan kemarahan (Myers & Diener dalam Rohmad, 2014).
Setiap individu dalam mencapai subjective well-being dalam hidupnya tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Seperti yang dikemukakan oleh Rook (dalam Lutfiyah, 2017) yang mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial, dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah.
§  Sahabat memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang, seperti :
1.    Sahabat tidak pernah menghakimi
Sahabat sejati tidak pernah menghakimi atau men-judge. Segala yang buruk pada diri kita akan dikatakan dengan jujur dan baik, sehingga tidak terkesan asal mengkritik. Apapun yang membuat kita baik dan senang, maka sahabat akan selalu mendukung serta menghargai. Tak lupa, sahabat akan selalu membantu dengan tulus.

2.    Sahabat tidak pernah meninggalkan
Dalam keadaan apapun, baik sedih, kesepian, dan senang, sahabat akan selalu ada bersama kita untuk memberi dukungan atau ikut bahagia atas apa yang kita capai. Ketika menangis, mereka akan berusaha membuat kita kembali tertawa.

3.    Sahabat selalu mendengarkan
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sahabat juga akan selalu mendengarkan segala cerita kita. Sahabat memberikan pendapatnya, sehingga kita bisa saling bertukar ide atau pengalaman untuk mendapatkan solusi terbaik pula dalam masalah tertentu.

4.    Sahabat selalu memberikan dukungan
Apapun tujuan terbaik serta membuat kita bahagia, sahabat pasti akan memberi semangat dan membantu kita untuk mencapai hal baik yang diharapkan.

5.    Sahabat dapat dipercaya
Selain keluarga, sahabat juga menjadi orang yang mengetahui banyak hal tentang kita. Ketika berada dalam tahap persahabatan, maka sahabat tidak akan melanggar kepercayaan kita. Semua ditunjukkan dengan sikap jujur serta tulus.

Hal yang membuat seseorang merasa cocok dengan orang lain yang menjadi sahabatnya yaitu adanya ikatan emosional mendalam dan kepercayaan yang dilibatkan dalam sebuah persahabatan. Dalam setiap tahap perkembangan, dari anak-anak hingga dewasa, kehadiran seorang sahabat sangat diperlukan. Namun, fungsi sahabat pada setiap perkembangan berbeda-beda. Pada masa kanak-kanak, persahabatan akan lebih mengacu pada berbagi kegembiraan dan bermain bersama. Sementara pada masa remaja dan dewasa fungsinya lebih dari itu. Sahabat pada tahap remaja dan dewasa ini akan lebih mengacu pada fungsi sharingberbagai permasalahan kehidupan yang kompleks.
§  Unsur – unsur menuju proses terbentuknya persahabatan :
  1. Kelekatan.
Tentu saja hubungan antar sahabat adalah hubungan yang sangat lekat. Persahabatan tercipta dikarenakan setiap orang membutuhkan kenyamanan emosional dengan orang lain.

  1. Kedekatan fisik.
Sahabat adalah orang yang selalu ada di sekitar kita, terutama pada saat kita butuhkan. Saat ini kedekatan fisik tak selalu jadi ukuran, mengingat jaringan komunikasi yang sudah sedemikian canggih, sehingga orang bisa saja terhubung setiap saat tanpa harus bertemu atau bertatap muka.

  1. Adanya kesamaan.
Baik memiliki kesamaan hobi ataupun minat, namun yang utama adalah kesamaan prinsip dan pola pikir.

  1. Adanya kepercayaan satu sama lain.
Unsur inilah yang membuat seseorang bisa berbagi apapun dengan sahabatnya.

Bagaimana pun, menjalin persahabatan dengan seseorang memang tidaklah mudah, karena tetap membutuhkan waktu untuk saling memahami satu sama lain. Namun ada beberapa orang hanya beberapa kali bertemu dan berinteraksi sudah merasa dekat satu sama lain. Jadi tergantung chemistry-nya yang dimiliki seseorang dengan orang lain, sebab persahabatan adalah hubungan timbal balik yang memberikan kenyaman satu sama lain. Maka tak heran bila beberapa hubungan yang terjalin di antara sahabat akan lebih dekat dibandingkan dengan saudara sedarah.

Sumber :
Chaerunnisa,. & Rachmawati, D. (22 Juni 2017). Studi: hubungan persahabatan bisa lebih baik dari keluarga. Diambil dari : https://www.suara.com/
Darwin, M. (9 Mei 2016). 5 peran penting sahabat di dalam hidup. Diambil dari : https://intisari.grid.id/
Lutfiyah, N. (2017). Hubungan antara dukungan sosial dengan subjective well-being pada anak jalanan di wilayah depok. Jurnal Psikologi, 10(2), 152-159.
Roellyana, S. (23 Desember 2012). Apa yang membuat kita merasa cocok dengan sahabat ?. diambil dari : https://www.kompasiana.com/
Rohmad. (2014). Hubungan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa fakultas psikologi universitas muhammadiyah surakarta (Skripsi). Diambil dari : http://eprints.ums.ac.id/

EDITOR : DINA ARIANI

Jumat, 23 Agustus 2019

Psikologi Kemerdekaan


Sebagai bangsa Indonesia, Agustus menjadi bulan yang istimewa. Pada bulan ini, sejarah terpenting bangsa Indonesia teringat kembali. Tujuh belas Agustus adalah hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama bangsa Indonesia, memproklamasikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka secara de facto dari praktik-praktik kolonialisme bangsa-bangsa lainnya.

Lalu setelah bangsa ini merdeka hingga 74 tahun lamanya, dan telah dipimpin oleh 7 presiden yang mana dua diantaranya telah dipilih langsung oleh rakyat Indonesia melalui Pemilihan Umum, apakah kita sudah merasakan kemerdekaan tersebut? Apakah kita telah merdeka sepenuhnya? Bagaimana kita memaknai kemerdekaan? Apakah merdeka hanya sekedar ‘kata’ untuk suatu bangsa? Kata yang tak dapat berwujud menjadi suatu keadaan?

Terlepas dari suatu bangsa merdeka atau tidak, setiap individu pada dasarnya mendambakan kemerdekaan sebagai perwujudan hak asasi manusianya. Hal inilah yang mendorong individu bergabung dalam kelompok-kelompok pergerakan untuk kemudian membuat kelompoknya merdeka sebab manusia memahami bahwa kemerdekaannya tak akan berarti tanpa kemerdekaan lingkungan yang melingkupinya. Meskipun suatu negara merdeka telah terbentuk, hal tersebut juga tidaklah menjamin bahwa seluruh rakyatnya telah merasakan kemerdekaan secara merata.

Konsep Psikologi terkait Kemerdekaan

Sebagai sebuah kondisi yang menjadi dambaan setiap orang, kemerdekaan juga dijelaskan dalam ilmu psikologi - ilmu yang mempelajari perilaku dan proses-proses mental individu. Terdapat beberapa konsep yang dikaitkan dengan kemerdekaan. Dalam perkembangan psikologi, dikenal aliran humanistik yang memberikan penekanan penting terhadap kebebasan seorang individu. Para penganut aliran yang dimotori oleh beberapa nama besar-seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers- ini berpendapat bahwa manusia memiliki kualitas perilaku yang membedakannya dengan hewan [1]. Kualitas tersebut berupa adanya kehendak bebas (free will) dan potensi pertumbuhan pribadi yang melatarbelakangi perilaku dan proses-proses mentalnya[1]. Para humanis percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka sendiri[1]. Maslow menyebutkan bahwa manusia terlahir baik dan terus berusaha untuk menuju aktualisasi diri, yaitu mencapai versi terbaik dirinya[2]. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu otonomi untuk mengatur kehidupannya.

Selanjutnya, terdapat pula konsep lain yang diturunkan dari konsep kehendak bebas, yaitu self-determination (determinasi diri). Determinasi diri adalah kemampuan ataupun proses dalam membuat keputusan sendiri dan mengontrol kehidupannya sendiri[3]. Teori Self-Determination (SDT) merupakan teori yang banyak diketahui terkait dengan determinasi diri yang menghubungkan kepribadian, motivasi manusia dan keberfungsian optimal. Berdasarkan teori ini, terdapat dua tipe utama motivasi manusia, yaitu intrinsik dan ektrinsik. Keduanya memberikan pengaruh yang kuat terhadap cara individu berperilaku atau memberikan respon. SDT berpusat pada kebutuhan psikologis dasar yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan[4], sehingga self-determination adalah bagian dari well-being, khususnya psychological well-being. Semua manusia tentunya merasa senang jika dirinya merasa bisa mengontrol kehidupannya sendiri.

Aliran psikologi humanistik ini juga menjadi inspirasi bagi berkembangnya cabang lain dari psikologi, yaitu psikologi positif. Psikologi positif adalah studi ilmiah tentang kekuatan-kekuatan karakter yang memungkinkan individu dan komunitas mencapai pertumbuhan, kebermaknaan, dan kesuksesan dalam hidup[5]. Penelitian-penelitian terdahulu terkait topik locus of control (lokus pengendalian) menyebutkan bahwa masyarakat akan berfungsi dengan lebih baik apabila mereka merasa dapat mengontrol kehidupannya[5]. Sementara itu, merasa tidak memiliki kontrol dihubungkan dengan depresi, ketidakberdayaan, perilaku destruktif, kekerasan dalam rumah tangga serta konsekuensi buruk lainnya[5].

Masyarakat yang Merdeka

Tidak cukup pada tingkat individu, kemerdekaan juga dilihat pada level masyarakat. Setiap individu tentu memiliki kemerdekaannya masing-masing. Namun, sebagai bagian dari sistem masyarakat, kemerdekaan itu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di luar dirinya. Faktor tersebut diantaranya adalah pengaruh sosial.

Apa yang membuat seseorang mematuhi pihak berwenang? Sebaliknya, apa yang membuat sebagian orang menjadi oposisi? Pertanyaan-pertanyaan ini dikaitkan dengan kebebasan sebagai warga negara, hingga kemudian mengarahkan pada pertanyaan seperti bagaimana membangun sebuah masyarakat yang merdeka? Apakah ada sebuah masyarakat yang merdeka? Kondisi sosial dan pribadi yang seperti apa yang dapat berkontribusi untuk membangun masyarakat yang lebih bebas?

Sebuah penelitian eksperimen fenomenal dilakukan oleh Stanley Milgram. Eksprimen ini bertujuan untuk menemukan bahwa pada kondisi lingkungan seperti apakah manusia biasa dapat dipengaruhi untuk menyebabkan bahaya terhadap orang lain. Bentuk eksperimennya adalah partisipan ditugaskan menjadi guru yang memberikan rangsangan listrik kepada pelajar ketika pelajar tidak menjawab pertanyaan dengan benar[2]. Hasilnya adalah 66% partisipan memberikan rangsangan yang mereka anggap maksimal sebesar 450 Voltz[2]. Subjek tidak tahu bahwa pelajar tersebut tidak kaget dengan adanya rangsangan listrik. Ketika eksperimenter mendesak subjek untuk memberikan rangsangan listrik, subjek menjadi frutasi bahkan sampai memberikan rangsangan yang memiliki tegangan yang besar. Meskipun eksperimen ini mendapat kritik terkait standar etik yang diberlakukan, eksperimen ini memberikan kontribusi terhadap perngembangan konsep obedience atau kepatuhan kepada pihak otoritas, yaitu faktor yang dapat memengaruhi kemerdekaan masyarakat.  
Selain eksperimen Milgram, eksperimen Philip Zimbardo juga menyita perhatian publik. Zimbardo mengatur ruang eksperimen sedemikian rupa sebagai sebuah penjara. Lalu, partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Ada kelompok yang ditugaskan sebagai tahanan dan sekelompok lainnya sebagai sipir. Ekperimen ini terpaksa dihentikan pada hari keenam dikarenakan penjaga bertindak sadis kepada tahanan dan kekerasan pun tidak terelakkan. Ekperimen ini menunjukkan bahwa ternyata pemberian tugas dan peran tertentu dapat membuat perilaku individu berubah secara drastis[2]. Hal ini dapat menunjukkan bahwa peran sosial seseorang juga dapat memengaruhi kemerdekaan masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, kita juga tak bisa memungkiri adanya konformitas atau kecenderungan untuk sama dengan kebanyakan orang. Hal ini juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi masyarakat merdeka. Asch menyimpulkan dari hasil eksperimennya bahwa pengaruh sosial yang normatif yang dihasilkan dari keinginan untuk memperoleh penerimaan sosial, lebih banyak memengaruhi perilaku individu daripada pengaruh sosial informatif[2]. Seorang individu kemungkinan akan cenderung mengikuti norma-norma yang berlaku dalam masyarakat meskipun hal tersebut belum didukung oleh fakta-fakta. Mungkin kita pernah merasa bahwa kita mengikuti apa yang kebanyakan orang lakukan dibandingkan apa yang diperoleh dari sumber-sumber terpercaya seperti jurnal penelitian dan perkataan para ahli.
Satu lagi konsep pengaruh sosial dalam ilmu psikologi, yaitu pemenuhan terhadap keinginan orang lain (compliance). Individu-individu dan kelompok memiliki keterampilan untuk meyakinkan orang lain agar mengikuti permintaannya . Selain kepatuhan, konsep ini dapat diterapkan pada persuasi politik para tokoh-tokoh pemegang kekuasaan dalam mengkampanyekan ide-ide mereka dan menggerakan masyarakat. Terdapat istilah Foot-in-the-door berkaitan dengan konsep ini, yaitu kecenderungan untuk memenuhi permintaan yang lebih besar apabila kita sudah memenuhi permintaan-permintaan kecil sebelumnya[2]. Hal ini bisa diterapkan oleh pihak yang meminta, untuk memengaruhi pihak yang dimintanya. Selain itu, adanya pemberian hadiah dapat membuat seseorang merasa wajib untuk mematuhi permintaan berikutnya (Reciprocity)[2]. Hal ini bisa saja terjadi pada peristiwa ‘suap-menyuap’ di kalangan elit pemerintahan.
Ketika kita memperhatikan kondisi suatu masyarakat, kita mungkin juga akan bertanya-tanya. Mengapa masyarakat menolak melakukan perubahan terhadap sistem, bahkan ketika sistem itu korupsi atau tidak adil? Bukankah masyarakat bebas tidak dapat dicapai, apalagi dipertahankan, kecuali orang-orang bersedia mempertanyakan otoritas yang menciptakan sistem tersebut. Mengapa banyak yang lebih menyukai status quo? Mengapa individu bertahan dalam sistem atau instansi tempat dirinya hidup (pemerintah, perusahaan, dan pernikahan), bahkan ketika orang lain menilainya akan gagal total? Berkaitan dengan semua pertanyaan ini, sebuah penelitian menjelaskan istilah ‘pembenaran sistem’ atau system justification[5], yang dapat membuat orang dan masyarakat tetap memperhatahankan kondisinya pada saat itu sebagaimana kondisi pada saat sebelumnya.

Kemerdekaan masyarakat juga tidak terlepas dari pemimpin dan orang-orang yang dipimpin. Kualitas kepribadian yang dapat memengaruhi kemerdekaan dalam masyarakat dari berbagai bentuk, adalah kepribadian otoriter dan konservatif. Selain itu, rasisme, dogmatism, serta pikiran yang tertutup juga menjadi faktor yang dapat menghambat suatu bangsa meraih kemerdekaannya[5].

Kemerdekaan yang Sesungguhnya?

Lantas seperti apakah makna kemerdekaan bagi kita? Apakah merdeka berarti bebas sebebas-bebasnya sesuai dengan kehendak kita? Bagaimana dengan kehidupan orang lain jika kita bebas untuk mencampurinya? Setidaknya terdapat dua hal yang digarisbawahi penulis dalam mendefinisikan kemerdekaan.

Secara umum, konsep kehendak bebas secara dekat dihubungkan dengan konsep tanggung jawab moral. Kita telah memahami bahwa kemerdekaan adalah hak sebagai individu. Selain itu, penelitian terkait dengan otonomi telah menemukan bahwa seseorang akan mencapai kesejahteraan psikologis apabila dirinya mampu mencapai beberapa indikator, salah satunya adalah otonomi dan perasaan mampu mengontrol diri dan kehidupannya. Meskipun demikian, ketika kita hidup di dunia ini sebagai makhluk yang berpikir dan bersosialisasi, kita seyogyanya memiliki kesadaran dan kecerdasan moral.

Kecerdasan moral dapat dipahami sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memproses informasi-informasi moral dan mengelola regulasi diri sedemikian rupa sehingga tujuan moral yang diinginkan dapat tercapai[6]. Seseorang yang cerdas secara moral adalah mereka yang memiliki keinginan untuk memperjuangkan tujuan-tujuan moral dan menggunakan prinsip-prinsip moral serta keterampilan mengatur diri sendiri dalam melakukan apa yang baik untuk masyarakat, manusia lainnya, ataupun makhluk hidup lainnya di luar manusia. Pengertian ini merupakan perluasan dari definisi awal Lennick dan Kiel tahun 2015 bahwa kecerdasan moral mengacu pada kapasitas untuk menerapkan standar moral universal pada nilai, tujuan, dan tindakan seseorang[6]. Dengan demikian, orang yang memiliki kesadaran dan kecerdasan moral akan dapat mengelola dirinya dalam bertindak sedemikian rupa untuk menunjukkan kemerdekannya, tanpa melanggar batas-batas orang lain dan senantiasa berlaku sesuai dengan standar moral yang adil dan bermanfaat bagi masyarakat dan makhluk hidup lainnya.

Selain itu, dalam menerapkan hak-hak kemerdekaan dalam suatu masyarakat, diperlukan suatu pagar yang dapat membatasi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi akibat kesewenang-wenangan ataupun mencegah terjadinya kecenderungan melanggar hak asasi manusia. Masyarakat yang merdeka perlu untuk membuat aturan-aturan hukum yang berlaku untuk semua individu yang ada dalam lingkup masyarakat yang merdeka. Tanpa hukum, kita tidak bisa mencapai masyarakat yang merdeka sesungguhnya. Mungkin, sebagai individu, seseorang bisa saja merdeka. Namun, bertemunya orang-orang merdeka perlu dipagari dengan hukum yang adil agar tercipta sistem yang mendukung kemerdekaan tersebut.

Sebagai penutup, kemerdekaan adalah hak setiap individu serta menjadi hak setiap bangsa. Diperlukan kesadaran dan kecerdasan moral setiap individu untuk dapat memaknai dan menerapkan kemerdekannya itu. Diperlukan hukum dalam suatu negara untuk mengatur warga -warganya dalam menjalankan kemerdekannya tersebut.

Selamat memaknai kemerdekaan. Dirgahayu Republik Indonesiaku.

Editor: Syurawasti Muhiddin
 




Referensi:

1.     Maitland, L.L. (2010). 5 Steps to A (5) AP Psychology. Chapter History and Approaches. New York: The McGraw-Hill


2.     Maitland, L.L. (2010). 5 Steps to A (5) AP Psychology. Chapter Social Psychology. New York: The McGraw-Hill

3.     Legault, L. (2017). Self-Determination Theory. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/317690916_Self-Determination_Theory. DOI. 10.1007/978-3-319-28099-8_1162-1

4.     Ackerman, C. (2019). Self-Determination Theory of Motivation: Why Intrinsic Motivation Matters. Diakses dari: https://positivepsychology.com/self-determination-theory/

5.     Presley, S. (2015). The Psychology of Freedom: An Introduction. Diakses dari: https://www.libertarianism.org/columns/psychology-freedom-introduction

6.     Tanner, C. & Christen, M. (2013). Moral Intelligence – A Framework for Understanding Moral Competences. Empirically Informed Ethics. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/259532302_Moral_Intelligence_-_A_Framework_for_Understanding_Moral_Competences.

Kamis, 25 Juli 2019

The Uniqueness of Your Child (Keunikan Setiap Anak)

Oleh: St. Khadijah Kitta

“Orang tua ingin anaknya menjadi yang terbaik” kalimat ini tentunya merupakan hal positif yang diinginkan oleh sebagian besar orang tua. Akan tetapi satu hal yang seringkali terlupa bahwa untuk menjadi yang terbaik tentunya membutuhkan sebuah standar. Pertanyaannya standar siapa yang digunakan oleh kebanyakan orang tua?  Diri anak sendiri ataukah anak lainnya?

Apabila yang dijadikan standar adalah anak lainnya semisal pencapaian teman-teman sebayanya ataukah pencapaian saudara-saudaranya maka tidak jarang hal inilah yang mendorong orang tua untuk kemudian membandingkan anak dengan anak lainnya. Membandingkan merupakan pendekatan umum yang seringkali digunakan untuk mendorong performa anak terutama dalam hal akademik di sekolah, seperti membandingkan nilai, skill, dan lainnya. Hal ini dapat membuat orang tua melupakan bahwa setiap anak berbeda dengan keunikannya masing-masing, dalam hal talenta, minat, kekurangan, ataupun kelebihan yang dimiliki anak.

Membahas tentang proses membandingkan diri, ternyata membandingkan diri adalah hal alami yang akan dilakukan oleh anak ketika mulai bersekolah (Chafel, J.A., 1985). Hal ini dilakukan anak untuk dapat mengetahui diri sendiri karena dengan membandingkan diri dengan orang lain anak dapat mengevaluasi kemampuan dirinya dan mengenali dirinya lebih dalam (Festinger, 1954). Akan tetapi, proses alamiah yang dialami anak dalam membandingkan dirinya dengan orang lain bukanlah untuk menjalankan sebuah kompetisi melainkan sebuah refleksi diri. Berbeda halnya ketika orang tua ataupun guru membandingkan anak dengan anak lain yang bertujuan agar dia dapat berubah dan masuk dalam situasi persaingan. Ternyata ada beberapa efek yang dapat dihadirkan dari proses membandingkan diri anak dengan orang lain yang perlu untuk diketahui orang tua, diantaranya (Being The Parent.Com, 2017):

  1. Membuat anak menjadi stress, hal ini dikarenakan anak yang terbebani atas perbandingan yang dilakukan.
  2. Self-esteem yang rendah, perbandingan yang diberikan akan meyakinkan  anak jika orang lain lebih baik dari pada dirinya.
  3. Harga diri yang rendah, dikarenakan tidak dihargainya usaha anak dan anak mulai mengikuti performa anak lain yang justru menghancurkan kepercayaan dirinya.
  4. Menghindari situasi sosial, hal ini dikarenakan anak yang mengalami reduksi dan ejekan dari perbandingan yang diberikan.
  5. Membangun sikap ketidakpedulian, karena anak merasa bahwa orang tua telah bahagia dengan anak lain yang lebih berprestasi maka anak akan tidak peduli untuk membuat orang tuanya merasa bahagia.
  6. Memadamkan talenta, adanya perbandingan membuat anak akan melakukan hal yang tidak sesuai dengan talentanya dikarenakan keinginan orang tua untuk menjadikan anak seperti orang lain.
  7. Berjarak dari orang tua, karena orang tua yang selalu membandingkan anak dengan saudara, sepupu, maupun temannya hingga membuat anak akan merasa tidak diterima dan tidak menyenangkan bagi orang tuanya. Perasaan tidak aman dan tidak percaya akan hadir dan membuat anak memilih menjauh dari orang tua.
  8. Merawat persaingan dengan saudara, ketika orang tua terus membandingkan anak dengan saudaranya hal ini dapat memulai kebencian anak terhadap saudaranya sendiri.

Tidak hanya dampak dalam keluarga, ternyata penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang kerap dialami anak adalah di lingkungan sekolahnya. Adanya perbandingan yang diberikan kepada anak dalam lingkungan sosial akan menghadirkan situasi yang kompetitif. Hal ini akan mendatangkan beberapa efek, yaitu yang pertama adalah dapat membuat anak menjadi frustasi di kelas dengan adanya kondisi yang sangat kompetitif, selain itu juga dapat menghadirkan kecemasan pada anak dan dapat menurunkan motivasi anak dalam meraih kesuksesan (Chafel, J.A., 1984).
Hal ini dapat memberikan informasi kepada orang tua maupun guru untuk menyadari adanya perbedaan setiap individu dengan keunikannya masing-masing. Tidak membuat anak untuk lebih dan terus membandingkan diri. Justru orang tua dan guru perlu untuk membantu anak menyadari potensi dan keunikannya tersendiri. Standar yang perlu digunakan adalah diri anak itu sendiri, sehingga anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal dan menjadi yang terbaik versi diri anak masing-masing.

Ada anak yang memiliki bakat dalam bidang seni, ada pula yang luar biasa dalam penguasaan bahasa. Ada yang sangat hebat dalam perhitungan, ada yang memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa, dan beribu keunikan anak-anak di luar sana. Penting untuk disadari bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk meningkatkan diri sesuai potensi mereka dan realisasi potensi merupakan salah satu sumber kesejahteraan dan kebahagiaan bagi individu (Seligman dan Csikszentminhalyi, dalam Jorgensen dan Hilde (2005). Sehingga orang tua ataupun guru perlu untuk mendukung anak berkembang sesuai potensinya dan berada di jalannya masing-masing.

Lebih mudahnya, mungkin kita dapat menyemangati anak untuk “tidak perlu menjadi yang terbaik di kelas ataupun lingkungan sosialnya, cukup lakukan yang terbaik saja”
Selamat Hari Anak Nasional ☺

Referensi
Being The Parent.Com (2017). Stop Comparing Your Child with Others.  https://www.beingtheparent.com/stop-comparing-your-child/ (diakses pada 22 Juli 2019)

Chafel, J.A. (1985). Social comparison and the young child: Current research issues. Early Child 

Development and Care. (21) (1-3) (35-59).

Chafel, J.A. (1985). Social comparisons by young children in classroom contexts.  Early Child 
Development and Cate. (14) (1-2) (109-124).

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations. (7) (117-140)

Jorgensn, I. S., & Hilde, E.N. (2005). Posotive Psychology: Historical, Philosophical, and Epistemological Perspective. Tidsskrift for Norsk Psykologforening. Norwegia: (42) (885-889)

banner