Minggu, 27 Januari 2019

Perjalanan Berdamai dengan Diri Sendiri Melalui Profesi Psikologi

Menjadi seorang Psikolog, sebuah cita-cita? hasrat untuk membantu sesama? atau bentuk dari usaha pencarian jati diri dan pemahaman akan dunia?.


Panggil saja aku Nita. Seorang perempuan yang saat ini berusia 24 tahun dan masih mencari jati diri hingga saat ini. Cita-cita menjadi seorang Psikolog secara tiba-tiba tercetus ketika aku sedang melamun saat usiaku masih 16 tahun. Saat itu aku tidak tahu cita-citaku apa, impian, pekerjaan yang ingin aku capai setelah tamat dari bangku SMA. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan memasuki sebuah profesi yang banyak dipersepsikan orang-orang serupa dengan “dukun”. Aku mulai merasakan itu setelah masuk kuliah S1 pada tahun 2012. Setiap kali aku bertemu dengan orang baru dan menyatakan bahwa aku berkuliah di jurusan Psikologi, maka respon mereka “eh tolong baca pikiran saya dong”, “wah kamu pasti bisa baca karakter orang-orang kayak gimana ya”  dan yang lebih parahnya beberapa orang yang ku temui dapat mengatakan seperti ini “eh keliatan enggak aku lagi stress”, “eh coba liat dia lagi stress gak tuh”, atau orang tersebut memaksa untuk minta di berikan tes Psikologi untuk mengetahui kepribadiannya tanpa adanya keluhan apapun terlebih dahulu. Respon tersebut muncul bahkan disaat aku berkenalan dengan orang baru. Pada awalnya aku merasa itu sebuah lelucon, namun semakin lama aku merasa kesal mendengar respon tersebut. Dibalik hal tersebut, aku selalu berusaha berpikir bahwa masih banyak orang yang belum memahami betul pekerjaan dari Profesi Psikologi dan mulai menjelaskan bahwa seorang Psikolog mempelajari perilaku manusia berdasarkan pada hal yang tampak  dan terukur, sehingga tidak seperti dukun yang menebak berdasarkan pada hal-hal yang menjadi kepercayaannya. 

Sampai sejauh ini, aku merasa bersyukur bisa menjalani kuliah Psikologi, meskipun ini bukan perjalanan yang mudah. Selama berkuliah, aku mulai banyak menyadari hal-hal yang bersifat menyimpang dalam diriku sekaligus potensi yang aku miliki. Mempelajari ilmu Psikologi pastinya akan banyak mereview kehidupan di masa lalu dan aku meyakini apapun yang ku alami di masa lalu memiliki pengaruh yang besar terhadap karakterku saat ini. Memasuki dunia Psikologi berarti belajar untuk berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu mendamaikan kondisi orang lain. Aku mulai merasakan perjalanan berdamai dengan diri sendiri setelah berkecimpung dalam profesi ini. Bukan perjalanan yang mudah, terutama untuk pribadiku yang cenderung mengutamakan aspek emosi dibandingkan logika. Konflik dalam keluarga, relasi sosial, dan krisis kepercayaan diri menjadi permasalahan yang perlu aku selesaikan. Label “sakit” kadang aku sematkan pada diriku sendiri setelah menyadari banyak pengalaman kurang menyenangkan yang aku alami dan berdampak pada keseluruhan aspek kehidupanku saat ini. Aku kerap menyalahkan diriku sendiri maupun orang lain atas kejadian apapun yang terjadi. Aku tidak berusaha melihat sisi positif dari setiap kejadian yang terjadi. Perasaan tidak berharga, pemikiran untuk bunuh diri, merasa kesal dengan anggota keluarga sendiri maupun teman-teman terdekat menjadi hal-hal yang sering membuatku dilema dan tidak mengerti tujuan hidupku sendiri. 

Menyadari banyak pengalaman negatif yang sering aku rasakan, membuatku belajar untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan berkomunikasi dengan diri ku sendiri. Ketika mulai menghadapi permasalahan dan belum menemukan solusi, secara perlahan aku mulai bertanya kepada Tuhan, hal apa yang ingin Tuhan tunjukkan kepadaku, memohon untuk selalu diberkati untuk segala usaha yang ku lakukan dan mengikhlaskan hal apapun yang terjadi, baik itu yang menyenangkan ataupun tidak. Selain dengan Tuhan, aku juga mulai berkomunikasi dengan diri ku sendiri. Self talk menjadi bentuk intervensi bagi diriku sendiri. Di dalam proses self talk tersebut juga ku sisipkan afirmasi positif dan proses menemukan sisi rasional dari kejadian yang aku hadapi. Apapun yang aku inginkan, perasaan apa yang ingin aku sampaikan dan hal apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku komunikasikan dengan driku sendiri selayaknya berkomunikasi dengan orang lain. Aku menemukan ketenangan dan belajar untuk tidak memaksakan egoku setelah melakukan self talk. Pandangan tentang hidup tidak selalu menjadi negatif. Aku belajar untuk menertawakan hidup ini dan menekankan bahwa perjalanan hidup adalah perjalanan yang seru. Selalu mencari makna dan cara untuk berdamai dengan segala kejadian yang dihadapi.

Berbagai pelajaran yang aku temui selama berproses dengan diri sendiri terkadang ku sisipkan menjadi bagian dari sesi konseling saat bertemu dengan klien-klienku saat ini. Pengalaman untuk belajar menangani klien secara profesional menjadi pengalaman seru yang belum pernah aku dapatkan sebelum memasuki kuliah S2. Beberapa dosen pun menyampaikan bahwa klien yang kita hadapi sedikit tidaknya akan menunjukkan refleksi diri kita sendiri. Ya, hal tersebut benar adanya. Aku mulai merasakan adanya persamaan dan tantangan yang ku hadapi ketika membantu para klien. Apapun permasalahan yang mereka hadapi, pasti memiliki dasar permasalahan yang serupa dengan permasalahan yang aku hadapi selama hidup. Masalah kecemasan, afeksi, emosi, hubungan dengan orangtua ataupun permasalahan dengan relasi sosial sering menjadi dasar permasalahan para klien yang pernah ku tangani. 

Setiap mendengarkan cerita hidup mereka, sedikit tidaknya membuatku tersadar bahwa ada bagian dalam hidupku yang serupa dengan mereka. Langkah selanjutnya adalah membantu para klien ini menemukan solusi atau insight untuk menerima dan menyelesaikan masalah mereka. Secara tidak langsung, aku pun ikut belajar untuk mengatasi konflik-konflik yang belum selesai dalam hidupku. Dari mereka aku menyadari bahwa kehidupan ini kompleks, selalu ada variasi bentuk permasalahan dan pembelajaran baru yang kami temukan bersama. Kehidupan tidak akan seimbang apabila hanya kesehatan fisik saja yang dijaga, namun juga mental. Kondisi fisik pun akan ikut terganggu saat mental mulai berada dalam kondisi yang tidak stabil. Ketika para klien yang ku tangani mulai menyebutkan adanya gejala fisik yang muncul, maka terkadang hal tersebut berpengaruh terhadap kesadaranku akan permasalahan fisik yang ku alami saat berada di bawah kondisi stress. Ketika memberikan intervensi kepada klien, maka secara tidak langsung aku juga belajar berdamai dengan kekurangan dan permasalahan yang aku hadapi selama ini. Aku percaya bahwa kehadiran para klien ataupun orang-orang yang bersedia menceritakan permasalahannya menjadi salah satu bentuk perpanjangan tangan Tuhan yang sedang bekerja untuk membantuku menemukan makna hidup. 

Menurutku, memahami permasalahan orang lain tidak sesulit dengan memahami pesan Tuhan yang ingin disampaikan melalui berbagai kejadian ataupun kehadiran orang lain dalam hidup kita. Terkadang kita perlu belajar untuk tidak menanyakan maksud orang lain memperlakukan kita dengan baik ataupun buruk, namun bertanyalah kepada Tuhan pesan positif apa yang ingin ia sampaikan dalam hidup kita. 


Penulis : Putu Yunita Trisna Dewi, S.Psi
(Mahasiswa Magister Profesi Psikologi UNAIR 2017)

Senin, 21 Januari 2019

Referensi | Bersyukur: Sederhana yang Penuh Kekuatan"

Referensi:
1)  Peterson, C. & Seligman, M. E. P. (2004). Character Strength and Virtues: A Handbook And Classifications. New York; Oxford University Press.
2)  Muhiddin, S. (2017). Penguatan Gratitude untuk Membangun Kesehatan Mental Komunitas. Diakses dari: https://www.academia.edu/30684917/Penguatan_Gratitude_untuk_Membangun_Kesehatan_Mental_Komunitas
3)  https://www.viacharacter.org/www/Character-Strengths/Gratitude
4)  Park, N., Peterson, C. & Seligman, M.E.P. (2004). Strengths of Character and Well-Being. Journal of Social and Clinical Psychology, 23 (5), 603 – 619.
5)  Rash, J.A.,Prkachin, K.M. & Matsuba,K. (2011). Gratitude and Well-Being: Who Benefits the Most from a Gratitude Intervention?. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/233784842_Gratitude_and_Well-Being_Who_Benefits_the_Mostfrom_a_Gratitude_Intervention
6)  Lai,S.T. (2014). The Efficacy of Gratitude Practice on Well-Being: A Randomized Controlled Trial. Thesis. Psychology, School of Natural Sciences, University of Stirling. Diakses dari: https://www.stir.ac.uk/media/schools/is/files/LaiMSc2014.pdf
7)  Wood,A.M., Froh, J.J., & Geraghty, A.W.A. (2010). Gratitude and well-being: A review and theoretical integration. Clinical Psychology Review, 0272-7358. doi:10.1016/j.cpr.2010.03.005.

HaloIde project

example
Overall Goal:
Meet ideas conceptors, individuals who have problems with mental health practitioners in Indonesia. This is done to maximize the creative ideas of Indonesian youth through electronic media and also become a source of information related to mental health. To create collaboration that is innovative, effective and efficient.

Idea:
We will use digital media to gather ideas, stories about sufferers' experiences and activities in the field or research for mental health practitioners in a smartphone application. All forms of ideas will be submitted in the form provided. We provide several features in sharing all forms of ideas, stories and activities. There is a description of the features that we will include in the event:
a. Post idea: in the form of ideas, stories or mental health related activities. In the ideas section, the latest and innovative ideas are expected to emerge in developing mental health in Indonesia. Next, in the story section, we hope that users will share their experiences in dealing with mental health phenomena around them. In the activity section, the user is expected to provide information regarding activities that have been carried out in improving mental health.
b. Comments: we have prepared a comment column for each post.
c. Share: this is useful in sharing posts that are considered to be able to inspire other social media users related to mental health innovations.

Resources Needed:
We need experts in making applications, marketing and scientists related to mental health.

Outcomes:
We want to bring together ideas makers, practitioners and those who have mental health problems in one application, making it easier to exchange information related to mental health. This application can also be one of the data in proposing mental health policies in the government

by Azmul

Bersyukur: “Sederhana yang Penuh Kekuatan”



Aku bukanlah pahlawan yang menyelamatkan suatu desa dari bencana. Aku bukan artis terkenal yang memiliki banyak penggemar, mobil mewah dan bisa liburan ke mana-mana. Aku juga bukan politisi yang tinggal di rumah mewah dan mendapatkan banyak penghargaan dari rakyat. Aku adalah diriku. Mungkin saja orang lain melihat tak ada yang istimewa dariku, tak ada yang perlu disyukuri dengan semua keadaan yang serba biasa ini. Namun, bukankah selalu ada alasan?

Untuk setiap kesempatan membuka mata di pagi hari. Kesempatan terbangun, menghirup udara segar  dan mendengar kicauan burung khas pagi hari. Kesempatan melihat matahari terbit dari jendela kaca rumah yang tak besar tapi layak. Kesempatan menikmati sarapan bersama orang yang disayangi. Kesempatan tersenyum dan bertemu rekan-rekan. Bukankah tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Semua itu adalah alasan untuk berterima kasih atas kehidupan ini. Sederhana, tetapi itu memberikan suatu kekuatan yang besar.

Bersyukur, berterima kasih, memberikan apresiasi. Seringkali hal itu terlupakan dalam hiruk pikuk kehidupan kita sekarang ini. Bahkan semua itu tenggelam dalam arogansi, narsisme, dan egoisme yang memunculkan perilaku dan perkataan tidak layak. Alih-alih bersyukur dan berterima kasih, perkataan kasar nan menyakitkan hati justru muncul dari tak adanya penghargaan.

Bersyukur (Kebersyukuran) dalam literatur psikologi positif diistilahkan sebagai gratitude. Gratitude merupakan salah satu kekuatan karakter yang tergabung dalam kategori virtue transcendence, suatu virtue yang menggambarkan kekuatan yang dapat memberikan rasa keterhubungan atau koneksi yang luas kepada suatu makna dan tujuan yang lebih tinggi dari pada diri kita sendiri (1). Sesuatu yang berada di luar diri kita.

Peterson dan Seligman menyatakan bahwa gratitude adalah rasa berterimakasih dan bahagia sebagai respon penerimaan terhadap karunia, baik yang dirasakan secara nyata atau berupa keadaan nyaman, aman, dan terjadi secara alamiah (1). Emmons dan McCullough menyatakan bahwa gratitude pada dasarnya adalah sebuah emosi yang positif, yaitu perasaan menyenangkan dan bersyukur atas pemberian atau manfaat yang didapatkan. Gratitude bertolak belakang dengan emosi negatif seperti marah, cemas, dan cemburu (2).

Gratitude dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu personal dan transpersonal. Personal gratitude adalah rasa terima kasih yang ditujukan kepada orang lain secara khusus yang telah memberikan kebaikan (1). Personal gratitude juga dapat dimaknai sebagai rasa terima kasih yang dipicu oleh adanya manfaat yang diterima (Benefit-triggered Gratitude), merupakan keadaan yang muncul ketika manfaat yang diinginkan itu diterima dari seseorang (3). Sementara itu, transpersonal gratitude adalah ungkapan terima kasih terhadap Tuhan, atau kepada kekuatan yang lebih tinggi, atau kepada dunianya (1). Pada sumber lain disebutkan istilah rasa terima kasih umum atau disamaratakan (Generalized Gratitude), yang diartikan sebagai rasa terima kasih yang dihasilkan dari kesadaran dan penghargaan atas apa yang berharga dan bermakna bagi diri individu (3).

Gratitude setidaknya mencakup tiga komponen di dalamnya berdasarkan penjelasan Fitzgerald. Pertama adalah apresiasi yang berupa penilaian dan penghargaan terhadap orang lain serta perasaan hangat (misalnya cinta dan kasih sayang) untuk seseorang atau sesuatu. Kedua adalah kehendak yang baik yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu, misalnya kehendak untuk membantu orang lain yang kesusahan dan keinginan untuk berbagi. Ketiga adalah kecenderungan untuk bertindak positif dalam rangka memberikan penghargaan dan berkehendak baik pada orang lain, lingkungan, dan Tuhan, seperti membalas kebaikan orang lain dan beribadah (2). Dengan demikian, gratitude tidak hanya berupa rasa dan kehendak yang tidak tampak, melainkan juga berupa tindakan yang dapat diamati.

Cicero menyatakan bahwa gratitude bukan hanya kebajikan yang utama, tetapi induk dari semua kebajikan lainnya. Hal ini dapat didukung oleh berbagai hasil penelitian yang telah menunjukkan bahwa gratitude dapat meningkatkan well-being (kesejahteraan) individu bahkan dalam jangka panjang. Suatu penelitian oleh Park, Peterson dan Seligman yang dipublikasikan tahun 2004 menunjukkan bahwa gratitude berhubungan dengan kepuasan hidup yang dibandingkan dengan kekuatan karakter lainnya. Kepuasan hidup merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui kondisi well-being. Hope (harapan) dan zest (semangat) secara berurutan menduduki posisi pertama dan kedua di atas gratitude (4).

Hasil penelitian Rash, Prkachin, dan Matsuba (2011) juga menunjukkan hubungan antara kebersyukuran dan kesejahteraan ini, yaitu bahwa perenungan (kontemplasi) bersyukur dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan jangka panjang (5). Selain itu, penelitian  Siew Tim Lai (2014) menemukan bahwa menghitung berkah (counting blessing) dapat meningkatkan kesejahteraan dan dapat dimasukkan sebagai suatu bentuk psikoterapi dalam rangka meningkatkan kebahagiaan sementara (6). Gratitude relevan dengan psikologi klinis karena adanya penjelasan yang kuat dalam memahami hubungannya dengan well-being dan potensi mengembangkan well-being tersebut melalui peningkatan gratitude dengan latihan-latihan sederhana (7). Dari penjelasan ini dapat pula dipahami bahwa gratitude dapat meningkatkan kesehatan mental individu-individu, yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan mental pada level keluarga dan komunitas.

Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk membiasakan diri bersyukur? Mari kita mulai dengan langkah-langkah sederhana. Cara-cara mudah ini dilakukan secara rutin sehingga dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang kemudian berubah menjadi kekuatan karakter. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

1.   Sisihkan setidaknya sepuluh menit setiap hari untuk menikmati pengalaman yang menyenangkan. Anda bangun di pagi hari, menikmati udara yang segar, menyaksikan matahari terbit, menikmati teh hangat dan mandi air hangat. Tak melulu harus pengalaman di luar rutinitas sehari-hari Anda. Di perjalanan menuju tempat kerja atau kampus, cobalah untuk menikmati realitas yang ada di sekitar Anda dan berterima kasih bahwa kita masih bisa merasakannya.

2.   Menuliskan tiga hal baik yang Anda syukuri setiap harinya. Ini dapat anda lakukan dalam jurnal harian Anda, yang mungkin Anda sebut sebagai jurnal kebersyukuran atau dengan istilah lainnya yang Anda sukai. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya di akhir pekan, Anda melihat semua yang sudah ditulis dan Anda akan menemukan bahwa banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup Anda. Jadi sekali lagi, tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Beberapa teknik-teknik tertentu untuk meningkatkan gratitude seperti expressive writing, gratitude journaling dan counting blessing.

3.   Melakukan ritual ibadah kepada Tuhan bagi penganut kepercayaan tertentu. Misalnya melakukan dzikir ataupun puji-pujian untuk  memuji kebesaran Tuhan.

4.   Melakukan kontemplasi ataupun refleksi setiap harinya secara rutin untuk menemukan hal-hal baik yang sudah terjadi pada diri kita sepanjang hari itu dan mengapresiasinya. Refleksi harian ini bisa dilakukan di malam hari setelah semua aktivitas selesai atau menjelang tidur.

5.   Selalu mengucapkan kata “terima kasih” kepada orang lain, sekecil apapun manfaat yang diberikan orang lain itu kepada Anda, atau bahkan tidak terpikirkan. Ucapkan kepada supir atau tukang ojek yang sudah mengantar Anda, kepada satpam di tempat kerja, kepada teman yang sudah mengirimkan informasi melalui pesan elektronik, dan seterusnya.

6.   Mendengarkan musik instrumen, lagu, ataupun menonton film yang bertemakan kebersyukuran. Contoh lagu dengan tema gratitude adalah Poems, Prayers and Promises (John Denver) dan  Thank You  (Bonnie Raitt). Contoh film yang bertemakan kebersyukuran adalah It's a Wonderful Life, Groundhog Day dan Fearless.

7.   Berteman ataupun bergabung dengan orang lain yang senantiasa bersyukur agar emosi itu dapat ditularkan kepada kita dan kita senantiasa termotivasi.

8.   Selalu melihat orang yang lebih kekurangan (di bawah) dari diri kita. Manusia senantiasa memiliki keinginan-keinginan lebih dan tidak pernah puas dengan pemenuhan satu keinginan. Oleh sebab itu, penting untuk melihat orang yang mungkin tidak seberuntung posisi kita saat ini agar kita senantiasa bersyukur dan berniat untuk menolong orang tersebut sebagai wujud kesyukuran kita.

Kita seyogyanya senantiasa mengingat bahwa kehidupan dan segala peristiwa indah nan bahagia di dalamnya adalah hadiah yang patut disyukuri, bukan hak kita yang memang perlu dituntut agar diperoleh. Kehidupan yang indah ini adalah alasan mendasar yang membuat kita patut bersyukur. Kita juga seyogyanya mengingat bahwa kehidupan ini bukanlah kehidupan kita sendiri, kita terhubung dengan orang lain. Kita membutuhkan pertolongan-pertolongan dari mereka sehingga  selalulah mengapresiasi kebaikan-kebaikan yang orang lain berikan.

Hal yang juga penting adalah melepaskan keinginan-keinginan untuk memiliki segalanya, terutama keinginan memiliki materi. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Kerelaan kita menerima ketidaksempurnaan itupun adalah salah satu bentuk dari kebersyukuran kita. Jika seseorang berhak atas segalanya, maka dia mungkin saja tidak akan bersyukur untuk apapun, kata Seligman dan Peterson. Dia mungkin tidak akan mengenal dan mengembangkan rasa terima kasih itu. Menjadi rakus akan segala hal justru membuat kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin pada suatu titik kita akhirnya menyadari bahwa menginginkan banyak hal justru membuat kita memiliki sedikit hal. Cintailah apa yang kita miliki. Bersyukurlah dan kita akan merasa lebih tenang dan bahagia. Selalu katakan “terima kasih” kepada setiap orang. Kata ini sederhana namun memiliki kekuatan positif yang besar.
Terima kasih :-)

Sabtu, 12 Januari 2019

Mawar yang Mekar Tidak Akan Mengabarkan Keindahannya: Sebuah Perspektif tentang Kehidupan yang Bermakna


Penulis : Afga
Editor : Syura

Salah satu sifat manusia adalah kebutuhan akan pengakuan. Setiap orang ingin diakui, diketahui, dan dipahami. Hampir setiap orang ingin dikatakan cantik, pintar, kaya, menarik, langsing, tampan, baik, dermawan, rendah hati, dan seterusnya. Semua kebutuhan akan pengakuan tersebut merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Hampir tidak ada orang yang tidak ingin dicintai dan diakui kehadirannya. Maslow (dalam Derobertis & Bland, 2017) sebagai salah satu pencetus teori hirarki kebutuhan, mengemukakan bahwa kebutuhan akan pengakuan dan penghargaan, merupakan salah satu bentuk kebutuhan yang seyogianya dipenuhi agar seseorang dapat mencapai aktualisasi diri. Seseorang yang mencapai aktualisasi diri mampu mengembangkan segala potensi dan kualitas dirinya untuk menjadi diri yang sesuai fitrah.

Setiap orang menunjukkan kebutuhan akan pengakuan dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang yang gemar memamerkan prestasi dan segala pencapaian hidupnya di media sosial. Ada orang yang sering kali mengekspos gaya hidup hedonisnya. Ada orang yang selalu ingin dikatakan baik, pintar, dan tahu segalanya. Ada juga orang yang tidak segan memamerkan kemesraan hubungannya di dunia maya. Setiap orang cenderung berlomba-lomba untuk pamer, ingin dibilang, dan ingin diakui, seolah-olah kehidupan tidak akan bermakna ketika kelebihan yang dimiliki tidak disampaikan ke banyak orang.

Kebutuhan akan pengakuan memang merupakan hal yang manusiawi, namun pada intensitas tertentu kebutuhan tersebut menjadi tidak rasional. Kebutuhan akan penghargaan memang membantu seseorang untuk mencapai aktualisasi diri, namun pandangan tersebut perlu untuk lebih dipahami dengan arif. Seseorang dapat memenuhi kebutuhan akan self-esteem (kebutuhan akan penghargaan, berprestasi, respek dari orang lain) tanpa harus pamer, berimpresi, dan terkesan merendahkan orang lain. Orang-orang yang mencapai aktualisasi diri, pada dasarnya tidak membutuhkan pengakuan dan penilaian orang lain. Mereka mengembangkan potensi dan kualitas diri berdasarkan atas keyakinan akan kebenaran yang dianut.

Kehidupan modern yang sarat akan kebutuhan untuk populer, menjadikan orientasi kompetisi berkembang pesat. Orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik berdasarkan standar penilaian orang lain. Kehidupan pun menjadi tidak lagi nyaman, karena sesak dan dipenuhi oleh orang-orang yang selalu ingin unggul, ingin dibilang, dan menganggap diri mereka lebih baik dibandingkan orang lain. Orang-orang yang berorientasi kompetisi sejatinya mereka lelah dan lama kelamaan akan kekurangan energi untuk menjalani kehidupan. Mereka kehilangan diri mereka yang otentik karena sibuk berkompetisi. Mereka selalu tergesa-gesa karena sejatinya mereka kurang bahagia dan memaknai hidup.

Kehidupan yang penuh dengan kompetisi tersebut, menjadi neraka bagi orang-orang tertentu. Sebagian orang yang merasa kalah bersaing dan tersisihkan akan merasa rendah diri, bahkan pada kasus-kasus tertentu, mereka rentan terkena depresi hingga melakukan bunuh diri. Badan Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Prevalensi kasus bunuh diri di tanah air mencapai lima ribu kasus pada tahun 2010 dan terus meningkat dua kali lipat di tahun-tahun selanjutnya (Komunitas Into The Light Indonesia, 2018). Salah satu hal yang menjadi penyebab utama dari maraknya kasus bunuh diri tersebut, yaitu semakin meningkatnya persaingan sosial, selain karena masalah pribadi seperti kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, masalah relationship, dan sebagainya.

Setiap orang tampaknya perlu untuk lebih rendah hati dan lebih arif agar terhindar dari kesan butuh pengakuan yang berlebihan. Hampir setiap orang tampaknya kehilangan karakter Humility di dalam diri mereka. Setiap orang membutuhkan karakter Humility agar terhindar dari rasa haus akan pamer dan menganggap diri lebih tinggi dibandingkan orang lain. Peterson dan Seligman (2004) menggambarkan orang yang Humility sebagai sosok yang tidak butuh pengakuan dan popularitas. Orang yang Humility memiliki banyak pencapaian dan prestasi, namun mereka memilih untuk tidak mengumumkannya kepada orang lain. Orang yang Humility memiliki prinsip hidup, “Saya tidak perlu populer di hadapan manusia, selama saya populer di hadapan Tuhan”.

Karakter Humility merupakan salah satu dari keempat karakter dalam kebajikan Temperance dalam teori Core Virtue yang digagas oleh Peterson & Seligman (2004). Humility menjadi karakter yang paling sulit untuk dicapai oleh manusia, dibandingkan dua puluh empat karakter lainnya. Humility merupakan karakter rendah hati yang memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekedar “Humble”. Orang Humility tidak membutuhkan pengakuan dan kepopuleran dari orang banyak. Karakter ini sulit untuk dicapai karena keinginan untuk diakui merupakan dorongan dasar manusia (Peterson & Seligman, 2004). Ketika banyak orang yang memamerkan prestasi-prestasinya, orang Humility yang juga memiliki berbagai prestasi dan kualitas diri, memilih untuk tidak menyiarkannya ke orang lain. Mereka meyakini bahwa segala pencapaian dalam hidup, bukanlah untuk diketahui orang lain, tapi untuk mengembangkan diri menjadi manusia yang sebagaimana fitrahnya.

Orang Humility memiliki berbagai prestasi dan kualitas diri yang memungkinkan mereka untuk dikenal dan dikagumi banyak orang. Orang yang memiliki karakter Humility, tidak berarti mereka tidak memiliki pencapaian dalam hidup (Peterson & Seligman, 2004). Hanya saja mereka jarang terekspos dan diketahui, karena mereka tidak pernah memamerkan kebaikan ataupun prestasi yang dimiliki. Orang yang seperti ini, jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di kehidupan modern ini, di mana orang-orang dengan mudahnya membagikan prestasi, pengalaman, kebahagiaan, kebanggaan, melalui media sosial.

Karakter Humility dapat dikembangkan dengan pembiasaan sejumlah karakter yang mengarah kepada Temperance. Temperance merupakan kebajikan yang melindungi manusia dari sifat yang berlebihan. Sejumlah karakter yang dapat membantu pengembangan Humility, misalnya self-regulation (regulasi diri), prudence (mawas diri), forgiveness (pemaafan), dan karakter lainnya yang sejenis (Peterson & Seligman, 2004). Seseorang tidak akan memiliki karakter Humility, apabila regulasi dirinya rendah. Begitupun seseorang akan sulit mencapai Humility, apabila tidak senantiasa mawas diri (prudence).

Keluarga memiliki tanggung jawab untuk melatihkan karakter Humility kepada anak. Anak mengembangkan karakter Humility melalui modelling perilaku orang tua mereka. Oleh karena itu, orang tua seyogianya memberikan teladan terkait karakter Humility kepada anak. Selain itu, orang tua juga dapat melatihkan karakter tersebut melalui pemberian umpan balik dan apresiasi. Orang tua memberikan umpan balik kepada perilaku anak yang mengarah kepada arogansi, pamer, dan merendahkan orang lain. Selain pemberian umpan balik, orang tua juga perlu mengapresiasi keberhasilan yang dicapai oleh anak sekaligus mengajarkan anak untuk rendah hati mengapresiasi karya orang lain (Peterson & Seligman, 2004).

Seseorang pada dasarnya dapat mengembangkan karakter Humility melalui inner journey dan penghayatan mendalam terhadap pengalaman hidup. Bagaimanapun juga, karakter tersebut merupakan proses yang sangat sulit dicapai dalam hidup. Seseorang perlu mengenali dirinya yang otentik sebagaimana yang Tuhan ciptakan, untuk dapat menyadari hakikat hidup dan memaknainya. Seseorang yang telah mengenali dirinya dan memaknai hidupnya, sejatinya tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain. Bukanlah tanpa alasan, orang-orang Humility sangat sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari karena pada dasarnya mereka tidak menonjol dan jarang terekspos.

Kehidupan akan menjadi lebih indah ketika setiap orang mampu mengembangkan karakter Humility. Ketika kebanyakan orang menganggap hidup bertujuan untuk mencapai sebanyak-banyaknya prestasi dan pengalaman, orang-orang arif justru meyakini Humility sebagai pencapian terbesar dalam hidup, yang seyogianya menjadi tujuan akhir kehidupan setiap orang. Bagaimanapun juga, kehidupan bertujuan untuk mencapai kebenaran dan ketulusan hati, bukannya banyak pencapaian dan prestasi.

Orang-orang yang memiliki karakter Humility ibarat mawar yang tidak perlu menjelaskan keindahannya, karena semua orangpun tahu bahwa mawar itu indah tanpa perlu dijelaskan. Mereka memang tidak populer di hadapan manusia, namun mereka menjadi yang terpopuler di hadapan Tuhan.

Referensi:

Derobertis, E. M. & Bland,  A. M. (2017). The Humanistic Perspective in Psychology. USA: Springer International Publishing.

Komunitas Into The Light Indonesia. (2018). Angka Bunuh Diri di Indonesia Meningkat. [online] https://www.intothelightid.org. Diakses pada 4 Desember 2018.

Peterson, C. & Seligman, M. E. P. (2004). Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. Washington DC.: American Psychological Association.



Kamis, 10 Januari 2019

Sinopsis Film: The Perks of Being a Wallflower (2012)


Film ini disutradarai oleh Stephen Chbosky

Film tak pernah ketinggalan, tak pernah ditinggalkan, tak lekang oleh waktu dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Film menjadi salah satu sarana hiburan kita, guys, di tengah kesibukan kita dengan berbagai rutinitas yang kadang begitu melelahkan dan membosankan. Lebih dari itu, guys, dari film kita bisa belajar sesuatu, kita bisa mendapatkan insight, sebab kadangkala cerita film itu diangkat dari kisah nyata yang mana kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Film juga dibuat untuk menyampaikan pesan tertentu, ada yang tersurat dan ada pula yang tersirat.

Nah, Halo Jiwa ingin menceritakan sinopsis dari salah satu film bertema psikologi dan kesehatan mental tentunya. The Perks of Being a Wallflower adalah film drama romantis Amerika Serikat tahun 2012 yang disutradarai oleh Stephen Chbosky. Naskah film ini ditulis oleh Stephen Chbosky berdasarkan novel The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky. Film ini dibintangi oleh Logan Lerman, Emma Watson dan Ezra Miller (Wikipedia.org). Film ini mendapatkan review positif dari para kritikus loh guys. Yuk simak cerita singkatnya. 

Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, baru saja masuk SMA. Ia adalah anak yang sangat pendiam dan pemalu, membuatnya tidak memiliki teman. Keanehannya membuat teman-teman di sekolahnya melakukan bullying padanya. Ia adalah anak bungsu dari satu keluarga dengan tiga anak, dua laki-laki, satu perempuan. Pada satu malam, ia melihat saudara perempuannya berkelahi dengan kekasihnya. Kekasih saudara perempuannya memukul saudara perempuannya, itu membuatnya marah. Namun, saudara perempuannya menahannya dan mengatakan “Jangan, jangan membangunkan ayah dan ibu”.

Satu hari, salah seorang teman sekolahnya membuat sebua pesta. Ia datang ke pesta itu. Di pesta itu ia bertemu dengan seorang laki-laki dan perempuan, yang hebatnya mengajaknya berdansa tanpa menganggapnya aneh. Sejak saat itu mereka berteman. Ia mulai menemukan teman baru. Ya, teman baru. Teman lamanya meninggal bulan Mei yang lalu karena bunuh diri.

Mereka jadi sering berpesta bersama. Hingga pada satu pesta yang mereka hadiri bersama, seorang anak laki-laki yang terkenal di sekolahnya juga hadir. Tapi ia tidak mempedulikan hal itu, karena ia bersama teman-temannya. Tidak, sampai anak yang lain membuatnya mabuk untuk pertama kalinya. Ia izin ke toilet yang ternyata ada di ruangan atas. Saat ia membuka salah satu pintu di atas ternyata ruangan itu bukanlah toilet, melainkan sebuah kamar. Kamar yang ia dapati teman laki-lakinya sedang mencium anak laki-laki yang terkenal di sekolahnya. Temannya segera menariknya keluar dari kamar itu, dan mengatakan “Jangan memberitahu siapapun, ia tidak ingin ada yang tahu. Ini rahasia kita”. Ia menjawab “Aku sedang mabuk” jawaban itu membuat temannya tenang.

Setelah pesta itu, teman perempuannya mengajaknya ke rumahnya, ke kamarnya. Mereka memiliki selera musik yang sama, sehingga mereka mendengarkan musik sambil menceritakan beberapa hal. Semua cerita terasa seru, hingga teman perempuannya menanyakan satu hal, “Kau sudah mendapatkan first kiss mu?” ia hanya bisa menggeleng, dan bertanya kembali “Bagaimana denganmu?” Temannya mulai menceritakan “Ya, waktu aku berumur sebelas tahun.” Dia tertarik untuk bertanya lebih jauh “Apa ia pacar pertamamu di SMP?” Temannya terdiam, dan menceritakan “Ia sering datang ke rumah, teman kerja ayahku.” Cerita itu membuat otaknya kembali menampilkan hal-hal yang ia benci.

Di liburan natal, kakak laki-lakinya pulang ke rumah, dan bertanya ketika tinggal mereka saja di ruang makan “Apa kau baik-baik saja? Kau tahu maksud pertanyaanku.” Ia terdiam sebelum menjawab “Aku bisa menanganinya. Aku sudah punya beberapa teman yang membuat ingatan-ingatan itu tidak terlalu mengganggu. Terlebih karena aku punya seorang teman perempuan yang membuatku nyaman, ia sangat luar biasa.”

 Baca juga cerita tentang: Berdamai dengan "monster"

Di pesta lain, teman perempuannya mengenalkan kekasihnya padanya, namun itu tidak membuatnya kaget. Di pesta itu, seorang teman perempuan lain mengajaknya mejadi teman kencannya, ia mengiyakan. Jadilah setelah pesta itu mereka menjadi sepasang kekasih. Di satu malam, mereka bertiga dengan pasangan masing-masing dan beberapa teman lain mengadakan pesta kecil. Mereka bermain truth or dare, permainan itu ia jadikan peluang untuk memutuskan hubungannya yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman. Namun, permainan itu membawanya pada petaka ketika teman laki-lakinya memberinya tantangan untuk mencium perempuan tercantik di pesta itu. Ya, ia mencium teman perempuannya, bukan kekasihnya. Ia menciumnya di depan semua orang termasuk kekasih perempuan itu.

Hari-hari setelah kejaian itu adalah hari terburuknya. Ia mulai sulit mengendalikan pengelihatannya tentang hal-hal aneh lagi. Pertemanannya berantakan, sehingga ia cukup terkejut mendengar bahwa teman laki-lakinya yang seorang gay kedapatan oleh ayah sang kekasih ga-ynya. Terlebih ketika ia melihat teman laki-lakinya itu berkelahi dan dipukul beberapa teman mantan kekasih gay-nya. Tanpa sadar, ia maju dan menghajar orang-orang yang memukul teman laki-lakinya. Kejadian itu membuat teman perempuan dan laki-lakinya kembali padanya.

Meski begitu, ingatan dan bayangan tentang hal-hal aneh di masa lalu jadi semakin tidak bisa dikendalikannya. Hingga saat kedua sahabatnya harus pindah dan meninggalkannya, ingatannya benar-benar tidak bisa dikendalikannya.

Ia terus mengingat kalimat “jangan bangunkan kakakmu”. Ingatan tentang kejadian dimana seorang bibinya yang sangat menyayanginya meninggal dunia karena tertabrak truk di depan matanya saat hari ulangtahunnya. Bukan, bukan itu yang membuatnya tidak bisa melupakan bibinya. Ia terus menyalahkan dirinya atas kematian bibinya. Karena sesungguhnya ia memang menginginkan hal itu. Ia menyalahkan dirinya yang menginginkan bibinya mati. Ia menginginkan bibinya, seseorang yang pernah melecehkannya disaat ia masih kecil, mati.

Jadi guys, si laki-laki yang namanya Charlie ini sebetulnya menderita depresi klinis akibat pengalaman masa kanak-kanaknya yang kelam. Dia bahkan mendapatkan perawatan kesehatan mental sebelum dia akhirnya keluar memulai adaptasi dengan lingkungan barunya. Nah, penasaran? Simak trailer filmnya disini: https://www.youtube.com/watch?v=n5rh7O4IDc0. Langsung aja cari filmnya jika kalian semakin penasaran untuk menonton perjuangan anak remaja dalam menjalani
hidupnya pasca depresi.

Penulis: Pila
Editor: Syura
banner