Bersyukur: “Sederhana yang Penuh Kekuatan”



Aku bukanlah pahlawan yang menyelamatkan suatu desa dari bencana. Aku bukan artis terkenal yang memiliki banyak penggemar, mobil mewah dan bisa liburan ke mana-mana. Aku juga bukan politisi yang tinggal di rumah mewah dan mendapatkan banyak penghargaan dari rakyat. Aku adalah diriku. Mungkin saja orang lain melihat tak ada yang istimewa dariku, tak ada yang perlu disyukuri dengan semua keadaan yang serba biasa ini. Namun, bukankah selalu ada alasan?

Untuk setiap kesempatan membuka mata di pagi hari. Kesempatan terbangun, menghirup udara segar  dan mendengar kicauan burung khas pagi hari. Kesempatan melihat matahari terbit dari jendela kaca rumah yang tak besar tapi layak. Kesempatan menikmati sarapan bersama orang yang disayangi. Kesempatan tersenyum dan bertemu rekan-rekan. Bukankah tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Semua itu adalah alasan untuk berterima kasih atas kehidupan ini. Sederhana, tetapi itu memberikan suatu kekuatan yang besar.

Bersyukur, berterima kasih, memberikan apresiasi. Seringkali hal itu terlupakan dalam hiruk pikuk kehidupan kita sekarang ini. Bahkan semua itu tenggelam dalam arogansi, narsisme, dan egoisme yang memunculkan perilaku dan perkataan tidak layak. Alih-alih bersyukur dan berterima kasih, perkataan kasar nan menyakitkan hati justru muncul dari tak adanya penghargaan.

Bersyukur (Kebersyukuran) dalam literatur psikologi positif diistilahkan sebagai gratitude. Gratitude merupakan salah satu kekuatan karakter yang tergabung dalam kategori virtue transcendence, suatu virtue yang menggambarkan kekuatan yang dapat memberikan rasa keterhubungan atau koneksi yang luas kepada suatu makna dan tujuan yang lebih tinggi dari pada diri kita sendiri (1). Sesuatu yang berada di luar diri kita.

Peterson dan Seligman menyatakan bahwa gratitude adalah rasa berterimakasih dan bahagia sebagai respon penerimaan terhadap karunia, baik yang dirasakan secara nyata atau berupa keadaan nyaman, aman, dan terjadi secara alamiah (1). Emmons dan McCullough menyatakan bahwa gratitude pada dasarnya adalah sebuah emosi yang positif, yaitu perasaan menyenangkan dan bersyukur atas pemberian atau manfaat yang didapatkan. Gratitude bertolak belakang dengan emosi negatif seperti marah, cemas, dan cemburu (2).

Gratitude dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu personal dan transpersonal. Personal gratitude adalah rasa terima kasih yang ditujukan kepada orang lain secara khusus yang telah memberikan kebaikan (1). Personal gratitude juga dapat dimaknai sebagai rasa terima kasih yang dipicu oleh adanya manfaat yang diterima (Benefit-triggered Gratitude), merupakan keadaan yang muncul ketika manfaat yang diinginkan itu diterima dari seseorang (3). Sementara itu, transpersonal gratitude adalah ungkapan terima kasih terhadap Tuhan, atau kepada kekuatan yang lebih tinggi, atau kepada dunianya (1). Pada sumber lain disebutkan istilah rasa terima kasih umum atau disamaratakan (Generalized Gratitude), yang diartikan sebagai rasa terima kasih yang dihasilkan dari kesadaran dan penghargaan atas apa yang berharga dan bermakna bagi diri individu (3).

Gratitude setidaknya mencakup tiga komponen di dalamnya berdasarkan penjelasan Fitzgerald. Pertama adalah apresiasi yang berupa penilaian dan penghargaan terhadap orang lain serta perasaan hangat (misalnya cinta dan kasih sayang) untuk seseorang atau sesuatu. Kedua adalah kehendak yang baik yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu, misalnya kehendak untuk membantu orang lain yang kesusahan dan keinginan untuk berbagi. Ketiga adalah kecenderungan untuk bertindak positif dalam rangka memberikan penghargaan dan berkehendak baik pada orang lain, lingkungan, dan Tuhan, seperti membalas kebaikan orang lain dan beribadah (2). Dengan demikian, gratitude tidak hanya berupa rasa dan kehendak yang tidak tampak, melainkan juga berupa tindakan yang dapat diamati.

Cicero menyatakan bahwa gratitude bukan hanya kebajikan yang utama, tetapi induk dari semua kebajikan lainnya. Hal ini dapat didukung oleh berbagai hasil penelitian yang telah menunjukkan bahwa gratitude dapat meningkatkan well-being (kesejahteraan) individu bahkan dalam jangka panjang. Suatu penelitian oleh Park, Peterson dan Seligman yang dipublikasikan tahun 2004 menunjukkan bahwa gratitude berhubungan dengan kepuasan hidup yang dibandingkan dengan kekuatan karakter lainnya. Kepuasan hidup merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui kondisi well-being. Hope (harapan) dan zest (semangat) secara berurutan menduduki posisi pertama dan kedua di atas gratitude (4).

Hasil penelitian Rash, Prkachin, dan Matsuba (2011) juga menunjukkan hubungan antara kebersyukuran dan kesejahteraan ini, yaitu bahwa perenungan (kontemplasi) bersyukur dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan jangka panjang (5). Selain itu, penelitian  Siew Tim Lai (2014) menemukan bahwa menghitung berkah (counting blessing) dapat meningkatkan kesejahteraan dan dapat dimasukkan sebagai suatu bentuk psikoterapi dalam rangka meningkatkan kebahagiaan sementara (6). Gratitude relevan dengan psikologi klinis karena adanya penjelasan yang kuat dalam memahami hubungannya dengan well-being dan potensi mengembangkan well-being tersebut melalui peningkatan gratitude dengan latihan-latihan sederhana (7). Dari penjelasan ini dapat pula dipahami bahwa gratitude dapat meningkatkan kesehatan mental individu-individu, yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan mental pada level keluarga dan komunitas.

Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk membiasakan diri bersyukur? Mari kita mulai dengan langkah-langkah sederhana. Cara-cara mudah ini dilakukan secara rutin sehingga dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang kemudian berubah menjadi kekuatan karakter. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

1.   Sisihkan setidaknya sepuluh menit setiap hari untuk menikmati pengalaman yang menyenangkan. Anda bangun di pagi hari, menikmati udara yang segar, menyaksikan matahari terbit, menikmati teh hangat dan mandi air hangat. Tak melulu harus pengalaman di luar rutinitas sehari-hari Anda. Di perjalanan menuju tempat kerja atau kampus, cobalah untuk menikmati realitas yang ada di sekitar Anda dan berterima kasih bahwa kita masih bisa merasakannya.

2.   Menuliskan tiga hal baik yang Anda syukuri setiap harinya. Ini dapat anda lakukan dalam jurnal harian Anda, yang mungkin Anda sebut sebagai jurnal kebersyukuran atau dengan istilah lainnya yang Anda sukai. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya di akhir pekan, Anda melihat semua yang sudah ditulis dan Anda akan menemukan bahwa banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup Anda. Jadi sekali lagi, tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Beberapa teknik-teknik tertentu untuk meningkatkan gratitude seperti expressive writing, gratitude journaling dan counting blessing.

3.   Melakukan ritual ibadah kepada Tuhan bagi penganut kepercayaan tertentu. Misalnya melakukan dzikir ataupun puji-pujian untuk  memuji kebesaran Tuhan.

4.   Melakukan kontemplasi ataupun refleksi setiap harinya secara rutin untuk menemukan hal-hal baik yang sudah terjadi pada diri kita sepanjang hari itu dan mengapresiasinya. Refleksi harian ini bisa dilakukan di malam hari setelah semua aktivitas selesai atau menjelang tidur.

5.   Selalu mengucapkan kata “terima kasih” kepada orang lain, sekecil apapun manfaat yang diberikan orang lain itu kepada Anda, atau bahkan tidak terpikirkan. Ucapkan kepada supir atau tukang ojek yang sudah mengantar Anda, kepada satpam di tempat kerja, kepada teman yang sudah mengirimkan informasi melalui pesan elektronik, dan seterusnya.

6.   Mendengarkan musik instrumen, lagu, ataupun menonton film yang bertemakan kebersyukuran. Contoh lagu dengan tema gratitude adalah Poems, Prayers and Promises (John Denver) dan  Thank You  (Bonnie Raitt). Contoh film yang bertemakan kebersyukuran adalah It's a Wonderful Life, Groundhog Day dan Fearless.

7.   Berteman ataupun bergabung dengan orang lain yang senantiasa bersyukur agar emosi itu dapat ditularkan kepada kita dan kita senantiasa termotivasi.

8.   Selalu melihat orang yang lebih kekurangan (di bawah) dari diri kita. Manusia senantiasa memiliki keinginan-keinginan lebih dan tidak pernah puas dengan pemenuhan satu keinginan. Oleh sebab itu, penting untuk melihat orang yang mungkin tidak seberuntung posisi kita saat ini agar kita senantiasa bersyukur dan berniat untuk menolong orang tersebut sebagai wujud kesyukuran kita.

Kita seyogyanya senantiasa mengingat bahwa kehidupan dan segala peristiwa indah nan bahagia di dalamnya adalah hadiah yang patut disyukuri, bukan hak kita yang memang perlu dituntut agar diperoleh. Kehidupan yang indah ini adalah alasan mendasar yang membuat kita patut bersyukur. Kita juga seyogyanya mengingat bahwa kehidupan ini bukanlah kehidupan kita sendiri, kita terhubung dengan orang lain. Kita membutuhkan pertolongan-pertolongan dari mereka sehingga  selalulah mengapresiasi kebaikan-kebaikan yang orang lain berikan.

Hal yang juga penting adalah melepaskan keinginan-keinginan untuk memiliki segalanya, terutama keinginan memiliki materi. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Kerelaan kita menerima ketidaksempurnaan itupun adalah salah satu bentuk dari kebersyukuran kita. Jika seseorang berhak atas segalanya, maka dia mungkin saja tidak akan bersyukur untuk apapun, kata Seligman dan Peterson. Dia mungkin tidak akan mengenal dan mengembangkan rasa terima kasih itu. Menjadi rakus akan segala hal justru membuat kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin pada suatu titik kita akhirnya menyadari bahwa menginginkan banyak hal justru membuat kita memiliki sedikit hal. Cintailah apa yang kita miliki. Bersyukurlah dan kita akan merasa lebih tenang dan bahagia. Selalu katakan “terima kasih” kepada setiap orang. Kata ini sederhana namun memiliki kekuatan positif yang besar.
Terima kasih :-)
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.