Sinopsis Film: The Perks of Being a Wallflower (2012)


Film ini disutradarai oleh Stephen Chbosky

Film tak pernah ketinggalan, tak pernah ditinggalkan, tak lekang oleh waktu dan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Film menjadi salah satu sarana hiburan kita, guys, di tengah kesibukan kita dengan berbagai rutinitas yang kadang begitu melelahkan dan membosankan. Lebih dari itu, guys, dari film kita bisa belajar sesuatu, kita bisa mendapatkan insight, sebab kadangkala cerita film itu diangkat dari kisah nyata yang mana kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Film juga dibuat untuk menyampaikan pesan tertentu, ada yang tersurat dan ada pula yang tersirat.

Nah, Halo Jiwa ingin menceritakan sinopsis dari salah satu film bertema psikologi dan kesehatan mental tentunya. The Perks of Being a Wallflower adalah film drama romantis Amerika Serikat tahun 2012 yang disutradarai oleh Stephen Chbosky. Naskah film ini ditulis oleh Stephen Chbosky berdasarkan novel The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky. Film ini dibintangi oleh Logan Lerman, Emma Watson dan Ezra Miller (Wikipedia.org). Film ini mendapatkan review positif dari para kritikus loh guys. Yuk simak cerita singkatnya. 

Seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, baru saja masuk SMA. Ia adalah anak yang sangat pendiam dan pemalu, membuatnya tidak memiliki teman. Keanehannya membuat teman-teman di sekolahnya melakukan bullying padanya. Ia adalah anak bungsu dari satu keluarga dengan tiga anak, dua laki-laki, satu perempuan. Pada satu malam, ia melihat saudara perempuannya berkelahi dengan kekasihnya. Kekasih saudara perempuannya memukul saudara perempuannya, itu membuatnya marah. Namun, saudara perempuannya menahannya dan mengatakan “Jangan, jangan membangunkan ayah dan ibu”.

Satu hari, salah seorang teman sekolahnya membuat sebua pesta. Ia datang ke pesta itu. Di pesta itu ia bertemu dengan seorang laki-laki dan perempuan, yang hebatnya mengajaknya berdansa tanpa menganggapnya aneh. Sejak saat itu mereka berteman. Ia mulai menemukan teman baru. Ya, teman baru. Teman lamanya meninggal bulan Mei yang lalu karena bunuh diri.

Mereka jadi sering berpesta bersama. Hingga pada satu pesta yang mereka hadiri bersama, seorang anak laki-laki yang terkenal di sekolahnya juga hadir. Tapi ia tidak mempedulikan hal itu, karena ia bersama teman-temannya. Tidak, sampai anak yang lain membuatnya mabuk untuk pertama kalinya. Ia izin ke toilet yang ternyata ada di ruangan atas. Saat ia membuka salah satu pintu di atas ternyata ruangan itu bukanlah toilet, melainkan sebuah kamar. Kamar yang ia dapati teman laki-lakinya sedang mencium anak laki-laki yang terkenal di sekolahnya. Temannya segera menariknya keluar dari kamar itu, dan mengatakan “Jangan memberitahu siapapun, ia tidak ingin ada yang tahu. Ini rahasia kita”. Ia menjawab “Aku sedang mabuk” jawaban itu membuat temannya tenang.

Setelah pesta itu, teman perempuannya mengajaknya ke rumahnya, ke kamarnya. Mereka memiliki selera musik yang sama, sehingga mereka mendengarkan musik sambil menceritakan beberapa hal. Semua cerita terasa seru, hingga teman perempuannya menanyakan satu hal, “Kau sudah mendapatkan first kiss mu?” ia hanya bisa menggeleng, dan bertanya kembali “Bagaimana denganmu?” Temannya mulai menceritakan “Ya, waktu aku berumur sebelas tahun.” Dia tertarik untuk bertanya lebih jauh “Apa ia pacar pertamamu di SMP?” Temannya terdiam, dan menceritakan “Ia sering datang ke rumah, teman kerja ayahku.” Cerita itu membuat otaknya kembali menampilkan hal-hal yang ia benci.

Di liburan natal, kakak laki-lakinya pulang ke rumah, dan bertanya ketika tinggal mereka saja di ruang makan “Apa kau baik-baik saja? Kau tahu maksud pertanyaanku.” Ia terdiam sebelum menjawab “Aku bisa menanganinya. Aku sudah punya beberapa teman yang membuat ingatan-ingatan itu tidak terlalu mengganggu. Terlebih karena aku punya seorang teman perempuan yang membuatku nyaman, ia sangat luar biasa.”

 Baca juga cerita tentang: Berdamai dengan "monster"

Di pesta lain, teman perempuannya mengenalkan kekasihnya padanya, namun itu tidak membuatnya kaget. Di pesta itu, seorang teman perempuan lain mengajaknya mejadi teman kencannya, ia mengiyakan. Jadilah setelah pesta itu mereka menjadi sepasang kekasih. Di satu malam, mereka bertiga dengan pasangan masing-masing dan beberapa teman lain mengadakan pesta kecil. Mereka bermain truth or dare, permainan itu ia jadikan peluang untuk memutuskan hubungannya yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman. Namun, permainan itu membawanya pada petaka ketika teman laki-lakinya memberinya tantangan untuk mencium perempuan tercantik di pesta itu. Ya, ia mencium teman perempuannya, bukan kekasihnya. Ia menciumnya di depan semua orang termasuk kekasih perempuan itu.

Hari-hari setelah kejaian itu adalah hari terburuknya. Ia mulai sulit mengendalikan pengelihatannya tentang hal-hal aneh lagi. Pertemanannya berantakan, sehingga ia cukup terkejut mendengar bahwa teman laki-lakinya yang seorang gay kedapatan oleh ayah sang kekasih ga-ynya. Terlebih ketika ia melihat teman laki-lakinya itu berkelahi dan dipukul beberapa teman mantan kekasih gay-nya. Tanpa sadar, ia maju dan menghajar orang-orang yang memukul teman laki-lakinya. Kejadian itu membuat teman perempuan dan laki-lakinya kembali padanya.

Meski begitu, ingatan dan bayangan tentang hal-hal aneh di masa lalu jadi semakin tidak bisa dikendalikannya. Hingga saat kedua sahabatnya harus pindah dan meninggalkannya, ingatannya benar-benar tidak bisa dikendalikannya.

Ia terus mengingat kalimat “jangan bangunkan kakakmu”. Ingatan tentang kejadian dimana seorang bibinya yang sangat menyayanginya meninggal dunia karena tertabrak truk di depan matanya saat hari ulangtahunnya. Bukan, bukan itu yang membuatnya tidak bisa melupakan bibinya. Ia terus menyalahkan dirinya atas kematian bibinya. Karena sesungguhnya ia memang menginginkan hal itu. Ia menyalahkan dirinya yang menginginkan bibinya mati. Ia menginginkan bibinya, seseorang yang pernah melecehkannya disaat ia masih kecil, mati.

Jadi guys, si laki-laki yang namanya Charlie ini sebetulnya menderita depresi klinis akibat pengalaman masa kanak-kanaknya yang kelam. Dia bahkan mendapatkan perawatan kesehatan mental sebelum dia akhirnya keluar memulai adaptasi dengan lingkungan barunya. Nah, penasaran? Simak trailer filmnya disini: https://www.youtube.com/watch?v=n5rh7O4IDc0. Langsung aja cari filmnya jika kalian semakin penasaran untuk menonton perjuangan anak remaja dalam menjalani
hidupnya pasca depresi.

Penulis: Pila
Editor: Syura
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.