Jumat, 15 Maret 2019

The Art of Loving: Datang Begitu Saja, Pergi Begitu Saja


Gue gak pernah percaya ketika apa yang kita ungkapkan, apa yang pernah kita janjikan untuk hidup kita berdua kedepannya sirna begitu saja. Tanpa rasa bersalah sama sekali.

Gue pernah berpikir untuk bertemu, menjalani hidup dengan orang yang baru, membangun komitmen bersama, hingga akhirnya gue memutuskan bahwa dia adalah orang yang gue cari selama ini.
Gue adalah orang yang sulit jatuh cinta. Sekali jatuh cinta, gue menaruh kepercayaan. Sayangnya, gue gak bisa komit sepenuhnya pada saat orang yang gue beri kepercayaan membuatnya sia-sia begitu saja.

Yah, kadang marah memuncak, tapi tetap saja memaafkan. Buat salah, ada maaf. Begitu seterusnya. Sampai pada satu titik gue pengen nyerah, tapi gue ingat lagi perjuangan dia, dan kembali lagi.. lagi, dan lagi. Memberikan kesempatan kedua pada orang yang sama, akan membuat kita mengulang kesalahan yang sama di masa lalu. Ternyata bener..
Kalau diingat-ingat lagi, gue pernah menjadi orang bodoh karena cinta. Gue tau, kenangan gak bisa dilupakan begitu saja, dan gue gak pernah berusaha sekeras mungkin untuk melupakan kenangan., karena gue selalu percaya, gak mungkin kita dipertemukan dengan seseorang tanpa adanya maksud Tuhan di balik itu semua. Ada banyak hal yang pernah gue dapatkan. Kuatnya menghadapi keadaan saat kita dikhianati orang yang kita sayang, kuatnya raga ini menghadapi orang-orang yang menentang hubungan kita, kesabaran seseorang diuji, dan seberapa kuat ia bisa menghadapi. Lalu, bagaimana perasaan seseorang ketika berada pada puncak yang lagi sayang-sayangnya, lalu salah satu pihak meninggalkan tanpa ada kata? SAKIT.  Bener sakit emang.

Berada pada posisi itu, gue gak tau mesti apa. Seharian gue nangis, karena dikecewain. Dan lebih konyolnya lagi, gue di selingkuhin. Lucu sih, soalnya yang memberikan kabar bahwa mereka punya hubungan adalah orang ketiga ini. Ok, don’t worry. Ini bukan akhir segalanya, lu kuat (gue usap bahu gue sendiri). Gak papa, lu nangis aja seharian, sekuat dan sekencang mungkin, untuk hari ini saja, karena hari ini adalah hari patah hati buat lu (kata gue pada diri sendiri). Tanpa rasa dendam, gue melepaskan semuanya. Semuanya. Tanpa sehelai pun.
Keesokan harinya, gue bangun pagi. Entah kenapa, rasa sakit dan sesak yang gue alami kemarin itu udah ilang. Gue merasa bahwa beban gue selama ini udah ilang, dan di hari kedua setelah ini, gue menanamkan pada diri bahwa dia bukan yang terbaik, ada seseorang yang sedang berjuang di ujung sana, tapi bukan saatnya kamu dipertemukan (kataku). Mungkin di lain waktu. Gak papa dia hadir lagi, tapi dengan status yang berbeda. Hanya sebatas teman, tidak untuk berbagi hati seperti dulu, dan karena kejadian itu gue percaya, sesakit-sakitnya batin ini, yang bisa menyembuhkan adalah diri kita sendiri. Walaupun, butuh penopang dari orang lain, tapi yang lebih berperan adalah DIRI KITA. Bagaimana kita bisa memafkan untuk diri kita dan orang lain, serta menerima masa lalu kita dengan ikhlas.



Membahas tentang cinta mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai hal yang sangat kekanak-kanakan, dan banyak yang berpikiran bahwa tema seperti ini hanya cocok untuk kalangan anak muda. Tapi, bagi yang masih dalam tahap pencarian, topik ini masih sangat relevan. Kenapa? Karena cinta merepresentasikan kualitas kepribadian yang ada pada diri manusia selama hidupnya.  
Cinta memang konyol. Yah, konyol untuk orang-orang yang menjadi budak cinta. Cinta bukan hanya ditujukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri (yah, itu yang utama). Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada lima syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu: perasaan, pengenalan, tanggung jawab, perhatian, dan saling menghormati.

Teori Cinta (Erich fromm)
Teori apapun tentang cinta harus dimulai dengan teori tentang manusia, yaitu eksistensi manusia. Manusia dianugerahi dengan rasio; ia adalah makhluk yang sadar dirinya; ia mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, dan kemungkinan masa depannya. Kesadaran akan diri sebagai identitas yang terpisah, kesadaran akan jangka hidupnya yang pendek, akan fakta bahwa ia lahir dan mati bukan karena kehendaknya, bahwa ia akan mati sebelum mereka yang ia cintai, atau mereka mati lebih dulu sebelum dirinya, kesadaran akan kesendirian dan keterpisahannya, akan ketidakberdayaannya terhadap kehidupan alam dan masyarakat, semua ini membuat eksistensi dirinya terpisah dan terpecah menjadi penjara yang tak tertahankan. Ia akan mengalami gangguan kejiwaan jika tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu dan keluar, menyatukan diri dalam bentuk apapun dengan manusia lain, dengan dunia luar. Kesadaran akan keterpisahan inilah yang menimbulkan munculnya rasa cinta pada diri manusia. Kerinduan akan sesuatu dari luar dirinya disalurkan pada pribadi lain, pada benda dan Tuhan. Semenjak dilahirkan, kita menyadari bahwa kita hidup terpisah dari orang lain dan alam. Rasa kesendirian manusia adalah asal muasal dari rasa cinta atau rasa ingin bersatu kembali. Manusia tidak ditakdirkan untuk hidup menyendiri, kita adalah makhluk sosial sejak dari kandungan, artinya kita membutuhkan kehadiran subjek dan objek lain dari luar diri kita. Cinta adalah pemersatu atau pengisi kekosongan atas kesendirian manusia tersebut. Dengan tidak adanya cinta maka hidup pun tidak memiliki makna.

Erich Fromm dalam buku larisnya (The Art of Loving) menyatakan bahwa keempat gejala: care, responsibility, respect, knowledge muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Cinta memuat perhatian (care) berarti bahwa dalam mencintai, kita haruslah memberikan perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai. Hakikat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh.
Aspek selanjutnya dari cinta adalah tanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab berarti mampu dan siap untuk “merespon”. Kita ikut bertanggung jawab atas kehidupan orang yang kita cintai sebagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri.
Tanggung jawab dapat menjadi dominasi dan pemilikan jika tidak disertai komponen yang ketiga, yaitu penghargaan (respect). Penghargaan disini berarti kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, dengan menyadari segala keunikan yang ada dalam diri orang tersebut. Sosok yang dicintai dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri dan demi kepentingannya sendiri, bukan dipaksa berkembang demi hasrat dan ambisi orang yang mencintai. 

Untuk dapat melakukan ketiga aspek sebelumnya dengan baik, cinta juga harus memiliki aspek yang keempat, yaitu pemahaman atau pengetahuan (knowledge). Pemahaman disini adalah pemahaman yang mendalam yang sanggup menembus inti persoalan. Pemahaman semacam ini hanya mungkin jika kita dapat melampaui perhatian atas diri sendiri untuk kemudian melihat orang lain sesuai dengan konteksnya sendiri. Dalam cinta, kita hanya bisa mengetahui lewat pemahaman atas apa yang hidup dalam diri manusia – dengan cara mengalami kesatuan, bukan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pikiran.





Lalu, sudahkah kita mencintai diri kita dengan benar?
Sudahkah kita memberikan cinta dengan tulus pada orang-orang yang kita sayangi?
Semoga saja. 

“Cinta adalah tindakan keyakinan, dan siapa pun yang kecil keyakinannya, kecil juga cintanya”- Erich fromm.

Rabu, 13 Maret 2019

Anonimity?

Penggunaan internet dan lingkungan virtual online telah menjadi semakin popular di zaman modern. Dunia virtual menyajikan pelarian bagi seseorang yang menghuni dunia tersebut. Ketika seseorang terlibat dalam lingkungan online, mereka dapat memutuskan hubungan dari “dunia nyata”, dengan pelarian yang demikian menjadi alasan baginya untuk tertarik dalam penggunaan media online. Meskipun internet menawarkan berbagai manfaat, termasuk dapat mengakses secara instan berbagai informasi, kemudahan dalam komunikasi, dan hiburan yang sangat mudah didapatkan, namun hal tersebut bukan berarti tidak memiliki dampak negatif. Konten-konten yang ada di blog atau forum online sering bersifat ofensif dan disengaja, dengan bahasa, ras, rasis, dan homofobik digunakan untuk mendorong melakukan perilaku di luar batas kesponan hanya untuk mendapatkan perhatian. Di samping itu, untuk menghindari konflik, ada beberapa cara yang digunakan oleh seseorang untuk menyerang di dunia maya, salah satunya menggunakan akun palsu (menggunakan nama lain dari identitas yang sebenarnya). Dalam hal ini, biasanya disebut sebagai anonimity.

Anonimitas telah lama menjadi topik yang menarik di kalangan ilmuwan sosial. Anonimitas didefenisikan sebagai proses kondisi sosial tertentu yang mengurangi kesadaran diri dan keprihatinan seseorang tentang evaluasi orang lain, sehingga melemahkan ekspresi perilaku yang tidak diinginkan (Zimbardo, 1986). Sebagian besar anonimitas terdiri dari privasi. Privasi hanya melibatkan kemampuan seseorang untuk melakukan batas kontrol pada akses orang lain ke diri sendiri (Pedersen, 1997). Namun, penolakan ini tidak menyiratkan bahwa seseorang harus melepaskan diri dari kehadiran orang lain untuk menjaga privasi. Pada situasi tertentu, paling sering ditemui pada laman blog, komentar akun-akun media sosil, atau berita online yang memuat komentar para netizen. Di tempat tersebut, seseorang dapat menggunakan anonymity dari internet sebagai “jubah” yang memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan apapun yang diinginkan dengan cara katarsis tanpa takut identitas sosial diketahui (Zimmerman & Ybara, 2014). 

Anonimitas memberikan atmosfer yang besar di dunia maya, seseorang dapat melakukan atau mengatakan apapun tanpa takut evaluasi dari orang lain, serta memungkinkan seseorang untuk mencoba perilaku baru atau mungkin meniru orang lain yang telah nampak menikmati rasa kekauasaan sendiri dan ekspresi diri yang lebih luas tanpa diketahui identitasnya (Zimmerman & Ybara, 2014). Bagaimanapun anonimitas juga dapat menyebabkan perilaku negatif dan akan mendapatkan konsekuensi (Christopherson, 2007; Eastwick & Gardner, 2009; Hayne & Rice, 1997; Reicher, Spears, & Postmes, 1995; Robertson, 2006; Spears & Lea, 1992). Peningkatan perilaku yang tidak pantas atau tidak lazim yang dilakukan di dunia maya karena sifat anonymous dari internet. Seseorang dapat berperilaku dengan komunitas online tertentu dan bebas untuk pergi tanpa memiliki keinginan untuk kembali. Perilaku ini biasanya membuat seseorang tanpa sadar telah melakukan agresi verbal. Perilaku agresi bukan lagi hal yang baru, perilaku agresi sudah ada sejak lama dan dilakukan untuk bertahan hidup (Anderson & Huessman, 2003). 

Perilaku agresif ada karena dimaksudkan untuk mengganggu dan menyakiti orang lain, sementara korban berusaha untuk menghindar. Menurut Santrock (2003) mengatakan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi agresivitas adalah kontrol diri. Perilaku agresi dalam berbagai bentuk penyerangan baik fisik maupun verbal dan tindakan kriminal seringkali diikuti oleh beberapa faktor salah satunya dengan kontrol diri yang rendah. Perilaku agresi tidak hanya ada dalam bentuk kekerasan fisik seperti melukai, memukul, menampar, dan mencubit. Namun, agresi terbagi dalam empat kategori, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan (Buss & Perry, 1992). Agresi verbal merupakan kecenderungan individu untuk menyerang konsep diri orang lain dalam pembicaraan untuk membuat para korban merasa tidak berdaya. Perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam atau membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran tersebut secara verbal atau melalui kata-kata dan langsung ataupun tidak langsung, seperti memaki, menolak berbicara, menyebar fitnah, tidak memberi dukungan.

Di zaman yang modern ini, jangan sampai kita terlena pada kehidupan yang ada di dunia maya, membuat beberapa akun hanya untuk menguntit atau menyerang seseorang dengan melepaskan identitas yang ada. Tanpa sadar, kita akan meruntuhkan secara perlahan identitas sosial yang kita miliki. Selain itu, perilaku anonimity dapat menimbulkan agresi verbal ketika kita tanpa sadar terbawa dalam situasi yang “tidak sehat” pada sebuah kolom komentar yang menghujat atau menghakimi. Sebagai generasi yang peduli terhadap lingkungan yang sehat mental, mari berbenah dengan memberikan perubahan kecil pada diri sendiri, jujur pada diri sendiri, dan berbuat seadanya, tanpa harus melebih-lebihkan atau terlalu mencampuri urusan orang lain yang pada akhirnya akan menimbulkan problem pada diri kita. yang secara tidak langsung dapat menuntut kita untuk ikut andil pada persoalan tersebut.

Oleh : Puji
Editor : Dina Ariani

Rabu, 06 Maret 2019

Belajar Dari Kayu

Kursi tak bernama
Setiap hari ia hanya terdiam kaku dalam ruang, hampir setiap pukul 12 malam ia merintih diam-diam, jika hujan datang ia basah dan kelihatan rapuh, dan jika matahari datang ia seakan terlihat tegar namun tetap luluh, sebut saja ia kursi, ia tampak seperti pada kursi lainnya, namun hanya debu dan titik air di jendela yang mampu melihat keistimewaan yang ia miliki.

Kisahnya bermula ketika ia dibuat oleh puannya, setiap hari ia dirawat dan dibersihkan olehnya, ketika puannya tak berada di ruangan, ruang tempat mereka saling berdiskusi dalam hening, ia hanya tetap menunggu hingga ia kembali berdiskusi. Ia tak sadar kalau ia adalah kursi, sampai kapanpun ia tetap menjadi kursi dan tak punya nama, meski ia berbentuk kursi, ia tetap tidak akan mengerti mengapa ia disebut kursi, karena pada awalnya dia tetap dan abadi menjadi kursi.

Waktu membuat ia usang dan terbuang oleh puan pemiliknya, diabaikan dalam diam dan dijauhkan dalam jarak, hingga hujan tiba menghampirinya, dibalik hujan itu ia menyembunyikan lukanya, ia tak kuasa mencari bantuan atas kesakitan yang ia tak pahami. Hingga ia berpura-pura menjadi manusia agar mampu bercerita dengan kursi tanpa kursi lain tahu jika ia adalah sebuah kursi, dari cerita yang ia curahkan, tampaklah jika ia memang istimewa dan benar berbeda dengan kursi lainnya, ia sadar jika ia bisa berpikir layaknya manusia, ia mampu berimajinasi dan mampu merasakan panas dinginnya alam.

Setelah kembali pada dirinya yang dulu, jadilah ia kursi yg lebih bijak dari yang dulu, tetap tenang dan mencari kebenaran hidup sebagai kayu biasa yang memberikan rasa lega bagi manusia, ketika mereka lelah memijakkan kakinya di atas bumi...

Manusia juga sama
Demikianlah manusia, sarat akan permasalahan kehidupan yang jauh dari kuasanya sebagai manusia. Kadang butuh manusia lain untuk mencurahkan semua yang terekam di dalam benaknya. Namun, dalam proses mencurahkan cerita tentang kehidupannya, terkadang ada perasaan ragu untuk memulai dan ragu untuk memilih sosok yang tepat. Yaaah, sebut saja ada “duri” yang tertancap di dalam pikiran hingga membutuhkan waktu yang lama untuk mencabutnya. Mencabut duri dalam pikiran sungguh sangat berbeda dengan mencabut duri yang menusuk kulit.

Manusia memberikan istilah pada duri itu dengan sebutan stigma, kamus mengatakan stigma itu sebuah ciri negatif yang menempel pada seseorang. Stigma itu merupakan jalan untuk melakukan diskriminasi terhadap manusia lain, ketika stigma terbentuk, dia akan tersimpan rapih dalam benak setiap manusia yang suatu saat bisa muncul dalam sebuah bentuk prasangka dan pemberian label-label yang tidak manusiawi. Selain stigma mampu memberikan label negatif pada manusa lain, manusia itu sendiri dengan luar biasanya memberikan label kepada dirinya sendiri.

Sebut saja ketika seseorang mengalami kesedihan yang berlebihan, kemudian orang-orang di sekitarnya memberikan gelar manusia lemah Maha tak berguna, di waktu yang sama dia pun merasa ungkapan tentang dirinya benar, dia lemah, dia tidak berguna, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa. Jadilah dia manusia yang penuh dengan keraguan dan ketidakpahaman atas apa yang terjadi pada dirinya.

Belajar dari kisah kursi tak bernama, mesikipun ia hanya sebuah kursi tapi ia mampu keluar dari kesendiriannya dan memilih untuk bercerita walau berada di balik topengnya. Manusia pun bisa melakukan hal yang sama, mencoba untuk keluar dari permasalahan hidup dengan memilih bersembunyi dengan menjadi anonim demi menghindari label yang berlebihan terhadap dirinya dan demi mendapatkan petuah-petuah yang dapat mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Pada akhirnya, manusia butuh perjalanan untuk menjadi lebih sadar atas hal yang dilakukan. Manusia butuh didengarkan dan butuh penguatan dari manusia lain layaknya sebuah kayu yang berproses atas lignifikasi yang secara alami membuatnya menjadi sebuah pohon yang kuat dan berdiri di atas kaki sendiri...


Penulis : Azmul
Editor : Dina Ariani

Senin, 04 Maret 2019

SEMERBAK HOPE | Kekuatan untuk Melindungi “Sesuatu yang Berharga”


No matter what the people say about me, everytime you touch and kiss me, I become a hero, when you tell me that you love me”. 
Thanks to Francesco Petrarca.


Terjatuh ke dalam jurang gelap dengan kedalaman maksimum 10.911 meter (35.798 kaki) di bawah permukaan laut, mengundang kehampaan bersama bisikan-bisikan sinis yang saling sahut-sahutan. Melegalkan ketidakberdayaan untuk sekali lagi berupaya bermain-main dengan kesunyian, ledekan-ledekan cerdas dari hasil rasionalisasi, sungguh miris untuk dinarasikan dalam petak ruang ide berukuran 3x4 m2. Fantasi sebagai bunga candu berusaha menghanyutkan, tapi pada akhirnya tetap saja tergiring ke dalam wilayah kekuasaan semu, terhalang oleh lebar dinding yang bahkan ujungnya tak terjangkau oleh pelupuk mata. Seakan telah terjalin kesepakatan kolektif, sang waktu juga tidak ingin ketinggalan, menanggalkan atributnya sebagai obat penawar, dengan gagah berani, penuh sikap angkuh dan arogan, memproklamirkan diri sebagai racun penyiksa terbaik. Begitulah sedikit gambaran yang tengah dirasakan lelaki brengsek itu.

Persepsi bahwa “semuanya akan baik-baik saja”, “semua akan indah pada waktunya” telah cukup sebagai bukti dari existence optimism, namun apakah otimisme itu telah memiliki kesiapan berhadapan dengan problematic yang tidak peka dengan kata permisi?? maka pengalaman otentik perlu untuk ditelisik lebih dalam. Kenyataan bahwa optimisme akan berhadapan dengan realitas, mungkin akan berbeda dengan ekspektasi yang begitu diwiridkan selama ini. Pilihannya tereduksi menjadi dua, memenjarakan jerit-jerit kekecewaan atau membebaskannya dalam bentuk lakon kompulsif, hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagi para penganut theologie, tentu saja ketidakpastian itu sekejap sirna, jika saja Tuhan seketika berkenan mengutus Pandora, berkunjung mengeluarkan satu titik keajaiban, keajaiban yang tertinggal di dalam kotak pusakanya. Setitik itu bernama Hope, tanggal lahirnya kapan, orang tua kandungnya siapa, masa kecilnya seperti apa, percayalah saya pun masih mempertanyakannya. Pastinya dia punya nama lain, nama yang begitu menghangatkan, dialah “Harapan”. Optimisme dan hope, dua istilah ini begitu mudah ditemukan cukup dengan jentikan bapak jari kapitalis revolusi industri. Tetapi apa yang menjadi garis tipis pengikat Optimisme dan Hope?? Flash fictie abstraksi di bawah ini akan coba menggiringnya kedalam dunia penafsiran imajiner.

Lelaki dengan tingkat optimisme agak sedikit overdosis, atau bahkan sangat overdosis, dalam pahitnya renjana cinta dia merangkak perlahan, layaknya balita mungil berusia 7 bulan, menyeret tubuhnya untuk mencari sandaran di tengah kesendiriannya. Secara autonom saat ini otaknya tidak mampu mengatasi guncangan psikis yang sedang berproses, dengan terpaksa harus mengirimkan hormon stres ke tubuhnya, mempertegas bahwa rasa sakit itu telah menjadi kenyataan. Beban berat sekitar 100 Kg seolah bergerak dengan etos kerja luar biasa, terus menekan dada dan jantungnya, frekuensi nafas mengalami peningkatan, samar-samar rintihan kecil terdengar begitu lirih terucap dari mulutnya. Dia memeluk erat tubuhnya sendiri, di atas kedua lututnya dia menundukkan kepala sembari memohon ampun atas rasa sakit yang tak mengenal kasih, terus menekannya. Ekspektasi tinggi berhasil menenggelamkannya dalam aliran keputusasaan, menyadarkan bahwa optimisme yang selama ini begitu dibanggakan telah membawanya dalam ketiadaan.

Berbagai literatur mewariskan, bahwa Manusia dengan tingkat optimisme tinggi, cenderung merasa begitu yakin untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya, semacam self confident, but maybe not yet, to embrace self effication, beberapa expert mengaitkannya dengan kekuatan ego serta pengendalian internal (locus of control). Optimisme itu sendiri akan sangat berbeda jika mem-pretext keinginan, dalam hal ini menggapai atau meraih sesuatu (goals). Jika keinginan terpenuhi, euforia akan berdansa, bahkan di atas penderitaan orang lain pun bisa saja hal itu dilegalkan, tetapi jika optimisme berakhir sebaliknya, maka bias optimistik mengambil alih arena panggung. Kalimat sandiwara dunia begitu familiar di telinga ketika seorang manusia linglung membisikkan kalimat:

“Jangan terlalu berharap tinggi, nanti jatuhnya sakit loh”. Diksi paradoks dalam kalimat itu dapat berlaku kontradiktif, satu sisi memicu timbulnya rasa pesimistik, namun di sisi lain justru akan membangkitkan optimistik, menggaet antusiasme, melapangkan jalan harapan, merangkul optimisme menuju garis finish. Kedua sisi itu memang merasuki pikirannya, dari pesimistik beralih pelan menuju antusiasme.

Cukup beralasan itu terjadi, recall memory yang ditopang oleh kekuatan entitas tertinggi menjadi reinforce utama, kekuatan unlimited power tak tertandingi bahkan oleh makhluk ciptaan berkekuatan metafisik tertinggi sekalipun. Jawaban itu diberikan Tuhan melalui pemikiran Charles R. Synder mengenai Hope, memberi kelancaran pada alur kognitifnya. Synder telah mengaitkan Hope (harapan) dengan adanya suatu tujuan, perencanaan matang dimana persepsi realistis adalah modal untuk mencapai tujuan tersebut. Bagi Synder, pemikiran penuh harapan dibentuk oleh tiga hal utama, pertama ialah adanya tujuan (goals), sesuatu yang penting untuk dicapai, kedua strategi (pathways), tentang menemukan berbagai cara dalam menggapai tujuan tersebut, dan yang ketiga adalah kehendak (agency), berfungsi sebagai kekuatan pendorong, memberikan keyakinan bahwa tujuan itu dapat dicapai. Rekonstruksi sederhana mulai memenuhi isi kepala si lelaki brengsek, baginya optimisme hanyalah bagian dari pembentuk Hope, berfungsi memberikan dorongan penuh pada keyakinan mencapai tujuan (afektif), kalkulasi perencanaan yang matang sangat diperlukan (kognitif), agar dapat bergerak mencapai goals sebagai langkah selanjutnya (behavior).

“Aku menjemput cintamu!!”. Owhh shitt!! begitu lantang jargon itu merasukinya, mengawal langkah kaki menuju workplace sang Dewi. Segelintir cara memamerkan hasil, exactly that I mean guys, diawali dengan self stigma sebagai simbol kebodohan membiarkan roda kendaraan Pandora bergulir pelan menjauh meninggalkannya. Cukup adil pikirnya, di bangku kayu bertinggi sedang, tepat di samping sebuah pohon berjarak beberapa langkah dari kendaraan Pandora, dia duduk bersembunyi mencengkeram kedua tempurung lututnya. Perencanaan matang telah buyar dengan begitu mudah, tak ingin kesempatan semakin menjauh, dia berlari sekuat tenaga mengejar Pandora, tatapan penuh curiga seorang security diam-diam mulai mengikutinya. Begitu sangat disadarinya, bahwa mengejar hanyalah bentuk tindakan yang sia-sia, bahwa sangat tidak mungkin roda-roda itu berbalik arah hanya untuk sekedar bertutur sapa. Satu hal begitu mendorongnya, sebuah frasa dinding, “lebih baik bertindak dalam kesalahan, ketimbang harus berdiam didalam kesangsian”. Situasi drama tidak mungkin lagi terhindarkan, belasan rangkaian kata diketiknya dengan membabi buta, percakapan tak logis diperbincangkan menandakan kepanikannya, begitu puitis untuk contact yang ternyata sejak lama telah memblokirnya. Kesimpulan terbesar, security membatalkan plan A, memaksanya beralih mencoba plan B.

Pendekatan friendship itulah plan B, menurunkan standar self esteem untuk mendapatkan saran realistis dari orang-orang terdekat Pandora, mereka yang belum pernah ditemuinya dalam dunia nyata, memberanikan diri demi secarik solusi, hingga pertanyaan skeptis mengenai cinta dan obsesi mulai dipertanyakan.

“Kamu yakin kalau kamu itu cinta? bukannya obsesi?”. Pertanyaan itu cukup canggih untuk memoles mikro ekspresi berubah tak berparas. Dalam keraguan dia mengambil sikap, memilih kata obsesi disematkan padanya, ibarat judul karya Susan Forward, Obbsessive Love “when it hurts too much to let go''. Zona bertahan cukup lama, bahkan satu zona belum memuaskannya, membuatnya nekad memasuki beberapa zona termasuk zona yang asing bagi Pandora, lelucon murahan tidak luput dari usahanya, begitu keras diumbar sedemikian rupa. Hingga akhirnya dia di-block dengan sepihak dan beramai-ramai dari dunia social media, mengikuti apa yang telah lebih dulu dilakukan Pandora.

“Wajar mereka melakukannya”, pikirnya. Secangkir teh hangat menjadi saksi ahli di sore itu, tepat di waktu sore sedang mengulum lembut lidah senja, bertiga mereka menyambut hadirnya satu surat kabar dengan tagline,

“Kamu itu MANIPULATIF!! Pemutar balik fakta!!”. Sebuah Siluet datang menghidangkan sesuatu yang khusus, spesial untuk hari ini. Ditelannya surat kabar itu mentah-mentah, ini belum cukup, belum sepadan dengan kekacauan yang selama ini telah ditimbulkan. Cemohan demi cemohoan tak terdengar dan nyinyiran sebagai perebut membuatnya semakin terbiasa. Tak lebih dari 24 jam lambungnya mencerna, siluet lainnya mengantarkan hidangan kelas mewah sebagai pencuci mulut. Zona itu membawa tumpeng dari Pandora yang telah mengikrarkan diri, selangkah menjadi calon wadah dari benih lelaki lain.

Siklus metafisik kembali berputar layaknya pola action R, pertemuan setelah sekian lama, cukup mengharukan, pesimisme menyapa dengan riang gembira, merangkul pundaknya sambil berkata “hello brother”. Membuatnya kembali menekan dada, sesak yang terus dan terus menerus terulang.

“Apa yang harus aku lakukan?? aku capek berbicara panjang lebar pada mereka, aku letih harus tetap terlihat baik-baik saja, I just can’t live a lie anymore”. Pikirannya mengawang, dia mencoba membasuh wajahnya, berujung pada kosletnya Lobus frontal, terpeleset dalam himpitan kamar mandi, dimana potongan-potongan memory jatuh berserakan. Rangkaian hari harus dilalui dengan kebingungan dan penuh tanda tanya, berupaya menyatukan potongan-potangan gambar. Begitu lambat namun pasti, ibarat falsafah “alon-alon asal kelakon”, satu potret memory dari sepasang wajah yang tengah tersenyum kompak memanggil seluruh potongan gambar itu pulang ke rumah. Pikiran dari Synder yang telah lebih dulu mencekoki pikirannya pulang dengan menggandeng pemikiran Shane J Lopez . Satu frase begitu spektakuler “jika satu rute tertutup maka jalan lain dapat dilapangkan”, itulah konsepsi Hope (harapan) dari Lopez, bahwa mereka yang penuh dengan harapan memiliki dua hal keyakinan pokok, sebagai pembeda dari orang-orang lainnya, kedua keyakinan itu adalah pandangan akan masa depan yang lebih baik dari saat ini, serta keyakinan bahwa daya untuk menciptakannya telah dimiliki. Mereka yang memiliki keyakinan kedua adalah orang-orang yang penuh dengan sumber daya, mengenali berbagai strategi agar dapat terus bergerak maju menuju tujuan (goals), berpikir realistis sebagai fungsi dalam antisipasi serta pembuatan rencana menghadapi kesulitan, pukulan, ataupun kekecewaan. Begitu lentur karena paham, bahwa jika satu rute tertutup maka rute lainnya dapat dilapangkan. 

Api Hope kian menghangat, sebuah planning kembali tersusun dalam range begitu terbatas. Di setiap kesempatan, dia terus mengunjungi tempat Pandora kemungkinan besar menampakkan wujudnya. Kali ini dia tidak perlu khawatir akan gonggongan security karna target adalah tempat yang berbeda. Sekitar pukul 13.00 siang, di tengah gemuruh langit dia berjalan di sepanjang jalan berubin, mempercepat langkah menghindari awan-awan hitam yang terlihat mulai berkonspirasi. Dengan terpaksa melewati gedung X demi menuntaskan tumpukan pikiran digedung Y. Di antara lintasan X dan Y langkah kakinya melambat, indera pendengarannya meningkat tajam mencoba menangkap suara yang samar-samar memanggil namanya. Spontanitas memalingkan wajahnya, tampak dari kejauhan sesosok objek tak bernyawa sedang menatapnya, objek itu begitu familiar. Pandangan mereka saling beradu, diiringi suara hentakan langit yang membuatnya memutuskan untuk meneruskan langkah kaki.

 “Apa itu memang dia?”. Beberapa pertanyaan menggelitik dikepala, memeras kebimbangan dalam arogansi tendensius. Pikirannya kian gencar menagih jawaban, demi kewibawaan kuriositas diputuskan  untuk kembali, memastikan ruh dari objek tersebut.

“Jadi suara itu berasal darimu, akhirnya kau muncul juga, good job boy”. Objek itu tidak lain adalah kendaraan milik Pandora.

“Dia pasti didalam di gedung itu”, ucap si lelaki dengan penuh keyakinan. Bergegas dia menuju gedung X untuk membuktikan asumsinya. Hasilnya valid, di dalam gedung terlihat beberapa ruangan berpetak yang saling hadap hadapan, di salah satu ruangan, terletak paling sudut Pandora tengah duduk menyilangkan kaki, menatap tumpukan kertas didepannya. 

“Jangan terlalu serius, jawab saja sesuai firasatmu, lemaskan otakmu", suara kecil dari hati si lelaki untuk Pandora yang tengah menikmati punggung Pandora, tangannya menempel lemah pada kaca kecil berukuran kotak panjang ke bawah yang menyatu di daun pintu, kotak kaca itu sekaligus menjadi pembatas pandangannya.

Sedikit senyum menghiasi wajahnya, perlahan melangkah menuju pintu keluar, memilih untuk duduk menanti Pandora digazebo yang terletak tepat disamping pintu keluar. Sebatang rokok tersulut, membuat pandangannya mulai kehilangan fokus tanda bahwa imajinasinya mulai bekerja.

Berapa lama kita tidak bertemu?? Aku harus mulai dari mana?? Kali ini aku yakin! Aku pasti akan berhasil”. Optimisme menyalak, thought experiment bekerja otomatis, menghitung segala kemungkinan beserta simulasi berulang ulang dalam tempo waktu dua jam, hingga pada akhirnya Pandora keluar dari gedung itu. Langkah kaki Pandora berbelok ke kanan, menuju kendaraannya, berlawanan arah dari letak gazebo berada. Si Lelaki bergegas menghampirinya, menepuk pundak kanan Pandora memakai gulungan kertas yang sejak awal digenggamnya. Pandora menengok ke arah tepukan, sedang wajah lelaki itu tepat berada diarah yang sebaliknya. Saat Pandora menengok kearah yang berlawanan, pandangan mereka pun bertemu.

“Heyy”, kata Lelaki itu. Pandora terkejut, seakan lelaki yang tepat berdiri didepannya adalah jelmaan dari makhlus halus, muncul untuk berniat mempengaruhi isi kepalanya. Sisi kelembutan Pandora memperlihatkan kedewasaannya, membalas senyuman si lelaki, membuat si lelaki kembali bernostalgia. Pandora mengikutinya, berjalan dibelakang lelaki itu menuju tempat peristirahatan kendaraannya. Didepan kendaraan Pandora, situasi tak nyaman tersirat begitu tajam, terlihat jelas dari raut wajah Pandora, terlebih dengan perkataan-perkataan bermutu rendah yang diucapkan lelaki itu. Si Lelaki menyadari situasi yang tengah dihadapinya.

 “Sepertinya dia benar-benar yakin dengan keputusannya, apa aku berhasil??” pikir lelaki itu dengan tetap menatap wajah Pandora.

“Aku harus segera pulang”. Kalimat mengejutkan tiba-tiba keluar dari mulut Pandora.

“Aku ikut”. Dengan sigap si lelaki menjawabnya, dia mulai melakukan sedikit pemaksaan, berniat mengikuti kemanapun Pandora akan pergi, tetapi Pandora tentu begitu gigih melakukan penolakan. Layaknya sepasang anak kecil bermain petak umpet, mereka mengitari kendaraan Pandora yang hanya bisa terdiam mematung, kodrat yang harus dijalani Shiro sebagai ciptaan tak bernyawa. Kejar kejaran tak kunjung selesai, beragam butiran hujan mulai rajin menetes. Lelaki itu menghentikan kejarannya, tenaganya cukup terkuras, dia mulai menarik nafas,

“Kau benar-benar menghindariku yah, aku hanya ingin bercerita”, katanya kepada Pandora. Perkataan yang sia-sia, Pandora tetap masih bersikeras untuk tidak mendengarnya, berbagai dalil dari si lelaki membuat Pandora semakin ingin bergegas meninggalkannya. Ditengah perdebatan, keberuntungan datang secara sepihak, hujan telah sepakat membantu lelaki itu. Sekokoh apapun pendirian Pandora ternyata belum cukup mampu untuk melawan insting kelembutannya sendiri, dan Pandora pun mulai luluh, 

“Ya sudah kita duduk disitu”. Pandora menunjuk bangku kecil dibawah pohon yang hanya berjarak beberapa langkah dari kendaraannya. Keduanya pun berjalan menuju tempat tersebut.
 “Yess gitu dong dari tadi, mestinya aku beli borgol biar kuborgol kakimu, terus ku gendong seret kepenghulu”, bisik lelaki brengsek itu dalam benaknya. Diatas bangku itu terdapat dua pohon rimbun yang terlihat telah berumur memayungi bangku itu, pohon itu melindungi mereka dari sengatan hujan yang mulai menderas. Lelaki itu mengambil sebuah bolpoin dari dalam tasnya, mencoba menulis sesuatu diatas secarik kertas yang sedari tadi digenggamnya, membuat catatan kecil untuk Pandora. Sesekali disela-sela menulis dia mencuri pandangan, menatap Pandora yang berdiri tepat didepannya. Berbulan bulan pemandangan seperti itu tidak pernah dirasakannya lagi, walaupun tatapan matanya akhirnya terciduk, alhasil Pandora mengernyitkan dahinya seakan ingin berkata:

“Apa lihat-lihat!! Drama apa lagi yang sekarang coba kau perlihatkan”. Begitulah hasil dari metakognisi yang coba diraba oleh lelaki itu, entah benar atau mungkin hanya sebatas kekeliruan. Hujan mengguyur cukup deras, sebisa mungkin si Lelaki ingin agar Pandora dapat lebih lama lagi bersamanya, meskipun itu hanya satu jam saja.

“Duduk digazebo itu yukk, hujannya makin deras”, bujuk si Lelaki dengan nada setengah merayu kepada Pandora, dia menunjuk kearah salah satu gazebo, tempat dimana mereka pernah duduk berbagi cerita tentang masa lalu.

“Nggak disini aja” jawab Pandora ketus. Mendengar hal itu, semangat si lelaki seketika lunglai, dia kembali melanjutkan tulisannya, sambil sesekali tetap konsisten membujuk Pandora.

“Aku harus pergi sekarang!!”,  langkah pendekar tiba-tiba diperlihatkan Pandora, dia berlari menuju kendaraannya, rencananya terbaca dengan baik, si lelaki melepas penanya, menyingkirkan kertas diatas pahanya, dan berlari mengejar Pandora, dan sekali lagi, sayang sekali pemirsa, lelaki itu terpeleset_-. Terlambat sepersekian detik, menjadi penentu pertemuan mereka berdua, Pandora telah berada didalam kendaraannya, tak ketinggalan dengan bunyi klik yang jelas terdengar. Si lelaki hanya bisa diam mematung, memperhatikan Pandora yang kini telah aman darinya, 

 “Kamu kenapa sihh sebenarnya?”. Lelaki itu tidak berhenti membujuk Pandora yang lebih memilih untuk tidak mempedulikan dirinya. Dengan terenyuh, terpaksa si Lelaki kembali kebawah pohon, memungut pena dan merapikan kertas yang berhamburan ditanah, dia duduk melindungi tasnya dari sengatan hujan, memperhatikan Pandora yang sebentar lagi akan meninggalkannya. Dingin perlahan mulai menusuk, suara disekitarnaya mulai mengecil, kedua bola mata memandang tanpa letih kearah Pandora namun pikirannya terseret ke alam nostalgia.

 “Jangan main hujan”. Teriakan itu mengagetkannya, suara Pandora bersama kendaraannya kini melintas tepat disampingnya, berjarak 4 langkah dari bangku tempat dia duduk. 

“Kamu jahat”, Spontan kalimat itu keluar dari mulut si Lelaki.

“Iyah jahat!! sekarang aku jahat”, balas Pandora dengan nada yang membingungkan. Lelaki itu memalingkan wajahnya dari Pandora, kalimat itu menjadi kalimat terakhir dari Pandora yang terdengar jelas ditelinganya, selebihnya hanyalah jawaban dan gerakan tak sadar. Detik waktu memang harus tetap berganti, Pandora akhirnya berlalu meninggalkan dirinya, dan si lelaki seperti biasa hanya bisa duduk diam satu bahasa, bersuara sambil menatap kakinya sendiri, 

”Setidaknya klakson dulu, baru pergi”, ucapnya untuk terakhir kali. Entah mengapa harus hujan yang selalu hadir, pernah menjadi saksi penyatuan jiwa dan raga dan kini kembali menjadi saksi, tetapi untuk sebuah perpisahan. 

Tak ingin beranjak pergi, si lelaki memilih tetap duduk dibawah kedua pohon itu, memeluk erat tasnya, menikmati kawanan hujan yang mulai menjelajahi disetiap celah pakaian, tubuhnya mulai menggigil. Gulungan kertas masih tergenggam ditangan kanannya. Perlahan gulungan kertas itu berputar dijemarinya, secara bergantian kedua kakinya mulai diayun kedepan. Selang beberapa menit kemudian, senyum tipis berseri mulai tampak memancar dari wajahnya, ukiran senyum yang begitu familiar bagi Pandora, senyum penanda bahwa misteri telah bertemu dengan jawabannya. Kedua kakinya merapat, kertas yang terputar kembali diletakkan disampingnya, dia menundukkan kepala menatap kebawah, kembali mengingat sesuatu yang tidak mungkin terlupakan. Si lelaki menarik nafas, tatapannya tertuju kedepan, sedikit menengok keatas dia mulai berdistraksi dengan dirinya sendiri  (jouska).

“Perencanaan yang cukup panjang, inilah jawabannya, dan terima kasih Tuhan, harapanku (Hope) telah selesai (finish). Walaupun singkat, akhirnya aku bisa berbincang langsung dengannya. Dengarlah ini Pandora, begitu banyak reasoning akan kau temui kedepannya, visionerku bahkan memetakan beberapa orang dengan persepsi negatif tentangku, otak-otak setengah paham, tapi biarlah, beberapa skema analisa telah kutanam didalam kognisi mu, semoga itu awet. Berbahagialah dan tak perlu khawatir karna kau hanya meremukkan satu hati, entahlah apakah kita masih saling mengenal. Sampai saat ini aku masih merasa sebagai orang yang semestinya bertanggung jawab, bukannya aku tidak mencintaimu tetapi realitas memaksa melakukan sesuatu yang lain, ingatlah ini baik-baik, apapun yang telah kulakukan selama ini, nothing’s gonna change my love for you. Aku terlalu hobby mengumpulkan kekuranganmu, terlalu sering mengomentarimu, bahkan begitu rajin memarahimu, hingga akhirnya aku begitu sulit untuk legowo melepasmu. Tidak semua hal dapat kukatakan, tapi untuk sekali ini aku benar-benar ingin membeberkan sederet permintaan maaf, maafkan aku karna meminta Tuhan melancarkan rencanaku, maafkan aku hingga akhir tetap menyembunyikan sesuatu darimu, maafkan aku membuatmu harus begitu bimbang padaku, maafkan aku harus membuatmu menjauhiku, maafkan aku harus membuatmu waspada terhadapku, maafkan aku sebagai aktor dari keputusanmu menutup segala akses untukku, maafkan aku membuatmu meminta sahabatmu untuk melakukan hal yang sama, maafkan aku menghilangkan kebimbanganmu padanya, maafkan aku menjadikannya bagian dari perencanaanku, maafkan aku membuatmu menganggap dia sebagai yang terbaik, maafkan aku harus menjadikanmu medium untuk mengutak atik kesabarannya, maafkan aku harus membuatmu memilihnya, maafkan aku telah gagal sebagai calon budak cinta terbaik, maafkan aku diam-diam telah mengarahkan pikiranmu, maafkan aku!! maafkan aku!! maafkan aku karna telah melakukan itu semua, tanpa kau sadari” (unconsciousness    *********** engineering).

Penulis : M. Arief Sumantri (Pemalas)

Editor : Dina Ariani


banner