Anonimity?

Penggunaan internet dan lingkungan virtual online telah menjadi semakin popular di zaman modern. Dunia virtual menyajikan pelarian bagi seseorang yang menghuni dunia tersebut. Ketika seseorang terlibat dalam lingkungan online, mereka dapat memutuskan hubungan dari “dunia nyata”, dengan pelarian yang demikian menjadi alasan baginya untuk tertarik dalam penggunaan media online. Meskipun internet menawarkan berbagai manfaat, termasuk dapat mengakses secara instan berbagai informasi, kemudahan dalam komunikasi, dan hiburan yang sangat mudah didapatkan, namun hal tersebut bukan berarti tidak memiliki dampak negatif. Konten-konten yang ada di blog atau forum online sering bersifat ofensif dan disengaja, dengan bahasa, ras, rasis, dan homofobik digunakan untuk mendorong melakukan perilaku di luar batas kesponan hanya untuk mendapatkan perhatian. Di samping itu, untuk menghindari konflik, ada beberapa cara yang digunakan oleh seseorang untuk menyerang di dunia maya, salah satunya menggunakan akun palsu (menggunakan nama lain dari identitas yang sebenarnya). Dalam hal ini, biasanya disebut sebagai anonimity.

Anonimitas telah lama menjadi topik yang menarik di kalangan ilmuwan sosial. Anonimitas didefenisikan sebagai proses kondisi sosial tertentu yang mengurangi kesadaran diri dan keprihatinan seseorang tentang evaluasi orang lain, sehingga melemahkan ekspresi perilaku yang tidak diinginkan (Zimbardo, 1986). Sebagian besar anonimitas terdiri dari privasi. Privasi hanya melibatkan kemampuan seseorang untuk melakukan batas kontrol pada akses orang lain ke diri sendiri (Pedersen, 1997). Namun, penolakan ini tidak menyiratkan bahwa seseorang harus melepaskan diri dari kehadiran orang lain untuk menjaga privasi. Pada situasi tertentu, paling sering ditemui pada laman blog, komentar akun-akun media sosil, atau berita online yang memuat komentar para netizen. Di tempat tersebut, seseorang dapat menggunakan anonymity dari internet sebagai “jubah” yang memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan apapun yang diinginkan dengan cara katarsis tanpa takut identitas sosial diketahui (Zimmerman & Ybara, 2014). 

Anonimitas memberikan atmosfer yang besar di dunia maya, seseorang dapat melakukan atau mengatakan apapun tanpa takut evaluasi dari orang lain, serta memungkinkan seseorang untuk mencoba perilaku baru atau mungkin meniru orang lain yang telah nampak menikmati rasa kekauasaan sendiri dan ekspresi diri yang lebih luas tanpa diketahui identitasnya (Zimmerman & Ybara, 2014). Bagaimanapun anonimitas juga dapat menyebabkan perilaku negatif dan akan mendapatkan konsekuensi (Christopherson, 2007; Eastwick & Gardner, 2009; Hayne & Rice, 1997; Reicher, Spears, & Postmes, 1995; Robertson, 2006; Spears & Lea, 1992). Peningkatan perilaku yang tidak pantas atau tidak lazim yang dilakukan di dunia maya karena sifat anonymous dari internet. Seseorang dapat berperilaku dengan komunitas online tertentu dan bebas untuk pergi tanpa memiliki keinginan untuk kembali. Perilaku ini biasanya membuat seseorang tanpa sadar telah melakukan agresi verbal. Perilaku agresi bukan lagi hal yang baru, perilaku agresi sudah ada sejak lama dan dilakukan untuk bertahan hidup (Anderson & Huessman, 2003). 

Perilaku agresif ada karena dimaksudkan untuk mengganggu dan menyakiti orang lain, sementara korban berusaha untuk menghindar. Menurut Santrock (2003) mengatakan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi agresivitas adalah kontrol diri. Perilaku agresi dalam berbagai bentuk penyerangan baik fisik maupun verbal dan tindakan kriminal seringkali diikuti oleh beberapa faktor salah satunya dengan kontrol diri yang rendah. Perilaku agresi tidak hanya ada dalam bentuk kekerasan fisik seperti melukai, memukul, menampar, dan mencubit. Namun, agresi terbagi dalam empat kategori, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan (Buss & Perry, 1992). Agresi verbal merupakan kecenderungan individu untuk menyerang konsep diri orang lain dalam pembicaraan untuk membuat para korban merasa tidak berdaya. Perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam atau membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran tersebut secara verbal atau melalui kata-kata dan langsung ataupun tidak langsung, seperti memaki, menolak berbicara, menyebar fitnah, tidak memberi dukungan.

Di zaman yang modern ini, jangan sampai kita terlena pada kehidupan yang ada di dunia maya, membuat beberapa akun hanya untuk menguntit atau menyerang seseorang dengan melepaskan identitas yang ada. Tanpa sadar, kita akan meruntuhkan secara perlahan identitas sosial yang kita miliki. Selain itu, perilaku anonimity dapat menimbulkan agresi verbal ketika kita tanpa sadar terbawa dalam situasi yang “tidak sehat” pada sebuah kolom komentar yang menghujat atau menghakimi. Sebagai generasi yang peduli terhadap lingkungan yang sehat mental, mari berbenah dengan memberikan perubahan kecil pada diri sendiri, jujur pada diri sendiri, dan berbuat seadanya, tanpa harus melebih-lebihkan atau terlalu mencampuri urusan orang lain yang pada akhirnya akan menimbulkan problem pada diri kita. yang secara tidak langsung dapat menuntut kita untuk ikut andil pada persoalan tersebut.

Oleh : Puji
Editor : Dina Ariani
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.