Belajar Dari Kayu

Kursi tak bernama
Setiap hari ia hanya terdiam kaku dalam ruang, hampir setiap pukul 12 malam ia merintih diam-diam, jika hujan datang ia basah dan kelihatan rapuh, dan jika matahari datang ia seakan terlihat tegar namun tetap luluh, sebut saja ia kursi, ia tampak seperti pada kursi lainnya, namun hanya debu dan titik air di jendela yang mampu melihat keistimewaan yang ia miliki.

Kisahnya bermula ketika ia dibuat oleh puannya, setiap hari ia dirawat dan dibersihkan olehnya, ketika puannya tak berada di ruangan, ruang tempat mereka saling berdiskusi dalam hening, ia hanya tetap menunggu hingga ia kembali berdiskusi. Ia tak sadar kalau ia adalah kursi, sampai kapanpun ia tetap menjadi kursi dan tak punya nama, meski ia berbentuk kursi, ia tetap tidak akan mengerti mengapa ia disebut kursi, karena pada awalnya dia tetap dan abadi menjadi kursi.

Waktu membuat ia usang dan terbuang oleh puan pemiliknya, diabaikan dalam diam dan dijauhkan dalam jarak, hingga hujan tiba menghampirinya, dibalik hujan itu ia menyembunyikan lukanya, ia tak kuasa mencari bantuan atas kesakitan yang ia tak pahami. Hingga ia berpura-pura menjadi manusia agar mampu bercerita dengan kursi tanpa kursi lain tahu jika ia adalah sebuah kursi, dari cerita yang ia curahkan, tampaklah jika ia memang istimewa dan benar berbeda dengan kursi lainnya, ia sadar jika ia bisa berpikir layaknya manusia, ia mampu berimajinasi dan mampu merasakan panas dinginnya alam.

Setelah kembali pada dirinya yang dulu, jadilah ia kursi yg lebih bijak dari yang dulu, tetap tenang dan mencari kebenaran hidup sebagai kayu biasa yang memberikan rasa lega bagi manusia, ketika mereka lelah memijakkan kakinya di atas bumi...

Manusia juga sama
Demikianlah manusia, sarat akan permasalahan kehidupan yang jauh dari kuasanya sebagai manusia. Kadang butuh manusia lain untuk mencurahkan semua yang terekam di dalam benaknya. Namun, dalam proses mencurahkan cerita tentang kehidupannya, terkadang ada perasaan ragu untuk memulai dan ragu untuk memilih sosok yang tepat. Yaaah, sebut saja ada “duri” yang tertancap di dalam pikiran hingga membutuhkan waktu yang lama untuk mencabutnya. Mencabut duri dalam pikiran sungguh sangat berbeda dengan mencabut duri yang menusuk kulit.

Manusia memberikan istilah pada duri itu dengan sebutan stigma, kamus mengatakan stigma itu sebuah ciri negatif yang menempel pada seseorang. Stigma itu merupakan jalan untuk melakukan diskriminasi terhadap manusia lain, ketika stigma terbentuk, dia akan tersimpan rapih dalam benak setiap manusia yang suatu saat bisa muncul dalam sebuah bentuk prasangka dan pemberian label-label yang tidak manusiawi. Selain stigma mampu memberikan label negatif pada manusa lain, manusia itu sendiri dengan luar biasanya memberikan label kepada dirinya sendiri.

Sebut saja ketika seseorang mengalami kesedihan yang berlebihan, kemudian orang-orang di sekitarnya memberikan gelar manusia lemah Maha tak berguna, di waktu yang sama dia pun merasa ungkapan tentang dirinya benar, dia lemah, dia tidak berguna, dan dia tidak mampu berbuat apa-apa. Jadilah dia manusia yang penuh dengan keraguan dan ketidakpahaman atas apa yang terjadi pada dirinya.

Belajar dari kisah kursi tak bernama, mesikipun ia hanya sebuah kursi tapi ia mampu keluar dari kesendiriannya dan memilih untuk bercerita walau berada di balik topengnya. Manusia pun bisa melakukan hal yang sama, mencoba untuk keluar dari permasalahan hidup dengan memilih bersembunyi dengan menjadi anonim demi menghindari label yang berlebihan terhadap dirinya dan demi mendapatkan petuah-petuah yang dapat mengubah hidupnya menjadi lebih bermakna.

Pada akhirnya, manusia butuh perjalanan untuk menjadi lebih sadar atas hal yang dilakukan. Manusia butuh didengarkan dan butuh penguatan dari manusia lain layaknya sebuah kayu yang berproses atas lignifikasi yang secara alami membuatnya menjadi sebuah pohon yang kuat dan berdiri di atas kaki sendiri...


Penulis : Azmul
Editor : Dina Ariani

Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.