The Art of Loving: Datang Begitu Saja, Pergi Begitu Saja


Gue gak pernah percaya ketika apa yang kita ungkapkan, apa yang pernah kita janjikan untuk hidup kita berdua kedepannya sirna begitu saja. Tanpa rasa bersalah sama sekali.

Gue pernah berpikir untuk bertemu, menjalani hidup dengan orang yang baru, membangun komitmen bersama, hingga akhirnya gue memutuskan bahwa dia adalah orang yang gue cari selama ini.
Gue adalah orang yang sulit jatuh cinta. Sekali jatuh cinta, gue menaruh kepercayaan. Sayangnya, gue gak bisa komit sepenuhnya pada saat orang yang gue beri kepercayaan membuatnya sia-sia begitu saja.

Yah, kadang marah memuncak, tapi tetap saja memaafkan. Buat salah, ada maaf. Begitu seterusnya. Sampai pada satu titik gue pengen nyerah, tapi gue ingat lagi perjuangan dia, dan kembali lagi.. lagi, dan lagi. Memberikan kesempatan kedua pada orang yang sama, akan membuat kita mengulang kesalahan yang sama di masa lalu. Ternyata bener..
Kalau diingat-ingat lagi, gue pernah menjadi orang bodoh karena cinta. Gue tau, kenangan gak bisa dilupakan begitu saja, dan gue gak pernah berusaha sekeras mungkin untuk melupakan kenangan., karena gue selalu percaya, gak mungkin kita dipertemukan dengan seseorang tanpa adanya maksud Tuhan di balik itu semua. Ada banyak hal yang pernah gue dapatkan. Kuatnya menghadapi keadaan saat kita dikhianati orang yang kita sayang, kuatnya raga ini menghadapi orang-orang yang menentang hubungan kita, kesabaran seseorang diuji, dan seberapa kuat ia bisa menghadapi. Lalu, bagaimana perasaan seseorang ketika berada pada puncak yang lagi sayang-sayangnya, lalu salah satu pihak meninggalkan tanpa ada kata? SAKIT.  Bener sakit emang.

Berada pada posisi itu, gue gak tau mesti apa. Seharian gue nangis, karena dikecewain. Dan lebih konyolnya lagi, gue di selingkuhin. Lucu sih, soalnya yang memberikan kabar bahwa mereka punya hubungan adalah orang ketiga ini. Ok, don’t worry. Ini bukan akhir segalanya, lu kuat (gue usap bahu gue sendiri). Gak papa, lu nangis aja seharian, sekuat dan sekencang mungkin, untuk hari ini saja, karena hari ini adalah hari patah hati buat lu (kata gue pada diri sendiri). Tanpa rasa dendam, gue melepaskan semuanya. Semuanya. Tanpa sehelai pun.
Keesokan harinya, gue bangun pagi. Entah kenapa, rasa sakit dan sesak yang gue alami kemarin itu udah ilang. Gue merasa bahwa beban gue selama ini udah ilang, dan di hari kedua setelah ini, gue menanamkan pada diri bahwa dia bukan yang terbaik, ada seseorang yang sedang berjuang di ujung sana, tapi bukan saatnya kamu dipertemukan (kataku). Mungkin di lain waktu. Gak papa dia hadir lagi, tapi dengan status yang berbeda. Hanya sebatas teman, tidak untuk berbagi hati seperti dulu, dan karena kejadian itu gue percaya, sesakit-sakitnya batin ini, yang bisa menyembuhkan adalah diri kita sendiri. Walaupun, butuh penopang dari orang lain, tapi yang lebih berperan adalah DIRI KITA. Bagaimana kita bisa memafkan untuk diri kita dan orang lain, serta menerima masa lalu kita dengan ikhlas.



Membahas tentang cinta mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai hal yang sangat kekanak-kanakan, dan banyak yang berpikiran bahwa tema seperti ini hanya cocok untuk kalangan anak muda. Tapi, bagi yang masih dalam tahap pencarian, topik ini masih sangat relevan. Kenapa? Karena cinta merepresentasikan kualitas kepribadian yang ada pada diri manusia selama hidupnya.  
Cinta memang konyol. Yah, konyol untuk orang-orang yang menjadi budak cinta. Cinta bukan hanya ditujukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri (yah, itu yang utama). Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada lima syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu: perasaan, pengenalan, tanggung jawab, perhatian, dan saling menghormati.

Teori Cinta (Erich fromm)
Teori apapun tentang cinta harus dimulai dengan teori tentang manusia, yaitu eksistensi manusia. Manusia dianugerahi dengan rasio; ia adalah makhluk yang sadar dirinya; ia mempunyai kesadaran tentang dirinya, sesama, masa lalu, dan kemungkinan masa depannya. Kesadaran akan diri sebagai identitas yang terpisah, kesadaran akan jangka hidupnya yang pendek, akan fakta bahwa ia lahir dan mati bukan karena kehendaknya, bahwa ia akan mati sebelum mereka yang ia cintai, atau mereka mati lebih dulu sebelum dirinya, kesadaran akan kesendirian dan keterpisahannya, akan ketidakberdayaannya terhadap kehidupan alam dan masyarakat, semua ini membuat eksistensi dirinya terpisah dan terpecah menjadi penjara yang tak tertahankan. Ia akan mengalami gangguan kejiwaan jika tidak dapat membebaskan diri dari penjara itu dan keluar, menyatukan diri dalam bentuk apapun dengan manusia lain, dengan dunia luar. Kesadaran akan keterpisahan inilah yang menimbulkan munculnya rasa cinta pada diri manusia. Kerinduan akan sesuatu dari luar dirinya disalurkan pada pribadi lain, pada benda dan Tuhan. Semenjak dilahirkan, kita menyadari bahwa kita hidup terpisah dari orang lain dan alam. Rasa kesendirian manusia adalah asal muasal dari rasa cinta atau rasa ingin bersatu kembali. Manusia tidak ditakdirkan untuk hidup menyendiri, kita adalah makhluk sosial sejak dari kandungan, artinya kita membutuhkan kehadiran subjek dan objek lain dari luar diri kita. Cinta adalah pemersatu atau pengisi kekosongan atas kesendirian manusia tersebut. Dengan tidak adanya cinta maka hidup pun tidak memiliki makna.

Erich Fromm dalam buku larisnya (The Art of Loving) menyatakan bahwa keempat gejala: care, responsibility, respect, knowledge muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Cinta memuat perhatian (care) berarti bahwa dalam mencintai, kita haruslah memberikan perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai. Hakikat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh.
Aspek selanjutnya dari cinta adalah tanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab berarti mampu dan siap untuk “merespon”. Kita ikut bertanggung jawab atas kehidupan orang yang kita cintai sebagaimana kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri.
Tanggung jawab dapat menjadi dominasi dan pemilikan jika tidak disertai komponen yang ketiga, yaitu penghargaan (respect). Penghargaan disini berarti kemampuan untuk melihat seseorang sebagaimana adanya, dengan menyadari segala keunikan yang ada dalam diri orang tersebut. Sosok yang dicintai dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri dan demi kepentingannya sendiri, bukan dipaksa berkembang demi hasrat dan ambisi orang yang mencintai. 

Untuk dapat melakukan ketiga aspek sebelumnya dengan baik, cinta juga harus memiliki aspek yang keempat, yaitu pemahaman atau pengetahuan (knowledge). Pemahaman disini adalah pemahaman yang mendalam yang sanggup menembus inti persoalan. Pemahaman semacam ini hanya mungkin jika kita dapat melampaui perhatian atas diri sendiri untuk kemudian melihat orang lain sesuai dengan konteksnya sendiri. Dalam cinta, kita hanya bisa mengetahui lewat pemahaman atas apa yang hidup dalam diri manusia – dengan cara mengalami kesatuan, bukan melalui pengetahuan yang diberikan oleh pikiran.





Lalu, sudahkah kita mencintai diri kita dengan benar?
Sudahkah kita memberikan cinta dengan tulus pada orang-orang yang kita sayangi?
Semoga saja. 

“Cinta adalah tindakan keyakinan, dan siapa pun yang kecil keyakinannya, kecil juga cintanya”- Erich fromm.

Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.