Rabu, 24 April 2019

Friends with Benefits : Dilema antara Persahabatan, Cinta dan Intimasi Seksual

Friends with benefits (FWB), cukup familiarkah di telinga Anda istilah tersebut? Atau bahkan Anda sendiri pernah mengalami konteks FWB tersebut?. Menurut beberapa studi literatur, FWB atau friends with benefits merupakan sebuah hubungan seksual yang terjadi dalam konteks pertemanan antara laki-laki dan perempuan, tanpa adanya komitmen yang akan mengarah pada hubungan romantis, seperti berpacaran ataupun menikah. Hubungan FWB semakin banyak dipilih oleh orang dewasa muda saat ini karena keinginan untuk menunda pernikahan, menghabiskan waktu untuk mengembangkan pendidikan dan karir, serta kekhawatiran tentang komitmen dalam hubungan. Dibalik hal tersebut, individu yang terlibat dalam hubungan FWB memiliki kebutuhan seksual yang ingin dipenuhi, namun hanya terbatas pada pertemanan tanpa perlu mengambil risiko untuk merasakan kekecewaan dalam hal emosi maupun terlibat pada perasaan cinta (Lamanna & Riedmann, 2009; Bisson & Levine, 2009). Beberapa orang dewasa, mungkin melihat hubungan FWB merupakan sebuah cara yang menarik untuk mengekplorasi atau melihat komitmen dari pasangan sebelum menuju pada hubungan yang lebih serius (Owen & Fincham, 2012).
Konteks hubungan FWB menjadi fenomena umum yang terjadi di Negara-negara Barat jika dibandingkan dengan Negara-negara Timur. Hal ini dapat disebabkan oleh kuatnya nilai-nilai norma yang dipegang oleh masyarakat Timur, khususnya Negara Indonesia yang menganggap hubungan seksual pranikah merupakan hal yang tabu dan menjadi aib bagi diri sendiri maupun keluarga. Pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini, khususnya remaja maupun orang dewasa pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Hubungan seksual tersebut umumnya terjadi pada pasangan yang menjalin hubungan berpacaran, namun tidak menutup kemungkinan bahwa aktivitas seksual pun dapat terjadi dalam hubungan pertemananan. Aktivitas seksual yang dilakukan oleh pasangan FWB pun dapat berupa berpelukan, berciuman, menyentuh alat kelamin, oral sex, hingga sexual intercourse. Situasi lain yang mendukung terjadinya hubungan seksual dalam hubungan pertemanan adalah pengaruh alkohol ataupun obat-obatan terlarang yang digunakan secara bersama-sama.
Sesuai dengan peran gender secara tradisional, pria cenderung mampu melakukan hubungan seksual tanpa adanya komitmen dibandingkan wanita. Wanita cenderung merasa kurang bahagia dengan hubungan FWB karena pada umumnya wanita akan mengharapkan komitmen dalam sebuah hubungan, sedangkan komitmen merupakan suatu hal yang dihindari dalam hubungan FWB. Hasil penelitian Lehmiller, Vanderdrift dan Kelly (2011) menemukan bahwa pria lebih banyak terlibat dalam hubungan FWB di masa lalu dibandingkan dengan wanita. Selain itu, pria cenderung lebih mengharapkan agar hubungan FWB tersebut tidak mengalami perubahan, berbeda dengan wanita yang mengharapkan hubungan FWB dapat berubah menjadi hubungan romantis. Menurut Bisson dan Levine (2009) hanya sekitar 10% kemungkinan individu yang menjalani hubungan FWB dapat berkembang menjadi hubungan romantis.
Dorongan seksual maupun ketertarikan fisik menjadi motivasi utama dari sebagian besar pria dalam memulai sebuah hubungan, sedangkan wanita cenderung mengutamakan kedekatan emosional dalam menjalin hubungan. Di dalam hubungan pertemanan antara laki-laki dan perempuan, seringkali memunculkan isu dimana salah satu pihak sangat memungkinkan menyimpan perasaan suka terhadap pasangannya, terlebih jika pertemanan tersebut telah terjalin bertahun-tahun. Ketika perasaan jatuh cinta telah muncul, ditambah dengan kesediaan kedua belah pihak untuk melakukan hubungan seksual dalam hubungan pertemanan, maka sedikit tidaknya akan memunculkan keuntungan maupun kerugian. Bisson dan Levine (2009) menyebutkan bahwa keuntungan yang didapatkan melalui hubungan FWB, yaitu rekreasi, seks non-eksklusif dengan seseorang yang dikenal dan dipercaya. Kerugian yang akan ditimbulkan, seperti masalah seks akan merusak persahabatan, kehilangan teman, munculnya emosi negatif seperti kecemburuan atau perasaan terluka, menciptakan hasrat yang tidak terbalas karena tidak dapat melanjutkan hubungan tersebut ke arah yang lebih serius. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Buczek, Puchala dan Kocur (2016), ketika individu mulai merasakan perasaan jatuh cinta kepada pasangannya, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mengembalikan kondisi perasaan terhadap pasangannya seperti semula.
Kesepakatan dari kedua belah pihak untuk menghindari ikatan emosional serta munculnya komitmen, menjadi aspek utama ketika menjalani hubungan FWB. Ketika masing-masing individu mampu memahami batasan dan berkomitmen untuk tidak “menaruh” harapan yang besar dalam hubungan FWB, maka akan meminimalisir munculnya dampak negatif dalam diri individu tersebut. Menurut Bisson dan Levine (2009) ketika hubungan FWB berakhir, maka terdapat dua kemungkinan, yaitu hubungan pertemanan yang terjalin tetap utuh seperti semula atau sepenuhnya berakhir. Hasil penelitian Owen, Fincham dan Manthos (2013) menemukan bahwa sebagian besar individu (81.5%) yang menjalani hubungan FWB tetap menjalin pertemanan dengan pasangan mereka, meskipun hubungan intimasi seksual yang dilakukan telah berakhir. Selain itu, sekitar 50% partisipan dalam penelitian tersebut merasa lebih dekat dengan pasangan FWB mereka. Di dalam hubungan FWB, khususnya individu yang mengutamakan pertemanan dengan dasar intimasi, tidak menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kualitas pertemanan mereka setelah “keuntungan intimasi seksual” tersebut berakhir. Individu yang tidak melanjutkan hubungan pertemanan setelah hubungan FWB dengan pasangannya berakhir, cenderung menunjukkan adanya perasaan kesepian dan simtom depresi yang lebih besar.
Beberapa hasil penelitian dan opini penulis yang telah dipaparkan sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan friends with benefits tidak sekedar menjadi wadah bagi individu untuk memenuhi kebutuhan seksualnya tanpa adanya sebuah ikatan komitmen, namun terdapat dilema bahkan dampak negatif yang dapat muncul ketika individu tidak mampu mengendalikan emosi, harapan dan memegang komitmen atau aturan dalam hubungan tersebut. Melalui fenomena friends with benefits ini, kita dapat belajar bahwa apapun bentuk hubungan yang dibentuk oleh individu, maka akan selalu terdapat batasan dan konsekuensi yang akan ditemukan. Setiap individu pun perlu belajar untuk menyikapi secara bijak keputusan yang telah dibuat dan menentukan apakah hubungan yang sedang dijalani dapat membuatnya berkembang dan bertumbuh ke arah yang lebih positif atau justru sebaliknya.

Penulis : Putu Yunita Trisna Dewi, S.Psi
Mahasiswa Magister Profesi Psikologi Klinis UNAIR
Editor : Dina Ariani


DAFTAR PUSTAKA
Bisson. M.A., & Levine, T.R. 2009. Negotiating a friends with benefits relationship. Arch Sex Behav. 38. 66-73
Buczek,A., Puchala,A., & Kocur, D. 2016. The dark personality triad in people involved in “friends with benefits” relationships. Przegl Seks. 4(48). 37-44
Lamanna, M.A., & Riedmann, A. 2009. Marriages and families: Making choices in a diverse society. Tenth Edition. USA: Thomson Wadsworth
Lehmiller, J.J., VanderDrift, L.E., & Kelly, J.R. 2011. Sex differences in approaching friends with benefits relationships. Journal of Sex Research. 48(2-3). 275-284
Owen, J., & Fincham, F.D. 2012. Friends with benefits relationship as a start to exclusive romantic relationships. Journal of Social and Personal Relationships. 29(7). 982-996
Owen, J., Fincham, F.D., & Manthos, M. 2013. Friendship after a friends with benefits: Deception, Psychological functioning, and Social connectedness. Arch Sex Behav. 42. 1443-1449

Sabtu, 20 April 2019

LOVE??


LOVE ??
“mendefinisikan love sama halnya membatasi ruang gerak
dari cinta itu sendiri, meski merupakan suatu kewajaran” by Filosofialrescha

Hello darkness my old friend, I’ve come to talk with you again, because a vision softly creeping, left its seeds while I was sleeping (Dana Winner).    
Kali ini berdiri tepat di samping kanan Erich Fromm dengan agak sedikit serong ke kiri akan cukup menyenangkan, ada satu keinginan untuk mengatakan “Aku mencintaimu bukan karena aku membutuhkanmu, tetapi aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu”, meski terbaca parodoks sebagai satu rangkaian kalimat inversion, yang terias oleh unsur symbolic tetapi sekaligus memberi titik fokus pada pembahasan love ini. Sejak kepindahan Fromm ke New York ditahun 1934, sepasang kolega senantiasa dilekatkan begitu erat dengan dirinya. Seorang male scientist keturunan Irlandia, yang menganggap loneliness sebagai pengalaman paling menyakitkan bagi manusia dan sesosok perempuan asal German, Ibu sekaligus feminist yang berani meletakkan kritik tajam terhadap pandangan tradisional Freud. Karen Horney dan Stack Sullivan, dua rekan sejawat Fromm yang sempat terlilit balutan kain asmara, tapi anggaplah itu misteri di antara mereka. Keunikan pemikiran Fromm pada waktu itu terletak pada usahanya menggabungkan pikiran Marx dan Freud, beragam karya lahir dari tinta pena miliknya, peninggalan multifungsi, tak terkecuali bagi para psikoanalisis sosial. Satu dari sekian karya Erich dituangkan dalam risalah cinta berjudul The Art Of Love (1956).
Eksposisi pikiran Fromm terbaca begitu jelas, love is art, cinta merupakan bagian dari seni, berlaku pada setiap individu dalam mengarungi khazanah kehidupan. Ibarat memelajari alat musik ataupun pekerjaan seni lainnya, termasuk konstruk alat ukur maupun interpretasi, individu akan sulit memahami esensi dari cinta tanpa terlebih dahulu mempelajari teori dan praktiknya. Bagi Fromm, seni dari mencintai (art of loving) dapat dibangun dan dikuasai dengan mulai memahami teori (fundament) sebelum beralih pada praktik. Dalam love theory, Fromm telah berkeyakinan bahwa segala jenis konsep teori cinta dimulai berdasarkan pemahaman tentang kesadaran diri (awareness) sebagai makhluk berakal budi, menyadari bahwa setiap individu terlahir dan berlalu meninggalkan dunia ini bukan atas kehendaknya sendiri, bisa saja satu waktu pecinta akan lebih dulu menanggalkan kehidupannya (makhluk bernyawa) mendahului sosok individu yang dicintainya, begitupun berlaku hal sebaliknya. Menyadari hal itu membuat individu mau atau tidak mau, terpaksa ataupun tidak, menerima ketidakberdayaan sebagai satu entitas di dalam ego. Ketidakberdayaan terhadap kehidupan itulah yang diyakini Erich mengharuskan individu sebisa mungkin, bahkan terkesan wajib membebaskan diri dari perangkap ketidakberdayaan, keluar dari balik jeruji, menyatu dengan berbagai hal, dengan argumen bahwa manusia merupakan makhluk sosial, membutuhkan objek lain di luar keberadaannya, karena cinta merupakan sesuatu yang dapat dipelajari, juga sebagai pemersatu, dan individu tidak akan dapat benar-benar mencintai seseorang tanpa memiliki rasa cinta antar sesama umat manusia, dalam hal ini termasuk mencintai dirinya sendiri. Cinta menjadi ibarat bumbu penyedap paling khas dan pas dalam mengarungi bahtera kehidupan, love is an activity not a passive affect.
Dibalik itu semua, faktanya Erich mengakui bahwa mencintai bukanlah perkara yang mudah, di chapter akhir bukunya sebuah kalimat sempat ditinggalkan “I am afraid that anyone who approaches this last chapter in this spirit will be gravely disappointed”. Semacam kalimat sandi bahwa Erich tetap merasakan keraguan, secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa dinamika cinta tidak cukup hanya mengandalkan care, responsibility, respect, dan knowledge, karna value cinta lebih luas dari apa yang tampak oleh dugaan. Seperti halnya Erich, kita tahu tiap individu memiliki keunikan petualangan cintanya masing-masing, termasuk petualangan cinta seorang Erich Fromm. Kenyataan dari unsur manusiawi individu selalu menginginkan hal-hal menarik, tentu dapat dibantah dengan mudah (defends) terutama bagi individu yang terikat erat pada trend tataran sosial, menapik bahwa desain ego tersetting untuk memilah-milah dalam market personality, memboyong pertanyaan-pernyataan idola yang begitu sering terdengar berhamburan, semisal pertanyaan “tipe pasangan idaman kamu seperti apa?” atau pernyataan “tipe pasangan idaman saya seperti ini” dan bla bla bla, hal yang membuat ego semakin kokoh pada tempatnya, bersama realitas yang selalu siap memberi poin. Hal tersulit bagi manusia adalah memberi tanpa feedback (juga sering dibantah), padahal hasrat memang berada di jalur timbal balik (pleasure concistency), menyetir disamping takdir, entah secara manual atau autopilot, dan hasrat selalu menyediakan wadah untuk misterinya, karna misteri itu menjadi pil adiktif bagi hasrat, suatu jawaban atas pertanyaan “Mengapa pdkt lebih nikmat ketimbang setelah mendapatkan status??”. Seperti sebaris bait, “Jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu”, seperti itulah hasrat selalu menagih satu momen bahkan lebih (surplus) dalam satu ruang waktu. Perkara cinta adalah perkara intra subjektivitas, objek cinta dalam bentuk material (fokusnya bukan pada matrealistik) ataupun non material diproses secara berbeda oleh hasrat, sehingga dari semua titik keraguan, maka setidaknya preventif sebelum banjir cukup bijak sebelum terseret arus. Mengingatkan pada baris lirik “Bertepuk sebelah tangan,, sudah biasa!! ditinggal tanpa alasan,, sudah biasa!!, penuh luka itu pasti, tapi aku tetap bernyanyi!”, begitulah ketegaran berusaha membantu, menutupi luka tak berdarah, hingga luka itu terlatih untuk keram terhadap rasa. Erich sendiri telah menghadirkan sebuah solusi, dengan menitikberatkan pada objek cinta, bukan pada hasrat cinta.
Proses belajar mencintai tidak akan pernah final, baik teori atau praktik, keputusan Erich meleburkan cinta ke dalam seni harus diakui sebagai satu pertimbangan elite matang yang menghangatkan. Beberapa waktu lalu dari kejauhan, pandangan seorang lelaki tertuju pada satu objek, tengah menikmati satu moment bersejarah dalam hidupnya. Senyum, ucapan selamat dan iringan tawa terpancar dari orang-orang yang mencintainya, membuat kedua pipi tak henti memunculkan sinyal kebahagiaan, balutan kain merah menutupinya begitu anggun, benar-benar terlihat seperti proyeksi seorang dewi. Si lelaki tersenyum dan berkata “Aku tidak bisa memenuhi hasrat cintamu, oleh karena itu aku merelakanmu dengan konsekuensi tetap mencintaimu”. Jika banyak individu mempertanyakan “Bagaimana cara mencintai sehingga semuanya menjadi layak untuk dicintai??. Maka semakin menarik bagi saya mengajukan satu statement dalam bentuk permintaan sekaligus penawaran, “Beritahukan padaku bagaimana seharusnya mencintaimu sehingga semuanya dapat menjadi indah, bukan karna cintaku, bukan karna cintamu, tetapi karna cinta kita,” selamat mengisi lembar kehidupan lainnya, titip salam buat buah hati kalian di masa depan ……….SEKIAN.

Oleh: M. Arief Sumantri (Pemalas)
Editor : Dina Ariani       

Selasa, 16 April 2019

Pemilu dan Kesehatan Mental Partisipasi dalam Politik sebagai Wujud Aktualisasi Diri


     Saat mendengar kata Politik, kira-kira apa yang terlintas? Sekedar pemilu? Atau sekedar persaingan ketat antar calon? Perlu dipahami bersama, bahwa politik tidak hanya tentang itu, namun hal tersebut memang menjadi bagian dari politik. Kesadaran untuk berpartisipasi dalam politik seyogianya merupakan bentuk eksistensi sebagai manusia yang merdeka. Mereka yang menyadari kemerdekannya akan memilih berkontribusi dalam politik sebagai sarana penyaluran aspirasi. Mereka akan menyadari bahwa kontribusi sekecil apapun yang diberikan semata untuk kemaslahatan masyarakat, dan salah satu wujud kontribusi nyata adalah keikutsertaan dalam Pemilu.

     Pemilu saat ini telah menjadi trending topic di hampir semua sudut kota Indonesia. Menilik hal tersebut, sebenarnya apa yang menjadikan hal tersebut terasa sengit? Benarkah pemilu merupakan ajang kompetisi? Benarkah politik menjadi ajang untuk menonjolkan siapa yang paling luarbiasa? Sebegitu hebatnya jugakah pemilu mengguncang mental para calon dan pemilih sampai beberapa RSJ sudah menyiapkan kamar-kamar VIP untuk mereka yang stres karena hasil pemilu yang mungkin tidak sesuai dengan harapan? Tapi tidak ada gunanya terus bertanya sendiri tanpa mencoba memahami apa sebenarnya yang terjadi. Jadi izinkan kami berbagi pemahaman.

Sadarkah bahwa politik dan kesehatan mental saling terkait? Apalagi khususnya dalam atmosfer pemilu yang sedang berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan di atas pada dasarnya mengajak kita semua untuk memahami bahwa para calon dan juga para pemilih berpeluang untuk mengalami guncangan-guncangan mental, yang jika itu tidak diatasi dengan baik, maka akan menjadi salah satu penghuni ruang VIP di RSJ itu. Kami berdoa semoga tidak demikian. Perlu juga kami sampaikan bahwa pertarungan dalam pemilu bisa jadi sama halnya dengan pertarungan harga diri. Bisa dibayangkan pertarungan harga diri itu seperti apa? Semua usaha pasti akan dikerahkan, tidak terkecuali dengan biaya. Biaya kampanye itu tentu tidak sedikit, dan biaya yang dikeluarkan itulah yang dapat memicu terganggunya kesehatan mental. Semakin besar biaya yang dikeluarkan, akan semakin berpeluang untuk terganggunya kesehatan mental. Lalu, apa yang bisa dilakukan? Tidak lain dan tidak bukan adalah merawatnya. Lalu, bagaimana cara merawatnya? Dengan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terbaik dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Yakinkan pada diri bahwa apapun yang terjadi telah menjadi hasil terbaik dari berbagai usaha yang telah dikerahkan. Banyak yang tidak dapat me-manage kondisinya dikarenakan lupa untuk memersiapkan diri dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, padahal itu menjadi salah satu hal penting yang perlu dilakukan.

Kondisi itu tentunya tidak hanya untuk para calon, namun juga kepada para pemilih, apalagi mereka yang dengan sangat fanatik mendukung calonnya. Perlu juga kami sampaikan kepada para pemilih untuk penting memahami bahwa keputusan memilih dalam Pemilu seyogianya menjadi bagian dari aktualisasi diri sebagai manusia yang merdeka dan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepadaNYA. Orang yang memilih atas kesadarannya sendiri berarti telah mengenali nilai-nilai dan keyakinan yang dianutnya, sehingga mereka menyadari bahwa pilihannya merupakan bentuk pertanggungjawabannya sebagai warga Negara yang baik. Mereka memilih untuk kebaikan dirinya, masyarakat, dan Negara Indonesia ini. Mereka mampu melihat jauh ke depan, sehingga mereka memilih pemimpin yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, bukan tentang siapa yang paling ganas serangan fajarnya.

     Fenomena yang terjadi saat ini sesungguhnya menunjukkan bahwa masih banyak orang-orang yang pilihannya sangat mudah dipengaruhi. Mereka merupakan target dari serangan fajar, kampanye negatif, berita hoax, dan sebagainya. Suara mereka mudah dibeli, karena kebutuhan mereka yang masih sebatas perut dan keuangan semata. Ketika mereka diminta mengubah pilihannya dengan imbalan sejumlah uang, sebagian akan mudah goyah, karena mereka memang membutuhkan uang tersebut. Mereka mengharapkan imbalan demikian untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya. Bukankah itu sangat murah? Padahal suara rakyat harusnya mahal, tidak dapat dibeli dengan apapun.

     Namun hal tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata, sebab proses tersebut akan terus berlanjut dikarenakan jumlah pengangguran dan masyarakat miskin yang masih tinggi di Negara ini. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi dari sejumlah pihak, terutama pemerintah untuk mampu mendampingi masyarakat dalam mengembangkan kesadaran memilih dengan mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa standar figur calon yang akan dipilih sudah harus bergeser, yaitu mereka yang memang dianggap mampu menempati posisinya, bukan mereka yang paling tinggi nominal serangannya.

Seorang filsuf pernah mengatakan bahwa buta terburuk adalah buta politik.
Oleh karena itu, jangan menjadi salah satu di antaranya.

Penulis : Afga Yudistikhar dan Dina Ariani
Editor : Dina Ariani
Terinspirasi dari Diskusi Komunitas Halo Jiwa Indonesia Bersama Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A (Dosen Psikologi Politik UNM)

Dokumentasi:



πŸ“… Rabu, 20 Maret 2019
⌚ Pukul 19.00 - 22.00 wita
πŸ“Cinnamon Cafe & Dessert, Jl. Sultan Alauddin No. 108

Sabtu, 06 April 2019

Untuk Emosi Negatif dan Kekecewaan Alihkan dengan Defence Mechanism “Sublimasi”


Kekecewaan, perasaan insecure, dan patah hati merupakan sederet problematika yang tak jarang menghampiri setiap individu dalam kehidupan. Setiap individu memiliki caranya sendiri untuk menghadapi hal yang demikian. Pada ilmu psikologi, ada teori yang bernama Defense mechanism oleh Freud.  Freud yang merupakan seorang Austria pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi ini menggunakan istilah Mekanisme Pertahanan Diri (Defence Mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan.



Mekanisme pertahanan diri setiap individu berbeda-beda dan strategi pertahanan diri menurut Freud ada berbagai macam, salah satunya adalah sublimasi. Sublimasi merupakan suatu reaksi kompromi yang dilakukan oleh individu ke arah yang lebih positif dan menghasilkan prestasi budaya dan kultural. Contohnya, Iwan Fals gemar menciptakan lagu yang bernuansa politik dan keadaan rakyat Indonesia yang bisa jadi merupakan sublimasi terhadap kekecewaan dan harapannya terhadap Indonesia.

Seorang teman yang secara tak sadar memiliki strategi pertahanan diri sublimasi merasa dirinya lebih bahagia setelah mengalami kekecewaan dan patah hati. Semakin ia disakiti, semakin ia merasa ingin membuktikan bahwa ia baik-baik saja, dan mampu melakukan hal-hal yang lebih positif dibanding sebelumnya secara tidak langsung mengembangkan potensi yang yang dimilikinya. Orang-orang yang memiliki strategi pertahanan diri sublimasi ini perlu diapresiasi karena tidak banyak yang dapat melakukannya, sebab mereka percaya bahwa setelah badai hujan akan ada pelangi nan indah. Untuk semua perasaan kecewa, amarah, kekesalan, keputusasaan, dan segerombolan emosi negatif lainnya, ia mampu bangkit dan merasa lebih bahagia setelah melakukan hal-hal yang lebih positif dibandingkan terpuruk dan menangisi hal-hal yang belum tentu terjadi. Proses untuk sublimasipun tidak mudah, dimulai dari datangnya sederet masalah dan kekesalan yang tak berujung, kemudian fase sakit hati dan kecewa diiringi linangan air mata, hingga proses sublimasi dimulai dengan mulai aktif mengikuti kegiatan yang melibatkan banyak orang, datang dan berkumpul dengan teman lama sambil berdiskusi, serta ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial lainnya.

Meskipun demikian, mekanisme pertahanan diri tidak dimaksudkan untuk dilakukan secara berlebihan, sebab terlalu sering defense hanya akan membuat ego rapuh yang justru akan merusak kesehatan mental. Pada akhirnya, kita akan merasa lebih sehat secara mental jika kita mampu belajar untuk berdamai dengan setiap situasi yang terjadi, baik itu membahagiakan maupun menyedihkan. Hanya saja, perlu untuk segera bangkit agar mampu menemukan kebahagiaan, ketenangan, dan merasa lebih berguna untuk orang lain.

Penulis : Karmila Kahar
Editor : Dina Ariani
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian (edisi revisi). Malang: UMM Press.

banner