Sabtu, 18 Mei 2019

Terlibat Bersama, Dari dan Untuk Masyarakat



Sedikit Catatan Gado-Gado:
Terlibat Bersama, Dari dan Untuk Masyarakat



Bandung, Indonesia menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan regional workshop YSEALI (Young Southeast Asian Leaders) pada tanggal 29 April hingga 3 Mei 2019. YSEALI merupakan program pemerintah Amerika Serikat yang bertujuan untuk memperkuat pengembangan kepemimpinan dan jejaring di Asia Tenggara. Ini adalah kali pertama YSEALI mengadakan workshop dengan topik kesehatan. Workshop ini dinamai YSEALI Engage dengan tema Empowering the Next Generation for Advocacy and Grassroots Engagement on Noncommunicable Diseases (NCDs). YSEALI menggandeng RTI International dalam pelaksanaannya. 

Workshop ini diikuti oleh 43 peserta dari negara-negara ASEAN, ditambah Timor Leste. Sembilan diantara pesertanya berasal dari Indonesia. Dr. Ishu Kataria dari RTI International menjadi program director sekaligus fasilitator bersama Carrie Ngongo, Senior Program Manager RTI International. Workshop ini juga dihadiri oleh mentor-mentor yang berasal dari kalangan praktisi kesehatan masyarakat di bidang pencegahan, intervensi dan advokasi. Mentor yang hadir yaitu Dr. An, Dr. Tara, Charlotte, Ramya, dan Ralph. Terdapat juga satu mentor yang berhalangan hadir namun memberikan presentasi lewat sambungan telepon, yaitu Nina Rasprasith.

Peserta workshop ini mengikuti beberapa rangkaian sesi selama lima hari di Hotel Ibis Trans Studio Bandung. Sesi presentasi panel, refleksi, diskusi, kunjungan ke Puskesmas Kopo, mentoring penyusunan mini-project, presentasi mini-project, dan malam perpisahan berupa pertunjukan kebudayaan. Para peserta ini terdiri dari dokter, perawat, psikolog, magister psikologi, praktisi kesehatan masyarakat, anggota NGO, pegawai pemerintahan, bahkan mahasiswa S1 dan S2. Semuanya bergelut dalam upaya pencegahan dan intervensi penyakit tidak menular (NCDs), termasuk gangguan mental. Pasca workshop, peserta diharapkan dapat mengimplementasikan mini project yang dipresentasikannya serta dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya dari workshop.


Dari workshop YSEALI ENGAGE ini, terdapat beberapa poin yang penting untuk digarisbawahi, yang dapat menjadi pelajaran untuk kita terkait dengan kesehatan. Kita semua berharap bahwa kita senantiasa sehat. Tidak ada orang yang ingin sakit. Selain karena sakit membuat kita tidak dapat berfungsi dengan baik, sakit juga membuat kita perlu dirawat dan hal ini tentu saja memerlukan biaya. Meskipun semua orang berharap untuk bisa sehat, tidak semua orang berupaya menjadi sehat, atau dengan kata lain menerapkan perilaku hidup sehat.

Dari tema workshop ini, para peserta yang tentunya telah diseleksi melalui beberapa kriteria diharapkan dapat menjadi inisiator dan penggerak dalam upaya advokasi dan pelibatan masyarakat dalam mengurangi dampak dari penyakit tidak menular atau Noncommunicable Diseases (NCDs) terhadap keberfungsian individu. Mengapa penting untuk memperjuangkan kesehatan? Pertimbangan pertama berkaitan dengan dimensi etik. Berapa banyak manusia yang harus meninggal karena suatu wabah penyakit?, misalnya. Berapa banyak orang yang tidak bisa menjalankan kehidupannya dengan baik karena suatu penyakit? Akankah kita sebagai manusia  yang bertugas untuk mengelola dan memelihara bumi beserta isinya membiarkan begitu saja masyarakat dan kebudayaannya hilang dikarenakan tidak adanya upaya untuk menjaga kesehatan ini? Padahal, kita mampu dan diberikan kesempatan bahkan keterampilan untuk melakukannya. Pertimbangan selanjutnya berkaitan dengan bagaimana hubungan kesehatan dan produktivitas manusia. Tentu saja manusia yang sehat akan lebih mampu melakukan sesuatu yang berguna untuk lingkungannya. Selanjutnya, kondisi masyarakat yang sehat memberikan implikasi pada keamanan global dan kemerdekaan manusia. Kemudian, tentu dengan kondisi masyarakat yang sehat, biaya-biaya untuk mengatasi masalah kesehatan bisa diminimalkan dan dialihkan pada sektor lain.

Kembali kepada NCDs, NCDs adalah jenis penyakit yang tidak ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung, termasuk juga penyakit-penyakit mental. Di negara-negara miskin dan berkembang atau negara-negara dengan penghasilan rendah hingga menengah, NCD menjadi salah satu faktor yang berkontribusi besar pada kematian dan menjadi variabel utama dalam meningkatnya disabilitas. Di Indonesia sendiri, NDCs seperti penyakit jantung, hipertensi, dan gangguan pernapasan, menjadi penyebab kematian utama.

Berbicara mengenai NDC tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor risiko (Risk Factors). Faktor risiko dapat dipahami sebagai karakteristik atau paparan terhadap suatu individu yang meningkatkan kecenderungan berkembangnya penyakit ataupun cedera, dengan kata lain faktor-faktor penyebab suatu penyakit. Dibandingkan dengan penyakit menular, NCD menjadi lebih rumit dikarenakan banyaknya faktor risiko yang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhannya. Oleh sebab itu, cukup banyak faktor yang perlu diatur atau dikontrol. Menangani malaria bisa dilakukan dengan fokus pada pemberantasan nyamuk anopheles dan tempat berkembangnya. Namun, menangani penyakit jantung tidak cukup dengan menghindari makanan berlemak dan alkohol, tetapi juga berkaitan dengan manajemen stres dan dukungan keluarga serta pelayanan kesehatan. Begitu juga dengan depresi yang merupakan salah satu gangguan mental. Faktor kepribadian, lingkungan pertemanan, keluarga, dan lingkungan masyarakat ditambah layanan kesehatan mental yang kurang memadai, menjadi faktor risiko yang perlu untuk dipertimbangkan. Data menunjukkan bahwa kebanyakan faktor risiko NCD berkaitan dengan gaya hidup, yang berarti ini dikaitkan dengan perilaku kesehatan.

Faktor-faktor risiko NCDs ini dapat digambarkan dalam bentuk lapisan atau area-area yang kemudian memberikan insight bahwa isu NCD dan kesehatan pada umumnya merupakan suatu isu yang sistemik. Olehnya itu, penangannya juga perlu lebih komprehensif, melibatkan berbagai pihak. Lapisan-lapisan ini juga menunjukan tingkatan pengaruh dari faktor-faktor risiko tersebut. Lapisan pertama adalah karakteristik individu, yang mana kita tahu bahwa individu sendirilah yang seyogyanya bertanggung jawab atas kesehatannya.  Lapisan kedua antara lain perilaku kesehatan dan keterampilan coping, perkembangan kesehatan sejak kanak-kanak, kondisi lingkungan kerja, lingkungan sosial, lingkungan budaya, lingkungan fisik, serta akses layanan kesehatan. Di luar lapisan kedua, adalah pemerintah, kebijakan, dan intervensi, yang bisa berpengaruh tidak langsung.

Perilaku kesehatan dikaitkan dengan budaya suatu masyarakat. Hal ini berkaitan dengan bagaimana masyarakat setempat mempersepsikan sehat dan sakit, bagaimana kondisi sakit ditangani, dan bagaimana menjaga tubuh agar terhindar dari penyakit. Mungkin saja, kita bisa menemukan suatu daerah yang masyarakatnya sangat menjaga kondisi tubuhnya dengan larangan mengkonsumsi minuman dan makanan tertentu. Atau bisa saja, seseorang yang sakit diberikan makanan atau minuman tertentu yang diracik dari bahan-bahan alami. Mungkin saja di suatu daerah tertentu, pantang untuk tidur larut malam, dan sebagainya.  Hal ini dapat terbentuk dari konstruksi kebiasaan masyarakat dan kepercayaan-kepercayaannya. Nilai-nilai tentang menjaga kesehatan, menghargai tubuh dan jiwa, keseimbangan alam, merupakan inti-inti nilai yang dapat melatarbelakangi perilaku yang mendukung kesehatan dalam suatu masyarakat.

Bergeser pada lingkungan sosial yang lebih temporer, masyarakat yang suportif terhadap upaya pencegahan dan penanganan NCD menjadi faktor yang mendukung. Namun, stigma yang berkembang di masyarakat, bisa menjadi faktor penghambat. Gangguan psikologis masih dipenuhi oleh stigma yang melekat pada masyarakat bahwa gangguan psikologis diantaranya merupakan gangguan setan dan kutukan sehingga hanya menyisakan momok bagi individu tersebut dan keluarganya. Mereka tidak pantas diterima dalam masyarakat. Pelaku bunuh diri dan orang yang depresi adalah orang yang lemah dan berlumur dosa sehingga mereka tidak pantas untuk ditemani. Padahal, bisa jadi mereka membutuhkan uluran tangan kita, mereka membutuhkan untuk didengar. Bukan kita yang berhak memberikan judgement berdosa atau tidak, melainkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kecenderungan masyarakat mencari bantuan kepada dukun atau ‘orang pintar’ dari kalangan masyarakat untuk menangani kondisi kesehatannya, dibandingkan menemui tenaga kesehatan profesional, juga merupakan bagian dari faktor sosial yang mempengaruhi kesehatan.  Kelihatannya pengobatan tradisional jauh lebih populer dibandingkan pengobatan modern di kalangan masyarakat tertentu.

Berkaitan dengan perilaku mencari bantuan (help seeking behavior), bukan hanya faktor kebiasaan, norma dan stigma yang bisa berpengaruh. Sumber daya yang ada juga ikut memberikan pengaruh. Sebut saja beberapa contohnya adalah kondisi keuangan, akses menuju pelayanan kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan. Selain itu, dukungan dari orang-orang sekitar seperti keluarga dan teman juga menjadi salah satu penentu dalam pengambilan keputusan individu. Tidak terlepas juga dinamika dalam diri individu itu sendiri seperti sejauh mana dia mempercayai dirinya akan dan mampu untuk sehat kembali (efikasi diri), ketangguhan, dan pengetahuannya tentang penyakitnya itu. Olehnya itu, bagaimana kita bisa meningkatkan perilaku mencari bantuan di kalangan penderita gangguan mental (mental disorder) tertentu ? Hal ini dapat dilakukan dengan menyebarkan informasi-informasi mengenai gangguan mental itu sendiri dan tempat-tempat yang dapat didatangi untuk mengakses layanan kesehatan mental, juga  meminimalkan stigma di kalangan masyarakat, serta mengkampanyekan pentingnya mencari bantuan kepada pihak-pihak terdekat individu (keluarga, teman).

Berbicara mengenai kesehatan juga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah terkait sistem kesehatan. Sebut saja yang termasuk dalam pembahasan ini adalah standar operasional pelayanan kesehatan untuk masyarakat, asuransi kesehatan, dan penjualan obat-obatan tertentu. Salah satu bagian dari sistem pelayanan kesehatan Indonesia yang menjadi daya tarik peserta dari negara lain adalah adanya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di setiap wilayah kecamatan yang dapat diakses oleh masyarakat dengan cepat. Masyarakat yang ingin berobat tidak perlu datang ke Rumah Sakit di kota. Kita juga memiliki asuransi kesehatan yang bisa membantu masyarakat kurang mampu yang ingin mengakses pelayanan kesehatan itu. Kaitannya dengan kesehatan mental, beberapa puskesmas di suatu provinsi di Indonesia juga sudah menempatkan satu psikolog klinis, meskipun tidak semuanya. Namun bukankah ini suatu perkembangan yang membuat kita seyogianya tetap optimis bahwa pemerintah Indonesia telah berupaya untuk mensejahterakan seluruh masyarakat secara fisik dan mental. Tinggal bagaimana pihak-pihak lain turut membantu. Sistem kebijakan juga mencakup izin periklanan rokok, pajak terhadap rokok, harga makanan-makanan sehat, serta standar operasional produksi makanan. Secara tidak langsung kebijakan ini dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan kita.

Salah satu yang bisa kita lakukan adalah advokasi. Mempertimbangkan pentingnya kebijakan ini, advokasi dapat membantu dengan mempengaruhi pengambil keputusan untuk membuat aturan-aturan yang mendukung peningkatan kesehatan. Disahkannya Undang-Undang Kesehatan Mental tahun 2014 adalah satu bentuk keberhasilan advokasi di Indonesia. Penempatan psikolog di Puskesmas-Puskesmas juga merupakan suatu hasil advokasi. Adanya area bebas rokok dan bebas iklan rokok juga merupakan hasil advokasi. Tidak perlu hasil yang langsung besar dan mencakup seluruh negara Indonesia. Kita bisa memulainya di wilayah kita masing-masing, di lingkungan sekolah, kampus, kantor, bahkan kota kita. Akumulasi usaha-usaha kita yang kecil bisa memberikan dampak yang besar.


Hal yang menarik selanjutnya adalah bagaimana lingkungan fisik mempengaruhi kesehatan. Kita mungkin tidak begitu menyadari bahwa berkurangnya taman hijau dan area untuk melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kurangnya aktivitas fisik penyebab obesitas. Kita mungkin baru saja menyadari bahwa polusi udara di dalam dan luar ruangan meningkatkan kemungkinan terkena kanker paru-paru ataupun penyakit lainnya yang dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Kemacetan yang kita lalui sehari-hari akibat meningkatnya penggunaan kendaraan menjadi pemicu stres yang kemudian menurunkan derajat kesehatan mental kita. Perubahan iklim telah berdampak pada cuaca dan musim di dunia yang mungkin akan menjadi kondisi yang buruk untuk mereka yang memiliki gangguan mood dan depresi. Bencana yang terjadi akibat perubahan iklim ini tentu saja berdampak pada kerusakan infrastruktur dan bahkan hilangnya nyawa manusia. Juga kelaparan dan kekeringan yang melanda. Semua itu pada gilirannya akan mempengaruhi kesehatan mental dan well-being masyarakat.


Dari catatan gado-gado ini, hal yang kemudian menjadi muara utama adalah bagaimana masyarakat bisa dilibatkan dalam mengembangkan kesehatannya sendiri. Masyarakat memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya kesehatan, bukan hanya kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan mental. lalu masyarakat mengupayakan hal-hal untuk mewujudkan kondisi sehat itu ataupun mencegah kondisi sakit. Masyarakat kita memiliki kekuatan kolaborasi serta kesukarelaan yang membuat orang dari negara lain kagum. Kekuatan inilah yang seyogianya kita optimalkan. Sebagian sudah kita lakukan dengan adanya kader-kader kesehatan yang bekerja bersama Puskesmas, dan adanya klinik-klinik swadaya masyarakat. Tugas kita selanjutnya adalah mempertahankan dan mengembangkannya.

Sebagai generasi muda, kita bisa terlibat bersama masyarakat dan mengupayakan advokasi yang menargetkan pengambil keputusan yang memegang peranan penting di berbagai level institusi. Identifikasi orang-orang maupun organisasi yang bisa membantu usaha kita. Kita perlu untuk berkolaborasi, kata Charlotte. Dengan kesabaran dan ketangguhan serta konsistensi, kita bisa mencapai tujuan akhir kita bersama kata Dr.Tara.


Syurawasti Muhiddin
YSEALI Engage Participant from Indonesia.
Halo Jiwa Indonesia


Jumat, 10 Mei 2019

Lebih dari Sekedar Masa Lalu




Lebih dari Sekedar Masa Lalu
Oleh: Fairy Teal

“Fix gue musti ngajak Nathan liburan ke puncak ini mah, ngebul otak gue dikasih ujian macam gini” Gerutu Tari tepat ketika kami semua baru saja keluar dari ruang ujian.
“Tangan gue sampe ga berasa” Timpal Aura.
 “Udah ngapa ga usah bahas ujian lagi, pusing. Kantin yuk, beli minuman dingin, dinginin otak”. Usul Azkya yang langsung diterima oleh kami.
Kami pun bergegas turun ke kantin, dan membeli minuman favorit kami masing-masing. Kami memilih bangku di pojok kanan kantin.
“Eh, by the way, lo jadi ke puncak bareng Nathan, Tar?” Tanya Nesya.
Tari mengangguk seraya menyeruput es bubble di hadapannya.
“Ikut dong...”
“Sorry, but kali ini bener-bener spesial buat gue sama Nathan doang, Sya.”
“Tiati lu, Tar.”
“Tiati kenapa, Sya?”
“Ya... Jaga diri...”
“Iya... Inget aja, cewek kalau udah gak perawan gak ada harganya.”
Deg... Perkataan Azkya seperti pedang menghujam nadi... Apa percakapan mereka setelah itu, aku tak tahu. Aku tak dapat lagi mendengarkan. Aku hanya memainkan sedotan minuman di hadapan seraya otakku memainkan memori masa lalu. Aku berusaha mempraktekkan mindfullness, agar tak larut dalam memori dan berakhir mengalami serangan panik.
“Temukan 5 hal yang bisa dilihat, 4 hal yang bisa disentuh, 3 hal yang bisa didengar, 2 hal yang bisa dihirup, 1 hal yang bisa dirasa...” Ucapku dalam hati.
“ALLENA!!”
Aku terhentak ketika mereka memanggil namaku dengan keras.
“Lo kenapa? Kok kayak panik?”
“Hah? Engga... Gue lupa hari ini musti nganter adek les.” Jawabku seraya merapikan tas dan bangkit berdiri. “Gue duluan ya. Dah..”
Aku tidak memerdulikan panggilan mereka yang menuntut penjelasan lebih padaku, aku hanya terus berjalan dengan langkah cepat. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana aku bisa sampai secepat mungkin ke mobil, agar aku dapat menumpahkan segala penuh sesakku dalam air mata. Sesampainya aku di mobil, yang kuharapkan ternyata tidak datang. Aku tidak dapat menangis. Aku benci hal ini. Aku langsung menyalakan mobil dan memacunya keluar universitas. Aku menyetir dengan arah yang entah ke mana. Aku hanya ingin lari. Lari dari rasa sakit ini, lari dari kenyataan, atau mungkin...lari dari hidup? Entahlah Aku juga bingung,…
Lama larut dalam lamunanku, aku tersentak ketika menyadari aku hampir saja menabrak dua anak kecil. Kuinjak rem secepat yang ku bisa. Jantungku seakan ikut menghembuskan napas lega mengetahui bahwa anak-anak itu tidak mengalami luka apapun. Disana aku menyadari betapa sesaknya pikiranku. Aku langsung meminggirkan mobil sejenak di bawah sebuah pohon rindang dengan harapan rindangnya dapat menenangkan gejolak bara di dadaku, biarpun sedikit saja.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, namun otakku memunculkan seseorang: kekasihku. Aku langsung menyambar ponsel dari tasku dan meneleponnya. Setelah satu-dua nada dering, ia pun mengangkatnya.
“Halo, kenapa, Lena?”
“Hey.. kamu dimana sekarang?”
“Di rumah, kenapa, Len?”
“I need to talk to you, aku jemput ya?”
“Eh, ngomongin apa? Aku aja yang jemput kamu. Kamu di kampus, kan?”
“Aku bawa mobil kok, aku ke rumahmu sekarang ya. I’ll be there in about 20 mins.”
“Eh, Lena... Ada apa ini...?”
“See you”
Klik. Aku mematikan sambungan. Aku tak mampu memberitahunya apa yang akan kukatakan. Bahkan, aku belum tahu bagaimana aku akan mengatakannya. Aku segera melaju menuju rumahnya, dengan berbagai skenario kemungkinan yang berkeliaran di benakku. Seperti dugaanku, perjalananku hanya menghabiskan waktu 20 menit dan aku langsung mengirim pesan singkat kepadanya, memberitahu bahwa aku telah di depan rumahnya. Tak sampai 5 menit, ia telah masuk ke dalam mobilku.
“Len, you okay? Ada apa?” Ia menaruh satu tangannya di atas tangan kiriku, namun hal itu membuatku kembali teringat memori masa lalu, sehingga aku berusaha sehalus mungkin menepisnya.
“I’m okay, ga keberatan kan kalau kita ke restaurant biasa?”
“Sama sekali engga. Tapi bilang dulu sama aku, kamu kenapa?” Ia mengelus pipiku, yang lagi-lagi kutepis dengan sehalus mungkin, berusaha untuk tidak menyakiti hatinya.
“Aku bakalan bilang nanti, disana.”
Aku langsung melaju menuju restaurant yang kumaksud, memecah keheningan senja dengan raungan mobilku. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat dua puluh menit ketika kami sampai di restaurant tersebut. Kami memilih tempat di pojok rooftop, menatap hiruk pikuk gemerlap malam dari ketinggian. Bulan telah memaku langit dan bintang telah menari-nari di sekelilingnya. Kami memesan dua gelas minuman, dan setelah minuman kami datang, aku memastikan bahwa suasana sekitar kami sepi, dan aku mulai bicara.
“Sebelumnya, makasih udah memenuhi permintaan aku untuk datang ke sini.”
Dia menganggukkan kepalanya, lalu menatapku seolah ia siap menerima kata-kata selanjutnya yang mengantri keluar dari mulutku. Aku menarik napas panjang, sebelum melanjutkan kata-kataku.
“First of all... kamu harus tau bahwa... bahwa untuk mengungkapkan ini....ga mudah sama sekali...”
Aku melepas kacamata dan menaruhnya di meja, menyadari air mata yang mulai merebak. Tanpa sadar, aku telah mengepalkan tangan dan menggigit bawah bibir, yang merupakan tanda bahwa aku tengah menahan gejolak yang begitu besar.
“Allena... It’s okay...” Dia perlahan menarikku dalam rengkuhannya. Kukira aku akan menepisnya, tapi tanpa sadar aku membiarkannya merengkuhku, membiarkannya mengusap lembut pundakku seraya aku menumpahkan sesak yang sejak tadi tertahan dalam air mata. Kami berdiam dalam posisi itu entah berapa lama, dan ketika aku merasa sudah cukup tegar, aku melepaskan diri dari pelukannya dan menghapus air mataku.
“Waktu aku umur sepuluh tahun... aku pernah mendapat kekerasan... Itu dilakukan oleh guruku... di sekolah...”
Benakku melayang ke hari itu. Hari dimana aku masih berusia sepuluh tahun, dengan seragam sekolah putih-merah sebagai murid Sekolah Dasar, rambutku masih dikuncir dua saat itu, seperti anak-anak polos lainnya yang masih belum memahami kejamnya dunia. Aku datang ke sekolah, dengan tujuan yang sama seperti anak-anak lainnya, menuntut ilmu kepada seorang guru. Guru yang dulu sangat ku hormati. Melewati masa kecil tanpa seorang ayah karena perceraian orang tua, membuatku menganggapnya seperti bapakku sendiri, mengingat bagaimana ia dulu selalu membelaku dari perundungan murid-murid lain, selalu mengusap lembut kepalaku ketika aku mengerjakan tugas dengan baik, dan sebagainya. Betapa semangatnya hari itu aku hendak menuntut ilmu. Namun, jalanku berbeda saat itu. Seperti reka adegan ulang, aku seolah merasakan kembali bagaimana beringasnya ketika guru itu mulai menjarahi bagian-bagian intim dari tubuhku, cengkramannya yang kuat di pergelangan tanganku, tatapan matanya yang liar, hingga....ia merenggut kehormatanku. Jika aku dapat mengulang waktu, aku ingin meronta, berteriak, memohon pertolongan dari orang-orang sekitar. Namun apa yang terjadi padaku, aku hanya dapat berdiam diri mematung seperti aku tak kuasa menggerakkan satu ototpun pada diriku. Tidak, aku tidak mau hal itu terjadi. Tapi aku tak bisa meronta, tidak bisa. Rasa takut itu begitu besar sehingga aku membeku dalam ketakutan.
Usapan lembut punggung tanganku menarikku kembali dari memori itu. Itu hanyalah usapan lembut, namun cukup membuatku tersentak karena begitu sensitifnya diriku terhadap sentuhan saat ini. Aku menatapnya, kekasihku yang tengah menatap ke dalam mataku, menantiku untuk melanjutkan apa yang ingin aku sampaikan.
“Dia... dia merenggut sesuatu dariku...” aku merasakan jemari tanganku mulai gemetar, lututku melemas, dan jantungku berdetak dalam irama yang entah, “sesuatu yang tak akan pernah bisa aku dapatkan kembali...”
“Allena....aku ga yakin kalau aku benar-benar paham apa maksudmu...”
Aku berusaha memecahkan cekat dalam tenggorokan. Aku ingin mengatakannya secara jelas, namun sulit.
“I...I’m....you’ve been....raped?”
Seribu ton seolah bersarang di kepala, membuatku sulit untuk sekedar mengangguk.
BAM!
Ia menghantam meja dengan kepalan tangannya. Aku menunduk, melihatnya dari sudut mataku. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan geram, wajahnya merah padam. Aku meringkuk melindungi tubuhku, namun jika memang ia ingin menamparku, memukulku, atau menghajarku dengan cara apapun, aku tidak peduli. Mungkin memang salahku yang mengatakan ini padanya di tengah-tengah hubungan kita yang telah berjalan dua tahun. Namun, bukan maksudku untuk menyembunyikannya selama ini. Hanya dalam diriku yang terus dan terus menyangkal fakta menyakitkan ini.
“Maafkan aku...”
“No... No, Allena.. Kamu ga perlu minta maaf. Maaf kalau aku nakutin kamu.. Aku hanya....marah sama guru yang melakukan ini ke kamu... Aku...” kudengar suaranya tercekat. Aku menaikkan pandanganku tepat ke matanya. Ia tengah menyeka air mata yang mengalir di sudut mata. “Maaf... Aku ga bisa maafin siapapun yang udah nyakitin kamu kayak gini...”
“Allena...”
“Ya?”
“Boleh aku peluk kamu?”
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku mendekatkan tubuhku padanya, membiarkan ia merengkuhku dalam genggamnya. Kubiarkan air mata mengalir, melepaskan segala beban yang kutahan seorang diri sedari aku kecil. Setelah sekian menit, aku melepaskan diri dari pelukannya.
“Sekarang, kamu gimana melihatku?”
“Aku...Aku melihat Allena, kekasihku yang aku sayangi.”
“Kamu ga benci aku or something?”
“Apa alasan aku membenci kamu atas hal yang ga pernah kamu inginkan?”
Aku membiarkan air mata lagi-lagi menetes, menemani air mata lain yang telah tumpah ke tanah.
“Allena, kamu ga bersalah. Masa lalu kamu ga mendefinisikan siapa kamu yang sekarang. Keberhargaan diri kamu ga didefinisikan dari masa lalu kamu, dari apa yang udah terjadi sama kamu. Allena tetaplah Allena, dan semua masa lalu kamu, akan menjadikan kamu lebih kuat lagi, lebih tegar lagi..”
Seulas senyum terukir di bibirku, “Thank you, dear...”
“Mulai sekarang, kamu harus sadari bahwa kamu lebih dari sekedar masa lalumu, ya, sayang. Kalau aku menerima kamu, kamu juga harus menerima diri sendiri.”
Di dalam hatiku, aku merasakan ketenangan dan kelegaan yang belum pernah kurasakan sejak hal itu terjadi. Lega, karena aku tak lagi memendamnya sendirian. Tenang, karena telah menyadari bahwa, ya, benar, masa lalu tidak mendefinisikan diriku. Allena tetaplah Allena. Bagaimana sikapku sekaranglah yang mendefinisikan aku, dan aku tidak akan membiarkan masa laluku merenggut kebahagiaanku di masa mendatang.
Aku, lebih dari sekedar masa laluku.


Editor : Dina Ariani

Kamis, 09 Mei 2019

Jarak oleh L.Ais


“Jarak”
Oleh : L.Ais
23 April 2019


mereka bilang aku gemuk
aku bilang ini selimut
penghangat tubuh...

mereka bilang aku aneh
aku bilang ini jahe
obat kabeh...

mereka bilang aku menyimpang
aku bilang ini ayam panggang
selera memang...

mereka bilang aku suram
aku bilang ini dendam
yang hanya kadang-kadang...

mereka bilang aku banyak angan
aku bilang ini baru pembukaan
belum juga isi apalagi penutupan..

mereka bilang aku menjijikkan
aku bilang ini kotoran
tapi bisa dibersihkan...

mereka bilang aku gila
aku bilang ini jiwa
yang hanya sedang tidak tenang...

mereka bilang aku melebih-lebihkan
aku bilang ini perjuangan
patut dinyatakan...

kita selalu berbeda pandang
sebab pikiran dan perasaan kita tak sama
kau kebenaran dan aku kenyataan.

Lalu, masih maukah menyatakan diri sebagai yang paling benar sendiri?

Editor : Dina Ariani

banner