Jumat, 28 Juni 2019

Yuk Tahu Lebih Jauh tentang Gangguan Makan (Eating Disorder)


Oleh: Syura

Pernahkah Anda merasa bahwa Anda sudah kelebihan berat badan namun tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak memakan banyak hal yang menjadi kesukaan Anda? Atau pernahkan Anda mengalami penurunan berat badan drastis dikarenakan diet ketat yang Anda lakukan, yang kemudian berdampak pada kesehatan Anda? Jika ya, mungkin ada baiknya Anda mencari tahu lebih lanjut mengenai istilah gangguan makan.




Kita semua menyukai makanan. Makanan juga merupakan kebutuhan fisiologis dasar yang harus segera dipenuhi. Dengan makanan, kita bisa memiliki tenaga untuk beraktivitas, kita bisa bertumbuh, dan kita juga bisa mencegah penyakit. Meskipun demikian, dengan semua manfaatnya itu, makanan juga dapat menjadi masalah di satu sisi, masalah yang dapat berdampak pada perkembangan seseorang.




Gangguan makan pada awalnya menjadi fenomena yang sering dijumpai di negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Barat. Gangguan makan umumnya juga ditemui pada remaja perempuan, namun tidak menutup kemungkinan wanita dewasa pun bisa memiliki gangguan ini. Konsep tentang wanita cantik layaknya ‘barbie’ di negara-negara tersebut serta persepsi yang dibangun oleh artis-artis Hollywood dengan penampilannya dipertimbangkan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap berkembangnya gangguan makan ini.




Gangguan makan yang dimaksud disini bukanlah gangguan yang berkaitan dengan jasmani saja, seperti kelaparan dan obesitas. Akan tetapi gangguan yang melibatkan aspek psikologis seseorang. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM V), sebuah panduan untuk menegakkan diagnosis terhadap gangguan-gangguan mental, terdapat tiga jenis gangguan makan, yaitu Anorexia Nervosa, Bulimia Nervosa, dan Binge Eating Disorder.




Anorexia Nervosa ditandai dengan berat badan sekitar 85% kurang dari berat badan normal yang seharusnya dimiliki berdasarkan usia dan tinggi badan seseorang. Orang yang menderita Anorexia Nervosa sangat membatasi perilaku yang menurutnya bisa menaikkan berat badannya, terutama perilaku makannya. Selain itu, dirinya memiliki ketakutan yang berlebihan  dan tidak realistis bahwa berat badannya akan bertambah meskipun sebenarnya berat badannya sudah di bawah batas normal. Selanjutnya, persepsi atau gambarannya terhadap tubuhnya juga mengalami gangguan. Dia selalu menolak bahwa dirinya saat ini sudah terlalu kurus sehingga perlu untuk menaikkan berat badannya. Tidak peduli seberapa kurus mereka, orang-orang dengan anoreksia masih berpikir mereka gemuk dan dapat terus menurunkan berat badan, yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Ketiga kriteria tersebut setidaknya telah muncul dan menetap selama tiga bulan terakhir untuk bisa menegakkan diagnosis Anorexia Nervosa.




Bulimia Nervosa memiliki kemiripan dengan Anorexia Nervosa dalam hal evaluasi diri, yaitu bahwa bentuk tubuh dan berat badan adalah penilaian yang sangatlah penting. Kriteria utama yang menandai Bulimia adalah episode binge eating (makan banyak dan cepat) yang berulang-ulang. Selanjutnya, episode binge eating diikuti oleh perilaku-perilaku kompensasi (diistilahkan ‘purging’/pembersihan) yang juga berulang-ulang seperti muntah, puasa, atau olahraga yang berlebihan, untuk mencegah penambahan berat badan. Penderita Bulimia bahkan menggunakan obat pencahar untuk membersihkan isi perutnya dari makanan-makanan yang baru saja dia makan. Setelah pembersihan itu, penderita Bulimia biasanya merasa bersalah, mengkritik diri sendiri, dan merasa depresi. Pembersihan tersebut juga dapat menyebabkan sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, kehilangan enamel gigi (lapisan luar gigi), defisiensi nutrisi, dehidrasi, dan kerusakan usus. Kriteria yang disebutkan di atas menetap selama setidaknya tiga bulan terakhir untuk bisa didiagnosa menderita Bulimia Nervosa, dengan Jumlah episode binge eating dan purging sekurang-kurangnya seminggu sekali.




Binge Eating Disorder menjadi kategori baru dalam DSM 5 setelah dibuktikan oleh penelitian-penelitian. Sebelumnya, gangguan ini disebutkan dalam Lampiran DSM IV TR (DSM IV yang sudah direvisi) sebagai kategori yang membutuhkan studi lebih lanjut. Seseorang dikatakan menderita gangguan makan ini apabila dirinya mengalami episode Binge Eating yang meliputi sekurang-kurangnya tiga karakteristik: makan dengan cepat lebih dari kecepatan makan pada umumnya hingga dirinya merasa kenyang; makan dalam jumlah banyak meskipun dirinya tidak lapar; serta makan sendirian dikarenakan malu dengan jumlah makanan yang banyak, juga perasaan buruk (seperti jijik, merasa bersalah, dan depresi) setelah episode binge eating. Berbeda dengan Bulimia Nervosa, Binge Eating Disorder tidak ditandai dengan perilaku-perilaku kompensasi setelah makan banyak.




Apa yang menyebabkan gangguan makan tersebut terjadi? Penyebab pertama dikaitkan dengan faktor genetik. Seseorang yang dilahirkan dari orang tua ataupun keluarga yang mana anggotanya ada yang mengidap gangguan makan akan cenderung menderita gangguan makan dibandingkan keluarga yang tidak memiliki riwayat gangguan makan. Faktor neurologis juga dapat menjadi penyebab gangguan makan. Hipotalamus sebagai pusat regulasi makan dan rasa lapar yang ada di otak memiliki peran penting dalam pengaturan hormon. Sebagai contoh, level beberapa hormon yang diatur oleh hipotalamus, seperti hormon kortisol, memang tidak normal pada penderita Anorexia Nervosa. Faktor penyebab selanjutnya berkaitan dengan faktor-faktor kognitif dan perilaku. Teori kognitif-perilaku tentang gangguan makan berfokus pada pemahaman pikiran, perasaan dan perilaku seseorang yang berkontribusi pada distorsi atau gangguan citra diri, ketakutan akan menjadi gemuk, serta kehilangan kontrol terhadap makanan. Seseorang dengan gangguan makan bisa jadi memiliki skemata maladaptif (kerangka berpikir yang tidak rasional atau keliru) yang kemudian mempersempit atau membatasi atensi-atensi mereka terhadap pikiran-pikiran dan gambaran-gambaran terkait dengan berat badan, bentuk tubuh, dan makanan.



Faktor sosio-kultural juga memiliki kontribusi terhadap peningkatan gangguan makan. Sepanjang sejarah manusia, masyarakat memberikan standar tentang tubuh yang ideal, khususnya tubuh ideal pada wanita. Masyarakat cenderung sepakat bahwa wanita cantik adalah wanita yang kurus. Oleh sebab itu, wanita berlomba-lomba untuk melakukan diet dan diet tersebutlah yang memulai perkembangan gangguan makan pada kebanyakan orang. Kecenderungan pada bentuk tubuh yang kurus, di tambah penggambaran media tentang model-model yang kurus, memprediksi peningkatan ketidakpuasan terhadap tubuh, yang mana hal ini juga menjadi salah satu akar berkembangnya gangguan makan. Stigma yang diberikan kepada orang yang kelebihan berat badan juga berkontribusi terhadap peningkatan ini. Seperti yang telah disebutkan, wanita cenderung memiliki gangguan makan daripada pria, salah satunya dikarenakan seringnya tubuh wanita menjadi objek yang dipamerkan (misalnya dalam berbagai iklan), yang kemudian menyebabkan sejumlah wanita membandingkan tubuhnya dengan orang lain, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh.




Faktor-faktor lain yang dikaitkan dengan berkembangnya gangguan makan adalah faktor kepribadian, keluarga, serta kekerasan fisik dan seksual. Penelitian tentang karakteristik kepribadian menemukan bahwa perfeksionisme memainkan sebuah peran dalam berkembangnya gangguan makan. Karakteristik kepribadian lain yang dapat meningkatkan potensi terjadinya gangguan makan selama tiga tahun termasuk ketidakpuasan terhadap tubuh, yaitu sejauh mana seseorang dapat membedakan berbagai kondisi biologis tubuh mereka dan kecenderungan untuk mengalami emosi negatif. Hubungan keluarga yang bermasalah cukup sering ditemui di antara orang-orang dengan kelainan makan, tetapi kondisi ini bisa merupakan akibat dari gangguan makan, belum tentu menjadi penyebabnya.  Tingginya tingkat pelecehan seksual dan fisik juga ditemukan di antara orang-orang dengan gangguan makan, tetapi ini bukan faktor risiko yang spesifik terhadap perkembangan gangguan ini.




Bagaimana cara menangani gangguan makan? Pemberian obat antidepresan telah menunjukkan beberapa manfaat dalam pengobatan bulimia, tetapi tidak untuk anoreksia. Namun, orang dengan bulimia lebih mungkin untuk menghentikan pengobatan daripada menghentikan terapi. Perawatan psikologis untuk anoreksia harus terlebih dahulu fokus pada penambahan berat badan. Penderita Anorexia seringkali membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk mengatasi komplikasi yang terjadi akibat berat badan yang kurang. Terapi keluarga paling sering diberikan untuk penderita anoreksia, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menunjukkan apakah terapi ini efektif. Perawatan psikologis yang paling efektif untuk bulimia adalah terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang melibatkan perubahan keyakinan pasien dan pemikiran tentang kurus, kelebihan berat badan, diet, dan pembatasan makanan, dengan tujuan keseluruhannya adalah membangun kembali pola makan yang normal. CBT lebih efektif daripada pengobatan, meskipun obat antidepresan dapat membantu mengurangi depresi. CBT juga efektif untuk gangguan pesta makan (Binge Eating Disorder).


Setelah memahami beberapa hal terkait gangguan makan, kita diharapkan bisa lebih sadar dengan pola makan kita. Jangan sampai cara diet, jumlah makanan yang dimakan, durasi makan, dan pikiran-pikiran kita, termasuk dalam kategori gangguan makan. Makanan itu adalah anugerah, namun menjadi malapetaka jika dikonsumsi berlebihan, bukan? Menjadi cantik itu adalah keinginan sejuta umat, namun cantik itu bersifat relatif. Kurus bukanlah ukuran kecantikan seseorang dan gemuk tidak serta merta menjadikan kita jelek. Buat apa menjadi cantik jika itu membinasakan diri sendiri. Mari kita bersyukur dengan segala kondisi tubuh kita, bersyukur dengan makanan-makanan yang membuat kita bisa hidup. Berhentilah untuk mengkritik ketidaksempurnaan karena tidak ada manusia yang sempurna.

 Referensi:

Bennett, Paul. (2006). Abnormal and Clinical Psychology, An Introduction Textbook, Second Edition. Polandia, EU: OZGraf S.A

Kring, Ann M., Johnson, Sheri L., Davison, Gerald C., & Neale, John M. (2012). Abnormal Psychology, Twelfth Edition. USA: John Wiley & Sons, Inc.



Sabtu, 01 Juni 2019

Lebih Sadar dan Peka terhadap Isu Skizofrenia


Lebih Sadar dan Peka terhadap Isu Skizofrenia

     Skizofrenia merupakan isu psikologis yang masih asing bagi masyarakat, khususnya di Indonesia. Masyarakat sering kali menyebut orang yang mengalami skizofrenia sebagai orang gila. Tentu saja kedua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Istilah gila tepatnya ditujukan kepada orang yang kehilangan kesadarannya, sehingga perilakunya cenderung tidak terkontrol. Istilah sarkastis tersebut tidak sepantasnya dilabelkan kepada orang yang mengalami skizofrenia. Karena pada dasarnya, orang skizofrenia masih memiliki kesadarannya, hanya saja mereka sering kali mengalami kesulitan dalam membedakan realitas dengan halusinasinya. Selain itu, kondisi yang mereka alami, bukanlah bagian dari kehendak mereka, melainkan dorongan liar dari alam tidak sadar yang sulit mereka atasi. Oleh karena itu, mereka butuh bantuan orang lain, teman yang suportif, dan lingkungan yang kondusif, bukannya direndahkan dan dihindari.
     Skizofrenia ditandai oleh tiga simtom utama, yaitu halusinasi, delusi, dan perilaku yang tidak terorganisasi (Maslim, 2013). Orang yang mengalami skizofrenia mengalami kesulitan dalam membedakan kenyataan dengan objek yang sebenarnya tidak ada, yang disebut dengan halusinasi. Biasanya hal ini juga disertai dengan delusi, di mana mereka begitu memegang teguh keyakinan irasional yang dimilikinya. Pikiran tersebut kerap disebarkan ke orang lain, sehingga orang lain pun menjadi tahu. Hal inilah membuat orang yang tidak paham menjadi bingung, sehingga mereka menganggapnya aneh. Bagi orang yang mengalami skizofrenia, keyakinan bahwa orang lain sedang mengawasinya dan akan membunuhnya merupakan ketakutan yang membuat mereka panik dan mencari pertolongan. Sementara orang lain yang tidak paham, akan menganggap mereka gila. Pikiran-pikiran irasional yang sulit mereka tangani tersebut, mendorong munculnya perilaku yang tidak terorganisasi. Seperti, kesulitan dalam berbicara, tindakan tidak terkontrol (misalnya, melakukan sesuatu dengan pola yang sama secara berulang-ulang dalam waktu yang relatif lama), dan juga menurunnya rawat diri (jarang mandi dan tidak menjaga kebersihan tubuhnya).
     Penyebab skizofrenia cukup kompleks dan beragam. Secara genetis, anak yang  lahir dari orang tua yang memiliki riwayat skizofrenia, lebih rentan terhadap skizofrenia. Selain itu, faktor prakehamilan, seperti kekurangan nutrisi atau infeksi virus juga menyebabkan bayi yang lahir rentan mengalami skizofrenia. Secara biologis, skizofrenia dapat disebabkan karena adanya ketidakseimbangan hormon serotonin dan dopamin (Davidson, Neale, & Kring, 2006). Karena beberapa faktor tersebut, skizofrenia menjadi gangguan psikologis yang tidak dapat disembuhkan.
     Lalu bagaimanakah caranya untuk mengatasi skizofrenia? Pertama, tentunya kita perlu memastikan kondisi yang dialami kepada psikolog ataupun psikiater. Jika diagnosis skizofrenia ditegakkan, selanjutnya kita seyogianya mengikuti saran dari psikolog untuk mengikuti terapi secara rutin ataupun mengonsumsi obat yang dianjurkan. Biasanya obat ini berfungsi untuk mengurangi kemunculan simtom-simtom skizofrenia. Selain dua langkah tersebut, yang terpenting adalah mengomunikasikan kondisi yang dialami kepada keluarga atau orang terdekat (Feldman, 2012). Hal ini berguna untuk membuat mereka paham dan bisa turut membantu. Jika sulit dilakukan, kita bisa meminta bantuan kepada psikolog untuk mendiskusikannya dengan keluarga. Karena dukungan keluarga atau orang terdekat juga memiliki peranan yang sama pentingnya dengan obat-obatan. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan agar terhindar dari cara penanganan yang tidak diharapkan, seperti pemasungan yang masih banyak terjadi di kalangan masyarakat awam.
     Orang yang mengalami skizofrenia akan terhambat dalam menjalankan fungsinya sebagaimana manusia yang semestinya. Mereka cenderung mengabaikan kondisi tubuhnya, terasingkan secara sosial, dan berhenti dari pekerjaannya. Pada dasarnya, mereka bisa kembali menjalankan fungsi dirinya secara optimal dengan perawatan dan pendampingan yang baik. Meskipun skizofrenia tidak dapat disembuhkan, namun simtom-simtomnya dapat dikurangi. Orang dengan skizofrenia yang berhasil menunjukkan kemajuan, bahkan dapat kembali beraktivitas layaknya orang pada umumnya. Contohnya, ahli matematika John Nash tetap bisa mengajar sebagai profesor, meskipun mengalami skizofrenia. Karena pada dasarnya, mereka yang mengalami skizofrenia membutuhkan dukungan emosional dari orang-orang sekitar untuk mendorong mereka pulih secara perlahan. Sebagaimana, John Nash yang mendapatkan dukungan tersebut dari istrinya.
     Jadi mari kita lebih sadar dan peka dengan orang-orang di sekitar kita. Sebaiknya kita hindari melabeli orang skizofrenia sebagai orang gila. Selain itu, kita juga perlu bijak dengan tidak tergesa-gesa dalam memberikan diagnosis skizofrenia, karena bagaimanapun juga hanya psikolog dan psikiaterlah yang dapat menetapkan seseorang mengalami skizofrenia. Selanjutnya, ketika ada orang-orang di sekitar kita yang sedang berjuang untuk pulih dari skizofrenianya, jadilah teman yang suportif dengan membantu mereka untuk bangkit. Oleh karena, mereka tidak pernah mengingini kondisi yang mereka alami. Percayalah skizofrenia yang mereka alami, merupakan ujian dari Tuhan untuk menguatkan mereka, bukannya hukuman atas dosa yang telah mereka lakukan.

Referensi:
Davidson, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. M. (2006). Psikologi Abnormal (Edisi 9). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Feldman, R. S. (2012). Pengantar Psikologi (Edisi 10, Buku 2). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK, Unika Atmajaya.

banner