The Uniqueness of Your Child (Keunikan Setiap Anak)

Oleh: St. Khadijah Kitta

“Orang tua ingin anaknya menjadi yang terbaik” kalimat ini tentunya merupakan hal positif yang diinginkan oleh sebagian besar orang tua. Akan tetapi satu hal yang seringkali terlupa bahwa untuk menjadi yang terbaik tentunya membutuhkan sebuah standar. Pertanyaannya standar siapa yang digunakan oleh kebanyakan orang tua?  Diri anak sendiri ataukah anak lainnya?

Apabila yang dijadikan standar adalah anak lainnya semisal pencapaian teman-teman sebayanya ataukah pencapaian saudara-saudaranya maka tidak jarang hal inilah yang mendorong orang tua untuk kemudian membandingkan anak dengan anak lainnya. Membandingkan merupakan pendekatan umum yang seringkali digunakan untuk mendorong performa anak terutama dalam hal akademik di sekolah, seperti membandingkan nilai, skill, dan lainnya. Hal ini dapat membuat orang tua melupakan bahwa setiap anak berbeda dengan keunikannya masing-masing, dalam hal talenta, minat, kekurangan, ataupun kelebihan yang dimiliki anak.

Membahas tentang proses membandingkan diri, ternyata membandingkan diri adalah hal alami yang akan dilakukan oleh anak ketika mulai bersekolah (Chafel, J.A., 1985). Hal ini dilakukan anak untuk dapat mengetahui diri sendiri karena dengan membandingkan diri dengan orang lain anak dapat mengevaluasi kemampuan dirinya dan mengenali dirinya lebih dalam (Festinger, 1954). Akan tetapi, proses alamiah yang dialami anak dalam membandingkan dirinya dengan orang lain bukanlah untuk menjalankan sebuah kompetisi melainkan sebuah refleksi diri. Berbeda halnya ketika orang tua ataupun guru membandingkan anak dengan anak lain yang bertujuan agar dia dapat berubah dan masuk dalam situasi persaingan. Ternyata ada beberapa efek yang dapat dihadirkan dari proses membandingkan diri anak dengan orang lain yang perlu untuk diketahui orang tua, diantaranya (Being The Parent.Com, 2017):

  1. Membuat anak menjadi stress, hal ini dikarenakan anak yang terbebani atas perbandingan yang dilakukan.
  2. Self-esteem yang rendah, perbandingan yang diberikan akan meyakinkan  anak jika orang lain lebih baik dari pada dirinya.
  3. Harga diri yang rendah, dikarenakan tidak dihargainya usaha anak dan anak mulai mengikuti performa anak lain yang justru menghancurkan kepercayaan dirinya.
  4. Menghindari situasi sosial, hal ini dikarenakan anak yang mengalami reduksi dan ejekan dari perbandingan yang diberikan.
  5. Membangun sikap ketidakpedulian, karena anak merasa bahwa orang tua telah bahagia dengan anak lain yang lebih berprestasi maka anak akan tidak peduli untuk membuat orang tuanya merasa bahagia.
  6. Memadamkan talenta, adanya perbandingan membuat anak akan melakukan hal yang tidak sesuai dengan talentanya dikarenakan keinginan orang tua untuk menjadikan anak seperti orang lain.
  7. Berjarak dari orang tua, karena orang tua yang selalu membandingkan anak dengan saudara, sepupu, maupun temannya hingga membuat anak akan merasa tidak diterima dan tidak menyenangkan bagi orang tuanya. Perasaan tidak aman dan tidak percaya akan hadir dan membuat anak memilih menjauh dari orang tua.
  8. Merawat persaingan dengan saudara, ketika orang tua terus membandingkan anak dengan saudaranya hal ini dapat memulai kebencian anak terhadap saudaranya sendiri.

Tidak hanya dampak dalam keluarga, ternyata penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial yang kerap dialami anak adalah di lingkungan sekolahnya. Adanya perbandingan yang diberikan kepada anak dalam lingkungan sosial akan menghadirkan situasi yang kompetitif. Hal ini akan mendatangkan beberapa efek, yaitu yang pertama adalah dapat membuat anak menjadi frustasi di kelas dengan adanya kondisi yang sangat kompetitif, selain itu juga dapat menghadirkan kecemasan pada anak dan dapat menurunkan motivasi anak dalam meraih kesuksesan (Chafel, J.A., 1984).
Hal ini dapat memberikan informasi kepada orang tua maupun guru untuk menyadari adanya perbedaan setiap individu dengan keunikannya masing-masing. Tidak membuat anak untuk lebih dan terus membandingkan diri. Justru orang tua dan guru perlu untuk membantu anak menyadari potensi dan keunikannya tersendiri. Standar yang perlu digunakan adalah diri anak itu sendiri, sehingga anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal dan menjadi yang terbaik versi diri anak masing-masing.

Ada anak yang memiliki bakat dalam bidang seni, ada pula yang luar biasa dalam penguasaan bahasa. Ada yang sangat hebat dalam perhitungan, ada yang memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa, dan beribu keunikan anak-anak di luar sana. Penting untuk disadari bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk meningkatkan diri sesuai potensi mereka dan realisasi potensi merupakan salah satu sumber kesejahteraan dan kebahagiaan bagi individu (Seligman dan Csikszentminhalyi, dalam Jorgensen dan Hilde (2005). Sehingga orang tua ataupun guru perlu untuk mendukung anak berkembang sesuai potensinya dan berada di jalannya masing-masing.

Lebih mudahnya, mungkin kita dapat menyemangati anak untuk “tidak perlu menjadi yang terbaik di kelas ataupun lingkungan sosialnya, cukup lakukan yang terbaik saja”
Selamat Hari Anak Nasional ☺

Referensi
Being The Parent.Com (2017). Stop Comparing Your Child with Others.  https://www.beingtheparent.com/stop-comparing-your-child/ (diakses pada 22 Juli 2019)

Chafel, J.A. (1985). Social comparison and the young child: Current research issues. Early Child 

Development and Care. (21) (1-3) (35-59).

Chafel, J.A. (1985). Social comparisons by young children in classroom contexts.  Early Child 
Development and Cate. (14) (1-2) (109-124).

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations. (7) (117-140)

Jorgensn, I. S., & Hilde, E.N. (2005). Posotive Psychology: Historical, Philosophical, and Epistemological Perspective. Tidsskrift for Norsk Psykologforening. Norwegia: (42) (885-889)

Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.