Jumat, 27 September 2019

Bukti Cinta Tidak Harus Self Injury, kan ?


Oleh : Karmila Kahar

Pernah dengar istilah Nonsuicidal Self injury (NSSI)? Self injury merupakan perilaku melukai diri tanpa adanya niat untuk bunuh diri, perilaku ini dapat membuat individu menjadi kecanduan. Jujur saja setelah ikut salah satu kulwap (kuliah via WhatsApp) saya baru menyadari akan adanya perilaku seperti ini dan dalam grup Whatsapp tersebut saya sedikit banyak mengetahui tentang self injury. Setelah menelaah semua materi yang diberikan saya menjadi teringat dengan salah satu teman SMA saya yang ternyata perilaku menyileti tangan sampai berdarah merupakan salah satu perilaku self injury yang berbahaya dan dapat membuat individu menjadi kecanduan.



Sewaktu SMA sekitar 7 tahun lalu, saya beberapa kali mendapati salah satu teman laki-laki saya ; sebut saja dia si fulan kedua tangannya dipenuhi sayatan-sayatan benda tajam seperti silet di bagian urat nadi pergelangan tangannya. Beberapa kali saya melihatnya, hingga suatu hari, percakapan pun dimulai :
Sy                    : “eh, mauka’ tanya kenapa itu tanganmu kayak sudah disileti?”
Si fulan            : “anu na’ putuskan ka’ pacarku”
Sy                    : “tapi beberapa kali mi saya liat itu lukamu, pernah sembuhmi toh tapi ini ku liat luka baru”
Si fulan            : “itu dulu karena bertengkarka sama pacarku baru tidak na percayaka juga”
Sy                    : “apa rasanya itu kalo sudahki sileti begitu? Kan pasti sakit ki’ kah sampai berdarah saya liat itu”
Si fulan            : “mauka buktikan ki’ sama pacarku kalo ku sayang sekali sama kalo sudah ku sileti tanganku merasa ka puas dan ku dapat ki lagi perhatiannya pacarku”
Sy                    : “Astagaa.. jangan mki’ lagi sileti begitu tanganmu, ngeri ki’ wehh takutku liat saya”
Si fulan            : “hahaha tergantung pacarku ji”

Itu sedikit percakapan singkat saya dengan si fulan ketika jam istirahat sekolah. Pada saat itu saya tidak tahu sama sekali apa yang harus saya lakukan ketika melihat teman saya melakukan hal demikian, namun ketika saya sudah mengetahui alasannya, saya selalu berusaha mengajak si fulan untuk bermain dan berkumpul bersama teman-teman yang lain. Oh ya, sekedar info kalua si fulan pada waktu itu memang menjadi salah satu cowok di kelas saya yang masuk dalam kategori nakal karena kebiasaan bolos dan sering melanggar peraturan sekolah.

Setelah acara kelulusan SMA kembali ku tanya si fulan tentang perilaku menyileti tangannya apakah masih sering dilakukan atau tidak, si fulan menjawab tidak lagi melakukan hal tersebut karena pacarnya sudah mulai mengerti dengan dirinya dan ditambah si fulan sudah merasa menjadi bagian dari kelasnya. Alhamdulillah semenjak saat itu si fulan berhenti untuk melukai diri dan kini si fulan telah menikah dengan wanita yang ia pacari sejak SMA dan saat ini si fulan sudah berbahagia bersama istri dan putri kecilnya.

Dari cerita Si Fulan di atas, dapat dipahami bahwa Self injury muncul karena rasa sakit atau tidak nyaman secara emosional dan kurangnya keterampilan dalam mengelola stress atau meregulasi emosi yang menyebabkan individu tidak mampu mengatasi rasa sakit emosional dan ketidaknyamanan yang dialami, sehingga salah satu cara pintas untuk menghilangkan atau mengalihkan ketidaknyaman tersebut adalah melukai diri sendiri. Hal tersebut sama seperti yang dilakukan si fulan ketika bertengkar dengan pacarnya, ia merasa tidak nyaman secara emosional dan tidak memiliki keterampilan dalam mengatasi rasa sakit yang dialami, hingga pada akhirnya memilih untuk melakukan tindakan menyileti tangannya sendiri. Namun, dengan adanya dukungan sosial dan lingkungan sekitar perilaku self injury dapat disembuhkan.

Adapun faktor yang dapat menurunkan perilaku self injury indvidu yaitu dengan mendapatkan dukungan sosial, mencari atau menemukan coping strategy yang positif, dan kemampuan regulasi emosi yang matang.

Editor : Dina Ariani

Selasa, 03 September 2019

Memiliki Hubungan Persahabatan yang Baik Dapat Memengaruhi Kesejahteraan Seseorang


Keluarga seyoginya menjadi prioritas utama. Namun, menurut dua studi dari Michigan State University, persahabatan yang baik juga sangat penting untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda dalam jangka panjang. Kita sedang membahas hubungan persahabatan yang baik. Anda haruslah mencari kualitas, bukan kuantitas, ketika berhubungan dengan sahabat Anda.
Studi pertama menemukan, keluarga dan teman bisa membuat kita bahagia, tapi persahabatan adalah prediktor kesejahteraan yang lebih kuat untuk kita di usia lanjut. Selanjutnya studi kedua menemukan, orang-orang yang memiliki hubungan persahabatan yang buruk dan membuat mereka merasa stres, melaporkan memiliki lebih banyak penyakit kronis dibandingkan mereka yang memiliki sahabat sebagai pendukung mereka.
Suatu istilah yang dapat menjelaskan mengenai kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah Subjective well-being (O’Connor, dalam Lutfiyah, 2017). Menurut Pavot & Diener (dalam Lutfiyah, 2017) subjective well-being merupakan salah satu prediktor kualitas hidup karena subjective well-being dapat mempengaruhi keberhasilan individu dalam berbagai domain kehidupan.
Mereka yang memiliki kesejahteraan subyektif tinggi, ternyata merasa bahagia dan senang dengan sahabat dan keluarga. Mereka juga kreatif, optimis, kerja keras, tidak mudah putus asa, dan tersenyum lebih banyak daripada yang menyebut dirinya tidak bahagia (Argyle, dalam Rohmad, 2014). Mereka juga akan lebih mampu mengontrol emosinya dan menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup dengan lebih baik, sedangkan mereka yang memiliki subjective well-being rendah memandang rendah hidupnya dan menganggap peristiwa yang terjadi sebagai hal yang tidak menyenangkan, sehingga menimbulkan emosi seperti kecemasan, depresi dan kemarahan (Myers & Diener dalam Rohmad, 2014).
Setiap individu dalam mencapai subjective well-being dalam hidupnya tentu tidak terlepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Seperti yang dikemukakan oleh Rook (dalam Lutfiyah, 2017) yang mengatakan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial, dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Saat seseorang didukung oleh lingkungan maka segalanya akan terasa lebih mudah.
§  Sahabat memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang, seperti :
1.    Sahabat tidak pernah menghakimi
Sahabat sejati tidak pernah menghakimi atau men-judge. Segala yang buruk pada diri kita akan dikatakan dengan jujur dan baik, sehingga tidak terkesan asal mengkritik. Apapun yang membuat kita baik dan senang, maka sahabat akan selalu mendukung serta menghargai. Tak lupa, sahabat akan selalu membantu dengan tulus.

2.    Sahabat tidak pernah meninggalkan
Dalam keadaan apapun, baik sedih, kesepian, dan senang, sahabat akan selalu ada bersama kita untuk memberi dukungan atau ikut bahagia atas apa yang kita capai. Ketika menangis, mereka akan berusaha membuat kita kembali tertawa.

3.    Sahabat selalu mendengarkan
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, sahabat juga akan selalu mendengarkan segala cerita kita. Sahabat memberikan pendapatnya, sehingga kita bisa saling bertukar ide atau pengalaman untuk mendapatkan solusi terbaik pula dalam masalah tertentu.

4.    Sahabat selalu memberikan dukungan
Apapun tujuan terbaik serta membuat kita bahagia, sahabat pasti akan memberi semangat dan membantu kita untuk mencapai hal baik yang diharapkan.

5.    Sahabat dapat dipercaya
Selain keluarga, sahabat juga menjadi orang yang mengetahui banyak hal tentang kita. Ketika berada dalam tahap persahabatan, maka sahabat tidak akan melanggar kepercayaan kita. Semua ditunjukkan dengan sikap jujur serta tulus.

Hal yang membuat seseorang merasa cocok dengan orang lain yang menjadi sahabatnya yaitu adanya ikatan emosional mendalam dan kepercayaan yang dilibatkan dalam sebuah persahabatan. Dalam setiap tahap perkembangan, dari anak-anak hingga dewasa, kehadiran seorang sahabat sangat diperlukan. Namun, fungsi sahabat pada setiap perkembangan berbeda-beda. Pada masa kanak-kanak, persahabatan akan lebih mengacu pada berbagi kegembiraan dan bermain bersama. Sementara pada masa remaja dan dewasa fungsinya lebih dari itu. Sahabat pada tahap remaja dan dewasa ini akan lebih mengacu pada fungsi sharingberbagai permasalahan kehidupan yang kompleks.
§  Unsur – unsur menuju proses terbentuknya persahabatan :
  1. Kelekatan.
Tentu saja hubungan antar sahabat adalah hubungan yang sangat lekat. Persahabatan tercipta dikarenakan setiap orang membutuhkan kenyamanan emosional dengan orang lain.

  1. Kedekatan fisik.
Sahabat adalah orang yang selalu ada di sekitar kita, terutama pada saat kita butuhkan. Saat ini kedekatan fisik tak selalu jadi ukuran, mengingat jaringan komunikasi yang sudah sedemikian canggih, sehingga orang bisa saja terhubung setiap saat tanpa harus bertemu atau bertatap muka.

  1. Adanya kesamaan.
Baik memiliki kesamaan hobi ataupun minat, namun yang utama adalah kesamaan prinsip dan pola pikir.

  1. Adanya kepercayaan satu sama lain.
Unsur inilah yang membuat seseorang bisa berbagi apapun dengan sahabatnya.

Bagaimana pun, menjalin persahabatan dengan seseorang memang tidaklah mudah, karena tetap membutuhkan waktu untuk saling memahami satu sama lain. Namun ada beberapa orang hanya beberapa kali bertemu dan berinteraksi sudah merasa dekat satu sama lain. Jadi tergantung chemistry-nya yang dimiliki seseorang dengan orang lain, sebab persahabatan adalah hubungan timbal balik yang memberikan kenyaman satu sama lain. Maka tak heran bila beberapa hubungan yang terjalin di antara sahabat akan lebih dekat dibandingkan dengan saudara sedarah.

Sumber :
Chaerunnisa,. & Rachmawati, D. (22 Juni 2017). Studi: hubungan persahabatan bisa lebih baik dari keluarga. Diambil dari : https://www.suara.com/
Darwin, M. (9 Mei 2016). 5 peran penting sahabat di dalam hidup. Diambil dari : https://intisari.grid.id/
Lutfiyah, N. (2017). Hubungan antara dukungan sosial dengan subjective well-being pada anak jalanan di wilayah depok. Jurnal Psikologi, 10(2), 152-159.
Roellyana, S. (23 Desember 2012). Apa yang membuat kita merasa cocok dengan sahabat ?. diambil dari : https://www.kompasiana.com/
Rohmad. (2014). Hubungan antara dukungan sosial dengan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa fakultas psikologi universitas muhammadiyah surakarta (Skripsi). Diambil dari : http://eprints.ums.ac.id/

EDITOR : DINA ARIANI

banner