Jumat, 15 November 2019

Merawat Kesehatan Mental di Era Digital


Halo Sobat Jiwa Selayar 🤗
Bagi kalian para pelajar SMP/SMA Sederajat yang sering galau dan merasa down di era digital ini, yukkk rawat kesehatan mentalmu bersama kami di RUANG REFLEKSI "Merawat Kesehatan Mental di Era Digital".
.
PERTAMA di Selayar. Limited Edition !!! Kapan lagi bisa dapat ilmu sekeren ini secara Gratis ??? Buruan daftar, ditunggu yahh 🥰
.
Salam Sehat Mental !

Kalau Cinta, Jangan “Bodoh”


Oleh:
Fitrah Ramadhan

Jatuh cinta adalah sesuatu yang sangat wajar dan sah-sah saja. Setiap manusia pasti pernah merasakan jatuh cinta baik kepada sesama manusia. Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya. Namun, terkadang dengan mengungkapkan rasa cinta, rasa sayang dan perhatian, pasangannya sampai menyakiti dirinya sendiri. Sekilas, kita melihat cinta terhadap orang lain yang justru mengorbankan diri sendiri.

Ini merupakan kisah salah seorang yang aku kenal.  Sebut saja dia A. Kisah ini terjadi sekitar tahun 2013 sampai 2014. A merupakan seorang mahasiswi di perguruan tinggi X. A juga merupakan anak tunggal yang setiap kebutuhannya pasti selalu dituruti oleh kedua orangtuanya. Kehidupan sosial A juga sama seperti teman-temannya yang lain.  A mempunyai seorang pacar dan dia mengakui sangat mencintai pacarnya tersebut. Kisah percintaan mereka pun sama saja dengan pasangan-pasangan lainnya.

Dalam suatu hubungan percintaan, tentu tidak tertutup kemungkinan terjadinya pertengkaran di antara pasangan. Hubungan A dan pacarnya juga demikian. Pada suatu waktu, terjadi pertengkaran antara A dan sang pacar, sehingga sang pacar memutuskan hubungan dengan A. A sangat sedih sehingga dia hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Si A pun mempunyai niat untuk menarik perhatian sang mantan pacar dengan melukai dirinya sendiri. A menyileti tangannya dan memperlihatkan luka tersebut kepada sang mantan pacar. Sang mantan pun merasa kasihan dan memenuhi permintaan Si A untuk kembali berpacaran dengannya.

Selama menjalin kembali hubungan berpacaran tersebut, setiap kali mereka bertengkar, A pun selalu menyakiti dirinya sendiri untuk mendapatkan perhatian sang pacar. A seolah belajar dari pengalaman sebelumnya. Akhirnya sang pacar tidak tahan akan sikap yang dilakukan dan memutuskan hubungan dengan A. Si A tentu saja tidak terima dan kembali mengancam bahwa dia ingin menyakiti dirinya lebih dari yang dilakukan sebelumnya. Sang mantan tidak memperdulikan ancaman dari A dan tetap memutuskan hubungannya dengan A.

Sejak putus, Si A selalu meyakiti dirinya dengan menyilet tanganya, memukul-mukul tembok, dan bentuk kekerasan lainnya. Akhir cerita, Si A lalu berkenalan dengan seorang lelaki dan lelaki itu berhasil merubah perilaku A yang sering menyakiti dirinya. A sering mendapatkan masukan masukan dari lelaki itu untuk menyelesaikan masalahnya bukan dengan menyakiti dirinya sendiri.

Meskipun pada akhirnya, A dapat bersikap dan bertindak lebih positif, sebelumnya si A pernah terjatuh dalam perilaku self-harm atau menyakiti diri sendiri yang dipicu oleh faktor interpersonal, yaitu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain (penguatan positif). A juga mungkin melakukan itu untuk mengkomunikasikan sakit emosional yang dirasakannya.

Selain faktor interpersonal, faktor intrapersonal juga menjadi salah satu penyebab self-harm. Regulasi dan manajemen emosi yang kurang baik merupakan salah satu kondisi internal yang paling mempengaruhi munculnya pikiran dan tindakan self-harm. Fungsi-fungsi yang terkait dengan mekanisme pelarian atau penghindaran kondisi internal adalah hal yang umum dijumpai pada pelaku self-harm.
Orang-orang di sekitar pelaku self-harm perlu untuk menyadari bahaya dari perilaku tersebut. Dengan demikian, dukungan senantiasa perlu untuk diberikan kepada pelaku agar mereka bisa menyadari bahaya tindakannya dan melakukan upaya untuk tidak lagi mengulanginya. Seperti contoh di atas, teman laki-lakinya dapat membantunya mengatasi kondisi dirinya. Semakin seseorang terjebak dalam lingkaran sel-harm, tentu semakin tidak mudah. Namun, itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan. Dengan tekad untuk “keluar” dan dukungan dari orang lain, pelaku self-harm dapat berhenti dari “kebiasaannya”.

Beberapa hal juga dapat dilakukan untuk mencegah perilaku self-harm. Hal tersebut antara lain dengan menerima perasaan, meningkatkan keberhargaan diri (self-esteem), menjaga kesehatan fisik dan mental, meningkatkan keterampilan mengelola stres, memahami perilaku self-harm secara detail, serta mencari bantuan dan dukungan sosial.

Dari kisah di atas kita belajar bahwa boleh saja kita mencintai seseorang, akan tetapi kita jangan sampai terlihat dan bertindak bodoh hingga menyakiti diri sendiri. Meminta perhatian dari orang yang dicintai dengan menyakiti diri sendiri justru membuat orang tersebut menjadi kurang respect terhadap kita. Jika kita tidak mencintai dan menghargai diri kita maka siapa yang akan melakukannya? Bukankah kita tidak bisa memberi apabila tidak memiliki? Jadi cintai dan hargai diri untuk bisa mencintai dan menghargai orang lain.

Editor: Syurawasti Muhiddin


Kamis, 07 November 2019

Jiwa yang Merdeka


Oleh
Novi Susanti

Kekuatan untuk bangkit.
Harapan untuk bertahan.
Aku ingin lepas dari jiwa yang terjajah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap individu dalam proses perjalanan hidupnya akan menghadapi berbagai tantangan. Ada yang mengikuti, ada juga yang melawan arus kehidupan. Bahkan ada yang memilih untuk menyemplungkan diri sepenuhnya. Menikmati setiap yang terjadi. Merasakan segala yang tersuguh.

Individu seyogianya pandai dalam mengatur. Mengenal. Mengembangkan potensi dengan segala atribut diri yang telah dilekatkan padanya oleh Sang Khalik untuk menjadi manusia yang merdeka.

Kemerdekaan adalah hak untuk mengatur diri sendiri dengan selalu mengingat pada syarat-syarat tertib damainya hidup bersama dan bersesama dalam masyarakat. Kemerdekaan diri perlu memerhatikan nilai-nilai hidup yang luhur, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan seyogianya menjadi dasar untuk mengembangkan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana seimbang serta selaras dengan masyarakat [1].

Jiwa yang merdeka berarti mempunyai hak untuk melakukan berbagai hal secara lepas dan bebas dengan adanya tanggung jawab. Sehingga, kebebasan dan kemerdekaan tidak terlepas dari perasaan sadar akan kewajiban terhadap Maha Pencipta dan hak sesama manusia serta peraturan-peraturan agar setiap orang tidak bertindak sesuka hati. Individu yang mempunyai jiwa merdeka harus mampu memimpin diri, keluarga, dan memimpin masyarakat serta bangsa sesuai dengan kodratnya [1].

Individu yang memiliki jiwa yang merdeka tidak akan melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain secara fisik, psikis, dan lain sebagainya baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap tutur tindak yang dilakukan telah dipikirkan konsekuensi dan risiko yang akan dihadapi dengan matang. Terlebih dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, tidaklah harus bertemu langsung untuk bisa menyakiti orang lain.

Pada saat sekarang ini, informasi dan teknologi sebagai hasil perkembangan zaman telah menjadi faktor yang amat dominan dalam masyarakat hampir di seluruh dunia. Memang bukan pada masa kini informasi dan teknologi penting bagi kehidupan manusia. Sejak semula informasi sudah menentukan perkembangan individu dan masyarakat. Sulit membayangkan manusia dapat mengenal diri dan sekitarnya serta memprediksi situasi yang akan dihadapi tanpa informasi. Informasi dan teknologi adalah dua hal yang tak mungkin dipisahkan. Berkat kemajuan teknologi, informasi menyebar secara cepat dan telah mampu mengubah bentuk kehidupan masyarakat [2].

Media sosial merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan mudah. Informasi dalam bentuk apa pun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat sehingga memengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa. Melalui media sosial, manusia diajak berdialog, mengasah ketajaman nalar dan psikologisnya dengan alam yang hanya tampak pada layar, namun sebenarnya mendeskripsikan realitas kehidupan manusia. Namun, tidak disangkal bahwa pesan-pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat mengarahkan khalayak, baik ke arah perilaku prososial maupun antisosial [3].

Informasi yang dapat diakses melalui media sosial kini telah menjadi jendela baru bagi semua generasi dalam menyaksikan perkembangan dunia. Segala informasi dapat diakses dengan mudah. Media sosial menjadi wadah untuk berekspresi. Sejauh ini media sosial telah mengubah banyak hal dengan memberikan dampak besar bagi kehidupan manusia. Dampak yang diakibatkan merupakan irisan antara hal yang positif dan negatif. Semua tergantung pada individu dalam memanfaatkannya.

Segala aktivitas yang dilakukan dapat dengan mudah diketahui oleh orang lain. Bahkan publik dapat mengetahui berbagai hal tentang diri meski tidak bertemu langsung. Hal ini dapat menjadi pemicu munculnya perilaku cyber bullying dengan menyakiti orang lain, yang dilakukan melalui media sosial. Menjalani hidup tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan menemukan orang-orang yang barangkali berbeda dan tidak sejalan dengan yang kita pahami. Namun, hal yang perlu menjadi perhatian khusus bahwa kita dapat mengontrol diri dalam menyikapi perbedaan dan ketidaksesuaian dengan orang lain. Sebab, kendali ada dalam diri kita sendiri. Oleh karenanya, tidak perlu untuk menyakiti orang lain atas dasar perbedaan dan ketidaksesuaian. Toh, nyatanya Tuhan telah menciptakan kita baik adanya, unik, dan berharga dalam perbedaan.

*******************************
Individu yang merasa dirinya telah menjadi manusia yang merdeka tidak bertindak sesuka hati sehingga melupakan hak orang lain yang juga perlu memiliki jiwa yang merdeka. Setiap tutur tindak yang dilakukan tidak menciptakan perasaan takut, tekanan, dan belenggu pada orang lain yang dapat melahirkan jiwa yang terjajah. Merdeka berarti bebas dan lepas. Tidak lagi terbelenggu, tertekan, dan hidup di atas telunjuk orang lain. Merdeka hanya untuk mereka yang tegas terhadap diri sendiri.






Editor: Syura Muhiddin
REFERENSI
1.      Agus, C. (2018). Pendidikan Jiwa Merdeka. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada diakses dari http://acahyono.staff.ugm.ac.id/2018/05/pendidikan-jiwa-merdeka-prof-dr-cahyono-agus.html
2.      Pandie, M. M. & Weismann, I. Th. J. (2016). Pengaruh Cyber bullying di Media Sosial Terhadap Perilaku Reaktif Sebagai Pelaku Maupun Sebagai Korban Cyberbullying pada Siswa Kristen SMP Nasional Makassar. Jurnal Jaffray. Vol. 14, No 1.
3.      Sunarto, K. (2000). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fak Ekonomi Universitas Indonesia.

banner