Terusik Pikiran

"Aku merasa puas dan lega atas apa yang aku lakukan hari ini. Bagiku merampas kebebasan orang lain adalah hal yang paling menyenangkan yang pernah aku lakukan." Demikianlah kataku dalam hati.

Dalam perjalanan hidup, aku memang banyak melakukan penindasan terhadap orang lain. Makian, umpatan dan ujaran kebencian selalu saja terucap dan terlaksana olehku. Mungkin begitulah caraku menikmati kehidupan yang penuh dengan orang-orang lemah, penuh dengan kebaikan-kebaikan yang palsu, penuh dengan kebohongan yang nyata.

Bagiku, pagi adalah awal untuk memulai kejahatan, siang adalah tempatku merasa hidup di atas penderitaan orang lain, dan malam tempatku menghitung seberapa perkasanya aku ditengah-tengah orang yang lemah ini. 

Makian adalah puisi terindah yang aku ucapkan. Sentuhan fisik dengan tamparan adalah energi bagiku untuk terus mengekspresikan kebebasanku, dan kebencian menuntunku ke jalan yang lurus. 

Hingga aku berjumpa dengan zaman yang memudahkan para manusia melalui ruang-ruang maya yang mereka ciptakan sendiri.

Dan, aku mulai kehilangan kepuasanku. Segala ruang dan aktivitasku sekarang dibatasi oleh perpindahan wacana yang begitu cepat. Eksistensiku di dunia nyata hilang. Setetes makian yang aku tumpahkan akan berujung pada "viral" yang mereka sembah.

Sedetik pergerakan tanganku terekam oleh mata kamera yang terpasang di tiap sudut jendela. Seluruh kebencian tak lagi nyata, semua berpindah menjadi semu, kebencian begitu cepat berpindah tangan melalui "hoax" yang mewabah.

Sekali lagi, aku merasa kehidupan yang aku dedikasikan untuk menindas umat manusia di dunia nyata hilang, digitalisasi merenggut hak-hakku sebagai manusia.

Tapi, aku yakin pada sifat dasar manusia yang akan selalu menciptakan penindasan. Memang, tak akan ada lagi ruang untuk melakukan penindasan fisik, dan segala perbuatan fisik itu telah banyak dikecam oleh manusia-manusia digital. Semoga dengan perubahan zaman yang begitu cepat akan lebih memudahkan para penindas untuk terus memuaskan hasratnya kepada manusia lemah lainnya.
____

Besok, pagipun datang, aku cukup lelah dengan mimpi yang menguras energi ku. Yang masih teringat dalam pikiranku adalah ratusan makian yang menyerang kolom komentar pada foto instagram yang aku unggah sepekan yang lalu.

"Oh tidak!!!" Teriakku dalam kamar.

Lagi-lagi aku mimpi buruk. Mimpi ini selalu hadir dalam tiap-tiap tidur yang tak ku inginkan. Mimpi yang sangat berbeda dengan duniaku yang sebenarnya, mimpi yang selalu membisikkan sebuah "kenikmatan" menjadi orang jahat.

Ya, aku hanya iri pada mereka yang dengan mudahnya melakukan penindasan pada orang lain. Aku lelah menjadi sorotan tangan-tangan yang mengetik di balik topeng anonimitas. Aku ingin membalas dengan prestasi, tapi prestasi pun tak cukup bagi mereka, malah hanya menambah kebencian mereka terhadapku.

Hingga, aku memutuskan untuk bercerita dengan kawanku tentang serangan virtual yang membuat alam pikirku bekerja lebih cepat dan berlebihan.

"Sabar." Ungkap kawanku.

"Hanya sabar?" Balasku.

Tapi, dia juga ada benarnya. Mungkin selama ini aku tak menanam kesabaran dalam benakku, hingga sifat terburu-buru menyertai segala keputusanku.

Baiklah. Aku hanya perlu untuk mengatur nafas dan menerima keadaanku saat ini. Apapun yang aku alami, itulah aku. Aku tak perlu menjadi orang lain hanya karena sekedar ingin diperhatikan. Perhatian tak hanya datang dari orang lain. Aku juga butuh cari perhatian dengan diriku sendiri. Aku butuh mengenal diriku sendiri melebihi dari apa yang diriku tak kenali. Aku butuh istirahat dari keramaian dunia virtual.

___

"Oh tidak!!!" Teriakku dalam kamar. 

Lagi-lagi aku bermimpi dalam mimpi.



Oleh
Azmul Fuady Idham
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.