Sabtu, 19 Desember 2020

Open Recruitment: Tim Manajemen Harian Halo Jiwa Indonesia 2021

 


OPEN RECRUITMENT TIM MANAJEMEN HARIAN

HALO JIWA INDONESIA 2021

Tim Manajemen Harian Halo Jiwa adalah tim yang direkrut dengan bersifat sukarela namun tetap mengedepankan professional, komitmen, dan tanggungjawab dalam menjalankan tugas-tugasnya selama minimal satu tahun kedepan. Sehingga sedari awal perlu untuk menyiapkan diri agar bisa mengikuti regulasi kerja dari Halo Jiwa.

Sebelum melakukan pendaftaran, silahkan membaca beberapa informasi penting terkait rangkaian pelaksanaan rekrutmen yang kami lakukan. Mulai dari persyaratan umum, persyaratan khusus pada setiap tim, alur perekrutan, timeline, dan narahubung yang bisa menjadi tempat bertanya jika terdapat kendala. Selain itu, jangan lupa siapkan CV karena pendaftar wajib mengupload CV untuk semua kategori tim.

 

A.    PERSYARATAN UMUM 

Persyaratan umum yang harus dipenuhi calon anggota seperti berikut :

1. Merupakanan Warga Negara Indonesia (WNI);

2. Berusia legal secara hukum, minimal 17 tahun;

3. Tertarik dengan topik-topik kesehatan mental dan upaya merawatnya;

4. Melengkapi berkas pendaftaran secara administratif;

5. Memenuhi persyaratan khusus setiap tim / divisi sesuai dengan yang ditentukan tim rekrutmen 

(poin B persyaratan khusus);

6. Mampu bekerjasama dalam tim;

7. Mampu bekerja dengan deadline;

8. Bersedia melakukan rapat dan kegiatan secara online maupun offline;

9. Bersedia mengikuti proses rekrutmen hingga akhir.

 

B.    PERSYARATAN KHUSUS

Persyaratan khusus yang perlu diperhatikan calon pendaftar sebelum mengisi formulir, yaitu sebagai berikut:

1. Tim Arsip

    Mampu mengelola aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan kesekretariatan.  

Secara khusus:

a. Berorientasi pada detail;

b. Memiliki pengalaman dalam pengelolaan administrasi kesekretariatan;

c. Mampu mengoperasikan sistem penyimpanan online (seperti google drive, onedrive, dan

lainnya), microsoft office, dan google calendar.

2

2.  Tim Finance dan Marketing

    Mampu melakukan pengelolaan keuangan dan strategi marketing.

Secara khusus:

a. Berorientasi pada detail;

b. Diutamakan jurusan akuntansi, ekonomi, dan perbankan; minimal semester tiga;

c. Memahami strategi marketing (termasuk menjalin kerjasama marketing dan sponsorship);

d. Mampu menyusun business plan. 


3. Tim Hubungan Masyarakat (Humas)

Mampu menjalin kerjasama baik secara regional, nasional maupun internasional

Secara khusus:

a.     Mampu berkomunikasi secara efektif (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dasar).

b.     Proaktif dan inisiatif.

c.     Fast response

d.     Aktif di media sosial


4. Tim Sense of Belonging (SoB)

    Mampu melakukan pengelolaan sumber daya manusia dan pengembangan kapasitas. 

Secara khusus:

a.     Memahami manajemen Sumber Daya Manusia (seperti melakukan perencanaan, monitoring dan evaluasi, serta pemetaan potensi SDM).

b.     Mampu berkomunikasi secara efektif .

c.     Mampu menyusun program pengembangan kapasitas SDM.

d.     Minimal mahasiswa semester 3.

e.     Diutamakan jurusan ilmu sosial (seperti psikologi, komunikasi, sosiologi dan ilmu sosial terkait lainnya).

5. Tim Content Creator

Mampu membuat konten promosi dan edukasi melalui berbagai platform.

Secara khusus:

a.     Tim Media Sosial 

·        Aktif di Media Sosial.

·        Kreatif dan inovatif.

·        Bisa menggunakan aplikasi grafis dan video.

·        Diutamakan memiliki pengalaman dalam bidang copy writer.

·        Mengirimkan satu contoh hasil karya (portofolio) berupa desain grafis atau video.

b.     Tim Editor Konten

·        Memahami dasar-dasar penulisan sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) dan/atau tata bahasa Inggris. 

·        Kreatif dan Inovatif.

·        Memiliki pengalaman dalam bidang content writer.

·        Mengirimkan satu contoh karya tulis (portofolio) baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris

c.     Tim Website dan Microblog

·        Memiliki pengalaman dalam mengelola blog atau website.

·        Diutamakan memahami cara kerja HTML


6. Tim Project Manager


Mampu mengelola kegiatan-kegiatan riset, edukasi, dan pengabdian masyarakat/ pelayanan sosial secara sistematis. 

Secara khusus:

a.     Tim Riset 

Memahami alur pelaksanaan riset termasuk perencanaan, pengambilan dan analisis data

b.     Tim Edukasi

Mampu merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif melalui berbagai media baik online maupun offline

c.     Tim Social Project

Mampu merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pengabdian atau pelayanan masyarakat melalui berbagai media baik online maupun offline 

 

C.    BENEFIT

Adapun benefit yang didapatkan ketika bergabung menjadi Tim Manajemen Harian Halo Jiwa, yaitu sebagai berikut:

1.     Surat Keterangan sebagai tim manajemen harian

2.     Sertifikat

3.     Keanggotaan dalam Keluarga Besar Halo Jiwa Indonesia

4.     Jaringan

5.     Ilmu dan Pengalaman

 

D.    ALUR REKRUTMEN

    1. Tahap Pengisian Formulir (bit.ly/OprectHaloJiwa)

    2. Tahap Seleksi Administrasi

    3. Tahap Interview

    4. Tahap Pengumuman

    5. Tahap Penerimaan dan Orientasi

 

E.    TIMELINE REKRUTMEN

Tahap Pendaftaran: 20 Desember 2020 - 3 Januari 2021.

Tahap Seleksi Administrasi: 4 - 6 Januari 2021.

 

F.    NARAHUBUNG

WA : +62 823-4569-4746

Instagram:  @halojiwaindonesia

 

 


Sabtu, 28 November 2020

4 Tahun Halo Jiwa - Dari "Aku" menjadi "Kita" Berjalan Bersama


 Oleh: Azmul Fuadi I.

4 Tahun Halo Jiwa.
Dari "Aku" menjadi "Kita" Berjalan Bersama.

2016-2017

Diawal cerita, hanya ada saya dan sebuah logo lingkaran kuning dengan coretan ungu ditengah gambar. Bagi saya, cukup berdialog dengan layar dan secangkir teh, aku akan mengubah dunia. Yah, dunia yang penuh dengan bias-bias masa lalu yang memasung pikiran.

25 November 2016

Saya tak pernah berpikir bahwa logo yang dibuat hanya karena sedang kosong dari tugas kuliah, -waktu itu saya hanya seorang mahasiswa baru di salah satu kampus di Surabaya-  menjadi suatu tanda berkembangnya suatu komunitas. Saat itu, Halo Jiwa hanya ingin saya jadikan  sebagai  tempat untuk belajar, dan berharap mungkin suatu saat akan ada individu-individu yang satu frekuensi dengan saya dalam membicarakan isu kesehatan.

Ya. Ternyata mengubah dunia tak semudah dari apa yang tertera dalam imajinasi. Satu hal yang bisa mengubah pikiran-pikiran semu ini menjadi nyata ialah "kenyataan" itu sendiri.  Hingga pada saat, perlahan-lahan saya mencoba nyatakan dalam sebuah ajakan untuk mengubah dunia bersama.

2017-2018

Sepanjang 2017 hingga 2018 saya menemukan satu-persatu rekan yang saya ajak secara pribadi untuk bergabung mengelola Halo Jiwa agar lebih berkualitas secara ilmiah.  Saya  menemukan mereka melalui media sosial. Dan saya bersyukur mereka setuju untuk mendukung ide saya.

Kami berkumpul menyusun kenyataan bersama, perlahan tapi pasti. Meski raga kami terpisah, namun jiwa kami berkumpul dalam satu tujuan. "Mengubah dunia", kali ini kami memulai dengan sentuhan kecil, merangkai kalimat dalam dunia nyata, kemudian berteriak di alam maya.

Lambat namun berulang, kami terus bersuara meski tak terdengar oleh siapapun. Kami hanya ingin suatu saat nanti, karya kami akan hadir dalam misi "mengubah dunia" di atas jalan perdamaian

Hingga akhirnya, kami sedikit-demi sedikit melakukan kerja sama dengan organisasi lain yang sesuai dengan visi kami.

 2018-2019

Tiga tahun berlalu, kami mencoba hal baru. Puluhan manusia masuk dalam lingkaran ini. Misi tetap berjalan, namun satu-persatu tersapu ombak. 

Jarak sudah menjadi makanan sehari-hari, bertemu namun tak berjumpa menjadi rutinitas pasti. Hanya sebagian kecil dari kami yang sempat berada dalam satu garis waktu dan tempat. Meski begitu, bagi kami misi "mengubah dunia" akan terus berjalan, dan kami masih dalam satu rumpun logika berpikir yang sama.

Kami menyatukan suara dalam sebuah kata penguat kami "Halo Jiwa Make it Better", bercita-cita bahwa dengan langkah kecil kami, Halo Jiwa bisa membuat lingkungan sekitarnya sedikit lebih baik dan lebih baik lagi.

2019-2020

Tahun keempat kenyataan itu semakin nyata.

Kami akhirnya membuka peluang kepada masyarakat luas untuk bergabung dengan Halo Jiwa. Dimulai dengan hanya membatasi pada komunitas psikologi, hingga kemudian dibuka seluas-luasnya dari disiplin ilmu manapun.

Latar belakang logika berpikir semakin beragam, angka-angka maya semakin hari semakin bertambah, lalu lintas pekerjaan semakin ramai. Kalender semakin sesak, menuntun kami untuk berjalan sambil memperlambat waktu.

Meskipun di tengah jalan masih saja ada sosok yang tak kunjung datang, namun kami yakin "mengubah dunia" akan lebih baik jika ada pedoman yang mendampingi.

Kami terus berjalan bersama. Halo Jiwa Walk Together, tagline yang kami angkat di 2020 ini.
Harapan yang disematkan untuk selalu berjalan bersama sebagai keluarga besar. Berjalan bersama mereka, baik secara personal maupun organisasi, yang peduli dengan isu kesehatan jiwa.

Saya dan kami semua patut bersyukur. Awal yang tak terbayangkan dulu, kini semakin tergambarkan setapak-demi setapak. Menumbuhkan harapan baru untuk selalu menjadi bermanfaat.


Indonesia, 25 November 2020
Halo Jiwa Indonesia


Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa)

Jumat, 20 November 2020

Empat Tahun Halo Jiwa - Donasi Kebutuhan Sanitasi untuk ODGJ RSKD DADI Makassar dari Halo Jiwa Indonesia


Empat tahun adalah waktu yang cukup lama, meski begitu, bagi komunitas ini empat tahun terasa begitu cepat. Untuk memperingati ulang tahun yang ke-4, kali ini kami, Komunitas Halo Jiwa, ingin memberi kontribusi bantuan fisik kepada sesama, sehingga terwujudlah kegiatan donasi kebutuhan sanitasi ke ODGJ RSKD DADI Makassar. Halo Jiwa sangat antusias melaksanakan program ini, karena ini adalah kali pertama Halo Jiwa menyalurkan donasi kebutuhan sanitasi kepada ODGJ di RSKD DADI Makassar. Seperti yang dijelaskan oleh Founder dan Ketua kami, Azmul Fuadi Idham. 


Muhammad Hamka, selaku Komite Keperawatan RSKD Dadi Provinsi Sulawesi Selatan terlihat sangat antusias saat menyambut tim yang datang untuk menyalurkan donasi. Beliau sangat berterima-kasih atas donasi yang diberikan dan menganggap bahwa donasi kebutuhan sanitasi ini sangat bermanfaat. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya pasien yang butuh popok, sehingga donasi kebutuhan sanitasi ini sangat bermakna.

Selain itu, dalam kegiatan penyaluran donasi ini, Muhammad Hamka juga berharap bahwa bukan hanya Halo Jiwa yang dapat berkontribusi dalam mempromosikan kesehatan mental, namun juga seluruh masyarakat.

Hamka menganggap, penting bahwa masyarakat dapat menghilangkan stigma dalam dirinya tentang ODGJ dan percaya bahwa ODGJ dapat hidup mandiri, produktif, sehingga bisa hidup dengan normal kembali.

Selain itu, Hamka juga mengungkapkan bahwa ia sangat senang akan adanya kerjasama dan akan bersedia membuka peluang untuk kegiatan kolaborasi kembali bersama Halo Jiwa Indonesia. 




Redaksi: Tim Editor Halo Jiwa (Retno Pratiwi Sutopo Putri)

Selasa, 10 November 2020

(November Submission) Bissu dan Toleransi terhadap Gender Non-Konforming


Dalam psikologi, kita mengetahui bahwa gender merupakan hal yang fluid dan tidak hanya dikategorikan ke dalam dua hal. Alih-alih laki-laki dan perempuan, mereka mengenal LGBTQ+A1 alias Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer + Asexual. Berarti, kita tidak memasukkan orang-orang dalam gender ini ke dalam gender yang normatif dan konforming. Hal ini disebutkan oleh banyak pihak sebagai nilai Barat. Tapi, apakah benar sebenarnya mereka nilai barat dan tidak ada nilai dalam nusantara yang sesuai dengan hal ini?

Kita mengetahui bangsa Bugis dan Makassar kuno memiliki sistem gender yang berbeda dengan sistem gender modern. Mereka memiliki Laki-Laki, Perempuan, Calalai (perempuan yang mirip laki-laki), Calabai (laki-laki yang mirip perempuan), dan Bissu (atau non-gender). Kelima gender ini merupakan warisan dari kearifan lokal di Indonesia yang kerap dikutip oleh para feminis dan aktivis minoritas gender untuk memberikan analisis post-kolonialis atas kebenaran bahwa “apakah benar LGBTQ+A itu berasal dari barat. Padahal jika kita lihat, sudah banyak nilai-nilai lokal yang juga memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia tidak bias gender dalam sejarah kedaerahannya.2

Sebagai manusia modern kita perlu move on dari konsep bahwa gender hanya ada dua. Justru konsep inilah yang mengandung nilai Barat karena diperkenalkan ketika bangsa kolonial mulai menjajah nusantara. Sebelumnya, utamanya di daerah Bugis, Bissu masih menjadi tokoh suci, Calabai masih menjadi perias pengantin dan Calalai masih menjadi pasukan raja. Kita perlu mempertanyakan apakah benar LGBTQ+A merupakan nilai barat, sementara sebenarnya dalam nusantara kita nilai-nilai tersebut sudah ada. Sehingga, ini menunjukkan bangsa kita sebenarnya menghargai semua gender, tidak hanya gender mayoritas. Orang-orang gender non-konforming sudah pernah dihargai sebelumnya di masyarakat bangsa ini dengan konsep Bissu. Ini membuktikan bahwa tanpa nilai barat masyarakat kita sudah mengedepankan kesehatan mental gender non-konforming dengan menghargai mereka, bahkan Bissu memiliki tempat suci di samping Raja, dan di anggap orang yang dapat menghubungkan manusia dengan dewa karena asexualitas mereka. Sehingga, mereka sangat dekat dengan dewa.

Bissu dulu digunakan masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pemanggil hujan, figur  yang dapat memohon kepada dewa agar dapat memberkahi tanah Sulawesi Selatan dengan air. Jika kita mengingat ini tentu kita dapat menghargai sahabat-sahabat kita yang merupakan mayoritas gender. Tidak semuanya dapat dikategorisasikan sebagai perempuan dan laki-laki. Hal tersebut merupakan konsep barat yang kemudian diaplikasikan dalam nilai-nilai sosial dan spiritualitas masyarakat pasca kolonialisme. Sementara kini dengan maraknya teknologi kita dapat menemukan bahwa sebelum nilai-nilai Barat masuk sebenarnya daerah kita sudah memiliki berbagai value yang tidak mempersekusi dan tidak mengadili keberadaan gender lain di luar laki-laki dan perempuan. Jika kita membawa ini ke ranah kehidupan sehari-hari, kita dapat memberikan ruang aman bagi gender minoritas dan memastikan tidak ada peristiwa pembakaran transgender seperti yang terjadi di Jakarta.3 Jika persekusi ini tidak ada maka sahabat-sahabat kita yang berbeda gender dapat merasa lebih aman dan tidak merasa ada bahaya terhadap physical dignity mereka. Karena ini kita dapat berkaca pada sistem budaya kearifan lokal ini dalam membuat undang-undang atau menentukan sikap pribadi pada para transpuan dan memberikan mereka Indonesia yang lebih baik. Tentunya akan lebih baik bagi kesehatan mental mereka jika mereka tidak hidup dibayangi rasa takut akan dibakar.

Dalam film Brokeback Mountain juga ditunjukkan bahwa terdapat persekusi pasangan sesama jenis di Amerika zaman dulu. Saat itu di Amerika sering terjadi pembakaran gay, begitu pula di Afrika. Jika kita berkaca pada kearifan lokal mungkin kita juga ingat bahwa mereka juga manusia yang pantas kita lindungi haknya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengadvokasi hak mereka dan dapat ada buat mereka. Adapun kita dapat menjaga kesehatan mental sesame dengan memastikan bahwa hukum di Indonesia menghargai hak asasi setiap manusia. Jika seseorang melakukan melela (come out) pada kita baiknya kita tidak judging dan merasa mereka sama dengan sebelumnya.

Jika seseorang melela (come out) mereka ingin agar kita tidak berubah dan tetap memperlakukan mereka seperti sebelumnya. Adanya Indonesia diharapkan menjadi negara yang aman untuk minoritas gender ke depannya. (*)



Daftar Pustaka:

Definisi dalam https://www.apa.org/pubs/journals/sgd yang disetujui oleh

2 https://tirto.id/2000-tahun-mempersoalkan-kelamin-cr2L

3 https://metro.tempo.co/read/1329671/polisi-ungkap-kronologi-pembakarantranspuan-di-cilincing


Editor: Laili Faristin (Tim Editor Halo Jiwa)

Sabtu, 07 November 2020

(Webinar) Safiya Talk #02: Ruang Curhat Untuk Si Moody dan Bape


Safiya Talk #02: Ruang Curhat untuk

si Moody dan Baperan

 

Dokter Aufiya telah melaksanakan “Safiya Talk #02: Ruang Curhat untuk si Moody dan Baperan” pada hari Senin, 26 Oktober 2020 pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB. Safiya Talk kali ini disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting dan juga private streaming YouTube Dokter Aufiya. Materi Safiya Talk kali ini dibawakan oleh Alexandra Gabriella A., M.Psi, Psi., C.Ht, C.Est, seorang psikolog klinis dan hipnoterapis.

Sudah banyak orang yang sangat familiar dengan dua istilah ini. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak yang memilki persepsi yang berbeda-beda terhadapnya.

Baiklah, terkait bahasan kali ini, “Ruang Curhat untuk si Moody dan Baperan”, sekarang coba kita ulas sedikit terlebih dahulu.

 

(Tulisan selanjutnya dibahas dalam bahasa sehari-hari agar memudahkan pembaca untuk lebih mudah memahami isi dari Safiya Talk #02)

 

Baper tuh apa dan kayak gimana sih? Baper itu merupakan salah satu emosi atau reaksi perasaan terhadap suatu hal. Bentuknya bisa macem-macem, bisa jadi bahagia, sedih, marah, terkejut, atau emosi lain yang biasa kita rasakan.

Terus kalau mood? Mood itu suasana hati yang lebih menyeluruh. Biasanya sih diklasifikasikan jadi dua, ada good mood sama bad mood. Tapi sebenernya ada juga hari dimana kita ngerasa biasa aja, not too bad or sebaliknya. Nah, hal itu dinamakan an average day, hari dimana mood kita tuh ada di tengah-tengah. 


Kok bisa ya jadi baperan atau moody-an? Hal ini dikarenakan kedua kodisi ini deket banget kaitannya sama pengalaman kita sehari-hari. Keduanya bener-bener terkait sama emosi, perilaku, dan pemikiran yang kita miliki. Hal-hal itulah yang mendorong rasa baper dan moody yang ada di dalam diri kita. Utamanya sih dalam pikiran, gimana cara kita berpikir. Hal itu bener-bener ngefek banget ke diri kita. Makanya, sebisa mungkin, ubahlah cara berpikir yang kita miliki.

Dengan membuang dan mengganti cara pandang yang kita miliki, kita akan menjadi pribadi yang nggak terlalu baperan atau moody-an. Kita harus bisa jadi pribadi yang lebih positif, dan jadi sahabat untuk diri kita sendiri. Karena yang tau kita kenapa, yang lebih ngerti diri kita itu ya diri kita sendiri, bukan orang lain.

Safiya Talk kemarin juga membuka ruang curhat untuk tiga orang safiya yang beruntung. Kedengarannya, mereka menjadi lebih lega saat sudah menyampaikan keluh kesah dan emosi mereka. Senang bisa mendengarnya.

- Amanda Marchelyana Senis 

 

Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa)

banner