Sabtu, 08 Februari 2020

SENYUM MALAIKAT: METAFORA TOXIC RELATIONSHIP


By Afga Yudistikhar
Sebuah Cerpen

Sore itu sejenak gelap ketika malaikat Uril turun ke bumi. Sayapnya terbentang luas menutupi cakrawala. Ia mendarat di permukaan salju, pegunungan Himalaya. Ia melihat sekeliling. Nyaris senyap tiada suara.

“Aku belum mengerti alasan Tuhanku mengirimku ke tempat ini. Tiada siapa pun di sini” gumamnya.

Malaikat Uril memutuskan untuk berjalan menuju ke puncak tertinggi Himalaya. Sayapnya menyapu salju dan bebatuan yang dilewatinya. Ia terus berjalan sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Berusaha untuk mengenali pertanda sekecil apa pun wujudnya.

Sejenak ia terperanjat mendengarkan suara manusia samar-samar. Tidak jelas apa yang diucapkannya. Terdengar seperti suara teriakan namun sangat tipis. Malaikat Uril mempercepat langkahnya sembari mencari sumber suara yang didengarnya.

“Tapi tiada siapapun di sini. Aku belum melihat ada jejak manusia di salju”.

Semakin ia mendekati puncak, semakin jelas pula suara itu terdengar. Malaikat Uril mengambil langkah mundur, kemudian berlari kecil ke depan sambil mengepakkan sayapnya perlahan. Dari ketinggian ia melihat ke bawah. Memicingkan mata untuk mencari pertanda sekecil apa pun wujudnya. Ia tahu Tuhan sering kali berkomunikasi dengannya melalui pertanda-pertanda. 

“Aku melihatnya. Seorang pria putus asa yang sebentar lagi akan terjatuh dari ketinggian 29 ribu kaki”.

Malaikat Uril menorehkan senyum tipis di wajahnya. “Akhirnya aku tahu peranku di sini”.

Ia terbang turun dan mendarat di balik batu karang. Ia tidak bisa menemui pria itu dalam wujudnya yang sekarang. Seketika dilipatnya sayapnya dan seolah-olah awan mendung telah menurunkan hujannya. Kemudian ia menjadi seorang pria yang sempurna dibalut pakaian yang serba putih dan sorban sebagai penutup kepala. Perlahan, malaikat Uril mendekati pria itu. Langkahnya terlalu hati-hati, ia tidak ingin membuat pria itu terkejut dan melepaskan pegangannya. Tentu kalau itu terjadi, tugasnya gagal dan ia akan menghabiskan ribuan tahun berikutnya untuk mengurung diri sembari merenung di sebuah gua di kaki gunung Qaf. 

Hanya tersisa beberapa langkah lagi untuk menyelamatkan pria itu. Pada langkah kesembilan puluh, malaikat Uril menahan kakinya. Ia terkejut pria itu hanya berpegangan pada tumbuhan Altaica. Ia nyaris tidak percaya dengan pemandangan di depannya.

“Bagaimana mungkin tumbuhan serapuh itu bisa menahan beban tubuh seorang pria buncit. Aku tahu ini pasti pertanda. Lagi-lagi Tuhan telah mendahuluiku. Artinya tugasku hanya melanjutkan bagian yang tersisa”.

Tepat di langkah yang kesembilan puluh sembilan, malaikat Uril berada di hadapan pria itu. Malaikat Uril heran pria itu tidak terkejut dengan kedatangannya.

“Aku tahu kamu pasti pendaki yang tersesat. Sini bantu aku untuk naik. Aku nyaris terjatuh ketika kakiku tergelincir di kala menikmati indahnya pemandangan dari atas sini. Apa yang kamu lakukan? Jangan diam saja, sini tarik tanganku”.

Malaikat Uril kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya. Ketika pria itu menggapai tangan malaikat Uril, ia nyaris saja terjatuh. “Tanganmu halus sekali seperti sutra. Pasti kamu pria dewasa yang tidak pernah bekerja keras” sindir pria itu.

Ujung bebatuan tempat malaikat Uril berpijak, mendadak rubuh. Mereka panik. Sekilas kilat menyambar penglihatan pria itu. Malaikat Uril nyaris kehilangan kendali. Kilatan cahayanya menyambar ke mana-mana. Bebatuan kembali rubuh. Kini mereka berdua berada di ujung tanduk. Hampir saja ia membentangkan sayapnya dan membawa pria itu terbang bersamanya.

Kalau saja malaikat Uril tidak menyeru asma Tuhannya, tentu ia akan menunjukkan siapa dirinya. Dan jika sampai seperti itu, pria di hadapannya akan gila karena telah menjadi saksi penampakan yang Agung.

Setelah beberapa saat peristiwa nahas itu berlalu, malaikat Uril mulai tenang. Namun pria di bawahnya terus berteriak ketakutan. “Kamu pasti sengaja kan? Aku tahu kamu berniat menjatuhkanku” bentak pria itu.

Malaikat Uril hanya tersenyum menanggapi pria malang itu. Sekarang ia lebih terfokus kepada beban ditangannya yang semakin berat.

“Jangan khawatir. Apa pun yang terjadi aku akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkanmu” seru malaikat Uril.

Ia sekuat tenaga menarik pria buncit itu ke atas hingga wajahnya nyaris menyentuh bebatuan di bawahnya. Keringat malaikat Uril tidak berhenti menetes menuruni dagunya hingga terjatuh ke jurang di bawahnya. Pria itu takjub sekilas melihat tetesan keringat itu menyerupai butiran-butiran mutiara. Tanpa mereka berdua sadari, tetesan keringat itu telah menciptakan sungai yang mengalir di bawah mereka. Jadi meskipun pria itu terjatuh, ia kemungkinan masih bisa selamat.

Malaikat Uril masih mengerahkan segenap tenaganya untuk menolong seorang manusia di hadapannya. “Aku tidak tahu siapa pria ini. Tapi pasti Tuhan begitu mencintainya. Sampai aku dikirim langsung untuk menyelamatkannya,” gumamnya.  

Tangan malaikat Uril semakin licin dibasahi keringat. Ia merasa tidak lagi sanggup menarik tubuh pria ini. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak berhenti sedetik pun mengucapkan “Hasbunallah”.

Sementara itu, di bawah awan kepanikan yang menaungi mereka, pria itu akhirnya putus asa.

Situasi sejenak menjadi hening. Sampai pria itu menggapai lengan malaikat Uril dan menggenggamnya dengan erat. Sepintas malaikat Uril mengerang kesakitan. Tangan pria itu mencengkeram lengannya begitu erat, layaknya lilitan ular. Pria itu menarik tubuhnya. Mereka berdua melayang begitu cepat ke dasar jurang. Sungai yang mengalir dengan tenang di bawah mereka mendadak berubah menjadi bebatuan karang seperti semula. Tubuh pria itu terpelanting hingga terbentur keras. Batuan karang yang runcing menembus dadanya. Darah mengalir deras dan merembes ke seluruh penjuru. Tampak kontras dengan putihnya salju.

Ketika nyawanya telah sampai di kerongkongan, pria itu menyaksikan pemandangan yang aneh. Pria yang tadi menolongnya, sang malaikat Uril, berdiri di hadapannya dengan pose yang unik, mirip seseorang yang berdoa. Ia melihat malaikat Uril menangis sembari menengadahkan kepalanya ke langit. Di saat matanya setengah tertutup, ia melihat malaikat Uril seketika berubah menjadi merpati putih kemudian terbang meninggalkannya.

Tuhan menyaksikan semua kejadian itu dari singgasana-Nya. Ketika pria buncit itu menabrak batu karang, Dia Yang Maha Rahim, memalingkan wajah-Nya dengan penuh kesedihan.

Situasi di Pegunungan Himalaya kembali senyap. Angin berhembus menerbangkan salju dan bebatuan kecil yang dilewatinya. Sementara itu, matahari telah tenggelam berganti malam.



Sepatah kata dari Penulis:
“Berteman dengan orang toxic, seperti memecahkan batu es. Orang di sekelilingnya juga akan kecipratan pecahan es yang runcing. Kebayang betapa sakitnya? Oleh karena itu, ia perlu untuk meleleh sendiri dan kita bisa menjadi mataharinya. Memang akan sangat melelahkan. Karena orang toxic tetaplah toxic, sampai ia sadar untuk berubah. Sebelum itu, ia akan menarik tanganmu untuk jatuh bersamanya, tidak peduli engkau sudah berusaha menariknya. Tapi cobalah kenali lagi, barangkali Tuhan ingin menjadikanmu perpanjangan tangan-Nya untuk menolong orang itu agar menjadi lebih baik. Tapi bagaimanapun juga, engkau perlu mengenali batasanmu. Sampai sejauh mana ia bisa memperlakukanmu sedemikian rupa hingga pada saatnya kamu tahu batasanmu dan memilih untuk mundur”

Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa)

Senin, 03 Februari 2020

Aku Tak Lagi Butuh Resolusi: Ketika Melepas Tuntutan Menjadi Awal dari Segalanya


oleh Arifa Nourma



“You don’t have to know where you are going to be headed in the right

direction.”

-Christian Bosse-



Hari ini adalah hari Senin, tanggal 27 Januari 2019.

Maksudku, 2020.

Tak terasa sudah setahun berlalu semenjak kelulusanku dari bangku perkuliahan. Tahun lalu menyimpan begitu banyak kenangan—pahit dan manis—, pun sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya. Ketika melihat ke belakang, terkadang aku tersenyum simpul mengingat berbagai peristiwa yang berlangsung selama hidupku. Banyak hal yang memang kuinginkan terjadi, namun di sisi lain ingatan akan segala sesuatu yang terjadi di luar dugaan selama ini nyatanya terasa lebih kuat.

Satu hal yang aku sadari, selama ini aku—dan mungkin kebanyakan orang pada umumnya— menjalani hidup layaknya menyalakan batang-batang lilin. Lilin baru yang dibakar di awal lama-lama habis di penghujung tahun untuk kemudian diganti dengan lilin-lilin yang baru di tahun berikutnya. Hal ini sepadan dengan hidup berpedoman pada resolusi-resolusi yang kita buat setiap tahunnya.

Apakah semua orang hidup berdasarkan resolusi yang dibuatnya? Bisa jadi, karena akupun berusaha demikian—sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mengejar “mimpi-mimpi” ku.

Resolusi sendiri bagiku merupakan sebuah kata dengan makna yang cukup unik. Apabila dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam jaringan/daring), definisi resolusi adalah “putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang)”. Selain itu, resolusi juga diartikan sebagai “pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal”. Belum lagi jika dilihat dari konteks lain, resolusi memiliki berbagai macam artian. Sedangkan jika kita merujuk pada kamus daring Lexico (mengacu pada kamus Bahasa Inggris Oxford), resolusi didefinisikan sebagai keputusan kuat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu—satu pengertian yang mungkin paling bersahabat di telinga kita dibandingkan dengan kawan-kawannya yang lain.

Seakan hadir beriringan bersama momentum tahun baru, resolusi lahir sebagai bentuk pengharapan pada awal yang lebih baik. Seakan waktu yang telah berlalu dapat disetel ulang kembali; apapun yang telah terjadi, kita yakin akan adanya kesempatan baru yang muncul, pun dengan asa yang bertumbuh untuk kita kembali mengukir mimpi.

Aku masih ingat dengan jelas resolusi-resolusi yang aku tuliskan di secarik kertas robekan buku sketsa. “Tes TOEFL, bikin passport, dapat kerjaan, baca 1 buku per bulan, beli buku tiap 3 bulan sekali, persiapan cari beasiswa” adalah rentetan keinginan yang aku goreskan di atasnya. Kertas putih nan tebal yang hanya seukuran kertas A5 itu tak ayal menjadi pedomanku dalam menjalani hidup selama dua belas bulan kedepan.

Aku pun masih ingat kegigihanku di awal tahun 2019 dalam menjalani hidup sebagai seorang mahasiswi yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Karena memang targetku kala itu adalah menyongsong beasiswa-beasiswa ke luar negeri, aku tidak terlalu berambisi dalam mencari pekerjaan. Dengan berbekal resolusi dan keyakinan yang kuat, aku memfokuskan diri pada pekerjaan-pekerjaan sambilan yang mendatangkan pundi rupiah untuk bekal mengambil tes TOEFL resmi, membuat paspor, dan mengurus berkas-berkas beasiswa. Aku pun menjadi tutor, instruktur, dan guru Bahasa Inggris, baik secara privat maupun dalam lingkup lembaga bimbingan belajar. Sambil mendaftar pekerjaan yang memang sesuai dengan expertise-ku, aku memperbanyak pengalaman mengajar demi memenuhi persyaratan untuk mendaftar salah satu beasiswa bergengsi dari pemerintah. Aku juga mengikuti kegiatan kerelawanan di


salah satu non-governmental organisation yang cukup ternama di kotaku: lagi-lagi demi memperkaya CV-ku di mata provider beasiswa.

Resolusi yang kubuat atas dasar keyakinanku untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi nyatanya mengantarkanku pada hidup yang penuh dengan semangat juang. Puncaknya adalah pertengahan tahun lalu dimana aku akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap dengan gaji yang sangat memadai. Selain itu, di waktu yang bersamaan aku juga mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh salah satu direktorat jenderal kementrian. Pekerjaan dan pengalaman baru yang begitu berkesan justru aku peroleh di luar rencanaku; ajaibnya, semuanya membantuku dalam membangun profil diri yang lebih prospek sebagai calon penerima beasiswa yang selalu aku impi-impikan. Apakah semua ini peran dari resolusi yang aku buat? Bisa jadi memang demikian.

Sayang seribu sayang. Layaknya kisah dongeng yang mulai kehilangan pesona keajaibannya, hidupku yang kupikir sudah mulai terarah bergerak menuju impian dan ambisi besarku, perlahan runtuh. Hadir sesosok lelaki dalam hidupku yang entah bagaimana mulanya kini mengalihkan perhatianku serta mengombang-ambingkan perasaanku. Aku yang semula fokus pada harapan-harapanku sedikit demi sedikit melupakannya dan lebih memilih untuk mencari kesenangan semata. Namun bukan itu penyebab utamanya. Setelah beberapa bulan berlalu, terciumlah permasalahan dalam perusahaan tempatku bekerja. Hingga pada bulan Oktober, aku dan ketiga temanku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan kami lantaran kondisi kantor yang tidak lagi “sehat”. Pukulan demi pukulan menghantam lambung bahtera pengharapanku hingga akhirnya tenggelam bersama dengan puing-puingnya ke dasar laut yang dalam.

Pada momen inilah lilin yang dulu kunyalakan—yang pada mulanya apinya berkobar-kobar— mulai mengerdil dan cahayanya meredup. Selepas resign aku seakan kehilangan semangat untuk melakukan apapun. Depresiku yang sempat muncul di tahun sebelumnya, kini keluar lagi ke permukaan. Tak kusangka jika efek keluar dari pekerjaan yang nyaman secara finansial namun dengan lingkungan yang penuh dengan toxicity ternyata bisa semengerikan ini. Tak ada lagi impian dan harapan, semuanya sirna bersama matahari yang tenggelam, menyatu dengan gelapnya malam. Pencapaianku di tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya pun seakan lenyap ditelan bumi. Bagai seorang musafir yang tersesat, aku diserang rasa panik dan kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Alhasil, aku berkahir mengajar di sekolah dasar, hal yang sedari dulu aku hindari karena jujur saja, aku tidak pandai menghadapi anak-anak dengan segala dinamikanya. Keputusan ini pun kubuat karena aku tergesa-gesa: aku takut sekali menganggur.

Dan dengan ini, lilinku benar-benar padam—aku menghabiskan akhir tahunku dengan kegagalan demi kegagalan, kesedihan demi kesedihan, ketakutan demi ketakutan, dan keputusasaan demi keputusasaan yang tak terperi rasanya. Pada titik ini tak perlu lagi mempertanyakan perihal resolusi yang sudah kutempel di dinding dengan rapi—aku bergegas menyobeknya ketika untuk melanjutkan hidup saja rasanya sudah tak ada lagi harapan yang tersisa.


Tapi tahukah kamu, ada satu hal dari diriku yang benar-benar aku kagumi: resilience, atau seberapa tahan-bantingnya diriku ini. Di antara emosi-emosi negatif yang kurasakan sebagai hasil dari meratapi kegagalanku di tahun 2019, aku belajar banyak sekali hal di waktu yang sama. Justru dari pahitnya peristiwa yang kualami, aku belajar untuk menghadapi pikiran-pikiran buruk dan mengubahnya menjadi lebih positif, aku belajar untuk menghadapi situasi-situasi yang tidak terduga sebelumnya, aku belajar untuk menerima kekurangan yang ada pada diriku, aku belajar untuk mengikhlaskan apa yang Tuhan berikan dalam hidupku—entah baik ataupun buruk—, aku belajar untuk membina hubungan yang lebih baik dengan orang lain dan membatasi diri pada kecenderungan berperilaku destruktif. Singkatnya, aku belajar tentang mindfulness dan bagaimana pengaruhnya dalam diriku untuk menghadapi berbagai macam tantangan yang ada saat ini dan di masa yang akan datang.

Mindful sendiri artinya berkesadaran. Kita sepenuhnya sadar akan pikiran kita, perasaan kita, keberadaan orang lain, alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita, dan sebagainya. Ternyata, tanpa disadari, tiga bulan terakhir di tahun 2019 membelajarkanku akan konsep hidup ini. Tidak mudah, dan jelas belum seratus persen tuntas, tetapi dengan berbekal perspektif baru ini, menjalani kehidupanku yang sebetulnya mungkin masih belum membaik hingga saat ini menjadi jauh lebih mudah. Dampak langsung bagi diriku pribadi adalah, aku jadi lebih berani untuk menjadi diriku sendiri, lebih berani mengambil resiko, lebih berani menghadapi segala macam tantangan dan hal-hal yang tidak terpikirkan, serta lebih ikhlas dalam menjalani hidup yang ada.

Lantas, apa hubungan mindfulness dengan resolusi?

Dari pengalaman dan sudut pandangku pribadi, bisa dikatakan mindfulness merupakan strategi yang tepat sebagai pengganti resolusi dalam menghadapi tahun baru. Daripada mengeset macam-macam goals yang membebani hati dan pikiran serta seringkali tidak realistis, alangkah lebih baik melakukan refleksi terhadap pengalaman kita selama setahun— bahkan lebih—ke belakang, menginterpretasi hal-hal yang mungkin masih mengganjal di benak kita, dan menimbang kembali keputusan-keputusan yang sebaiknya dibuat.


Aku baru menyadarinya akhir-akhir ini bahwa ada banyak resolusi yang aku buat di masa silam yang sampai sekarang masih belum mampu kucapai. Hal itu karena sebagian besar resolusi yang kubuat adalah harapan, keinginan, dan juga ambisi yang tidak akan bisa diwujudkan pada “level”-ku yang masih belum seberapa. Layaknya bermain game, kita juga perlu menaikkan level atau kualitas diri kita untuk mencapai sesuatu. Dan bisa dikatakan, di tahun lalu aku terlalu banyak memainkan “stage” dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi tanpa diikuti dengan usaha menaikkan level yang sepadan. Sederhananya, apa yang kita impikan akan sulit untuk terwujud jika kita belum selesai dengan masalah kita sendiri. Memaksakan suatu keadaan tentu bukan hal yang bijak jika kita sendiri belum memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapinya.

Tentu tak ada salahnya kita tetap membuat resolusi. Aku pun, meski tidak lagi menuliskan dan memajang impian-impianku, tetap menanamkan dalam hati apa-apa saja yang ingin aku lakukan dan capai di tahun 2020 ini. Tetapi berbeda dengan tahun lalu, aku tidak memaksakan diri, aku tidak menghakimi diriku sendiri jika apa yang aku lakukan belum membuahkan hasil, dan aku menganggap kegagalan yang mungkin bakal terjadi kedepannya adalah pelajaran yang perlu aku ambil hikmahnya. Aku juga mengubah mimpi-mimpiku menjadi langkah-langkah kecil yang untuk saat ini paling mungkin untuk kulakukan, sehingga mimpi besar yang kumiliki tetap realistis untuk digapai.

Singkatnya, aku tak akan lagi menyalakan batang demi batang lilin di awal tahun yang pada akhirnya habis terbakar di akhir. Cukup nyalakan saklar lampu saja sebagai penerangan,. Kan, sudah ada listrik, hehe, pasti akan terus terang benderang. Asal jangan lupa hemat listrik saja. ;D




 

Editor: Retno Pratiwi (tim Editor Halo Jiwa)
banner