Cerita Seorang Penyintas Bipolar - Oleh Anggun Mita K.



 
CERITA SEORANG PENYINTAS BIPOLAR
Oleh: Anggun Mita K.



Disclaimer: Sebelum aku menulis di sini aku ingin menulis sepenuh hati untuk kalian yang juga berjuang di sana sama seperti aku.

 


          

            Hai, perkenalkan nama saya Anggun. Saya adalah bungsu dari 3 bersaudara. Hidup saya dulunya terasa sempurna, lahir dari keluarga berpendidikan dan berkecukupan. Namun, saya sadari ternyata tidak ada yang benar-benar sempurna. Saya kurang bisa bergaul dengan teman, alhasil saya suka dibully dari kecil dan sampai pindah sekolah sewaktu SMP. Meski begitu, setelah pindah, hidup saya mulai membaik. Pendidikan dan pergaulan saya lancar, itu semua karena keajaiban Tuhan. Saya dipertemukan dengan banyak orang baik.

            Sampai pada akhirnya saya lulus sarjana dan hidup mulai terasa membingungkan. Mungkin istilah  quarter life crisis ini memiliki andil yang besar terhadap kebingungan tersebut. Saya ingin kuliah lagi, namun orangtua menginginkan saya untuk bekerja, meski pada akhirnya saya memutuskan kuliah profesi. Bahkan saya yang feminis ini dijodohkan oleh pihak keluarga. Mereka memaksa saya untuk segera menikah. Dari situ saya terkena bipolar. Saya harus bolak-balik ke psikiater dan minum 4 pil sehari. Bahkan masuk RSJ selama seminggu demi pengobatan.

Nasib saya makin naik turun, saya berusaha bekerja di Jogja, namun sebulan kemudian resign dari kantor. Setelah itu saya pulang ke kampung halaman. Saya berusaha bekerja di kota asal, namun lagi-lagi pada akhirnya setelah 4 bulan, saya keluar. Sampai akhirnya saya putuskan untuk kembali mengambil kuliah sembari bekerja di Jakarta. Sebuah keputusan nekat, amat sangat nekat. Hal ini dikarenakan orangtua hanya memberi ijin untuk ke Jakarta apabila saya menggunakan uang sendiri. Namun beruntungnya, di Jakarta saya tinggal dengan kakak yang sangat peduli terhadap saya.

            Pada saat mencari pekerjaan di Ibukota, saya belajar banyak hal tentang mental health. Moodku mulai membaik. Sayapun mempublish kegiatan-kegiatan saya di social media untuk memotivasi teman-teman yang lain. Banyak yang penasaran tentang bipolar, banyak yang mengapresiasi, memberi semangat, bahkan merasa senasib. Hingga akhirnya saya dapat pekerjaan, tapi saat mereka tahu jika saya terkena bipolar, semua berubah. Moodku turun lagi.

Saya merasa sepertinya saya kurang tangguh dalam menghadapi itu semua, saya kurang kuat. Saat saya mengumumkan ke orang bahwa saya bipolar, saya berniat melakukan hal tersebut tulus untuk memotivasi orang lain agar selalu kuat dalam bertahan hidup. Tapi ternyata tidak semua orang memiliki pikiran yang sama. Alhasil, saya hidup jungkir-balik di tempat kerja. Saya yang lulusan akuntansi dipaksa belajar teknik, belum lagi budaya kantornya yang salah sedikit marah-marah. Atau memang saya yang kurang cocok bekerja di sana? Entahlah.

            Selepas 3 bulan saya memutuskan keluar, tapi hal ini hanya kuceritakan ke keluarga terlebih dahulu. Saya takut dikira kutu loncat. Padahal mencari pekerjaan adalah tugas sangat sulit. Entahlah, saya menjadi bingung saat itu. Saya juga harus membayar cicilan kuliah dengan uang sendiri. Namun keajaiban datang lagi, teman kuliah saya tiba-tiba ada yang menawarkan pekerjaan di konsultan pajak, linier sekali dengan jurusan saya sewaktu kuliah dulu. Doa yang terus-terusan saya panjatkan kepada Tuhan ternyata di-ijabah. Saya hanya seminggu menganggur. Padahal saya sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila limit tabungan habis dan saya tidak bisa membayar kuliah.

            Dari situ saya belajar bahwa ternyata isu mental health di Indonesia memang harus benar-benar diperhatikan. Pengetahuan masyarakat harus lebih diperluas. Terlebih lagi untuk masyarakat Ibukota dengan segala macam sistem kerja rodi, kebutuhan yang banyak, macet dan permasalahan lainnya sudah menjadi beberapa dari banyak alasan untuk kurangnya empati.

            Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang masih mencari jati diri, sesama penyintas bipolar, dan yang masih berjuang untuk terus bertahan. Kalian tidak sendiri. Selalu berusaha bangkit-lah dari keterpurukan. Bisa pula mengambil pelajaran dari tulisan ini. Tidak ada maksud untuk menggurui, namun saya berharap dari tulisan ini teman-teman semua bisa belajar jika niat baik untuk terbuka kepada publik mungkin akan menimbulkan dampak yang justru kurang menyenangkan karena masyarakat kita masih kurang edukasi terkait gangguan-gangguan semacam ini. Bagi saya, jauh lebih baik apabila hanya teman-teman dekat dan keluarga saja yang tahu karena orang-orang terdekat-lah yang cenderung tidak akan memberi judgement terhadap kekurangan dan justru memberikan dukungan penuh pada kita. Dan saya yakin bahwa dukungan tersebut sangat amat penting bagi proses kita untuk bertumbuh. Selain itu, mencari tahu terkait mental health dan belajar terkait topik tersebut akan sangat membantu diri kita yang terkena paparan stres berat, baik itu akibat masalah keluarga, sekolah, pekerjaan, dan masih banyak lainnya.
            


Editor: Anggun Mita K. dan Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa)


Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.