Night Talk Halo Jiwa Indonesia - Selective Exposure


 Rilis Night Talk Halo Jiwa Indonesia
Selective Exposure
Pemateri: M. Arief Sumantri
(Grup Big Halojiwa Indonesia)




Halo Jiwa Indonesia – (Rabu, 29 April 2020 21.45 WITA) Dalam setiap proses pengambilan keputusan yang dijalani oleh tiap individu terdapat proses internal yang melibatkan interaksi sejumlah perangkat psikologis, seperti belief, value, dan attitude yang mengacu pada kerangka kognitif. Proses tersebut akan terus terjadi dan diperbaharui melalui keterbukaan yang selektif. Belief dan perangkat psikologis lainnya terbentuk karena adanya persepsi terhadap sebuah informasi di lingkungan sosial, yang nantinya akan menjadi landasan dalam berpikir. Kecenderungan individu untuk memilih informasi yang sesuai dengan belief dan attitude-nya disebut selective exposure

Selective exposure menjadi bias apabila individu memiliki tendensi penolakan terhadap informasi baru yang tidak selaras dengan kerangka kognitifnya. Kondisi ketidakselarasan tersebut dikenal dengan disequilibrium. Kondisi tersebut akan menimbulkan ketidaknyamanan yang mendorong individu untuk mencapai equilibrium, dengan cara mencari pembenaran akan kerangka kognitifnya (self-defense mechanism) atau memilih untuk menerima informasi yang bertentangan dan memperbarui acuan berpikirnya (motivated reasoning). Serangkaian situasi tersebut dikenal sebagai disonansi kognitif. Adanya selective exposure ini dapat membuat suatu individu menjadi sangat subjektif pada level tertentu, karena ia menilai suatu informasi hanya berdasarkan belief-nya. Dalam hal tersebut, suatu informasi akan semakin benar jika selaras dengan belief suatu individu.

Selain disebabkan oleh proses internal. Selective exposure juga dipengaruhi oleh sumber eksternal, seperti ketersediaan informasi. Informasi yang tersebar dapat mendukung belief jika semakin diperkuat oleh pondasinya apabila informasi tidak dicermati dengan seksama. Pada situasi lain, dapat terbentuk sebuah filter bubble karena individu cenderung hanya merujuk pada serangkaian informasi dengan kemiripan pola. Pencarian informasi pun cenderung terbatas pada pola yang sama di kemudian hari. Sistem tersebut mengarah kepada algoritma dalam media online atau terjebak dalam situasi yang lain. Tanpa disadari individu telah terperangkap oleh lingkaran informasi yang secara terus menerus disuarakan dan mendukung sistem belief-nya. Kondisi tersebut dikenal sebagai echo chambers.

Dampak dari selective exposure mengarah pada terbentuknya optimistic bias dan pessimistic bias. Dua kutub yang nampak saling berlawanan, namun dapat saling bereaksi satu sama lain. Pada satu sisi, individu cenderung membangun sebuah persepsi yang sangat positif diperkuat oleh informasi yang mendukung pilihannya. Fenomena tersebut dapat dijelaskan oleh sejumlah individu yang tidak menaati kebijakan swa-isolasi dan cenderung meremehkan efek dari pandemi. Di sisi lain, individu bisa menjadi sangat pesimis jika terpapar oleh informasi yang menimbulkan kepanikan dan kecemasan kolektif secara berkala. Kedua kutub tersebut bisa sangat dinamis, jika individu membangun sebuah tendensi over confidence justru memiliki rasa pesimis pada dirinya sendiri.

Selective exposure dapat membantu individu agar tetap fokus pada berita yang bermanfaat dan menimbulkan emosi positif, serta mengabaikan informasi yang tidak penting. Pada situasi pandemi, individu dapat menerapkan proses selektif dalam memfilter masifnya pemberitaan media, agar tetap terawat mental yang sehat. Salah satu caranya yaitu dengan kritis dan evaluatif terhadap sumber, konten, penulis, serta mengedepankan sifat ilmiah. Selain itu, individu perlu untuk meningkatkan self-awareness agar dapat menyadari biasnya dan lebih objektif dalam menilai informasi. Pada intinya, akses informasi sepenuhnya berada dalam pusat kendali individu, Oleh karena itu, coba untuk memperbanyak informasi yang bisa membangun wawasan dan emosi positif, agar kesehatan mental tetap terjaga.


Editor: Amanda Marchelyana Senis, Dewi Suratmi, Laili Faristin (Internship Halo Jiwa)
Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.