Senin, 29 Juni 2020

Launching Halomagz 2020




Sambutan diwakili oleh Saudari Syurawasti Muhiddin sebagai sekretaris komunitas, berhubung founder terkendala untuk hadir dalam sesi Webinar ini. Saudari Syura mengawali sambutannya dengan perkenalan diri, sekaligus menyapa peserta Webinar. Kemudian, Saudari Syura juga memberi perkenalan singkat mengenai Komunitas Halo Jiwa Indonesia. Dalam hal ini, Halo Jiwa merupakan komunitas yang secara aktif bergerak dalam mempromosikan kesehatan mental, khususnya di Indonesia. Komunitas ini berbasis online, meskipun beberapa kegiatannya dilakukan melalui pertemuan langsung dengan masyarakat. Internal Halo Jiwa tidak hanya diisi oleh SDM yang berlatar belakang keilmuan Psikologi, namun terdiri atas beberapa bidang keilmuan. Karena pada dasarnya, isu kesehatan mental bersifat general untuk semua kalangan. Halo Jiwa telah memulai promosi kesehatan mental dalam skala yang lebih luas, sejak tahun 2019. Kala itu, Halo Jiwa aktif di berbagai media sosial, khususnya Instagram, untuk membagikan konten-konten kesehatan mental dan kegiatan sosial. Promosi kesehatan mental saat itu didasarkan atas tagline ‘Make it better’. Kemudian pada tahun 2020 ini, Halo Jiwa kembali hadir dengan tagline baru, ‘Walk Together’. Tepat tahun 2020, Halo Jiwa sudah memasuki tahun keempatnya dalam menjalankan visi kemanusiaan. Tagline Halo Jiwa Walk Together’ mengisyaratkan ajakan kolaborasi berbagai pihak, untuk menumbuhkan semangat berjalan bersama, dalam meningkatkan awareness masyarakat terhadap isu-isu kesehatan mental. Di tahun yang keempat ini, Halo Jiwa menghadirkan lebih banyak inovasi, yang digolongkan ke dalam empat kategori, yang meliputi promosi kesehatan mental, riset/online survey, social project, dan kerjasama/networking.
Perwakilan dari Himpsi menjelaskan mengenai peran literasi dalam meningkatkan awareness masyarakat terhadap isu-isu kesehatan mental. Dalam hal ini, diharapkan semakin banyak literasi yang dikembangkan dengan gaya bahasa yang populer dan lebih mudah dipahami pembaca awam. Terkait hal tersebut, Himpsi melihat Halo Jiwa sebagai komunitas yang secara aktif menyebarkan literasi kesehatan mental kepada masyarakat. Pentingnya literasi kesehatan mental terkait dengan isu-isu masalah psikologis yang bertumbuh pesat, di negara-negara berkembang. Gangguan psikologis yang diidentifikasi sebagai penyakit tidak menular, menjadi salah satu disfungsi yang paling banyak dialami oleh masyarakat, di samping penyakit medis. Oleh karenanya, masyarakat perlu untuk semakin mengembangkan awareness mengenai kesehatan mental ini. Harapannya melalui kegiatan Webinar ini, masyarakat semakin bertambah wawasannya mengenai kesehatan mental, sehingga menjadi lebih sadar untuk merawatnya.
Sustainable LivingEnvironmental Dilemma, dan Well-being
Terkait sustainable living, pemateri menekankan dua poin penting. Pertama, upaya untuk mencapai sustainable living pada dasarnya dimulai dari bagaimana individu dapat mengurangi jejak-jejak karbon. Kemudian, bagaimana individu dapat mengatur pola hidupnya, mulai dari apa yang dikonsumsi, sampai sejauh mana, bagaimana menjalani keseharian, mengedukasi, dan membangun identitas. Sustainable living terkait erat dengan kondisi well-being. Well-being sendiri merupakan keadaan diri yang puas, bahagia, terpenuhinya segala keinginan, serta optimis dengan apa yang akan terjadi. Individu yang well-being, memiliki tujuan, bekerja untuk mencapainya, dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki dalam mengatasi berbagai rintangan yang ditemui dalam kehidupan. Pada intinya, well-being merupakan situasi yang berkembang. Sebagaimana sustainable living yang juga mestinya berkembang. Jadi dalam menjalankan prinsip hidup berkelanjutan, individu tidak hanya cukup dengan sekedar memiliki nilai-nilai yang pro lingkungan, namun juga seyogianya mampu bertumbuh dan memperoleh manfaat bagi diri sendiri. Tanpa ada aspek yang berkembang, sustainable living belum dapat dikatakan mencapai kondisi well-being.
Selanjutnya, pemateri menjelaskan bahwa ada kalanya meskipun individu paham bagaimana keuntungan yang dapat diperoleh dari sustainable living, namun karena dorongan untuk memenuhi kebutuhan lebih besar, sementara sumber daya terbatas, maka individu pada akhirnya akan mengorbankan alam. Kondisi ini disebut sebagai environmental dilemma. Pada pemaparan berikutnya, pemateri menyajikan sejumlah fakta sosial yang ditemui dalam keseharian. Fakta pertama, kebutuhan manusia menyangkut individual interest dan collective interest. Kadang kala, untuk memenuhi kebutuhan sebagai individual interest, individu kurang memerhatikan kebutuhan atau kepentingan kolektif atau kebaikan bersama. Makanya, menjadi penting untuk dipahami bahwa apa yang dilakukan bisa berdampak bagi orang lain dan lingkungan secara lebih luas. Fakta kedua, terkait dengan kebutuhan manusia yang diapit oleh emotional satisfaction dan social pressure. Hal tersebut berarti bahwa ada kalanya individu mengedepankan kepuasan emosional temporer, tanpa memikirkan dampak terhadap kondisi sekitar. Namun ketika dipertemukan dengan social pressure, emotional satisfaction akan kembali dipertimbangkan, demi mendapatkan penerimaan secara sosial. Kondisi tersebut terjadi karena feedback yang diperoleh dari lingkungan sosial sering kali secara langsung. Namun berbeda halnya apabila terkait dengan alam, di mana feedback yang dirasakan tidak secara langsung dan bisa jadi baru timbul di waktu yang relatif sudah lama. Sehingga ketika itu berkaitan dengan alam, manusia cenderung mempertahankan emotional satisfaction, tidak peduli kerusakan yang selalu mungkin bisa ditimbulkan. Fakta ketiga, pada umumnya banyak orang beranggapan bahwa sustainable living kurang efisien untuk diterapkan, karena membutuhkan cost, effort, dan waktu yang lebih banyak. Sehingga kesadaran untuk hidup secara berkelanjutan masih belum terbangun, karena adanya anggapan tersebut.
Terkait kondisi tersebut, pemateri memaparkan berbagai kemungkinan terbaik yang dapat meyakinkan peserta, agar mulai memikirkan hidup secara berkelanjutan. Dalam hal ini, setiap individu yang telah berhasil mencapai sustainable living, merasakan kesulitan untuk memulai sebagaimana orang lain pada umumnya. Kesulitan tersebut di antaranya, berupa kebingungan harus mulai dari mana, tidak yakin dapat konsisten, merasa apa yang dilakukan tidak memberikan keuntungan dan manfaat, serta banyaknya godaan yang ditemui untuk melanggar komitmennya. Selain itu, menjalani sustainable living tentunya dimulai dari langkah-langkah kecil, perlahan-lahan, dan tidak mesti dilakukan secara sekaligus. Untuk semakin meyakinkan diri, individu dapat belajar dari pengalaman orang lain yang telah lebih dulu menerapkannya. Dalam hal ini, individu yang telah melatihkan sustainable living, cenderung diliputi emosi positif dan kepuasan batin. Selain itu, individu juga senantiasa merasakan energi baru setiap harinya, ketika konsisten menjalankan kebaikan untuk kepentingan bersama. Pada intinya, untuk menerapkan sustainable living, memang membutuhkan cost yang besar di awal, karena barang yang dibeli cenderung bisa terpakai dalam jangka waktu yang panjang. Namun seiring dibiasakan, manfaat yang dirasa jauh lebih besar, dan cost yang dikeluarkan tentunya lebih sedikit.

Bagaimana Bisa Memulai Sustainable Living?
Pemateri menjelaskan pada intinya, untuk memulai hidup secara berkelanjutan, individu perlu melalui tiga tahapan, yang meliputi:
a.     Psychological Preparation
Pada tahap ini, individu seyogianya memberikan jeda kepada diri untuk bisa kembali terkoneksi dengan alam (reconnect to nature). Individu perlu membangun kesadaran bahwa setiap tindakan penting dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Sebagai latihan, individu bisa membiasakan praktik mindfulness, dengan menikmati alam terbuka sembari merasakan sensasi-sensasi yang diterima oleh panca indra. Dari latihan tersebut, timbul kenyamanan dan emosi positif, sehingga lebih mudah untuk kembali menjalin koneksi dengan alam. Selain itu, yakinkan diri untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang kurang pro lingkungan. Hal ini menjadi tantangan sendiri di awal, namun akan dirasakan manfaatnya seiring latihan dan pembiasaan.
b.     Rencanakan Sustainable Living Menurut Versi Diri Sendiri
Selanjutnya, individu bisa membiasakan hidup berkelanjutan berdasarkan kapasitas diri sendiri. Tidak perlu mengikuti orang lain yang sudah lebih dulu menjalankannya, cukup dengan versi diri sendiri. Selain itu, individu juga bisa mengevaluasi secara rutin upaya apa saja yang telah diterapkannya. Hasil evaluasi tersebut bisa didiskusikan lebih lanjut bersama rekan ataupun keluarga. Dari hal tersebut, individu kemungkinan akan menerima feedback, yang harapannya bisa lebih mengembangkan upaya selama ini, agar semakin optimal.
c.     Kenyamanan dalam Ketidaknyamanan
Pada fase berikutnya, individu selalu mungkin akan merasa kurang nyaman, selama periode transisi perubahan kebiasaan. Kondisi tersebut tergolong wajar dan oleh karena itu, dapat diantisipasi. Dalam kondisi tersebut, individu dapat membangun kenyamanan dalam ketidaknyamanan itu sendiri. Maksudnya, individu perlu menemukan cara-cara efisien atau coping strategy untuk mengatasi rintangan yang ditemui, agar tetap konsisten dalam perubahan.

Peran Majalah Sebagai Media Publikasi
Pemateri memulai sesinya dengan memperkenalkan beberapa jenis majalah berdasarkan segmentasinya. Dalam hal ini, terdapat sejumlah sampel majalah yang dipaparkan, meliputi National Geographic, Bobo, Play Boy, The New Yorker, Psychology Today, Time. Secara spesifik, National Geographic mewakili segmentasi pembaca segala usia, meskipun bahasa yang digunakan cenderung ilmiah, karena tujuan edukasi. Kemudian Majalah Bobo mewakili segmentasi pembaca usia kanak-kanak, yang tujuannya juga mengedukasi anak dengan informasi konkret dan ilustrasi menarik. Selanjutnya, Majalah Play Boy dikhususkan untuk orang dewasa, karena memuat konten-konten yang cenderung vulgar. Lain pula dengan The New Yorker yang memuat narasi layaknya cerita pendek, sama halnya dengan Time. Hanya saja, Majalah Time memuat narasi dalam bentuk biografi kehidupan seseorang yang berpengaruh. Sementara itu, Psychology Today, merupakan majalah yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu Psikologi.
Selanjutnya, pemateri menjelaskan bahwa beberapa sampel majalah tersebut termasuk dalam jenis korporasi, yang publikasinya secara luas. Namun terdapat juga, jenis majalah yang diproduksi secara amatir untuk membahas isu-isu tertentu. Biasanya yang tergolong ke dalam jenis kedua tersebut, bersifat non profit dan publikasinya terbatas pada kalangan pembaca tertentu. Pemateri menjelaskan bahwa majalah memiliki kualitas tersendiri, dibanding media informasi yang sangat luas, seperti internet. Menurut pemateri, majalah akan memudahkan sebagian pembaca untuk menemukan informasi yang spesifik dalam suatu tema tertentu. Sementara sebagian orang cenderung sulit untuk mengolah atau memfilter masifnya informasi yang ada di internet. Sehingga majalah menjadi alternatif yang efisien untuk berbagai situasi. Pemateri menambahkan beberapa kualitas lain yang dimiliki oleh majalah, meliputi proses pendistribusiannya yang dapat menjangkau kawasan di mana akses internet terbatas, seperti wilayah pedesaan. Selain itu, majalah juga cenderung mudah diarsipkan atau disimpan di tempat yang terjaga. Namun selain memiliki kualitas tertentu, majalah juga terbatas pada aspek lainnya. Beberapa keterbatasan majalah di antaranya, cost yang dibutuhkan cenderung lebih besar, mudah rusak oleh kondisi eksternal, hingga sulit bertahan dalam waktu yang relatif lama (khususnya apabila dipinjamkan kepada orang lain).

  Launching Halomagz

Saudari Andina Nidya Savira (Pila) sebagai perwakilan ketua redaksi menjelaskan beberapa hal terkait Halomagz, meliputi definisi, konten, sekaligus memperkenalkan tim penyusun. Halomagz merupakan majalah digital Komunitas Halo Jiwa Indonesia, yang dipublikasikan melalui platform issue, untuk mempromosikan kesehatan mental di Indonesia. Halomagz memasuki edisi kedua pada tahun 2020, dengan tema sustainable living dan kesehatan mental. Pada tahun sebelumnya, Halomagz telah menerbitkan edisi pertama, dengan tema happiness. Untuk edisi kedua, tema sustainable living diangkat atas dasar keprihatinan terhadap isu-isu lingkungan. Selain itu, tim juga menyadari arti penting kembali terkoneksi dengan alam, untuk mencapai kesehatan mental. Oleh karena itu, atas berbagai pertimbangan tersebut, tim penyusun terbentuk dan proyek tersebut mulai dikerjakan selama awal tahun 2020. Dalam hal ini, tim penyusun meliputi penanggung jawab (Saudara Azmul), pemimpin redaksi (Saudari Karmila Kahar), fotografi (Saudari Lidini dan Saudara Syahrul Jamal), publikasi (Saudari Mutmainnah Nr.), editor (Saudari Anggun), layouter (Saudari Andina Nidya Savira), serta kontributor (Saudari Syurawasti Muhiddin, Dian Anggraeni, serta saudara Afga Yudistikhar).

Rabu, 17 Juni 2020

Halo Jiwa Night Talk on June: Expressive Writing and Mental Health





HALO JIWA NIGHT TALK - EXPRESSIVE WRITING AND MENTAL HEALTH

Pemateri : Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi

    12 JUNI 2020 – Di luar sana, ada buku-buku yang bisa menyembuhkan kita. Karena membaca buku yang tepat salah satunya apabila menemukan buku yang cocok dan sesuai dengan permasalahan yang ada pada hidup kita. Jika dengan membacanya saja bisa menyembuhkan, apalagi dengan menuliskannya?

    Setelah membaca beberapa buku dan meng-kontekstualisasi-kannya dengan permasalahan hidup, biasanya kita akan terdorong untuk menulis beberapa naskah yang berisi tentang curahan hati dan menggabungkan dari beberapa teori-teori hidup yang telah kita baca. Hal itulah yang biasa disebut dengan Menulis Ekspresif.

    Menulis ekspresif bukan sekedar seperti saat kita menulis diari, karena menulis ekspresif tujuannya adalah untuk healing yaitu menceritakan beberapa kisah dan pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan. Hal ini karena setiap emosi menyimpan energi, maka mentransfer energi  itu penting. Menyimpan pikiran-pikiran negatif pasti menyimpan energi dan emosi. Hal ini dikarenakan pikiran itu berkaitan dengan emosi. Teori seperti ini tidak hanya terdapat dalam teori psikologi namun banyak juga ditemukan dalam berbagai bidang seperti terapi lainnya maupun di dunia medis terdapat penyakit fisik yang muncul karena beban pikiran dari pasien itu sendiri.

    Oleh karena itu, menyampaikan beban pikiran melalui menuangkannya pada tulisan itu penting karena akan memberi dampak yang sangat baik bagi kesehatan mental dan fisik. Menyampaikan cerita dan berbagi merupakan salah satu bagian dari terapi. Salah satu dampak energi negatif adalah emosi yang tidak dapat dikelola dengan baik sehingga dapat menyebabkan stress. 

    Berdasarkan hal tersebut, menulis termasuk salah satu langkah bagi kita untuk bisa mendekatkan diri ke Tahap Sehat Mental.


MENULIS EKSPRESIF = MEMAHAMI DIRI SENDIRI.

Looking back to the past. Melihat diri yang lalu, kadang menjadi sarana terbaik memahami diri sendiri. Memahami peta emosi diri. Puzzle-puzzle diri. Menulis dapat membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri karena ketika menulis, kita bisa melihat cerminan hati kita, isi kepala pikiran kita, dan juga dapat melihat seberapa jauh kita melangkah dan seberapa banyak fase-fase hidup yang telah dilalui.


MENULIS MAMPU MENGATASI STRES HARIAN.

Menulis dapat menjadi sarana meditasi, yaitu bagaimana seseorang dapat menjangkau innerpeace dalam dirinya atau kedalaman emosi-emosinya mencapai ke titik ketenangan dan merasa jauh lebih baik setelah menulis karena berbagi emosi perasaan yang sulit dijelaskan. Menulis juga mampu membawa emosi yang lebih hidup dan memberikan energi karena dengan menulis dapat membantu seseorang untuk lebih mengenali perasaan-perasaan yang sulit dijelaskan.


MENULIS DAPAT MENJADIKAN KITA PRODUKTIF

Menulis dapat pula menjadi tabungan dikemudian hari, bisa diterbitkan/ dipublikasikan, atau menjadi inspirasi untuk tulisan yang lebih kreatif lagi (cerpen, naskah drama, puisi).


MENULIS DAPAT MEMBUAT PRIBADI YANG KONTRIBUTIF

            Menulis bisa menjadi kampanye sosial, menjadi support/bisa menginspirasi orang lain.


NOTE : Hal yang perlu diingat adalah kita tidak perlu merasa stres/khawatir dengan pendapat orang lain. This is you, This is your thought. Tuliskan saja, tuangkan saja. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu bukan untuk dihakimi tapi untuk dituangkan ke dalam sarana media lainnya.  

             Menulis yang menyembuhkan tidak harus melulu menuliskan pengalaman-pengalaman negatif saja, meskipun mungkin dapat diawali dengan menulis pengalaman negatif. Namun pada kenyataannya, hasil studi menunjukkan menuliskan insight POSITIF dari pengalaman NEGATIF justru memiliki efek yang sama menyembuhkan jika dibandingkan dengan menuliskan pengalaman-pengalaman negatif tersebut.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

SESI TANYA JAWAB
#SESI1

1. Halo semuanya, nama saya Tari. Saya ingin bertanya mengenai platform untuk menulis ekspresif ini. Saat ini sebetulnya sudah banyak cara untuk menumpahkan perasaan dan pemikiran kita kan ya, jadi nggak terbatas pada diari atau blog saja. Nah, pertanyaan saya, kalau saya sering curhat di twitter (yg merupakan platform microblogging), itu termasuk menulis ekspresif atau bukan, ya? Apakah menulis ekspresif benar-benar intens menumpahkan perasaan selama kira-kira 20 menit secara langsung? Ataukah sebenarnya hanya sekadar "yang penting saya punya outlet untuk menumpahkan uneg-uneg saya dengan menuliskannya"? Terima kasih :)

2. Terima Kasih Mba Fakhirah atas Materi malam ini, aku mau bertanya mba,
Apakah menulis update status  di medsos bisa dikategorikan sebagai expressive Writing?

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Answer 1 & 2

Menulis di sosial media, juga dapat dikategorikan sebagai menulis ekspresif.

    
     Hal yang perlu dipahami adalah kesiapan seseorang tersebut membuka dirinya di sosial media. Apakah ia siap menerima feedback dari rekan-rekannya di sosial media yang bisa jadi tidak terkontrol reaksinya, entah positif atau negatif.
    
    Oleh karena itu, bahkan dalam sesi bersama konselor atau psikolog, jika seorang klien memutuskan untuk menuliskan apa yang menimpanya, namun BELUM SIAP membagikannya kepada psikolog, maka psikolog tidak akan memaksa sang klien untuk berbagi pengalaman emosional tersebut hingga siap. Artinya, menulis terapeutik sangat bersifat personal, dan untuk membuka diri sendiri juga tergantung kesiapan masing-masing orang. 

     Menulis disaat-saat emosional termasuk ke dalam strategi berhadapan dengan masalah dengan pendekatan emosional (karena tidak langsung memecahkan masalah), dalam psikologi kita sebut sebagai emotion-focused coping.

Tanggapan:
 Tergantung tipe tiap orang nyamannya seperti apa yah…

Jawab:
CARA MENULIS = SESUAI KARAKTER MASING-MASING
Benar, masing-masing orang memiliki gayanya sendiri. Ada yang melalui puisi, menulis melalui cerpen, bahkan menulis buku (seperti saya) atau sekadar dalam kolom-kolom diari dan status sosial media yang hilang dalam 1 jam. Pilih gayamu :)

3. Nah, ini saya mau tanyakan, apakah semua orang terbuka kepada khalayak ramai (?)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Answer :
 Karena kak Azmul orang psikologi, rasanya juga lebih cocok menjelaskan hehe.
Bahkan ada yang membakar kertasnya setelah menuliskannya, sebagai visualisasi menghanguskan masalahnya.
Pendekatan ini, dekat dengan teknik empty chair dan psikodrama, yaitu kita mem-visualisasi-kan benda-benda di sekitar kita sebagai hal-hal yang kita harus berdamai dengannya.
Makanya kalau di film-film, putus sama pacar bakar fotonya hehe.

Tanggapan:
iyap, berarti menulis teraupetik membutuhkan pendampingan juga ya? Sebagai guide dalam mengekspresikan emosinya.

Jawab -> FAQ
DITULIS SENDIRIAN ATAU BERSAMA KONSELOR?
Datanglah ke konselor, jika pengalaman yang diingat dan dituliskan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Misal sampai terbayang terus. Jika masih bisa diatasi sendiri dengan relaksasi dan belum terlalu mengganggu, maka bisa dilakukan sendiri.
Sesuai dengan prinsip help seeking behavior alias "kapan seseorang harus mencari pertolongan?" yaitu saat apapun yang dilakukannya tidak mampu menaikkan moodnya lebih dari 2 minggu, pengalaman itu membuatnya mengalami gangguan tidur, gangguan makan, gangguan mood, bahkan sampai lupa mandi (bersih diri), ini saatnya mencari pertolongan ahli.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

#SESI2
1. Apakah cerita-cerita pengalaman masa lalu dan masa kini yang banyak penulis-penulis buku tuangkan hingga menjadi sebuah buku, berarti itu bisa disebut bentuk menulis ekspresif versi mereka ya?
Terus, adakah penelitian yang kak Fakhi temukan bahwa Expressive writing ini bisa mengubah sikap dan perilaku?

Answer 1 :
Benar, menulis ekspresif bahkan dalam sebuah literatur dibagi menjadi 12 tipe, salah satunya menulis memoir. Berdasarkan penelitian saya, mereka yang menulis memoir bahkan ada yang menuliskan ceritanya ke dalam lirik musik, naskah film, dan sebagainya.
Ini bagan hasil penelitian saya, amati di bagian kotak terakhir:

Tanggapan :
Berarti menulis ekspresif memang bisa berpengaruh dengan sikap dan perilaku kita yang kemudian bisa berubah ya kak setelah menulis ekspresif?

Jawab -> MENULIS DAN HIDUP LEBIH SEHAT.
Benar, karena emosi dan perilaku itu berkaitan. Lebih dari 20 tahun yang lalu, studi penulisan ekspresif pertama menemukan bahwa individu yang diminta menulis selama 15 menit sehari selama empat hari berturut-turut menunjukkan peningkatan kesehatan selama beberapa bulan ke depan bila dibandingkan dengan peserta kontrol yang menulis tentang topik dangkal (Pennebaker & Beall, 1986).

MENULIS PENGALAMAN POSITIF: BENTUK SYUKUR YANG MENYEMBUHKAN

FAQ ke saya salah satunya adalah, "Apakah orang perlu menulis tentang pengalaman traumatis dan/atau negatif?"
 
Tidak. Sejumlah penelitian kini telah membuat orang yang menulis tentang pengalaman positif maupun negatif dalam studi memiliki efek yang sebanding (mis. Burton & King, 2004; King & Miner, 2000; Low, Stanton, & Danoff-Burg, 2006; Marlo & Wagner, 1999). Mereka juga menulis tentang pikiran dan perasaan mereka tentang diagnosa penyakit, masalah utama dalam kehidupan mereka, atau topik lain.  Alih-alih menulis pengalaman traumatik (lihat Pennebaker & Chung, 2007), orang yang menulis tentang proses kesembuhan, pertumbuhan, kebersyukuran, kreativitas orang lain, tampaknya mengalami efek yang sama terhadap kesehatan mental  mereka (Greenberg, Stone, & Wortman, 1996).

2. Kak aku mau tanya, kalau belum siap untuk menceritakan ke psikolog terus apa yang harus dilakukan (orang itu)? Kalau misalkan orangnya itu tidak punya tangan atau  takut ketahuan sama orang tuanya bagaimana?

Answer 2 :
Dalam kasus difabel (tidak punya tangan aku asumsikan difabel, apakah benar?), menuangkan emosi bisa dalam berbagai bentuk dan tidak harus menulis. 

Nah, karena sedang sesi menulis menyembuhkan, maka saya hanya membahas menulis hehe. Tapi, sebenarnya self-teraphy itu SANGAT BANYAK MACAMNYA. 

Ide dasarnya sederhana: cari sesuatu yang mampu menjadi medium melepaskan energi negatif dari emosi-emosi yang negatif.

Boleh olahraga, berkebun, menggambar, menyanyi, dan hobi-hobi lainnya.
:)

Notulensi: Magfirah Aulia Ramadhani (Tim Sosial-Media Creative Halo Jiwa Indonesia)
Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa Indonesia)



banner