Halo Jiwa Night Talk on June: Expressive Writing and Mental Health





HALO JIWA NIGHT TALK - EXPRESSIVE WRITING AND MENTAL HEALTH

Pemateri : Fakhirah Inayaturrobbani S.Psi

    12 JUNI 2020 – Di luar sana, ada buku-buku yang bisa menyembuhkan kita. Karena membaca buku yang tepat salah satunya apabila menemukan buku yang cocok dan sesuai dengan permasalahan yang ada pada hidup kita. Jika dengan membacanya saja bisa menyembuhkan, apalagi dengan menuliskannya?

    Setelah membaca beberapa buku dan meng-kontekstualisasi-kannya dengan permasalahan hidup, biasanya kita akan terdorong untuk menulis beberapa naskah yang berisi tentang curahan hati dan menggabungkan dari beberapa teori-teori hidup yang telah kita baca. Hal itulah yang biasa disebut dengan Menulis Ekspresif.

    Menulis ekspresif bukan sekedar seperti saat kita menulis diari, karena menulis ekspresif tujuannya adalah untuk healing yaitu menceritakan beberapa kisah dan pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan. Hal ini karena setiap emosi menyimpan energi, maka mentransfer energi  itu penting. Menyimpan pikiran-pikiran negatif pasti menyimpan energi dan emosi. Hal ini dikarenakan pikiran itu berkaitan dengan emosi. Teori seperti ini tidak hanya terdapat dalam teori psikologi namun banyak juga ditemukan dalam berbagai bidang seperti terapi lainnya maupun di dunia medis terdapat penyakit fisik yang muncul karena beban pikiran dari pasien itu sendiri.

    Oleh karena itu, menyampaikan beban pikiran melalui menuangkannya pada tulisan itu penting karena akan memberi dampak yang sangat baik bagi kesehatan mental dan fisik. Menyampaikan cerita dan berbagi merupakan salah satu bagian dari terapi. Salah satu dampak energi negatif adalah emosi yang tidak dapat dikelola dengan baik sehingga dapat menyebabkan stress. 

    Berdasarkan hal tersebut, menulis termasuk salah satu langkah bagi kita untuk bisa mendekatkan diri ke Tahap Sehat Mental.


MENULIS EKSPRESIF = MEMAHAMI DIRI SENDIRI.

Looking back to the past. Melihat diri yang lalu, kadang menjadi sarana terbaik memahami diri sendiri. Memahami peta emosi diri. Puzzle-puzzle diri. Menulis dapat membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri karena ketika menulis, kita bisa melihat cerminan hati kita, isi kepala pikiran kita, dan juga dapat melihat seberapa jauh kita melangkah dan seberapa banyak fase-fase hidup yang telah dilalui.


MENULIS MAMPU MENGATASI STRES HARIAN.

Menulis dapat menjadi sarana meditasi, yaitu bagaimana seseorang dapat menjangkau innerpeace dalam dirinya atau kedalaman emosi-emosinya mencapai ke titik ketenangan dan merasa jauh lebih baik setelah menulis karena berbagi emosi perasaan yang sulit dijelaskan. Menulis juga mampu membawa emosi yang lebih hidup dan memberikan energi karena dengan menulis dapat membantu seseorang untuk lebih mengenali perasaan-perasaan yang sulit dijelaskan.


MENULIS DAPAT MENJADIKAN KITA PRODUKTIF

Menulis dapat pula menjadi tabungan dikemudian hari, bisa diterbitkan/ dipublikasikan, atau menjadi inspirasi untuk tulisan yang lebih kreatif lagi (cerpen, naskah drama, puisi).


MENULIS DAPAT MEMBUAT PRIBADI YANG KONTRIBUTIF

            Menulis bisa menjadi kampanye sosial, menjadi support/bisa menginspirasi orang lain.


NOTE : Hal yang perlu diingat adalah kita tidak perlu merasa stres/khawatir dengan pendapat orang lain. This is you, This is your thought. Tuliskan saja, tuangkan saja. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu bukan untuk dihakimi tapi untuk dituangkan ke dalam sarana media lainnya.  

             Menulis yang menyembuhkan tidak harus melulu menuliskan pengalaman-pengalaman negatif saja, meskipun mungkin dapat diawali dengan menulis pengalaman negatif. Namun pada kenyataannya, hasil studi menunjukkan menuliskan insight POSITIF dari pengalaman NEGATIF justru memiliki efek yang sama menyembuhkan jika dibandingkan dengan menuliskan pengalaman-pengalaman negatif tersebut.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

SESI TANYA JAWAB
#SESI1

1. Halo semuanya, nama saya Tari. Saya ingin bertanya mengenai platform untuk menulis ekspresif ini. Saat ini sebetulnya sudah banyak cara untuk menumpahkan perasaan dan pemikiran kita kan ya, jadi nggak terbatas pada diari atau blog saja. Nah, pertanyaan saya, kalau saya sering curhat di twitter (yg merupakan platform microblogging), itu termasuk menulis ekspresif atau bukan, ya? Apakah menulis ekspresif benar-benar intens menumpahkan perasaan selama kira-kira 20 menit secara langsung? Ataukah sebenarnya hanya sekadar "yang penting saya punya outlet untuk menumpahkan uneg-uneg saya dengan menuliskannya"? Terima kasih :)

2. Terima Kasih Mba Fakhirah atas Materi malam ini, aku mau bertanya mba,
Apakah menulis update status  di medsos bisa dikategorikan sebagai expressive Writing?

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Answer 1 & 2

Menulis di sosial media, juga dapat dikategorikan sebagai menulis ekspresif.

    
     Hal yang perlu dipahami adalah kesiapan seseorang tersebut membuka dirinya di sosial media. Apakah ia siap menerima feedback dari rekan-rekannya di sosial media yang bisa jadi tidak terkontrol reaksinya, entah positif atau negatif.
    
    Oleh karena itu, bahkan dalam sesi bersama konselor atau psikolog, jika seorang klien memutuskan untuk menuliskan apa yang menimpanya, namun BELUM SIAP membagikannya kepada psikolog, maka psikolog tidak akan memaksa sang klien untuk berbagi pengalaman emosional tersebut hingga siap. Artinya, menulis terapeutik sangat bersifat personal, dan untuk membuka diri sendiri juga tergantung kesiapan masing-masing orang. 

     Menulis disaat-saat emosional termasuk ke dalam strategi berhadapan dengan masalah dengan pendekatan emosional (karena tidak langsung memecahkan masalah), dalam psikologi kita sebut sebagai emotion-focused coping.

Tanggapan:
 Tergantung tipe tiap orang nyamannya seperti apa yah…

Jawab:
CARA MENULIS = SESUAI KARAKTER MASING-MASING
Benar, masing-masing orang memiliki gayanya sendiri. Ada yang melalui puisi, menulis melalui cerpen, bahkan menulis buku (seperti saya) atau sekadar dalam kolom-kolom diari dan status sosial media yang hilang dalam 1 jam. Pilih gayamu :)

3. Nah, ini saya mau tanyakan, apakah semua orang terbuka kepada khalayak ramai (?)

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Answer :
 Karena kak Azmul orang psikologi, rasanya juga lebih cocok menjelaskan hehe.
Bahkan ada yang membakar kertasnya setelah menuliskannya, sebagai visualisasi menghanguskan masalahnya.
Pendekatan ini, dekat dengan teknik empty chair dan psikodrama, yaitu kita mem-visualisasi-kan benda-benda di sekitar kita sebagai hal-hal yang kita harus berdamai dengannya.
Makanya kalau di film-film, putus sama pacar bakar fotonya hehe.

Tanggapan:
iyap, berarti menulis teraupetik membutuhkan pendampingan juga ya? Sebagai guide dalam mengekspresikan emosinya.

Jawab -> FAQ
DITULIS SENDIRIAN ATAU BERSAMA KONSELOR?
Datanglah ke konselor, jika pengalaman yang diingat dan dituliskan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Misal sampai terbayang terus. Jika masih bisa diatasi sendiri dengan relaksasi dan belum terlalu mengganggu, maka bisa dilakukan sendiri.
Sesuai dengan prinsip help seeking behavior alias "kapan seseorang harus mencari pertolongan?" yaitu saat apapun yang dilakukannya tidak mampu menaikkan moodnya lebih dari 2 minggu, pengalaman itu membuatnya mengalami gangguan tidur, gangguan makan, gangguan mood, bahkan sampai lupa mandi (bersih diri), ini saatnya mencari pertolongan ahli.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

#SESI2
1. Apakah cerita-cerita pengalaman masa lalu dan masa kini yang banyak penulis-penulis buku tuangkan hingga menjadi sebuah buku, berarti itu bisa disebut bentuk menulis ekspresif versi mereka ya?
Terus, adakah penelitian yang kak Fakhi temukan bahwa Expressive writing ini bisa mengubah sikap dan perilaku?

Answer 1 :
Benar, menulis ekspresif bahkan dalam sebuah literatur dibagi menjadi 12 tipe, salah satunya menulis memoir. Berdasarkan penelitian saya, mereka yang menulis memoir bahkan ada yang menuliskan ceritanya ke dalam lirik musik, naskah film, dan sebagainya.
Ini bagan hasil penelitian saya, amati di bagian kotak terakhir:

Tanggapan :
Berarti menulis ekspresif memang bisa berpengaruh dengan sikap dan perilaku kita yang kemudian bisa berubah ya kak setelah menulis ekspresif?

Jawab -> MENULIS DAN HIDUP LEBIH SEHAT.
Benar, karena emosi dan perilaku itu berkaitan. Lebih dari 20 tahun yang lalu, studi penulisan ekspresif pertama menemukan bahwa individu yang diminta menulis selama 15 menit sehari selama empat hari berturut-turut menunjukkan peningkatan kesehatan selama beberapa bulan ke depan bila dibandingkan dengan peserta kontrol yang menulis tentang topik dangkal (Pennebaker & Beall, 1986).

MENULIS PENGALAMAN POSITIF: BENTUK SYUKUR YANG MENYEMBUHKAN

FAQ ke saya salah satunya adalah, "Apakah orang perlu menulis tentang pengalaman traumatis dan/atau negatif?"
 
Tidak. Sejumlah penelitian kini telah membuat orang yang menulis tentang pengalaman positif maupun negatif dalam studi memiliki efek yang sebanding (mis. Burton & King, 2004; King & Miner, 2000; Low, Stanton, & Danoff-Burg, 2006; Marlo & Wagner, 1999). Mereka juga menulis tentang pikiran dan perasaan mereka tentang diagnosa penyakit, masalah utama dalam kehidupan mereka, atau topik lain.  Alih-alih menulis pengalaman traumatik (lihat Pennebaker & Chung, 2007), orang yang menulis tentang proses kesembuhan, pertumbuhan, kebersyukuran, kreativitas orang lain, tampaknya mengalami efek yang sama terhadap kesehatan mental  mereka (Greenberg, Stone, & Wortman, 1996).

2. Kak aku mau tanya, kalau belum siap untuk menceritakan ke psikolog terus apa yang harus dilakukan (orang itu)? Kalau misalkan orangnya itu tidak punya tangan atau  takut ketahuan sama orang tuanya bagaimana?

Answer 2 :
Dalam kasus difabel (tidak punya tangan aku asumsikan difabel, apakah benar?), menuangkan emosi bisa dalam berbagai bentuk dan tidak harus menulis. 

Nah, karena sedang sesi menulis menyembuhkan, maka saya hanya membahas menulis hehe. Tapi, sebenarnya self-teraphy itu SANGAT BANYAK MACAMNYA. 

Ide dasarnya sederhana: cari sesuatu yang mampu menjadi medium melepaskan energi negatif dari emosi-emosi yang negatif.

Boleh olahraga, berkebun, menggambar, menyanyi, dan hobi-hobi lainnya.
:)

Notulensi: Magfirah Aulia Ramadhani (Tim Sosial-Media Creative Halo Jiwa Indonesia)
Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa Indonesia)



Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.