Kamis, 23 Juli 2020

#ShareWithUs-Batch 3 "Insecure Pada Usia Remaja dan Dewasa Awal"




Oleh: Amanda Marchelyana Senis

          Acara Share With Us Batch 3 bersama Imbang Diri telah dilaksanakan pada hari Jumat, 19 Juni 2020 lalu. Acara tersebut diisi oleh Bu Anastasia Satriyo, M.Psi dan dilakukan melalui perangkat lunak Telegram. Pada Share With Us kali ini, Imbang Diri mengangkat Tema “Insecure Pada Usia Remaja dan Dewasa Awal”.
Insecure pada remaja itu merupakan hal yang wajar. Di masa remaja dan dewasa awal, meragukan diri merupakan bagian dari bertumbuh menjadi dewasa. Ya namanya juga bertumbuh, ada nggak enaknya. Pada masa-masa ini, setiap emosi yang kita rasakan itu makin intens. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di luar dan di dalam diri kita, seperti tekanan orang tua, situasi sosial pertemanan, ekspektasi media sosial, dan juga ekspektasi dari diri kita sendiri.
Perasaan insecure itu datang karena kita merasa “not good enough”, sehingga pada akhirnya kita melakukan self critic dan berujung pada menyakiti perasaan dan diri kita sendiri. Insecure itu merupakan emosi, tidak apa-apa jika kamu merasa tidak baik-baik saja. Cukup beri ruang bagi diri sendiri untuk menerima. Latih otak kita untuk bisa berpikir dan merasa bahagia, bahagia yang secukupnya, agar diri lebih merasa cukup dengan hidup dan “feeling goog enough”. Hal tersebut dapat membantu untuk mengatasi rasa insecure yang tiba-tiba menyelimuti diri.
Terus-menerus merasa insecure itu tidak baik. Kita harus berlatih untuk mengendalikan perasaan tersebut. Pada sesi kali ini, Bu Anastasia memberi beberapa tips untuk bisa mengenali rasa insecure dengan cara mengenali diri agar nantinya kita merasa nyaman.         
  •  Cek intensitas insecure dengan skala.
  • Sadari, terima, dan akui setiap emosi yang hadir
  • Latihan tahan napas sadar dengan teknik 4-7-8.
  • Ubah mindset dengan merasa hidup dalam kecukupan dan kelimpahan.
  • Jika kamu masih merasa sulit bangkit dari insecure, kamu bisa mengikuti konseling one on one dengan psikolog.





Webinar Literapsy "Tips & Trik Menghadapi Anak Tantrum"




Oleh:  Muthahharah Indra Jaya & Magfirah Aulia



“Tantrum adalah fitrah, jangan larang emosinya, tapi kontrol ekspresi emosinya”

     Hari Minggu, 14 Juni 2020 lalu telah dilaksanakan online learning dari Komunitas Literapsy, yang dilaksanakan melalui virtual talk secara online di aplikasi Zoom. Dengan tema “Tips & Trik Menghadapi Anak Tantrum”. Materi tersebut dibawakan oleh Kak Afifah Putri Ayu R, , M.Psi, Psikolog (Psikolog Klinis Poli Tumbuh Kembang Anak RS Islam Bontang) dan jalannya acara dipimpin oleh Kak Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi, M.Si (Dosen Psikologi Universitas Ciputra, founder @lentera.keluarga).
    Materi yang disampaikan oleh Kak Afifah secara garis besar  yaitu membahas cara mengatasi anak tantrum, cara menangani anak berkebutuhan khusus saat tantrum, dan cara mengendalikan kondisi anak pada saat tantrum. Tantrum adalah emosi yang meledak-ledak yang dapat menjadi agresif hingga menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Tantrum pada anak ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, sikap membangkang, dan mengomel sambil marah-marah.

Bagaimana mengatasi anak tantrum?
1. Amankan dan tenangkan anak ke tempat yang tenang (jauh dari tempat ramai)
2. Lakukan komunikasi yang efektif
“Nak, sekarang kita mau ke mall banyak orang, kalau kamu menangis kita pulang saja yah?“

Bagaimana penanganan dengan anak berkebutuhan khusus saat tantrum?
Dalam suatu kasus anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu yang lebih lama pada saat tantrum, maka dari itu, perlu memahami kondisi yang harus dihadapi oleh ADH. Komunikasi efektif kedua orangtua terhadap anak menjadi Kunci Penting dalam mengendalikan kondisi anak tantrum.


Webinar School of Life "Overthinker" - Sesi 2




Oleh: Coco

   Webinar school of life pada sesi 2 diisi oleh narasumber yang memang expert dalam topik "overthinking" yaitu Nixie Devina Rahmadiani, M.psi., Psikolog



1. Thought and action
merupakan keterkaitan antara persepsi, pola pikir dan emosi yang dilakukan manusia terhadap suatu kejadian. Apa yang dilihat seseorang  akan memberikan pandangan atau persepsi yang pada akhirnya memicu atau memberikan reaksi yang tertuang dalam bentuk emosi. Misalnya ketika melihat seekor ular, akan ada persepsi dari orang tersebut yang mungkin berpikir kalau ular adalah hewan buas yang berbahaya, dan keberadaannya di dekat ular itu akan membahayakan dirinya, lalu yang terjadi adalah orang tersebut akan memilih untuk lari karena timbul emosi yaitu rasa takut. Begitu pun dengan overthinking yang terjadi pada seseorang, hal tersebut timbul dari bagaimana awalnya orang tersebut berpikir.

2. Peran pikiran terhadap kesehatan mental
cara berpikir seseorang yang menimbulkan respon atau emosi didasarkan bagaimana "belief" terhadap suatu kejadian.

3. Distorsi kognitif
yaitu keyakinan-keyakinan yang timbul dari seseorang cenderung ke arah kurang baik sehingga di masa depan dapat mempengaruhi psikologis.

Hal-hal yang termasuk dalam distorsi kognitif adalah :
  • Mudah menyimpulkan sesuatu yang dimana hal tersebut belum terjadi/tidak ada bukti kuat yang melandasi suatu pemikiran
  • Mempercayai hal yang buruk
  • Membandingkan kondisi diri sendiri dengan orang lain
  • Mengeksternalisasi harga diri, terpengaruh dengan apa yang dikatakan orang lain
  • Seolah-olah dapat membaca fikiran orang lain, misalnya ketika orang lain melihat diri kita, kita membuat persepsi seolah orang tersebut sedang menilai kita
  • Membesar-besarkan situasi yang belum terjadi
  • Mengabaikan hal positif, misalnya ketika mendapatkan nilai terbaik, malh menganggap itu hanya suatu kebetulan, yang pada akhirnya tidak memiliki hal yang bisdibanggakan
  • Melabeli diri. Menganggap diri sebagai seseorang yang memiliki sifat/bentuk yang buruk. Misalnya "aku bodoh", "aku jelek", dsb.
  • Perfeksionis
  • Selalu fokus pada hal yang negatif


4. Melatih berpikir adaptif/mengatasi hal negatif
  •          Relaksasi, menenangkan diri ketika timbul persepsi negatif
  •      Self talk, memberikan afirmasi positif kepada diri
  •      Kenali situasi, bertujuan untuk bisa menilai situasi agar dapat meminimalisir pandangan negatif yang terbentuk dalam diri.


Webinar School of Life "Overthinker" - Sesi 1



Oleh: Hasri

      Kegiatan webinar dilaksanakan pada 6 Juli 2020 oleh Love Your Self. Pembicara dalam kegiatan tersebut yaitu Nixie Devina Rahmadiani,M.Psi. Berikut beberapa poin-poin penting yang ada dalam kegiatan tersebut.

1. Overthinking adalah proses menganalisis pikiran secara konstan dan terus-menerus. Termenung hingga terjebak secara mental terkait tindakan masa lalu ataupun saat ini, atau bahkan untuk kehidupan yang akan dijalani (terus-menerus memikirkan suatu hal).

2. Overthinking terjadi melalui proses REMUNASI (pengulangan secara terus-menerus kejadian di pikiran/merenung yang dapat memunculkan emosi positif namun pada kondisi tertentu dapat menumbulkan emosi negatif). Dikarenakan terus berfikir, hingga akhirnya membebani diri yang berakibat pada timbulnya emosi yang tidak terkendali.

3. Overthinking terbentuk melalui 2 faktor yaitu:
a. Kondisi psikologis (Self-doubt atau perasaan ragu bahkan tidak percaya diri, dan Self-esteem atau penghargaan dan rasa suka terhadap diri sendiri)
b. Lingkungan/faktor eksternal (pengalaman buruk masa lalu yang masih kuat dalam ingatan, pembiasaan dari lingkungan, dan stimulus dari lingkungan)

4. Overthinking dimulai dengan berfikir yang kemudian fikiran akan memengaruhi emosi seseorang, yang diimplementasikan melalui perbuatan/perilaku. Maka dia akan bertindak sesuai apa yang dia pikirkan dan terukur melalui emosi yang dia rasakan, sehingga lahirlah sebuah perilaku.

5. Overthinking dapat diatasi melalui:
a. Latihan relaksasi/meditasi/mindfulness. Melakukan latihan relaksasi nafas, yaitu menghirup nafas dari hidung dan dihembuskan melalui mulut dengan durasi waktu yang seimbang, selanjutnya dengan otot progresif yaitu menggerakkan anggota badan yang mampu menghilangkan kekakuan dalam pikiran, dan atau mencoba kegiatan yoga.
b. Kenali pemicunya. Jika mengetahui pemicunya, maka dengan mudah anda dapat merasakan emosi apa yang saat ini telah anda nikmati, apakah masih mampu terkontrol atau sebaliknya, jika masih mampu terkontrol itu berarti anda akan mampu untuk menangani masalah yang telah anda hadapi, sedangkan jika tak mampu terkontrol maka kamu bisa mengalihkan sedikit fokus anda ke peristiwa atau kejadian yg terjadi.
c. Journaling. Cara ini merupakan salah satu cara untuk menghadapi overthinking, yaitu menulis setiap kejadian, kemudian me-review kembali mengenai konsekuensi ketika kamu overthinking.
d. Change your focus. Hal ini dapat dilakukan untuk mengalihkan sebagian pikiran agar tidak menjadi beban jika hanya memikirkan suatu hal dengan sangat keras, maka kemudahan untuk menemukan solusi secara persentase sangat rendah, oleh karena itu kita butuh istirahat sejenak dan mencoba mencari inspirasi dengan pengalihan fokus, namun tidak lari dari kenyataan, hanya rehat sejenak untuk memperkaya kemampuan penemuan solusi.

6. Overthinking dapat mempengaruhi kesehatan mental kita, terutama ketika itu diarahkan pada pikiran, gambar, atau ingatan yang tidak dapat belajar mengontrol cara berpikir yang tidak efektif ini melalui kesadaran diri sendiri.

7. Menurut pemateri dalam seminar ini, self-talk dapat membantu kamu dalam meringankan beban pikiran/ overthinking.

#TalkWithUs-Batch 5 "Diversity is Identity"




Oleh: Amanda

       Talk With Us Imbang Diri yang sudah mencapai batch 5 kembali digelar pada tanggal 26 Juni 2020 kemarin. Talk With Us kali ini mengadirkan tiga perempuan hebat asal Indonesia yang sudah pernah/sedang menganyam pendidikan di luar negeri. Mereka adalah Olvah Alhamid (Puteri Indonesia 2015), Evi Anggraeni HR (Mahasiswi S2 di Thailand), dan Naurah Aurelia Mahjudin (Mahasiswi S1 University of Melbourne, Australia).
       Para pembicara menceritakan bagaimana pengalaman mereka tinggal di luar negeri. Saat awal-awal tinggal di sana, home sick pasti menghampiri, culture shock juga dialami. Meskipun begitu, mereka punya cara masing-masing untuk mengatasi hal tersebut. Mereka bangga menjadi beda, bangga menjadi Warga Negara Indonesia.
   Tentu, sebagai minoritas mereka seringkali mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan dari warga setempat. Tapi mereka bisa menyikapi hal tersebut dengan cukup dewasa dan bisa dipertanggungjawabkan. Ketiganya juga berpesan bahwa berbuat baiklah kepada siapa pun, karena mereka juga akan memperlakukan kamu seperti itu.
       Jangan takut untuk menjadi berbeda, karena manusia unik seperti ini adanya. Daripada kedua tangan yang kita miliki digunakan untuk menutup mulut orang-orang yang terus menerus mengejek kita, lebih baik kedua tangan itu kita gunakan untuk menutup kedua telinga kita. Tak hanya itu, buktikan juga pada mereka bahwa kamu bisa, kamu berhak dihargai, berhak mendapat perlakuan yang sama.

                                  

“Jangan pernah nge-judge orang gimana pun bentuk luarnya. Boleh antisipasi, tapi jangan mengadili.” – Olvah



“You just need positive thinking to know more perspective.” – Evi


                                       
“It's good to be out of your comfort zone.” - Naurah

banner