Mini Workshop Ruang Refleksi - Melatih Keterampilan Mendengarkan secara Aktif dan Empati untuk Menolong Insan dan Membina Relasi Sosial Secara Positif


NOTULENSI MINI-WORKSHOP RUANG REFLEKSI

 

 

·          Pembukaan oleh MC

MC membuka acara dengan memperkenalkan tema mini-workshop. Kemudian, MC juga memperkenalkan diri, yang meliputi latar belakang pendidikan dan peran di Komunitas Halo Jiwa. Selain itu, MC juga memaparkan gambaran singkat mengenai concern Komunitas Halo Jiwa, yang fokus mempromosikan isu-isu kesehatan mental. Setelah itu, MC menyebutkan akun media sosial maupun alamat website Halo Jiwa, serta mengajak kepada peserta untuk berkunjung ke akun Halo Jiwa. Selanjutnya, MC membacakan rangkaian acara mini-workshop, mulai dari pembukaan yang sementara berlangsung, hingga sesi foto bersama. Secara spesifik, rangkaian acara mini-workshop Ruang Refleksi, meliputi pembukaan, sambutan, pengenalan topik dan pemateri oleh moderator, pemaparan materi, sesi tanya jawab, penutup, serta foto bersama. Setelah itu, MC menyampaikan apresiasi kepada sejumlah media partner, yang selama ini membantu publikasi acara. Media partner tersebut, meliputi Kitabisa.com, Wounder, Payung Jiwa, Dekap, ILMPI Wil. VI, Imbang Diri, Lingkar Psikologi, Peduli Remaja Indonesia, Literasi Banua, serta Kartala Project. Terakhir, sebelum memberikan kesempatan kepada moderator, MC membacakan ground rules yang seyogianya dipatuhi oleh peserta selama penyampaian materi berlangsung, demi menjaga ketertiban acara. Ground rules tersebut meliputi himbauan kepada peserta agar tidak mengaktifkan mikrofon dan mencoret layar selama pemaparan materi. Kemudian, bagi peserta yang ingin bertanya, diharapkan untuk menggunakan fitur raise hand, atau bisa menuliskan pertanyaan di kolom chat. Dalam hal ini, moderator akan memilih beberapa pertanyaan yang masuk untuk dijawab oleh pemateri.

 

·          Pengantar oleh Moderator

Moderator memperkenalkan diri, sekaligus memberikan sedikit pengantar mengenai topik mini-workshop yang diangkat. Mini-workshop ini bertemakan ‘Melatih Keterampilan Mendengarkan secara Aktif dan Empati, untuk Menolong Insan dan Membina Relasi Sosial secara Positif.’ Dalam hal ini, moderator menjelaskan bahwa sering kali individu dihadapkan pada berbagai persoalan hidup. Pada saat seperti itu, sebagian orang terdorong untuk berbagi kepada orang terdekatnya, dengan harapan bisa merasa lebih ringan dan lega. Akan tetapi, ada kalanya bercerita dengan orang lain, justru membuat kondisi semakin terpuruk. Di sisi lain, sebagai pendengar terkadang sulit memosisikan diri ataupun memahami persoalan yang diceritakan oleh seseorang yang curhat. Dikarenakan pada dasarnya, tidak semua orang memiliki keterampilan mendengarkan yang baik. Maka dari itu, melalui mini-workshop ini, pemateri akan memfasilitasi peserta untuk lebih memahami bagaimana proses menjadi pendengar yang aktif dan berempati. Setelah memberikan pengantar secara umum mengenai topik mini-workshop, moderator memperkenalkan pemateri, sekaligus membacakan riwayat pendidikannya. Dalam hal ini, pemateri atas nama Bu Umniyah Saleh, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merupakan dosen Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin. Pemateri merupakan lulusan magister profesi psikologi klinis, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada. Saat ini, pemateri menjabat sebagai sekretaris Asosiasi Psikologi Positif Indonesia (2018 sampai sekarang), dan sebagai sekretaris di Pusat Kajian Keluarga, Prodi Psikologi Unhas (2017 sampai sekarang).

 

·          Sesi Materi

Pemateri mengawali sesinya dengan menyapa peserta mini-workshop. Dalam hal ini, pemateri melihat sebagian peserta berasal dari Prodi Psikologi Unhas, sehingga familiar. Kemudian, pemateri juga menyapa sejumlah pengurus Halo Jiwa, yang meliputi founder yaitu saudara Azmul Fuady Idham, dan sekretaris saudari Syurawasti Muhiddin. Setelah itu, pemateri mulai dengan memaparkan tahapan kegiatan, yang meliputi berbagi harap, sharing pengalaman, penyampaian materi, serta sesi penghayatan. Rangkaian tersebut diawali dengan sesi berbagi harap. Pada sesi ini, sejumlah peserta menuliskan harapannya mengikuti mini-workshop di kolom chat. Menurut seorang peserta, mendengarkan merupakan hal yang sulit, sehingga harapannya melalui mini-workshop ini, skill mendengarkan bisa lebih terasah. Kemudian peserta lainnya, berharap bisa menjadi pendengar dan caregiver yang baik, serta bagaimana menunjukkan respons empati kepada seseorang yang bercerita. Sementara itu, seorang peserta yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren, berharap bisa menjadi pendengar yang baik bagi para santri yang jauh dari orang tua dan keluarga. Selain itu, ada pula peserta yang berharap bisa menjadi lebih positif dan mampu memberikan respons yang tepat, ketika mendengarkan orang lain. Kemudian, terdapat pula seorang peserta yang ingin lebih memahami orang lain, tanpa menjustifikasi atau mencampuradukkan persoalan dengan pengalaman diri sendiri. Dalam hal ini, harapan dari peserta cukup beragam, untuk mengikuti mini-workshop ini. Menurut pemateri, pada intinya, secara garis besar harapan peserta, yaitu ingin mulai menjadi pendengar yang baik, bisa memahami, mampu menunjukkan respons empati secara tepat, menjadi lebih peka, lebih positif melihat diri, dan untuk menolong orang lain. Terkait hal ini, para peserta berasal dari background yang berbeda-beda, di mana terdapat seorang peserta yang merupakan seorang caregiver, kemudian ada pula sebagai pengasuh di Pesantren. Tujuannya sama, yaitu untuk membantu orang lain, meringankan persoalannya. Setelah menyimpulkan hasil berbagi harap, pemateri menekankan kepada peserta untuk seyogianya ‘menghadir’ selama penyampaian materi. Dalam hal ini, peserta telah memilih untuk ikut mini- workshop ini, maka konsekuensinya adalah sebaiknya bisa here and now dan menghadirkan diri sepenuhnya. Harapannya, peserta bisa meninggalkan sejenak pekerjaan lain, kemudian ikut sesi materi. Karena pada dasarnya, hanya dengan ‘menghadir’, berbagai harapan dari peserta bisa terwujud, di mana bukan pemateri ataupun orang lain yang bisa mewujudkannya, melainkan dari diri sendiri, yang memilih untuk here and now.

Selanjutnya, pemateri mendampingi peserta untuk sharing pengalaman, terkait dengan mendengarkan orang lain. Pada sesi ini, Saudari Retno berbagi mengenai pengalamannya mendampingi penyintas pandemi, di mana terdapat seorang penyintas yang mengalami keterpurukan, karena suaminya meninggal. Saudari Retno menyampaikan perasaan dilema, ketika mendampingi penyintas tersebut, yang ada kalanya menangis dan kembali teringat dengan mendiang suaminya. Kemudian, seorang peserta lainnya, Saudari Bulqis, berbagi mengenai bagaimana dirinya merasa senang ketika mendengarkan cerita orang lain. Menurut Bulqis, cerita dari orang lain membuat diri terhanyut, sehingga seolah-olah turut merasakan berada di posisi orang tersebut. Ketika mendengarkan orang lain, Bulqis merasa senang, saat menyadari bahwa dirinya tidak sendiri mengalami persoalan hidup. Sementara itu, terdapat pula seorang peserta yang berbagi mengenai pengalamannya mendengarkan curhatan teman. Peserta tersebut merasa bingung, bagaimana sebaiknya merespons curhatan seorang teman. Ada kalanya, ketika memberi saran, temannya malah menilai dirinya sebagai tidak pengertian. Maka dari itu, peserta tersebut merasa sulit menentukan, kapan sebaiknya memberi saran atau kapan seseorang bercerita kepadanya, dengan tujuan hanya ingin sekedar didengarkan.

Setelah sharing pengalaman, pembicara mengawali sesi materi, dengan ungkapan, “Semua orang mau didengarkan, tapi apakah mereka mampu mendengarkan. Nah itulah yang akan dibahas lebih lanjut.” Menurut pemateri, mendengarkan orang lain bukanlah hal yang mudah, sehingga butuh keterampilan. Namun tidak mudah bukan berarti tidak bisa, maka perlu dilatihkan. Sehingga melalui pembahasan ini, harapannya peserta bisa melatihkan keterampilan mendengarkan pada diri sendiri. Dalam pembahasan selanjutnya, hal-hal yang menjadi intisari meliputi, memahami apa itu mendengarkan aktif, kemudian memahami apa itu empati, hingga pada akhirnya bagaimana melatihkan keterampilan mendengarkan secara aktif dan empati. Realitas dalam relasi sosial kerap diwarnai oleh kepelbagaian. Seperti latar belakang yang berbeda-beda. Peserta dalam mini-workshop ini juga berasal dari latar budaya yang beragam, ada yang dari Sulawesi, dari Jawa dan sebagainya. Kemudian, tentunya latar belakang yang berbeda, memengaruhi value yang berbeda pula. Setiap individu memiliki nilainya masing-masing dan kebenaran menurut versi diri sendiri. Sehingga tentunya, kebutuhan dan kepentingan setiap orang pun akan berbeda. Maka tidak heran, jika kita cenderung ingin dipahami. Belum lagi, tantangan perkembangan teknologi yang pesat, yang menuntut kita untuk bisa menyesuaikan diri. Termasuk terhadap pertemuan mini- workshop ini yang diadakan secara virtual. Tentunya dengan berbagai kendala tersendiri, namun di sisi lain cukup memudahkan, untuk bertemu di ruang yang sama, meski terpisah jarak satu sama lain. Serangkaian kondisi tersebut rentan memicu terjadinya konflik, apabila sulit menyesuaikan ataupun ketika tidak mampu menyelaraskan. Maka dari itu, dibutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Hal ini meliputi kemampuan menyampaikan pesan secara tepat, keterampilan mendengarkan, hingga bagaimana kita membangun dan menunjukkan empati. Relasi sosial setiap individu tentunya beragam dan luas, mulai dari dimensi antar-pribadi, dengan anggota keluarga, rekan, hingga relasi yang lebih luas, yaitu masyarakat. Dengan adanya berbagai keterampilan tersebut, individu tentunya bisa menjalin suatu relasi yang positif, produktif, yang pada intinya bisa optimal.

Setiap individu telah dibekalkan potensi yang unik oleh Sang Pencipta. Salah satu hal yang sering kali diabaikan, yaitu pengindraan. Dari sini, kita akan lebih mengetahui apa yang membedakan antara mendengar (hearing) dengan mendengarkan (listening). Sebelumnya apakah kita pernah mengalami situasi-situasi berikut. Pertama, sibuk dengan pikiran sendiri ketika mendengar orang lain berbicara. Kemudian, apakah kita pernah cepat menyimpulkan sebelum orang lain selesai berbicara. Selanjutnya, apakah kita pernah sibuk memikirkan respons apa yang akan kita tunjukkan, untuk menanggapi orang lain yang berbicara. Terhadap sejumlah pertanyaan tersebut, pemateri mengajak peserta untuk mengecek di diri sendiri, situasi mana yang masih cenderung dialami. Menurut pemateri, jika kita sering mengalami situasi tersebut, maka masih kurang kemampuan mendengarkan. Sehingga masih perlu dilatihkan kemampuan mendengarkan. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri situasi tersebut ada kalanya sulit dihindari, ketika sedang mendengar orang lain bercerita. Dari situasi-situasi tersebut, sejumlah peserta mengaku pernah mengalami hal yang serupa. Seperti sibuk dengan diri sendiri ketika mendengar orang lain yang berbicara. Ada juga yang cepat menyimpulkan sebelum orang lain selesai berbicara. Hingga ada juga peserta yang pernah mengalami ketiga situasi yang disebutkan. Bagi pemateri, ketiga situasi tersebut hanya sebagian kecil dari hal-hal yang bisa saja terjadi selama mendengar orang lain. Namun pada umumnya, ketiga situasi tersebut yang cenderung dialami oleh sebagian orang. Dengan memahami berbagai situasi yang terjadi selama mendengar orang lain, maka kita menjadi paham apa yang masih perlu dibenahi. Karena pada dasarnya, keterampilan mendengarkan dibangun mulai dari diri sendiri.

Mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda. Bagi pemateri, semua peserta saat ini sedang mendengar. Apakah mendengar suara pemateri atau misalnya mendengar moderator. Namun apakah bisa dikatakan mendengarkan, jawabannya adalah belum tentu. Mendengar adalah bagaimana kita menerima stimulus berupa suara, kemudian oleh organ sensori melalui sistem syaraf, diantarkan ke otak, untuk diterjemahkan, suara apa yang sedang kita dengarkan. Akan tetapi, mendengarkan adalah hal yang berbeda. Ketika mendengarkan terdapat hal-hal yang perlu dilakukan. Mendengarkan adalah kegiatan komunikasi yang paling penting, selain membaca dan menulis. Dalam mendengarkan, sebaiknya kita bisa mencapai active listening. Mendengarkan secara aktif dilandasi oleh kesadaran dan rendah hati. Kita sadar bahwa kita siap untuk mendengarkan orang lain. Jika kita dalam kondisi yang tidak siap atau tidak sepenuhnya sadar, maka akan sulit untuk mendengarkan. Kita dalam kondisi kesadaran yang penuh dan ‘menghadir’. Maka dari itu, di awal pemateri menekankan untuk sebaiknya ‘menghadir’. Ketika peserta sudah memilih untuk ikut mini-workshop ini, maka konsekuensinya adalah hadir secara penuh. Kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah rendah hati. Dalam kondisi yang tidak rendah hati, di mana kita merasa lebih daripada orang lain, maka akan sulit mendengarkan. Jika tidak rendah hati, maka kita akan terperangkap dalam berbagai situasi yang sudah dijelaskan sebelumnya, di mana kita akan cenderung sibuk dengan diri sendiri atau sibuk memikirkan respons apa yang akan kita berikan kepada orang lain yang bercerita. Mendengarkan adalah melibatkan diri sepenuhnya, menghadirkan diri secara penuh. Ketika memilih untuk mendengarkan, maka bukan hanya badan kita yang hadir, tapi kita juga mengarahkan pikiran kita seutuhnya pada situasi tersebut. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin mengaku hadir mendengar orang lain berbicara, namun sambil main gadget, tentu orang tersebut tidak sedang mendengarkan. Dalam mendengarkan, kesadaran dan pikiran menjadi satu dan tertuju kepada orang lain yang berbicara.

Proses mendengarkan meliputi tiga dimensi, yaitu pengindraan (sensing), pengolahan (processing), dan pemberian respons (responding). Pengindraan adalah memperhatikan atau menyimak sesuatu secara seksama, baik verbal maupun nonverbal. Dalam mendengarkan, semua indra kita gunakan. Mata kita gunakan untuk mengobservasi dan menangkap pesan yang disampaikan. Karena pada dasarnya bukan hanya  pesan melalui kata-kata, ada juga pesan non-verbal. Apa yang ditunjukkan melalui body language atau gestur. Karena tidak menutup kemungkinan apa yang diucapkan bisa saja berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan. Seseorang bisa saja mengatakan dia sedang merasa sedih, namun dengan tanpa menunjukkan ekpresi kesedihan. Atau mungkin dia mengatakan sedang senang, dengan ekspresi yang datar. Maka patut dipertanyakan, apakah ia betul sedang baik-baik saja atau bagaimana. Kemudian, ketika mendengarkan, sebaiknya kita menunjukkan sikap tubuh yang sesuai. Misalnya, dengan sikap tubuh yang condong ke depan, yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita sedang siap dan penuh kesadaran untuk mendengarkan. Sekaligus menjadi pesan bahwa kita ada untuk dia, dia tidak sendiri, kita tertarik untuk mendengarkan, dan kita ingin ‘menghadir’ untuk mendengarkan ceritanya. Sementara itu, ada pula sikap tubuh yang sebaiknya dihindari, seperti melipat tangan ketika orang lain bercerita. 

 Sikap tubuh seperti ini menunjukkan bahwa kita sedang tertutup dan tidak siap untuk mendengarkan. Kemudian, dimensi lain yang dibutuhkan saat mendengarkan adalah proses pengolahan informasi. Bagaimana kita menafsirkan pesan-pesan yang ditangkap melalui pengindraan. Proses penafsiran ini menjadi penting, karena akan menentukan seberapa baik respons yang bisa kita berikan. Ketika merespons orang lain, kita bisa paraphrasing, menceritakan kembali apa yang menjadi inti pesannya. Mendengarkan secara aktif  bukan berarti kita hanya diam dan mendengar. Namun sebaiknya kita memberikan respons yang sesuai. Bukan hanya badan kita saja yang hadir, namun pikiran, kesadaran, dan pengindraan tertuju pada orang yang bercerita. Ada kalanya, ketika selesai bercerita, teman kita kembali menanyakan, apa yang tadi kita sampaikan. Hal ini akan membuat kita berpikir, bahwa ternyata ia tidak sedang mendengarkan kita, namun hanya badannya saja yang hadir. Maka dari itu, penting untuk menunjukkan respons yang tepat. Sehingga orang lain pun berpikir, bahwa kita paham ceritanya, dengan kita mampu paraphrasing atau menceritakan kembali inti pesan yang disampaikan menurut versi diri sendiri, dan sesuai dengan apa yang diceritakan. Terkait hal ini, pemateri mengajak peserta untuk mengecek ke diri, apakah sudah bisa menerapkan hal-hal tersebut ketika mendengarkan. Jika belum, silakan mulai mencatat poin-poin apa saja yang akan diterapkan dan dikembangkan dari dirinya, ketika kelak mendengarkan orang lain.

Selanjutnya, pemateri menjelaskan mengenai ragam Listening Blocks. Pertama, terkait mind reading, di mana seseorang merasa ia sudah paham dengan pesan yang disampaikan, sebelum orang lain benar-benar selesai bercerita. Seolah-olah ia tahu apa yang hendak disampaikan oleh orang tersebut, sehingga cenderung menebak-nebak kondisi yang sedang dialami oleh orang lain. Kemudian, rehearsing, di mana kita sibuk sendiri memikirkan respons apa yang kita berikan, untuk menanggapi orang lain yang bercerita. Sehingga pada akhirnya tidak fokus mendengar pesan yang disampaikan, tapi justru sedang bermain dengan pikiran sendiri. Kemudian, ada pula filtering, di mana kita melakukan seleksi terhadap cerita orang lain. Kita hanya ingin mendengarkan cerita tertentu, dan cenderung mengabaikan cerita yang lain. Sementara, kita perlu mendengarkan secara utuh untuk bisa memahami seseorang. Terkait hal ini, jika pernah melakukan filtering, pemateri mengajak peserta untuk segera bergeser. Kemudian, jenis listening blocks lainnya, yaitu daydreaming, di mana ketika mendengarkan seseorang bercerita, ada kalanya kita melamun dan tidak fokus. Sekilas kita terlihat mendengar, namun sebenarnya pikiran kita sedang fokus pada hal lain atau bahkan sedang memikirkan banyak hal secara random. 

Sementara itu, sebaiknya ketika kita mendengarkan, kita menghadir sepenuhnya dan pikiran kita difokuskan kepada orang lain yang bercerita. Listening blocks selanjutnya, yaitu advising, tergesa-gesa memberikan nasihat sebelum mendengarkan cerita orang lain secara utuh. Padahal tidak semua orang yang bercerita membutuhkan nasihat dari kita. Ada kalanya, seseorang bercerita hanya untuk didengarkan atau sekedar memastikan bahwa masih ada orang yang bisa memahami posisinya. Lagipula kita tidak harus selalu menyediakan solusi bagi permasalahan orang lain. Terkait hal ini, kita terkadang terdorong memberikan nasihat kepada seseorang yang menceritakan hal yang pernah kita alami. Kita terjebak dalam pikiran bahwa ketika saya sudah mengalami hal yang serupa dan berhasil melewatinya dengan baik, artinya orang lain juga harus menerapkan apa yang telah saya lakukan, agar bisa mengatasi masalahnya. Padahal setiap orang mengalami proses yang berbeda-beda dalam dirinya, meski permasalahan yang diceritakan terdengar mirip dengan yang pernah kita alami. Apalagi sampai menghakimi cerita orang lain, yang mana hal ini juga termasuk listening blocks, judging. Sebelum menyampaikan kritik atau evaluasi kepada orang lain, sebaiknya kita mendengarkan terlebih dahulu, kemudian memahami sudut pandangnya. Hindari memberikan penilaian dengan menggunakan standar diri sendiri, yang sifatnya subjektif. Sehingga kita bisa terhindar dari merendahkan atau meremehkan orang lain. Setiap orang memiliki kisahnya masing- masing. Apa yang sederhana menurut kita, belum tentu juga mudah bagi orang lain. Begitu juga sebaliknya, maka yang dibutuhkan adalah rendah hati untuk mau memahami bagaimana berada di posisi orang lain.

Mengapa seseorang sulit mendengarkan? Bagi pemateri, proses mendengarkan bisa saja terhambat oleh berbagai hal, yang disebut dengan noise. Noise ini ada beragam bentuknya, yang meliputi physical noice, physiological noice, semantic noice, dan psychological noice. Physical noice, contohnya suara kendaraan, dering HP, dan lain- lain. Physiological noice, mengarah pada abnormalitas organik, seperti gangguan bicara atau gangguan artikulasi. Semantic noice mengarah pada penggunaan istilah-istilah yang sulit dipahami atau kurang familiar. Bisa jadi karena faktor perbedaan budaya, bahasa, dan latar belakang lainnya. Kemudian psychological noice terkait dengan emosi dan pikiran yang muncul ketika mendengarkan orang lain, yang bisa saja tidak relevan dan kurang disadari. 

Selanjutnya, pemateri memberikan mini-assesment kepada peserta, untuk mengetahui sejauh mana diri bisa menjadi pendengar yang baik. Dalam assessment tersebut, terdapat 11 pernyataan dalam bentuk skala linear, di mana peserta diminta untuk mengisikan skor dari rentang 1-4. Dalam hal ini 1 berarti sering, 2 kadang-kadang, 3 jarang, serta 4 tidak pernah. Adapun kesebelas pernyataan tersebut, meliputi: saya mengecek HP atau layar laptop/komputer selama percakapan, ketika orang membuat komentar membingungkan saya merasa kesal, saya mudah teralihkan selama percakapan, saya menjaga kontak mata dengan yang berbicara dengan saya, saya berkomunikasi lebih banyak melalui pesan teks/email daripada tatap muka, saat orang lain berbicara saya memikirkan apa yang akan saya katakan selanjutnya, saya mengatakan apa yang saya pikirkan tanpa memfilter komentar saya, saya tidak sengaja menyinggung orang lain, saya bisa tahu bagaimana perasaan seseorang berdasarkan bahasa tubuh mereka, orang-orang mengeluh bahwa saya tidak mengerti mereka, serta pernyataan saya beradu argumen dengan orang lain. 

Setelah peserta mengisi assessment tersebut, pemateri memaparkan interpretasi skor, yang meliputi rentang 11- 25, 26-39, serta 40-44. Dalam hal ini, skor yang telah diisikan oleh peserta untuk masing- masing pernyataan, ditotalkan. Mayoritas peserta menunjukkan skor akhir 26-39, kemudian terdapat pula peserta yang menunjukkan skor di rentang 11-25. Masing- masing rentang skor akhir, bermakna sebagai berikut: 11-25 berarti keterampilan mendengarkan Anda perlu ditingkatkan. Sulit bagi Anda untuk mendengarkan orang lain, dan pesan Anda sering disalahpahami. Kemudian, 26-39 berarti keterampilan mendengarkan Anda cukup baik. Anda memiliki beberapa keterampilan untuk menjadi pendengar yang baik, tapi masih ada lagi yang harus dipelajari. Terakhir, skor 40-44 bermakna keterampilan mendengarkan Anda secara keseluruhan bagus, tetap terbuka untuk melakukan beberapa penyesuaian.

Bagi pemateri, untuk mendengarkan orang lain, pertama kita sebaiknya mampu mendengarkan diri sendiri. Mengapa penting untuk mendengarkan diri sendiri? Hanya dengan mendengarkan diri, maka kita bisa mengenali diri. Mengenal diri termasuk terhadap emosi, hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman, tujuan kebutuhan, dan sebagainya. Ketika kita tidak dapat mengenal emosi diri sendiri, mengidentifikasinya, serta sulit menggambarkan emosi yang dirasakan, maka tentu saja akan sulit untuk memahami ekspresi emosi orang lain. Kemudian hal lainnya yang tidak kalah penting, yaitu terkait respek diri. Hanya apabila kita respek terhadap diri sendiri, maka baru kita bisa respek ke orang lain. Untuk bisa mendengarkan, individu minimal mencapai level 80 dari respek diri. Jika kurang dari itu, maka respek diri yang dimiliki hanya sebatas tidak melakukan kesalahan, belum sampai pada kontribusi untuk orang lain. Ketika seseorang bisa respek ke diri sendiri, maka ia juga lebih mampu untuk regulasi emosi. Ia paham kapan dirinya sedang tidak siap untuk mendengarkan atau bagaimana mengontrol aspek emosi yang dirasakan selama mendengarkan orang lain. Kemudian penting juga untuk mengidentifikasi asumsi-asumsi yang muncul dalam pikiran. Termasuk mengenali listening blocks yang sering dialami. Dengan mengenali hal tersebut, maka kita bisa lebih antisipasi ke depannya.

Esensi dari mendengarkan adalah empati. Empati merupakan basis dari relasi sosial yang baik. Tanpanya, individu akan sulit berinteraksi dengan orang lain, karena cenderung tidak adaptif. Sama halnya dengan mendengarkan, kita membutuhkan empati. Hanya dengan berempati kita bisa memahami sudut pandang orang lain, tanpa penilaian. Namun sebaliknya, kita penuh penerimaan dan mampu merasakan sebagaimana berada di posisi orang lain yang bercerita. Berempati adalah bagaimana kita mampu mengenali, memahami emosi, pikiran, perasaan, dan sikap orang lain. Empati dibangun atas kesadaran penuh, sehingga terdapat kontrol emosi di dalamnya. Berempati bukan berarti kita larut dalam permasalahan orang lain, sehingga kita mudah terbawa perasaan. Akan tetapi, kita bisa mengontrol emosi yang sedang dirasakan, karena prosesnya sendiri sepenuhnya disadari. Kemampuan empati seyogianya dikembangkan sejak individu berusia kanak-kanak, melalui penerapan pola asuh orang tua yang empatik. Kemudian dalam proses dewasa, empati dapat dikembangkan melalui mindfulness. Mindfulness berarti kita menghadirkan diri, here and now, dan fokus pada situasi di sini dan saat ini. Mindfulness berarti bagaimana kita menikmati apa yang ada di sekitar kita dan termasuk menikmati apa yang sedang kita lakukan. 

Terdapat 3 komponen dalam mindfulness,  yaitu kesadaran (awareness), pengalaman saat ini (present experience), dan penerimaan (acceptance). Ketika kita mampu melatihkan mindfulness, maka hal itu akan meningkatkan regulasi diri, penghargaan diri, emosi positif, dan kebersyukuran. Pada akhirnya, hal ini mendukung pengembangan empati. Mindfulness dapat diterapkan pada banyak aktivitas, termasuk terhadap aktivitas sederhana seperti bernafas (mindful breathing). Bernafas merupakan proses yang otomatis, sehingga jarang disadari. Akan tetapi dengan mindfulness, kita bisa merasakan secara sadar bagaimana proses masuknya udara melalui hidung, kemudian mengalir di sepanjang saluran pernapasan. Maka pada akhirnya, kita bisa lebih memaknai aktivitas tersebut. Sama halnya dengan aktivitas sehari-hari, seperti makan, mandi, berjalan, dan sebagainya. Misalnya, dengan mindful showering, kita bisa rasakan air mengalir di tubuh kita, mulai dari kepala menuruni wajah, kemudian terus turun ke bawah, hingga membasahi seluruh badan. Ketika berlatih mindfulness, duduklah dalam posisi yang nyaman, rasakan sensasi tubuh, rasakan pernapasan, sadari pikiran dan emosi, kemudian ucapkan terima kasih. Dengan menerapkan mindfulness, hidup kita akan lebih bermakna. Selain itu, kita bisa lebih aware dengan diri sendiri, kemudian lebih aware dengan sekitar.

------

Bagaimana mengembangkan empathic awareness skill? Sebelumnya kita perlu menyadari bahwa setiap pribadi adalah unik, spesial, dan berharga. Kemudian, untuk melatihkannya, ada 4 tahapan, yang dimulai dari diri sendiri kemudian berkaitan dengan hubungan bersama orang lain. Pertama, kenali dan akui nilai-nilai yang melekat pada diri dan sadari martabat Anda sebagai manusia. Maka kemudian Anda dapat mengenali nilai- nilai yang melekat pada orang lain dan menghargai harkat martabatnya sebagai  manusia. Berikutnya, setelah mampu memahami bahwa setiap orang memiliki nilai pribadi masing-masing, ciptakan keinginan di diri untuk mendengarkan dan menjalin relasi dengan orang lain. Terakhir, pikiran hal-hal positif dalam hubungan Anda dengan sesama. 

Lalu bagaimana mengembangkan active-emphatic listening skill? Sedikitnya terdapat 5 tahapan untuk melatihkan skill tersebut. Pertama, tenangkan pikiran Anda dan fokuslah pada orang lain saat mereka berbicara. Tempatkan diri Anda di dunia mereka, lihat dari sudut pandang mereka, kemudian hadirkan diri sepenuhnya, di mana kuncinya adalah here and now. Kemudian, tahap kedua, dengarkan sepenuhnya dengan sikap terbuka terhadap apa yang dikatakan orang lain, pahami kata-kata dan bahasa tubuhnya, tanpa bias, tanpa defensif, dan tentunya hindari memberikan penilaian. Berikutnya, tahap 3 dengarkan pikiran dan perasaan terdalam dari orang yang berbicara. Terkait poin ini, maka kita seyogianya menyimak pesan yang disampaikan orang lain, dan tentunya kita sebaiknya meminimalkan munculnya listening blocks

Selanjutnya, tahap keempat, usahakan mendengar dengan tuntas setiap kalimat yang disampaikan, hindari memotong pembicaraan atau menyampaikan sesuatu sebelum orang lain selesai berbicara secara tuntas. Sehingga pada akhirnya, kita bisa menyampaikan kembali pesan yang ditangkap (berupa pikiran dan perasaan) orang yang bercerita, dengan versi diri sendiri. Jadi dalam mendengarkan, bukan berarti kita hanya diam saja, tapi sebaiknya kita mampu menyampaikan kembali isi cerita orang lain, dengan pesan yang mudah ditangkap dan tentunya sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh orang yang bercerita. Dengan begitu, orang lain akan merasa dipahami dan berpikir bahwa Anda hadir sepenuhnya mendengarkan.

Sebagai tambahan, pemateri juga memaparkan mengenai bagaimana mengembangkan empathic speaking skill? Sama halnya dengan cara melatihkan active- empathic listening skill, sedikitnya terdapat 4 tahapan untuk mengembangkan keterampilan berbicara yang empathic. Pertama, perjelas dan atur pikiran Anda sebelum Anda berbicara. Gunakan ‘I statement’, diawali dengan kata ‘Saya’ (Sementara itu, ‘Aku’ mewakili ego yang berbicara, kurang rendah hati). Kemudian, ekspresikan dengan penuh sikap penghargaan (respek), perhatikan pilihan kata dan juga intonasi, volume suara, gestur, dan sebagainya. Alangkah baiknya kita memiliki banyak perbendaharaan kata, sehingga kita bisa lebih luas dalam mengekspresikan sikap penghargaan tersebut. Berikutnya sebagai tahap ketiga, ekspresikan dengan jelas, bedakan pikiran dan perasaan.

Tahap keempat, berhenti sejenak untuk menunggu respons pendengar. Pastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan, telah dipahami secara baik oleh pendengar. Kemudian terakhir, ucapkan terima kasih kepada orang lain karena telah mendengarkan Anda. Demikian pemaparan materi dari Bu Umniyah Saleh, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sebagai pesan terakhir, pada intinya, ayo kita mulai melatihkan keterampilan mendengarkan secara aktif dan empati. Bagi yang belum mampu menjadi pendengar yang aktif, ayo mulai bergeser. Dimulai dari diri sendiri, kuncinya adalah kenali diri, pahami, kemudian kita akan lebih mudah mendengarkan orang lain.

 

·          Sesi Tanya Jawab

-      Pertanyaan 1 

 Bagaimana cara menghadapi orang yang sedang marah dan cenderung judging?

 

Jawaban Pemateri

Penting untuk mengenali emosi yang kita rasakan, ketika menghadapi orang lain yang sedang marah. Jangan sampai kita larut dalam emosi orang lain. Kemudian, jangan biarkan emosi yang diekspresikan oleh seseorang memengaruhi emosi diri sendiri. Kita yang memegang kendali sepenuhnya terhadap apa yang kita rasakan. Maka, ketika mulai terbawa kemarahan orang lain, sadari emosi yang dirasakan,  kemudian kendalikan.

 

 

-     Pertanyaan 2

Bagaimana cara berterima dengan respons orang tua yang tidak sesuai dengan yang saya harapkan, ketika saya sedang curhat?

Jawaban Pemateri

Sadari bahwa mungkin saat ini belum bisa diterima atau kita belum sepenuhnya siap untuk memahami pesan yang disampaikan orang lain. Atau kita bisa coba menyampaikan dengan cara yang berbeda. Silakan menerapkan empathic speaking skill, awali dengan ‘I Statement’ misalnya, saya sedang merasa begini dan seterusnya. Karena terkadang orang lain menunjukkan respons yang kurang sesuai, karena tidak memahami pesan yang kita sampaikan. Jadi, silakan crosscheck cara kita dalam menyampaikan pesan.


- Pertanyaan 3

Bagaimana mengatasi kecemasan ketika mendengarkan orang lain? Khawatir akan memberikan respons yang kurang tepat.

Jawaban Pemateri

Nah dengarkan saja terlebih dahulu apa yang diceritakan secara tuntas. Fokus pada orang lain dan mindsetting bahwa kita sedang mendengarkan, maka hanya akan fokus ke cerita orang lain saja. Sebenarnya wajar saja jika merasa khawatir, tegang, kemudian banyak memikirkan hal lain, itu semua manusiawi. Akan tetapi, ketika kita sudah mendengarkan orang lain, sebaiknya tidak sibuk dengan diri sendiri. Sehingga penting juga untuk mengenali diri, emosi dan pikiran yang muncul saat itu. Ketika sudah tidak fokus, kembali arahkan untuk hadir mendengarkan orang lain. Karena ketika kita sibuk dengan perasaan dan pikiran sendiri, maka benar bisa jadi respons yang kita tunjukkan akan keliru. Jadi, dengarkan saja dulu, arahkan pikiran dan perasaan sepenuhnya untuk mendengarkan orang lain, sehingga kita paham situasi yang diceritakan, kita paham bagaimana berada di posisi orang lain. Sehingga tentunya respons yang kita berikan akan lebih tepat.

 

·          Kesimpulan dari Moderator

Untuk melatihkan keterampilan mendengarkan secara aktif dan empati, kembali ke diri sendiri. Bagaimana kita mengenali diri, termasuk emosi yang kita rasakan saat itu. Kemudian bagaimana pikiran kita yang muncul. Hanya dengan memahami dan mengenali diri, maka tentunya kita akan lebih mampu memahami orang lain. Selain itu, mendengarkan dilakukan dengan penuh kesadaran, sehingga kita sadar dengan apa yang terjadi di diri kita, tidak larut dengan cerita orang lain, penuh kendali, sehingga respons yang ditunjukkan bisa lebih tepat. Kesadaran dimulai dari hadir sepenuhnya, fungsikan pengindraan, dan mindfulness. Selain itu, pemateri menambahkan sebagai simpulan, bahwa penting untuk rendah hati. Rendah hati mengakui ketika kita sedang tidak siap untuk mendengarkan. Kenali batasan kemampuan kita, kemudian akui. Tidak perlu selalu hadir untuk mendengarkan orang lain. Jika sedang tidak siap, sampaikan bahwa saya sedang tidak siap, karena emosi saya saat ini juga kurang stabil, misalnya. Kemudian, kita bisa menawarkan waktu lain atau mengarahkannya untuk bercerita ke orang lain, yang mungkin lebih tepat. Ketika kita selalui mengiyakan meski kondisi diri sedang tidak siap, maka risikonya cukup besar, baik ke diri terlebih ke orang lain. Dalam hal ini orang lain mungkin akan merasa tidak dipahami, sehingga membuat dirinya semakin terpuruk. Begitu pula terhadap diri sendiri, di mana tentunya kita akan merasa kelelahan, karena sulit untuk mengendalikan diri. Demikianlah kesimpulan untuk sesi materi, selanjutnya, moderator menyerahkan sesi kepada MC.

 

·          Sambutan dari Founder Komunitas Halo Jiwa

Sambutan ini diwakili oleh co-founder sekaligus sekretaris Komunitas Halo Jiwa, Saudari Syurawasti Muhiddin. Dalam sambutannya, Saudari Syura menjelaskan bahwa acara mini-workshop ini merupakan rangkaian peringatan hari lahir Komunitas Halo Jiwa. Tepatnya, sebagai rangkaian terakhir, sehingga berakhirnya mini-workshop ini, maka berakhir pula seluruh rangkaian peringatan hari lahir Komunitas Halo Jiwa. Ide mengenai mini-workshop ini awalnya berangkat dari kegiatan di Halo Jiwa sendiri, yaitu Ruang Refleksi. Selama ini, di Ruang Refleksi, fasilitator concern untuk mendampingi partisipan, dalam mendengarkan ceritanya. Tentunya dalam proses mendampingi tersebut, kaya akan dinamikanya sendiri, sehingga perlu dipikirkan cara untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan secara empati. Maka lahirlah ide untuk mengadakan mini- workshop ini. Dalam acara hari ini, hadir pula partisipan Ruang Refleksi, sehingga harapannya, kita sama-sama berproses dan belajar, mungkin yang dulunya didengarkan, maka kita bisa belajar untuk mulai mendengarkan orang lain. Terakhir, tidak lupa Saudari Syura menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua peserta, kemudian juga terhadap pemateri yang telah bersedia meluangkan waktunya, untuk berbagi di ruang virtual. Banyak insight yang bisa dipetik dari sesi hari ini, dan harapannya ini menjadi awal untuk kita terus belajar dan berproses ke depannya, karena belajar adalah panggilan hidup dan dilakukan sepanjang hayat.

·          Penutup dari MC

MC mengarahkan audiens untuk foto bersama. Setelah itu, MC juga menyampaikan bagi peserta yang telah mengikuti acara ini sampai akhir dan menginginkan sertifikat, maka bisa segera dikabari ke panitia. Terakhir, segenap tim dan panitia, berharap peserta mengisi form evaluasi untuk acara hari ini. Masukan dari peserta akan dipertimbangkan untuk antisipasi event-event selanjutnya.

 

 

Notulen: Andi Mardyah Mursal

Editor: Retno Pratiwi Sutopo Putri (Tim Editor Halo Jiwa)

Share on Google Plus

About Halo Jiwa

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.