Open Submission Desember - Berbagi Pengalaman Mengenai Psychological First Aid - Erni

 


Open Submission

Topik: Berbagi Pengalaman Mengenai Psychological First Aid

Karya: Erni

 

Halo, perkenalkan saya Erni, ibu dari satu orang anak berusia 9 tahun. Saya pribadi sudah 2 tahun belakangan ini mengalami dan melewati tantangan dalam proses kehidupan yang berujung pada kesadaran diri, betapa pentingnya kesehatan mental  dan jiwa yang lebih baik, yang saya rasa semua orang berhak untuk mendapatkannya. Ya, mungkin tidak semudah bagaimana saya berbicara, tapi memang krisis ini banyak orang yang tidak menyadarinya, atau tahu namun mengabaikannya.

Sebagai seorang yang pernah mengalami krisis jiwa, mental, dan sekarang dipulihkan step by step, bila melihat teman atau saudara yang mengalami hal ini saya merasa lebih peka dan empati terhadap  mereka. Salah satu kakak perempuan menghubungi saya seminggu yang lalu, mengatakan kalau anxiety-nya kambuh, dan dia rasanya berada seperti di dunia lain (badan dan pikiran entah sampai kemana, tidak bisa beraktivitas full, dan anak terlantar). Tapi, yang saya syukuri dia menyadari hal tersebut dan bercerita pada saya. Menurut saya, ini adalah salah satu tindakan awal yang berarti, yaitu adanya pengakuan kalau dirinya membutuhkan pertolongan.

Saya tidak menyela, cukup mendengarkan dari a hingga z. Ketika dia bertanya mengapa hal tersebut terulang kembali (perasaan ketakutan dan cemas berlebihan), saya akan menjelaskan bahwa reaksi psikis akan seperti itu. Apabila ada stressor lagi, ya akan on, kasetnya akan berputar lagi. Saya mengatakan, penerimaan diri harus ada, bahwa hidup ya seperti itu. Tapi ada cara-cara yang bisa kita lakukan untuk defense diri sendiri, antara lain:

  1. Bangun pagi, bersyukur, dan berdoa. Menghadap cermin, pandang yang ada di depanmu, ucapkan hal-hal positif dan tersenyumlah. Katakan, “Kamu berharga, kamu hebat, kamu orang yang murah senyum, dll”.
  2. Pikiran itu membutuhkan makanan (sumber energi) yang baik, jadi lakukan hal yang membuat hati bahagia.
  3. Sadari bahwa kita hidup sekarang, detik ini, saat ini, belajar meditasi rutin tiap hari (mempraktikkan mindfulness).
  4. Belajar memaafkan masa lalu dan khususnya diri sendiri. Kamu tahu bahwa di dalam hatimu ada dirimu yang lain yang mungkin sedang meringkuk, sedang menutup matanya, ketakutan, menangis, yang butuh engkau peluk, engkau hibur, engkau angkat. Sayangi dia, cintai dia. Dia adalah bagian dirimu, bertemanlah dengannya.

 

Kakak saya menangis, sedih waktu saya mengatakan hal tersebut. Akhirnya dia menyadari bahwa dirinya berharga dan sangat berharga, hingga akhirnya mau belajar menghadapi hal tersebut. Tiga hari kemudian saya menelpon dia, dan Puji Tuhan, sekarang kondisinya sudah lebih baik. Dia mengatakan seumur-umur rasanya baru kemarin dia benar-benar melihat mukanya, bentuknya, melihat dirinya di depan cermin. Saya sungguh senang mendengarnya.

Mengapa butuh tiga hari bagi saya menelpon dia? Karena saya sadar ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, dan ada ruang untuk semuanya itu.

Bagi kita semua, semoga kita semakin banyak belajar, mulai menyadari, dan melepaskan apa yang perlu dilepaskan untuk kesehatan jiwa dan mental yang lebih baik. Semangat, semangat, dan semangat selalu ya readers🥰🥰😘😘💪💪.

 

 

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.